Warisan turun menurun
Di keluargaku ada satu kebiasaan yang aneh. Mungkin juga ada di keluarga lain, tapi di keluargaku itu aku suka tertawa kalau mengingat-ingatnya. Aku mempunyai beberapa engkong dan ema. Loh ? koq ? beberapa ? bukannya cuman 2 engkong dan 2 ema ? Nah itu dia, aku punya ema jamblang, ema cerbon (cirebon), ema bandung dan ema garut. Demikian juga dengan engkongnya. Sebenarnya yang asli ema dan engkong itu cuman yang di Jamblang dan di Cirebon. Yang di Bandung dan Garut itu adiknya ema Jamblang. Anehnya aku sendiri tidak tahu siapa yang memulai memanggil ema Bandung dan ema Garut, kemungkinan besar ciciku.
Anehnya, panggilan ema Bandung dan ema Garut ini semacam jadi warisan ke sepupu-sepupuku lainnya yang lebih muda. Aku tahu sepupu-sepupu dekatku memang memanggil panggilan yang sama, dan itu karena mereka sering kumpul dengan ciciku dan aku, tentu saja kebiasaan itu menular. Aku baru saja mengetahui bahwa sepupu-sepupuku yang jauhpun memanggil panggilan yang sama.
Di keluarga papiku panggilan-panggilan secara tradional seperti mpek, ncek, ie-ie, kow dll. tidak seketat pada umumnya. Aku memanggil kakak laki-laki papiku dengan panggilan Apé. Kemungkinan karena waktu ciciku kecil, dia tidak bisa menyebutkan toapé atau tuapé, yang keluar cuman Apé, jadilah beliau divonis dipanggil Apé oleh keponakan-keponakannya. Sepanjang pengetahuanku, panggilan apé ini tidak ekslusif di keluargaku saja. Banyak juga teman-temanku dan sepupu-sepupuku yang tidak pernah bertemu sebelumnya, memanggil panggilan yang sama untuk kakak dari papinya. Karena papiku anak nomor dua di keluarganya, aku tidak punya jipé, shapé dan sebagainya. Adik laki-laki papiku aku panggil oom. Entah kenapa dia tidak dipanggil ncek, tetapi sudah modern dipanggil oom. Adik-adik papiku yang perempuan semuanya aku panggil kow, kecuali 1 tante yang aku panggil mamah, karena menurut cerita dulu aku di kwepang oleh beliau dan suaminya. Mamahku itu luar biasa orangnya, selalu telaten kalau main denganku. Dulu sekali rumahnya kecil dan sempit, aku sering main ke rumahnya dan seharian aku dirumahnya. Aku suka main halma dan boardgames lainnya sama mamahku itu. Dan dari Papahku aku belajar main catur. Saya beliau sudah lama meninggal lebih 20 tahun lalu. Saat aku sudah pindah ke Jakarta dan pulang berlibur ke Cirebon, papahku selalu membelikanku gulai dengkil di pagi hari. Aku masih ingat sosok tubuhnya yang kelihatannya selalu tertawa dengan Vespa Sprint 150 cc nya.
Kembali ke soal panggilan-panggilan, kepada suami dari tante-tanteku itu aku semua memanggil oom. Susah mungkin kalau mesti manggi nthio. Juga untuk sepupu perempuan papiku, aku juga memanggil kow, dan suaminya aku panggil oom. Special untuk adik laki-laki papiku itu, ada suatu panggilan lucu dulunya. Mungkin karena namanya memakai kata “Swie”, ciciku tidak bisa menyebutkannya, sehingga dipanggil sebagai oom pli. Lucunya si oom ini dulu termasuk kurus, jadi beliau kita panggil oom pli kurus. Kalau ada oom pli kurus, tentunya ada juga oom pli gendut. Si oom pli gendut ini sepupu dari papiku, yang namanya juga ada “Swie” nya. Dulu tiap malam imlek beliau juga suka datang kerumah ema dan engkongku di Jamblang. Dulu memang dia lebih gemuk dibanding dengan oom pli kurus. Di kemudian hari oom pli gendut ini meninggal dengan usia muda, sehingga kita hanya mempunyai oom pli kurus saja, dan beliau sudah tidak kurus lagi, bahkan lebih mengarah ke gemuk. Anehnya panggilan oom pli ini tidak menurun ke saudara-saudara yang lain, dan bahkan aku sendiri tidak lagi memakainya. Mungkin setelah agak besar aku malu memanggil oom pli, sebab takut disangka masih pelo.
Orang-orang tionghoa yang merantau ke Indonesia, biasanya mempunyai tempat pemakaman yang terpisah dengan suku-suku lainnya. Orang-orang tionghoa yang kaya bahkan mempunyai tempat pemakanan keluarga yang hanya digunakan untuk lingkungan keluarga saja. Karena keluarga THE BOEN yang di Cirebon itu dulunya termasuk keluarga yang cukup berada, mereka juga mempunyai tempat pemakaman keluarga, letaknya di pinggir jalan yang menuju ke Kuningan. Tempat pemakaman itu tidak berada tepat dipinggir jalan, tetapi agak masuk kedalam sedikit.
Write Something
about you at the intro.php file in the theme folder. just a little bit to introduce yourself and then
give a link to your
Suatu hari aku berjanji dengan “oom” ku yang bernama Hauw Gie untuk mampir dirumahnya membicarakan perkembangan silsilah dan menerima perbaikan-perbaikan silsilah yang baru saja didapatkan olehnya ketika berlibur ke Indonesia. “oom” ku ini tidak aku panggil oom, sebab karena dia masih muda. Papanya memang satu generasi dengan engkongku, dan mamiku masih memanggil “oom” atau “ncek” tetapi kepada anaknya aku tidak lagi memanggil “oom” karena kami hanya berbeda 6 tahun saja. Apalagi setelah si “oom” ini menikah dengan teman seangkatanku waktu aku kuliah di TH Delft (sekarang : TU-Delft). Nah, si “tante” ini aku panggil Kiki. Entah kenapa dipanggil begitu, mungkin memang nama panggilannya begitu. Kita memang mengenalnya sebagai Kiki, dan hampir tidak ada yang tahu nama tionghoanya.
Malam itu kami memutuskan untuk mencoba makan malam di restorant hotel tersebut, sebab selain sudah malas keluar mencari restorant lain, kita juga ingin mencoba restorant hotel. Kalau enak bisa diulangi esoknya, kalau tidak enak, bisa mencari restorant lain. Setelah menyelesaikan maincourse kita memesan dessert dan sungguh sial, apa yang aku pesan tidak ada, sehingga aku harus memesan yang lain. Dan malangnya apa yang aku pesan ini adalah mirip bakpao tetapi bikinan orang jerman. Kita jadi tertawa terpingkel-pingkel mengingat ini kejadian yang kedua kali aku mendapatkan bakpao jerman ini. Pertama kali waktu kita pergi ke Koenigsee. Disana aku meilhat suatu makanan yang kelihatannya menarik. Satu gundukan yang disiram dengan saus putih, dan aku menyangka saus putih itu adalah vla. Ketika aku menanyakan kepada pelayannya, si pelayan justru mengatakan itu adalah makanan khas disana, jadi tentu saja sebagai turis yang baik aku harus mencobanya.
Sudah lebih dari 1 tahun yang lalu buku “Silsilah keturunan keluarga GAN PENG” diterbitkan. Banyak orang yang terkagum-kagum dengan jerih usaha penulis yang sudah berhasil mengumpulkan lebih dari 7.500 nama. Belum lagi dengan adanya foto-foto baik baru dan lama, semuanya mengacungkan jempol kepada ngkoh Gan Kong Siang yang tanpa jemu-jemunya selalu berusaha untuk mencari keluarga yang belum diketemukan kembali. Bangga juga aku kalau buku tersebut dipuji-puji, setidaknya aku juga turut berpartisipasi dalam penulisannya. Meskipun segala hormat dan respek harus diberikan kepada ngkoh Kong Siang. Tanpa usahanya buku itu tidak akan ada.
Mamiku marganya THE, menurut cerita leluhurnya bernama The Boen atau menurut bahasa mandarinnya ditulis sebagai Zheng Wen. Dalam ceritaku mengenai kongcoku Yeo Tjeng Kang, aku selalu bermalam tahun baru imlek dirumahnya di Jamblang. Dan pada esok harinya barusan kita mengujungi ema dan engkong yang dari THE ini.
Dari semua silsilah yang aku pernah telusuri. Silsilah keluarga Yeo Tjeng Kang ini yang pertama kali aku buat. Awalnya simple saja untuk nostalgia jaman ke awal tahun 60-an. Aku kepingin menulis nama-nama oom-oom dan tante-tante yang dulu sering bertemu dan sekarang sudah jarang bahkan hampir tidak pernah ketemu lagi.