Bongpay

Bongpay Tan Ko ShiaOrang-orang tionghoa yang merantau ke Indonesia, biasanya mempunyai tempat pemakaman yang terpisah dengan suku-suku lainnya. Orang-orang tionghoa yang kaya bahkan mempunyai tempat pemakanan keluarga yang hanya digunakan untuk lingkungan keluarga saja. Karena keluarga THE BOEN yang di Cirebon itu dulunya termasuk keluarga yang cukup berada, mereka juga mempunyai tempat pemakaman keluarga, letaknya di pinggir jalan yang menuju ke Kuningan. Tempat pemakaman itu tidak berada tepat dipinggir jalan, tetapi agak masuk kedalam sedikit.

Menurut cerita orang-orang tua, hampir semua keturunan The Boen dikubur di tempat pemakaman itu. Tentu saja meraka yang bermukim di Cirebon. Kalau mereka berpindah ke lain kota, mereka akan dimakamkan di kota tersebut. Ingatanku hanya sampai sejauh tahun 1965, dimana waktu itu engkongku meninggal dunia. Waktu itu, karena aku masih kecil aku tidak mengingat banyak hal. Aku cuman tahu bahwa aku harus memakai baju putih-putih karena aku hanya cucu luar. Sepupuku yang masih termasuk cucu dalam, mesti memakai kain belacu yang dibalik. Aku juga masih ingat bahwa begitu banyak orang yang melayat sehingga ketika iring-iringan bergerak menuju ke tempat pemakaman, kepala iring-iringan sudah hampir sampai ke ujung kota, ekornya masih belum keluar dari rumah. Aku sendiri rupanya tidak diperbolehkan pergi ke tempat pemakaman waktu itu, rupanya mamiku takut kalau-kalau aku pingsan karena terik matahari dan malah akan menambah problem saja.

Beberapa bulan setelah engkongku meninggal terjadi peristiwa G-30-S, dan sesudah itu sepertinya semua yang berbau tionghoa agak disingkirkan. Papi dan mamiku juga jarang sekali menengok ke kuburan engkong karena menurut berita banyak penduduk desa disana yang suka meminta uang kalau kita berkunjung kesana. Memberi uang kepada mereka kadang membantu, tetapi malah membuat keadaan makin genting karena mereka akan berebutan uang tadi, dan yang tidak kedapatan akan marah-marah kepada yang berkunjung. Apalagi kalau kita tidak memberi uang, sudah tidak dapat dipikirkan lagi apa nanti akibatnya. Setelah beberapa tahun akupun pindah ke Jakarta, sehingga tempat pemakaman keluarga itu jarang sekali dikunjungi. Menurut berita salah satu kakak mamiku masih suka datang dan membersihkan kuburan engkongku dan leluhur lainnya, semasa beliau hidup. Juga salah satu sepupu mamiku lainnya, masih suka datang kesana.

Ketika aku mulai mengurusi silsilah keluarga GAN dimana belakangan aku mencoba menyempurnakan silsilah keluarga The, aku menyesal sekali dulu-dulu tidak pernah ke kuburan keluarga itu. Apalagi ketika aku membeli buku “Chinese Epygraphic Material in Indonesia” aku melihat banyak sekali bongpay (batu nisan) yang tua-tua difoto dan diperlihatkan dalam buku tersebut. Banyak data-data yang bisa diambil dari bongpay makam orang tionghoa, apalagi yang sudah tua-tua sebelum awal ke XX. Aku telah meminta beberapa saudaraku yang di Indonesia agar datang ke kuburan keluarga itu, dan membuat foto dari bongpaynya. Penting sekali mengabadikan bongpay itu sebelum hancur kena erosi dan sebagainya. Tetapi rupanya mengunjungi kuburan itu suatu perbuatan yang tidak menyenangkan untuk beberapa orang sehingga beberapa saudaraku itu tidak melakukannya. Mereka juga mengatakan bahwa makam keluarga itu sudah digusur oleh orang-orang kampung disekitar sana. Beberapa kuburan sekarang sudah menjadi sawah.

Akhirnya pada musim panas tahun 2005, salah seorang “oom” ku yang juga sama-sama menelusuri silsilah pergi berlibur ke Indonesia, dan beliau ini menyempatkan diri untuk mampir menengok keadaan makam keluarga yang katanya sudah digusur. Ternyata Hauw Gie, oomku itu menemukan 5 bongpay yang masih ada disana. Memang menurutnya sebagian besar sudah digusur, dan yang belum digusur masih sempat dibuat digital fotonya. Yang masih tersisa disana adalah bongpay dari salah satu kakak dari mamiku dan istrinya, engkongku, adik dari engkongku dan satu makam yang sudah tua, dan dikatakan adalah salah satu dari dua istri The Boen. Sayang memang kalau bongpay yang lain sudah hilang, tidak tahu kemana beradanya, tetapi 1 bongpay tua yang menurut tulisannya sudah berusia lebih dari 120 tahun justru banyak membantu penyusunan silsilah The Boen yang sedang kita garap.

Sebelumnya, menurut silsilah yang dibuat oleh kopo Po Hie, seperti yang sudah aku ceritakan di tulisanku yang lain, mengatakan bahwa The Boen mempunyai 5 anak laki-laki dan yang tertua bernama The Hoan Tjiang. Hauw Gie dan juga aku sendiri adalah keturunan dari anak ke 3, The Tiang Seng. Sekitar setahun yang lalu akhirnya Hauw Gie menemukan keturunan The Hoan Tjiang ini yang sebenarnya adalah teman sekolahnya sendiri. Aku sendiri sudah mengenal dia sejak aku mulai sekolah di TH Delft tahun 1976. Dia bernama The Hok Soei, dan umurnya sekitar umur Hauw Gie juga, jadi sekitar 5-6 tahun diatasku. Setelah kita memastikan bahwa Hok Soei adalah keturunan The Hoan Tjiang, aku mulai mengurut-urut generasinya. Wah aku sebenarnya masih harus memanggil cekkong sebab dia masih segenerasi dengan engkongku. Hanya saja sepertinya tidak logis karena The Hoan Tjiang menurut silsilah lebih tua dari The Tiang Seng (leluhurku) jadi keturunannya seharusnya lebih tua atau setidaknya seumur. Apalagi kalau dipikir bahwa papanya, engkongnya dan kongconya Hok Soei ini bukanlah anak yang bungsu. Jadi diperkirakan waktu itu, kemungkinan The Hoan Tjiang ini menikah terlambat.

Ternyata pemotretan bongpay oleh Hauw Gie dapat menjawab semua keragu-raguan kita semua. Setelah dikirim kepada beberapa orang yang bisa berbahasa hokkian, maka dapat dilihat bahwa bongpay itu adalah bongpay dari istri dari seseorang yang bermarga THE. Tidak ditulis memang, nama suaminya, tetapi dari nama anak-anaknya, dapat dipastikan bahwa beliau istri dari The Boen sendiri. Ada cerita orang tua juga yang mengatakan bahwa kuburan The Boen sendiri tidak ada di Cirebon karena beliau dimakamkan di daratan Tiongkok. Hal ini tidak bisa dipercaya secara 100% mengingat pada jaman itu sangat sulit untuk membawa jenazah seorang yang telah keluar dari daratan Tiongkok kembali untuk dimakamkan. Juga dapat disimpulkan bahwa bongpay dari istri The Boen ini didirikan pada tahun 1884. Dapat dilihat juga bahwa putra The Boen yang bernama The Tiang Seng sudah meninggal lebih dahulu sebelumnya. Hal ini terlihat dari cara penulisan nama anak-anaknya yang terpisah dari yang lain, yang dianggap masih hidup pada tahun 1884 itu. Ternyata dari urut-urutan nama anak laki-laki The Boen ini, The Hoan Tjiang adalah anak yang paling muda. Jadi dapat dimengerti kalau keturunannya lebih muda dibanding dengan keturunan dari The Tiang Seng. Patut diingat juga bahwa The Tiang Seng dan The Hoan Tjiang tidak berasal dari 1 ibu kandung. The Tiang Seng berasal dari istri pertama yang bernama Tan Ban Nio, sedangkan The Hoan Tjiang berasal dari istri yang kedua bernama Tan Ko Shia, yang bongpaynya diketemukan ini.

Dari 5 anak laki-laki The Boen, hanya keturunan The Tiang Seng dan The Hoan Tjiang saja yang bisa diketemukan dan ditulis dalam silsilah. Aku penasaran sekali kemana 3 anak laki-laki lainnya. Kemungkinan besar, menurut theoriku, anak tertua yang bernama The Phia Teng tidak ada di Indonesia. Kemungkinan beliau kembali ke daratan Tiongkok, atau mungkin saja dia tidak ikut dengan The Boen ke Cirebon. Mengapa aku berpikir demikian ? karena The Tiang Seng sebagai anak kedua, justru yang menjadi kaya dan mewarisi kekayaan The Boen di Cirebon, dan ini biasanya tidak terjadi dikalangan orang-orang tionghoa yang selalu memberikan yang terbaik kepada anaknya yang tertua. Mengenai 2 anaknya yang lain, The Thian Hwee dan The Twie Kiem, aku tidak mempunyai jejak sama sekali. Harapanku cuman mudah-mudahan saja ada silsilah The yang aku temukan dari daerah lain di dekat-dekat Cirebon, dan leluhurnya dapat aku temukan di daftar nama dari bongpay yang difoto oleh Hauw Gie itu. Kalau itu terjadi, betapa gembiranya aku karena salah satu cita-citaku tersampai.

Posted by steve on Mar 23rd 2006 | Filed in Silsilah | Comments (2)

Author

ProfileWrite Something about you at the intro.php file in the theme folder. just a little bit to introduce yourself and then give a link to your about page.

If you upload your own profile.jpg into the theme's images folder, it would show up above.

Warisan turun menurun

Di keluargaku ada satu kebiasaan yang aneh. Mungkin juga ada di keluarga lain, tapi di keluargaku itu aku suka tertawa kalau mengingat-ingatnya. Aku mempunyai beberapa engkong dan ema. Loh ? koq ? beberapa ? bukannya cuman 2 engkong dan 2 ema ? Nah itu dia, aku punya ema jamblang, ema cerbon (cirebon), ema bandung dan ema garut. Demikian juga dengan engkongnya. Sebenarnya yang asli ema dan engkong itu cuman yang di Jamblang dan di Cirebon. Yang di Bandung dan Garut itu adiknya ema Jamblang. Anehnya aku sendiri tidak tahu siapa yang memulai memanggil ema Bandung dan ema Garut, kemungkinan besar ciciku.

Anehnya, panggilan ema Bandung dan ema Garut ini semacam jadi warisan ke sepupu-sepupuku lainnya yang lebih muda. Aku tahu sepupu-sepupu dekatku memang memanggil panggilan yang sama, dan itu karena mereka sering kumpul dengan ciciku dan aku, tentu saja kebiasaan itu menular. Aku baru saja mengetahui bahwa sepupu-sepupuku yang jauhpun memanggil panggilan yang sama.

Di keluarga papiku panggilan-panggilan secara tradional seperti mpek, ncek, ie-ie, kow dll. tidak seketat pada umumnya. Aku memanggil kakak laki-laki papiku dengan panggilan Apé. Kemungkinan karena waktu ciciku kecil, dia tidak bisa menyebutkan toapé atau tuapé, yang keluar cuman Apé, jadilah beliau divonis dipanggil Apé oleh keponakan-keponakannya. Sepanjang pengetahuanku, panggilan apé ini tidak ekslusif di keluargaku saja. Banyak juga teman-temanku dan sepupu-sepupuku yang tidak pernah bertemu sebelumnya, memanggil panggilan yang sama untuk kakak dari papinya. Karena papiku anak nomor dua di keluarganya, aku tidak punya jipé, shapé dan sebagainya. Adik laki-laki papiku aku panggil oom. Entah kenapa dia tidak dipanggil ncek, tetapi sudah modern dipanggil oom. Adik-adik papiku yang perempuan semuanya aku panggil kow, kecuali 1 tante yang aku panggil mamah, karena menurut cerita dulu aku di kwepang oleh beliau dan suaminya. Mamahku itu luar biasa orangnya, selalu telaten kalau main denganku. Dulu sekali rumahnya kecil dan sempit, aku sering main ke rumahnya dan seharian aku dirumahnya. Aku suka main halma dan boardgames lainnya sama mamahku itu. Dan dari Papahku aku belajar main catur. Saya beliau sudah lama meninggal lebih 20 tahun lalu. Saat aku sudah pindah ke Jakarta dan pulang berlibur ke Cirebon, papahku selalu membelikanku gulai dengkil di pagi hari. Aku masih ingat sosok tubuhnya yang kelihatannya selalu tertawa dengan Vespa Sprint 150 cc nya.

Kembali ke soal panggilan-panggilan, kepada suami dari tante-tanteku itu aku semua memanggil oom. Susah mungkin kalau mesti manggi nthio. Juga untuk sepupu perempuan papiku, aku juga memanggil kow, dan suaminya aku panggil oom. Special untuk adik laki-laki papiku itu, ada suatu panggilan lucu dulunya. Mungkin karena namanya memakai kata “Swie”, ciciku tidak bisa menyebutkannya, sehingga dipanggil sebagai oom pli. Lucunya si oom ini dulu termasuk kurus, jadi beliau kita panggil oom pli kurus. Kalau ada oom pli kurus, tentunya ada juga oom pli gendut. Si oom pli gendut ini sepupu dari papiku, yang namanya juga ada “Swie” nya. Dulu tiap malam imlek beliau juga suka datang kerumah ema dan engkongku di Jamblang. Dulu memang dia lebih gemuk dibanding dengan oom pli kurus. Di kemudian hari oom pli gendut ini meninggal dengan usia muda, sehingga kita hanya mempunyai oom pli kurus saja, dan beliau sudah tidak kurus lagi, bahkan lebih mengarah ke gemuk. Anehnya panggilan oom pli ini tidak menurun ke saudara-saudara yang lain, dan bahkan aku sendiri tidak lagi memakainya. Mungkin setelah agak besar aku malu memanggil oom pli, sebab takut disangka masih pelo.

Posted by steve on Mar 23rd 2006 | Filed in Misc | Comments (0)

Kapten dan Letnan Tionghoa

Seperti yang pernah aku tuliskan sebelumnya. Keluarga THE keturunan The Boen yang tinggal di kota Cirebon dulunya termasuk keluarga yang ternama. Menurut silsilah yang dulu ditulis oleh kopo Po Hie, The Boen mempunyai 5 anak laki-laki. Yang pertama ditulis bernama The Hoan Tjiang, yang kedua The Phia Teng, yang ketiga The Tiang Seng. Ditambah dengan beberapa anak perempuan, ketiga anak laki-laki itu adalah anak-anak The Boen dari istri pertama yang bernama Tan Ban Nio. Selain itu ada istri kedua yang tidak diketahui namanya, dan mempunyai 2 anak laki-laki bernama The Thay San dan The Twie Kiem. Keluargaku termasuk keturunan The Tiang Seng, dan sebenarnya sampai setahun lalu, silsilah The Boen hanya mencantumkan keturunan The Tiang Seng saja. Dituliskan juga oleh kopo Po Hie bahwa The Tiang Seng bergelar “Hap Goan”. Dibawahnya tertulis nama 3 anak laki-lakinya, masing-masing The Tjiauw Tjay, The Tjiauw Hok dan The Tjiauw Jong.

Dibawah tulisan The Tjiauw Tjay tertulis “Ek Goan Kong” Kapitein der Chinezen Cheribon, sedangkan dibawah tulisan The Tjiauw Hok tertulis “Teng Goan Kong” Kapitein der Chinezen Pekalongan. Dibawah tulisan The Tjiauw Jong ada tulisan “Hong Goan” Luitenant der Chinezen Cheribon.

Kopo Po Hie ini hanya menuliskan silsilah keturunan The Tjiauw Tjay saja, karena itu keturunan 2 adiknya tidak dicantumkan dalam lembarang yang diberikan kepada papiku itu. Dibawah nama The Tjiauw Tjay tertulis 3 nama anak laki-lakinya yang bernama The Han Tong “Liong Goan” Luitenant der Chinezen Cheribon, The Joe Gie “Siauw Goan” Luitenant der Chinezen Cheribon dan The Joe Sin.

Aku sangat tertarik dengan pangkat-pangkat seperti kapten, letnan dan sebagainya, sehingga aku berusaha mencari tahu lewat segala macam buku dan internet. Ternyata jabatan yang paling rendah adalah “Wijkmeester”. Biasanya kalau di desa yang tidak begitu besar, pemimpin masyarakat tionghoanya diberi jabatan wijkmeester. Di kota-kota yang lebih besar ada jabatan yang lebih tinggi dari wijkmeester yaitu “Luitenant der chinezen” atau Letnan tionghoa. Diatasnya ada “Kapitein der Chinezen” atau Kapten tionghoa, dan yang paling tinggi adalah “Majoor der Chinezen” atau Mayor tionghoa. Mayor biasanya hanya dapat diketemukan di kota-kota besar seperti Jakarta (d/h Batavia), Semarang dan Surabaya. Tetapi kadang ada semacam titel “Majoor titulaire” atau major kehormatan. Jabatan ini sebenarnya bisa ada di kota kecil dan kalau si majoor kehormatan meninggal, dia tidak diganti secara langsung oleh major kehormatan yang baru. Di Cirebon pada akhir abad ke XIX hanya ada kapten dan letnan. Biasanya ada 1 kapten dan 2 letnan. Di kota-kota lain tentu lain pula keadaannya Di Jakarta misalnya di jaman Mayor Khouw Kim An yang terkenal itu ada beberapa kapten dan ada belasan letnan yang membantunya. Di Jamblang, satu desa yang aku anggap kecil, 15 km sebelah barat kota Cirebon, ternyata di awal abad ke XX itu mempunyai seorang Letnan bernama Liem Kwat Tjiang yang masih merupakan menantu dari Oey Hian Seng, salah satu leluhurku yang lain.

Menurut buku “Chinese Epigraphic Materials in Indonesia” dituliskan bahwa The Tjiauw Tjay menjadi kapten pada tahun 1884. Beliau ditulis sebagai The Ek Goan dalam buku itu. Jadi mereka yang mendapatkan jabatan, biasanya juga mempunyai gelar. Ek Goan itu adalah gelar dari The Tjiauw Tjay. Ada dua hal yang menarik perhatianku sebenarnya. Siapa yang mengangkat seseorang menjadi letnan atau kapten ? Dan apa saja yang dilakukan oleh letnan atau kapten itu ?

Setelah mencari-cari tulisan-tulisan mengenai pangkat tionghoa ini, yang mengangkat adalah masyarakat tionghoa setempat sendiri. Biasanya seseorang tionghoa yang disegani dan kaya raya mempunyai kesempatan yang besar untuk diangkat menjadi letnan atau kapten. Meskipun pangkat ini tidak turun menurun dari ayah ke anak, biasanya yang terjadi adalah demikian. Karena si ayah kaya, maka si anak pun kalau saja dia tidak menghambur-hamburkan uang ayahnya boleh dikatakan kaya juga. Sehingga biasanya si anak akan menuruti jejak ayahnya.

Di Cirebon pada akhir abad ke XIX dan awal abad ke XX ada 2 keluarga yang “menguasai” percaturan pangkat kapten dan letnan tionghoa tadi. Keluarga Tan yang menurut mamiku dulunya tinggal di jl. Pasuketan dan keluarga The yang sekarang rumah keluarganya sudah diratakan dengan tanah pada jaman penjajahan jepang karena dibuat jalan.

Setelah tahun 1888 The Tjiauw Tjay meninggal dunia, maka Tan Tjin Kie yang diangkat menjadi kapten dan The Tjiauw Jong, adik The Tjiauw Tjay menjadi Letnan dengan gelar Hong Goan. Kemungkinan sebelumnya The Tjiauw Hok sudah menjadi letnan dan pindah ke kota Pekalongan untuk menjadi kapten disana. Tidak ada bukti nyata sebenarnya, tetapi diperkirakan The Tjiauw Jong meninggal pada tahun 1898, dimana di tahun yang sama anak The Tjiauw Tjay yang tertua, The Han Tong diangkat menjadi Letnan dengan gelar Liong Goan. Dan ketika itu yang menjabat Kapten adalah tetap Tan Tjin Kie. Beliau dibantu oleh 2 orang letnan yaitu The Han Tong dan Tan Gin Ho (putra Tan Tjin Kie sendiri). Ketika The Han Tong meninggal di tahun 1901 dengan usia sekitar 40-an tahun, adiknya The Joe Gie yang menggantikan kedudukan Letnan tersebut dengan gelar Siauw Goan.

Pemerintah Hindia Belanda menghapuskan jabatan-jabatan mayor, kapten, letnan dan wijkmeester pada tahun 1910. Sejak itu tidak ada jabatan kapten atau letnan di masyarakat tionghoa di Indonesia tetapi mereka yang pernah menjabat kapten atau letnan tetap disegani, bahkan terkadang keturunan mereka juga dihormati oleh masrakat setempat. Aku pernah mendengar cerita dari mamiku yang mengatakan bahwa waktu The Joe Gie meninggal di tahun 1931, banyak sekali yang melayat beliau. Menurut mamiku juga, engkongku cukup dihormati oleh banyak masyarakat tionghoa di kota Cirebon. Mungkin engkongku dulunya sudah disiapkan oleh “oom” nya The Joe Gie untuk menggantikannya di satu saat atau kalau ada lowongan jabatan yang kosong. Kadang kalau engkongku berjalan-jalan di sore hari banyak orang-orang lain yang membungkukkan tubuhnya semata-mata hanya untuk menghormati engkong, meskipun sebenarnya si engkongku ini tidak pernah jadi kapten atau letnan

Rasa ingin tahuku yang lain adalah, apa saja yang harus dilakukan mereka yang menjabat kapten atau letnan itu. Dari tulisan-tulisan yang kudapati lewat google, mereka menjadi semacam juru bicara masyarakat tionghoa terhadap pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah lokal (bupati dsb). Selain itu kapten atau letnan juga menjadi semacam hakim atau penengah jika terjadi pertikaian atau persengketaan antara sesama masyarakat tionghoa setempat. Kemungkinan juga si kapten atau letnan ini yang akan ditegur oleh pemerintah Hindia Belanda jika terjadi kekacauan pada masyarakat tionghoa setempat.

Aku tidak tahu apa sebenarnya usaha dari The Tjiauw Tjay atau The Han Tong itu. Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah pengusaha garam. Sedangkan keluarga Tan Tjin Kie mempunyai beberapa pabrik gula di daerah sekeliling Cirebon. Tentu saja dapat dimengerti kalau mereka menjadi tambah kaya, sebab siapa yang tidak membutuhkan gula atau garam dalam makanan dan minumannya ? Yang aku tahu, kekayaan mereka kebanyakan habis bersamaan dengan adanya financial crash ditahun 1930-an. Heran sebenarnya, apa hubungannya antara leluhurku dengan financial crash tahun 1930, aku kira mereka tidak main saham seperti yang terjadi di Amerika saat itu, tetapi kenyataannya memang demikian. Keluarga The yang dipimpin oleh The Joe Gie jatuh miskin disekitar tahun 1930-an. Kalaupun mereka akhirnya bangkit kembali dan mempunyai beberapa kapal tongkang yang akhirnya disita pada jaman penjajahan Jepang, mereka tidak sekaya sebelumnya. Hal yang sama aku dengar juga dengan keturunan adik The Tjiauw Tjay yang menjadi kapten di Pekalongan. Sepeninggal The Tjiauw Hok, 2 anak laki-lakinya meneruskan usahanya dan menurut keturunannya, mereka cukup kaya dan mempunyai banyak mobil. Kekayaan itu juga habis pada jaman tahun 1930-an.

Posted by steve on Mar 22nd 2006 | Filed in Silsilah | Comments (0)

Eh, kita beneran saudara yah ?

KhoeSuatu hari aku berjanji dengan “oom” ku yang bernama Hauw Gie untuk mampir dirumahnya membicarakan perkembangan silsilah dan menerima perbaikan-perbaikan silsilah yang baru saja didapatkan olehnya ketika berlibur ke Indonesia. “oom” ku ini tidak aku panggil oom, sebab karena dia masih muda. Papanya memang satu generasi dengan engkongku, dan mamiku masih memanggil “oom” atau “ncek” tetapi kepada anaknya aku tidak lagi memanggil “oom” karena kami hanya berbeda 6 tahun saja. Apalagi setelah si “oom” ini menikah dengan teman seangkatanku waktu aku kuliah di TH Delft (sekarang : TU-Delft). Nah, si “tante” ini aku panggil Kiki. Entah kenapa dipanggil begitu, mungkin memang nama panggilannya begitu. Kita memang mengenalnya sebagai Kiki, dan hampir tidak ada yang tahu nama tionghoanya.

Disana kita mengobrol persoalan keluarga terutama mengenai silsilah keluarga THE Boen tentunya, sebab itu yang menjadi tujuan utama kedatanganku kerumahnya. Kemudian pembicaraan beralih ke keluarga Nike. Tentu saja mereka ingin tahu nama keluarga Nike, dan ketika Nike mengatakan bahwa marganya KHOE, si Kiki juga mengatakan kalau emanya juga bermarga KHOE. Kemudian Nike mengatakan kalau kongconya bernama Khoe Khee Ing, lalu Kiki juga mengatakan bahwa kongconya bernama Khoe Khee Sioe. Nah lho….nah lho…., koq bisa sama ya ? nama generasinya, mungkin masih saudara ? Terus Nike mengatakan kalau Khoe Khee Ing itu asalnya dari Purworejo, sedangkan Kiki mengatakan kalau Khoe Khee Sioe asalnya Gombong. Well, Purworejo dan Gombong memang tidak jauh, tapi persoalan ini mesti nanya-nanya dulu dan dicari hubungan keluarganya. Mungkin saja Khoe Khee Sioe dan Khoe Khee Ing ini saudara sekandung.

Sepulang dirumah, Nike mengubrak-abrik file-filenya yang dibawa dari Indonesia. Dia ingat ketika dalam kunjungan terakhir ke Indonesia waktu papinya meninggal dia membawa kembali satu buku dan satu stensilan daftar nama peninggalan papinya tersebut. Dari buku tersebut satu persatu dikumpulkan nama-namanya dan dicoba untuk menghubungkan satu sama lainnya. Misalnya saja generasi engkongnya adalah Khoe Giok …. sedangkan generasi kongconya adalah Khoe Khee …. untuk yang laki-laki dan Khoe Ang …. untuk yang perempuan. Sayang tidak diketemukan nama Khoe Khee Sioe disitu, jadi dipastikan kalaupun saudara bukan saudara dekat.

Kemudian nike menanyakan lagi kepada Kiki apakah ada nama-nama lain selain Khoe Khee Sioe. Ternyata informasi yang didapat dari Kiki memperkuat dugaan kita bahwa 2 keluarga ini masih ada tali persaudaraan. Kiki mengatakan bahwa selain Khoe Khee Sioe, ada juga Khoe Khee Tjong, Khoe Ang Tjiauw, Khoe Ang Nie. Ini berarti nama generasinya sudah sama. Sudah hampir tidak bisa disangkal lagi bahwa mereka bersaudara. Cuman saja kita belum bisa menemukan bagaimana persaudaraan itu ?

Beberapa hari kemudian Nike menelpon salah satu oom nya di Indonesia untuk menanyakan. Hasilnya boleh dikatakan cukup memuaskan untuk keturunan dari papanya Khoe Khee Ing, sebab oomnya tersebut bisa mengatakan nama leluhurnya yaitu Khoe Boen Koen, dan juga bisa menyebutkan urutan dari anak-anaknya yang salah satu diantaranya Khoe Khee Ing tadi. Dari oom itu Nike mendapatkan satu alamat dari oom yang lain di jakarta untuk dihubungi, katanya oom yang ini tahu banyak mengenai keluarga KHOE.

Esoknya Nike mencoba untuk menelpon oom tersebut tetapi beliau malah menyuruh Nike menulis surat dan menanyakan apa yang ingin ditanyakan. Beliau bersedia untuk menjawab apa saja yang berurusan dengan keluarga KHOE. Karena Nike sudah tidak biasa menulis surat kecuali email, maka Nike meminta cicinya Yvonne untuk mendatangi saja si oom tersebut dan meminta data-datanya.

Lewat Yvonne Nike bisa mengetahui bahwa orang yang datang ke Indonesia dari daratan Tiongkok adalah Khoe Tjwee Kiem. Beliau menetap di daerah Gombong dan beliau adalah ayah dari 9 anak. Anak pertamanya adalah Khoe Ik Ngo, dan anak terakhirnya bernama Khoe Boen Koen. Khoe Ik Ngo kemudian mempunyai anak dan salah satunya Khoe Khee Sioe yang tealh disebutkan tadi, sedangkan Khoe Boen Koen adalah papa dari Khoe Khee Ing. Maka jelaslah sudah hubungan persaudaraan dari Khoe Khee Sioe dan Khoe Khee Ing ini. Menurut keterangan Yvonne, keluarga Khoe ini menyebar didaerah pulau Jawa bagian selatan. Dari daerah Cilacap/Purwokerto sampai ke daerah Yogyakarta. Dari oom tersebut Yvonne mendapatkan buku yang cukup lumayan tebalnya dan Yvonne akan mencoba membuat fotokopi serta mengirimkannya ke Nike supaya bisa dibuat silsilahnya.

Jadi ketika terakhir Nike bertemu kembali dengan Kiki, komentarnya adalah : “Eh, kita beneran saudara yah ?, ternyata kongco kita itu bersepupu”.

Posted by steve on Mar 22nd 2006 | Filed in Silsilah | Comments (2)

Keluarga

“Say, menurut Kelvin, kalau sudah 5 generasi orang belanda tidak lagi dianggap family”. Demikian kata-kata Nike disuatu hari. Pada saat itu aku seenaknya mengatakan : “Akh….itu sih pendapat orang belanda, kalau orang china sih mau tujuh tururnan kek, 10 turunan kek, kayaknya sih masih dianggap saudara tuh”.

Nah, suatu hari aku membuka-buka silsilah-silsilah yang aku buat. Ternyata memang benar, aku hanya membuat silsilah sejauh 4 generasi saja, sebab generasi ke 5, biasanya sudah tidak tau lagi siapa-siapanya. Maksudku 4 generasi adalah bahwa aku membuat silsilah keluarga dari 4 generasi diatasku, artinya batas kongco dan makcoku. Jadi misalnya aku mempunyai 2 orang tua (papi dan mami), aku punya 4 ema dan engkong, aku punya 8 kongco dan makco, dan aku cuman mengurusi silsilah itu dengan titik utamanya ya generasi kongco/makco ini.

Kongco-Makco dari papiku adalah Yeo Tjeng Kang - Yap Kiok Nio dan Liem Joe Lee - Oey Kim Lie. Dari mamiku adalah The Han Tong - Gan Bamboe Nio dan Liem Swie Hong - Tan Penang Nio. Dari 8 orang itu aku membuat/mempunyai 6 silsilah. Silsilah Yap Kiok Nio (makco dari papi) dan Liem Swie Hong (Kongco dari mami) tidak/belum aku buat, dan aku rasa tidak akan terjadi, karena orang yang bisa ditanya sudah hampir tidak ada.

Silsilah Yeo Tjeng Kang sebenarnya mudah dibuat, karena beliau sendiri yang datang ke Indonesia, jadi ya mentok sampai kegenerasinya saja. Kemungkinan mencari keturunan kakaknya di Singapore sangat tipis karena aku sendiri tidak tahu harus mencari dimana. Silsilah Liem Joe Lee dan Oey Kim Lie baru saja akhir-akhir ini menjadi gencar sejak aku berkenalan kembali dengan salah satu sepupuku Lo Kok Tjie yang ternyata juga getol mencari silsilah. Bersama Kok Tjie kita bisa mencari leluhur Liem Joe Lee ini sampai 3 generasi lebih atas. Dan yang cukup menggembirakan ternyata asal-usulnya leluhur Liem Joe Lee ini berasal dari Pekalongan. Hal ini boleh dikatakan menggembirakan karena adanya sumber data dari silsilah Gan yang mencakup 7500 nama itu, sehingga bisa diharapkan ada kemungkinan kita dapat menanyakannya kepada beberapa orang di Pekalongan mengenai keturunan lainnya dari leluhur Liem Joe Lee ini.

Keluarga Oey Hian Seng yang leluhurnya makco Oey Kim Lie sebenarnya aku tidak pernah kenal. Sayang sebenarnya, sebab menurut oomku, rumahnya dulu di Jamblang sangat besar. Menurut kabar, Kok Tjie dulu pernah ke rumah itu bersama engkongnya. Kayaknya, selama papiku masih hidup juga jarang sekali berhubungan dengan keluarga ini. Menurut berita-berita yang aku dengar, ada salah satu keturunannya yang tinggal di amsterdam, namanya tante Els Khohonggiem, dan dulu sekali aku sudah pernah bertemu, karena aku kenal anaknya. Mungkin aku harus mencoba menghubungi beliau agar bisa ditelusuri lagi silsilah dan hubungan keluarganya.

Keluarga The dari kongco The Han Tong dan keluarga Gan dari Gan Bamboe Nio sudah pernah aku jelaskan silsilahnya di tulisanku sebelumnya. Satu silsilah lagi yang aku garap adalah silsilahnya Tan Hwie Tjeng. Ini leluhur Makcoku Tan Penang Nio. Silsilah ini ketemu secara kebetulan karena ngobrol sama Jafet, sepupu jauh, cucunya kopo Po Hie yang tahun lalu meninggal. Kopo Po Hie ini luar biasa, sejak jaman dulu beliau sudah membuat silsilah. Pertama ditulis pakai tangan, terakhir sudah diketik sehingga tulisan-tulisannya terlihat jelas dan mudah untuk disalin. Ternyata Jafet dan aku selain masih termasuk keluarga GAN, juga masih termasuk keluarga TAN HWIE TJENG ini. Sayangnya aku tinggal di Negeri Belanda sehingga susah untuk menghubungi keluarga yang ada di Indonesia, dan Jafet sendiri sangat sedikit waktunya untuk mencari keluarga. Terakhir kali dia pergi ke Cirebon untuk menemui beberapa keluarga dan akibatnya malah hampir saja dipecat menjadi suami oleh istrinya.

Posted by steve on Mar 22nd 2006 | Filed in Silsilah | Comments (1)

Bakpao jerman dan kepleset

Sial !

Gara-gara hujan salju yang lebat aku kepleset dan jatuh, untung saja tidak ada yang patah hanya tangan kananku yang terbeset-beset dan bokongku yang tak berdaging agak sakit karenanya.

Sudah berbulan-bulan lalu Nike merencanakan untuk mengajakku melihat pameran komputer terbesar diseluruh Eropa, CeBIT di Hannover Messe yang dilangsungkan mulai tanggal 9 Maret sampai dengan tanggal 12 Maret memang sangat terkenal dan bergengsi, sehingga tidak mengherankan Nike ingin sekali melihatnya. Kita membuat kombinasi antara mengunjungi Hannover Messe dan long weekend. Hotel yang dipilih adalah hotel yang terletak agak jauh dari kota Hannover dan terlihat menurut gambarnya bahwa hotel tersebut terletak di lereng gunung, di dekat kota Einbeck. Setelah 2 malem di hotel itu, kita akan bermalam di Wuppertal didekat Dusseldorf untuk mengunjungi Esther dan keluarganya untuk berkenalan, dan Robby Sugiri yang sudah lebih dari 15 tahun tidak bertemu.

Berangkat dari Rotterdam jam 5 pagi, membuat kita sampai di Hannover jam 10.30 pagi. Cukup waktu untuk melihat pameran tersebut, pikirku. Ternyata setelah putar-putar selama 2,5 jam plus makan siang selama 30 menit, kita sudah merasa capai dan lelah. Sebenarnya kalau aku melihat Nike, dia ini lelah dan kecewa karena tidak menemukan stand Apple computer disana, sedangkan sebelumnya dia sudah mengimpi-impikan bahwa di Messe sana dia akan mencoba sana-sini. Akhirnya kita memutuskan untuk keluar dari Messe dan pergi mencari hotel yang sudah di book lewat ‘weekeindje weg’

Hotel yang dituju ternyata memang sangat bagus letaknya. Di lereng satu bukit yang tidak terlalu tinggi, hotel itu mempunyai beberapa bunggalow, dan 1 bunggalow ada 2 kamar yang berjejer disana. Bunggalow yang kita dapat adalah salah satu bunggalow yang paling tinggi letaknya, sehingga pemandangannya sangat indah. Udara memang dingin dan salju kadang turun meskipun tidak lebat, tetapi semuanya membuat pemandangan menjadi lebih bagus. Kelelahan Nike sebelumnya yang sudah capai berjalan hilang seperti salju terkena sinar matahari. Dengan foto cameranya dia mengabadikan gambar-gambar alam yang jarang bisa didapat di negeri belanda yang biasanya hanya kecipratan hujan di musim dingin.

Bakpao JermanMalam itu kami memutuskan untuk mencoba makan malam di restorant hotel tersebut, sebab selain sudah malas keluar mencari restorant lain, kita juga ingin mencoba restorant hotel. Kalau enak bisa diulangi esoknya, kalau tidak enak, bisa mencari restorant lain. Setelah menyelesaikan maincourse kita memesan dessert dan sungguh sial, apa yang aku pesan tidak ada, sehingga aku harus memesan yang lain. Dan malangnya apa yang aku pesan ini adalah mirip bakpao tetapi bikinan orang jerman. Kita jadi tertawa terpingkel-pingkel mengingat ini kejadian yang kedua kali aku mendapatkan bakpao jerman ini. Pertama kali waktu kita pergi ke Koenigsee. Disana aku meilhat suatu makanan yang kelihatannya menarik. Satu gundukan yang disiram dengan saus putih, dan aku menyangka saus putih itu adalah vla. Ketika aku menanyakan kepada pelayannya, si pelayan justru mengatakan itu adalah makanan khas disana, jadi tentu saja sebagai turis yang baik aku harus mencobanya.

Ketika yang dipesan datang dan aku cicipi, ternyata makanan itu mirip dengan roti bakpao, dan didalamnya ada semacam jam dari plums. Ditambah juga saus putih yang aku kira vla itu, ternyata hanya mirip saja tetapi rasanya tidak seenak vla. Pokoknya aku berpendapat bahwa bakpao mamiku jauh lebih enak dari makanan bakpao jerman ini.

Esoknya kita berjalan-jalan (naik mobil tentunya) di national park, dan karena cuaca yang bersalju aku harus beberapa kali menghentikan mobilku dipinggir jalan karena si “nyonya” ingin membuat foto. Disalah satu perhentian mobilku hampir tidak bisa keluar dari tempat perhentian itu karena tempat yang penuh salju dan meskipun sudah di beri gas berulang-ulang mobilku tidak bergerak dari tempatnya alias ban nya selip. Siangnya kita mencari imbiss, sebab Nike cuman mau makan brattwurst kalau ke Jerman, tetapi ternyata tidak menemukan imbiss, mungkin karena kita sudah terlambat untuk hari Sabtu siang itu, kebanyakan rumah makan kecil sudah tutup.

Mungkin karena terlalu banyak masuk-keluar mobil dimusim dingin, yang berarti dari panas ke dingin, terus ke panas lagi, dan ditambah pula karena telat makan, esoknya Nike merasa pusing. Aku katakan, itulah, akibat masuk keluar mobil terus, jadi aja deh kena masuk angin. Hotel kami di Wuppertal ternyata terletak dipuncak bukit kecil. Jalan menuju kepuncak bukit adalah jalan perumahan, dan dikiri-kanan jalan banyak rumah-rumah yang boleh dikatakan bertaraf cukup mewah. Setelah kita menyimpan bagasi, kita pergi mencari makan dan sekalian pergi kerumah Esther di kota Muhlheim am Ruhr. Ternyata saking asiknya kita ngobrol ngalor ngidul dengan keluarga Esther tanpa diketahui selama itu turun salju yang cukup lebat di kota Wuppertal, dan ketika kita kembali ke hotel pukul 21.30, mobilku tidak bisa naik keatas bukit karena licinnya jalan. Kedaan lebih berbahaya lagi karena kalau salah mengemudikan bisa-bisa mobilku menubruk mobil-mobil lain yang diparkir di kiri-kanan jalan. Setelah dinasehati oleh sepasang orang belanda yang jugaakan berjalan kaki keatas (ke hotel yang sama), aku memarkir mobilku dibawah bukit. Aku memilih sisa-sisa tempat terakhir yang masih ada yang aku anggap paling aman. Sebab siapa tahu ada saja orang yang gila menyetir mobil dengan tidak hati-hati, bisa-bisa mobilku kena senggol. Hujan salju itu memang lebat, dan karena jalan menuju hotel itu hanya jalan kecil dinas penaburan garam tidak lewat disana.

Esoknya setelah makan pagi aku katakan pada Nike kalau kita sebaiknya mengambil mobil dahulu dibawah, sebelum kita checkout dari kamar kita. Dan ketika aku meilhat jalan yang akan kita tempuh nantinya, aku lihat jalan sudah digarami, sehingga tidak ada salju yang tersisa ditengah jalan. Di pinggir jalan dan di trotoir memang masih banyak salju, dan karena sudah sering diinjak-injak salju itu sudah membeku menjadi es. Karena suatu saat Nike berjalan ditengah jalan, aku memperingati agar jalan dipingir jalan, sebab jalan itu dibuat untuk jalan mobil, sehingga tentunya nanti ada mobil yang lewat disana. Belum selesai aku berbicara, tau-tau aku sudah terkapar dipinggir jalan. Aku tergelincir karena salju yang membeku. Tanganku terbeset-beset dan penuh darah. Untung saja tidak ada yang patah tulangnya, tetapi aku merasa sebal, kenapa aku tidak mengikuti tingkah Nike untuk jalan ditengah jalan. Tidak saja tanganku yang berdarah-darah bokong ku yang tidak berdagingpun terasa sakit. Mungkin Nike dalam hati tertawa haha-hihi, tetapi dia cukup banyak membantu dalam membersihkan luka-luka dan memberikan plester.

Arghhhh…..gara-gara memperingati orang malah aku yang kena sial !

Posted by steve on Mar 21st 2006 | Filed in Travelling | Comments (3)

Menyingkap misteri 2 keluarga GAN

Gan - YanSudah lebih dari 1 tahun yang lalu buku “Silsilah keturunan keluarga GAN PENG” diterbitkan. Banyak orang yang terkagum-kagum dengan jerih usaha penulis yang sudah berhasil mengumpulkan lebih dari 7.500 nama. Belum lagi dengan adanya foto-foto baik baru dan lama, semuanya mengacungkan jempol kepada ngkoh Gan Kong Siang yang tanpa jemu-jemunya selalu berusaha untuk mencari keluarga yang belum diketemukan kembali. Bangga juga aku kalau buku tersebut dipuji-puji, setidaknya aku juga turut berpartisipasi dalam penulisannya. Meskipun segala hormat dan respek harus diberikan kepada ngkoh Kong Siang. Tanpa usahanya buku itu tidak akan ada.

Dalam kata-kata pendahuluannya, ngkoh Kong Siang menceritakan perihal asal-usul bagaimana keluarga GAN PENG ini terjadi, dan bagaimana kongco besar Gan Ka Long akhirnya menetap di Pekalongan. Dari Pekalongan ini lah semua keluarga keturunan Gan Ka Long menyebar ke seluruh dunia. Ngkoh Kong Siang juga menuliskan menurut cerita engkongnya Gan Tjioe Hway bahwa sebenarnya Gan Ka Long ini masih mempunyai saudara yang pada waktu itu berpisah dan meninggalkan Pekalongan untuk pindah dan bermukim di Purbalingga. Dan memang keluarga Gan yang dari Purbalingga ini kemudian hari juga menjadi keluarga besar dan banyak tersebar di kota-kota lain.

Sepertinya keluarga Gan yang di Pekalongan lebih menyebar ke daerah pantai utara, keluarga yang di Purbalingga menyebar juga di daerah pantai selatan. Kalau di keluarga Gan dari Pekalongan terkenal dengan nama-nama khas seperti Gan Kay ….. dan Gan Thay …., maka keluarga Gan dari Purbalingga terkenal dengan nama-nama Gan Koen ….. dan Gan Tiong …..

Di keluarga Gan dari Pekalongan, selalu ada cerita bahwa keluarga Gan yang di Purbalingga itu adalah keturunan dari adiknya kongco besar Gan Ka Long, sebab itu yang diceritakan turun menurun.

Setahun yang lalu secara tidak sengaja aku menemukan website dari salah satu keturunan Gan dari Purbalingga ini. Disana diceritakan kalau keluarga Gan dari Purbalingga ini adalah keturunan dari seorang yang bernama Gan Hwan yang datang dari daratan Tiongkok mendarat di kota Pekalongan, sebelum beliau pindah dan bermukim di Purbalingga. Aneh sebenarnya, mengapa mesti datang ke kota Pekalongan ? begitu banyak kota-kota di pesisir utara pulau Jawa, dan Gan Hwan ini special datang ke Pekalongan. Apakah ada hubungan dengan keluarga Gan Ka Long. Aku menulis email kepada webmasternya dan menanyakan kepastian bahwa Gan Hwan ini sungguh datang dari Tiongkok. Sebab bisa saja kita menyangka kalau leluhur kita berasal dari tiongkok karena di bongpay makamnya tercantum nama desa di Tiongkok sana. Tetapi sebenarnya hal itu tidak bisa dipercaya. Banyak bongpay-bongpay yang didirikan di akhir abad 19 dan awal abad 20 yang mencantumkan desa asal dari yang meninggal, tetapi tetap saja bukan berarti yang meninggal ini lahir di desa tersebut. Itu hanya suatu kebiasaan saja untuk mencantumkan desa asalnya.

Beberapa bulan lalu aku mendapat email dari seorang teman yang tinggal di Austria. Dia ini alumnus dari sekolahku yang sudah lama tinggal disana. Secara tidak sengaja dia melihat website Gan Peng yang aku buat, dan menanyakan apakah dia termasuk dari keluarga Gan Peng ini karena dia memang bermarga GAN. Setelah tanya punya tanya, ternyata namanya tidak ada di database keluarga Gan Peng, dan saya menganjurkan untuk menanyakan kepada webmaster dari keluarga Gan yang di Purbalingga ini, karena teman saya ini asalnya dari daerah Purwokerto dan Cilacap. Sejak saat itu hubunganku dengan keluarga Gan yang dari Purbalingga lebih dekat. Aku mencoba bertanya kepada mereka agar ditanyakan kepada sesepuh-sesepuhnya apakah pernah disebutkan mengenai keluarga Gan yang di Pekalongan.

Ternyata dalam keluarga Gan yang berasal dari Purbalingga juga ada cerita turun menurun yang mengatakan kalau keluarga Gan yang dari Pekalongan tadi masih ada tali persaudaraan. Dikatakan bahwa ada saudara dari leluhur mereka Gan Hwan yang tinggal di Pekalongan. Ini jelas membuktikan bahwa dua keluarga besar ini masih saling bersaudara, hanya saja bagaimana tali persaudaraan itu terjadi masih belum jelas. Yang jelas Gan Peng berumur sekitar 40 tahun lebih tua dari Gan Hwan. Jadi kemungkinan kalau Gan Peng itu kakaknya Gan Hwan tidaklah mungkin. Kemungkinan yang bisa terjadi adalah bahwa Gan Hwan adalah anaknya Gan Peng atau keponakan atau cucu (satu generasi dengan Gan Ka Long).

Perihal bahwa kedua keluarga Gan ini bersaudara terlihat juga dari desa asal mereka di daratan Tiongkoknya. Keluarga Gan Peng mengatakan berdasarkan tulisan-tulisan peninggalan Gan Tjioe Hway bahwa mereka berasal dari desa Kie San (Qishan), keresidenan Eng Chun (YongChun). Menurut buku “Chinese Epigraphic Materials in Indonesia” yang disusun oleh Wolfang Franke, keluarga Gan dari Purbalingga juga berasal dari Qishan. Hal ini tertera di gambar bongpay yang dimuat di buku tersebut.

Jadi sekarang ini tinggal mencari data untuk menyatukan 2 keluarga besar GAN ini menjadi 1 keluarga.

Posted by steve on Mar 21st 2006 | Filed in Silsilah | Comments (1)

Ketiban segabreg famili

The - ZhengMamiku marganya THE, menurut cerita leluhurnya bernama The Boen atau menurut bahasa mandarinnya ditulis sebagai Zheng Wen. Dalam ceritaku mengenai kongcoku Yeo Tjeng Kang, aku selalu bermalam tahun baru imlek dirumahnya di Jamblang. Dan pada esok harinya barusan kita mengujungi ema dan engkong yang dari THE ini.

Sepanjang ingatanku, rumahnya engkong The Tie Sek di jl. Parujakan no 4. Rumahnya tidak sebesar rumah engkongku yang di Jamblang, tetapi dibelakang rumah ada pabrik kecil-kecilan untuk vulkanisir ban. Aku sendiri tidak begitu dekat dengan engkongku yang ini. Aku hanya mengenai sampai tahun 1965, ketika beliau meninggal dunia sebelum peristiwa G-30-S. Beruntung baginya, sebab pasti beliau akan ditangkap oleh penguasa orde baru kalau beliau masih hidup. Menurut mamiku beliau bukan anggota Baperki, tetapi beliau adalah pemuka masyarakat tionghoa di Cirebon.

Menurut mamiku, beliau keturunan Kapten dan Letnan tionghoa. Dan mungkin saja beliau dipersiapkan untuk menjabat jabatan tersebut kalau saja jabatan itu tidak dihapus oleh pemerintah hindia belanda di tahun 1920-an. Ketika belakangan aku mendapatkan silsilah keluarga THE ini dari papiku yang katanya beliau mendapatkannya dari seorang yang bernama Kopo Po Hie, aku melihat bahwa kongcoku yang bernama The Han Tong mempunyai jabatan Letnan, dan papanya yang bernama The Tjiauw Tjay mempunyai jabatan sebagai Kapten. Yang paling atas, yang disebutkan sebagai leluhur kami ditulis THE BOEN, dituliskan terlahir di tahun 1785. Tidak ditulis kapan beliau meninggal, dan kapan pula beliau datang ke Indonesia. Juga tidak tertulis dari daerah mana beliau datang.

Silsilah yang semula ditulis oleh salah satu “oom” ku yang bernama The Hauw Gie, aku perbaiki dan aku lengkapi sedikit demi sedikit. Silsilah yang dulunya hanya mencatat keturunan The Tjiauw Tjay saja sekarang sudah dilengkapi dengan keturunan adik The Tjiauw Tjay yang bernama The Tjiauw Hok, dan bermukim di Pekalongan. Silsilah yang aku kerjakan tetap keturunan dari The Boen, sebab selama ini memang kami hanya mengetahui bahwa leluhur kami namanya THE BOEN dan beliau yang datang ke kota Cirebon.

Suatu hari aku mendapat satu email dari salah seorang sepupuku yang bernama Tan Chun Mey. Dia menuliskan bahwa dia mendengar dari salah seorang kerabatnya kalau The Boen itu dulunya datang tidak sendirian ke Indonesia. Mereka kakak beradik ada 4 orang, dan mereka berpisah, satu ke Bogor, satu ke Cirebon, satu ke Surabaya dan satu lagi entah ke pulau lain, dan diperkirakan ke daerah Makassar. Sebenarnya mendengar berita begini aku masih tetap dingin-dingin saja, dan tidak begitu antusias, sebab kayaknya koq seperti fairy tale, kayaknya enggak mungkin deh. Sampai suatu hari ketika aku mengunjungi rumahnya, dia menunjukan silsilah dari keturunan THE HIE yang berasal dari Bogor. Keturunannya tersebar di kota-kota Bandung, Karawang, Sukabumi, Cianjur, Jakarta dan Bogor sendiri. Di halaman terakhir ada tertulis silsilah THE BOEN dengan sederhana dan dikatakan bahwa The Boen adalah saudara tua dari The Hie.

Gara-gara buku silsilah THE HIE itu, aku jadi ketiban segabreg famili lagi. Dan gara-gara buku silsilah itu, buku silsilah The Boen, yang lagi digarap akan menjadi lebih tebal 2 kali lipat.

Posted by steve on Mar 21st 2006 | Filed in Misc | Comments (1)

kongco Yeo Tjeng Kang

yeoDari semua silsilah yang aku pernah telusuri. Silsilah keluarga Yeo Tjeng Kang ini yang pertama kali aku buat. Awalnya simple saja untuk nostalgia jaman ke awal tahun 60-an. Aku kepingin menulis nama-nama oom-oom dan tante-tante yang dulu sering bertemu dan sekarang sudah jarang bahkan hampir tidak pernah ketemu lagi.

Waktu aku masih kecil sebelum tahun 1965, tiap malam tahun baru imlek, kita selalu ke Jamblang. Disana ada rumah besar, dan disana juga tinggal ema dan engkong. Papa nya papiku. Rumah itu sangat besar, kalau kita bermain petak umpet, bisa seharian kita mencari dan kemungkinan kita tidak menemukan yang bersembunyi karena besarnya rumah dan halamannya. Kalau aku mendengar cerita alm. oom Peng Hin, sepupu dan teman main papiku sewaktu beliau berkunjung ke Belanda beberapa tahun lalu, katanya kongcoku bernama Yeo Tjeng Kang. Dan beliau datang ke Indonesia di akhir abad 19 dari Singapore. Jadi kongcoku itu bukan datang dari Tiongkok, tetapi dari Singapore. Menurut alm oom Peng Hin, masih ada kakaknya yang tinggal di Singapore itu. Hal yang sama dikatakan oleh oom Eng Lim, sepupu lain papiku yang tinggal di Vancouver. Katanya, papanya oom Eng Lim ini, yang aku tidak pernah kenal karena keburu meninggal sebelum aku lahir, bahkan pernah tinggal di rumah “oom” nya itu semasa beliau sekolah.

Nah, kongco Yeo Tjeng Kang, menurut ceritanya dulu bekerja di saudaranya, tempat pemotongan rambut. Kerjanya menyapu rambut-rambut yang berjatuhan di lantai. Entah setelah beberapa lama, beliau membuka warung di desa Jamblang. Dan menurut cerita waktu itu belum ada station kereta di desa Jamblang, sehingga kongco memilih tempat yang strategis di pertigaan. Kereta api dari Cirebon menuju Kadipaten atau sebaliknya selalu berhenti di pertigaan itu, sehingga pertigaan itu relatif ramai dibanding daerah-daerah lainnya di desa Jamblang.

Menurut oom Peng Hin, Kongco ini orangnya luas pandangannya, dan ternyata beliau pandai marketing. Untuk menarik hati calon langganannya, beliau menyediakan minuman teh di warung nya, sehingga para penumpang kereta yang sudah kepanasan dapat melepaskan dahaganya dengan minum teh yang dibagi secara gratis ini. Berkat jamuan teh cuma-cuma ini warung kongco makin laris dan beliau sanggup membeli rumah dibelakang warungnya tersebut. Warung yang lama diganti menjadi toko dan diberi nama “Toko Tjeng Kang”. Karena kereta api selalu berhenti didepan toko, maka secara tidak langsung dinamakan stasiun Tjeng Kang. Di kemudian hari, setelah di Jamblang dibangun station kereta api yang sebenarnya, kereta api tetap berhenti 2 kali di desa Jamblang ini, yaitu satu kali di stasiun Jamblang dan satu kali di stasiun Tjeng Kang. Masih menurut alm oom Peng Hin, kongco juga termasuk seorang yang modern. Umur 50 beliau sudah mengambil pensiun, dan jalan-jalan mengunjungi kakaknya di Singapore, dan juga pernah mengunjungi Tiongkok. Dan di akhir hidupnya beliau menikmati hidup dengan memasak di siang hari.

Menulis silsilah Yeo Tjeng Kang ini awalnya cuman meminta kepada salah satu tante untuk menuliskan nama-nama dengan diagram simple. Setelah itu barulah dicoba menghubungi sepupu-sepupu untuk melengkapi nama-nama anaknya. Maklumlah si tante cuman mengisi sampai generasi papiku.

Posted by steve on Mar 21st 2006 | Filed in Silsilah | Comments (1)

Hobby nya koq ?

Hobby nya apa ? biasa khan kalau orang lagi kenalan, pada saling nanya hobby, siapa tau aja hobby nya sama, jadi bisa share hobby atau saling menambah pengetahuan. Nah Hobby ku itu aneh. Aku mempunyai hobby menelusuri silsilah keluarga. Awal mulanya sih keluarga sendiri, tapi lama kelamaan malah keluarga orang lainpun turut dicari juga.

Sebenarnya aku mempunyai beberapa proyek untuk silsilah ini. Proyek utama ku adalah untuk keluarga THE BOEN. Proyek lainnya adalah proyek keluarga GAN PENG, YEO TJENG KANG, TAN HWIE TJENG, OEY HIAN SENG, LIEM TJIOE dan KHOE TJWEE KIEM. Sementara ini silsilah The Boen ini yang menjadi proyek utama karena memang masih banyak data yang sedang dicari. Proyek Gan Peng sudah 90% selesai, jadi data yang masuk juga sudah mulai sedikit. Proyek Yeo Tjeng Kang, Oey Hian Seng, Liem Tjioe dan Khoe Tjwee Kiem tergantung dengan pemasukan data dari keluarga yang di Indonesia, sedangkan Tan Hwie Tjeng sudah hampir tidak ada masukan data lagi karena orang yang mencarinya sedang mogok.

Selain menelusuri silsilah, salah satu hobbyku yang lain adalah : MAKAN. Makan di restoran adalah salah satu kesukaanku. Kalau bisa tiap hari makan di restoran, cuman saja hobby ku yang satu ini agak terhambat dan terhambatnya kali ini bukan karena kurang waktu tetapi karena kurang duit. Makan di restorant di Belanda sini bikin orang cepat bangkrut. Dan untuk supaya menjaga supaya aku tidak bangkrut, ya sekarang diusahakan untuk mengurangi makan di restoran.

Dengan beberapa sepupuku aku sudah berjanji untuk tiap 2 bulan sekali makan bersama di restoran. Selain menjaga hubungan keluarga agar tidak putus kita juga sama-sama suka makan. Cuman saja bentuk tubuhku ini agak mengherankan bagi orang yang suka makan, karena tubuhku ini lebih mirip orang yang kelaparan alias kurus.

Hobby tulis menulis ini sebenarnya baru untukku. Aku suka nulis, tapi hampir tidak pernah di publish. Dan tujuan ku nulis BLOG ini terutama untuk memberitahukan perkembangan-perkembangan dari silsilah yang aku susun, dan juga sedikit cerita kalau aku pulang dari liburan dsb-dsb. Mudah-mudahan saja ada yang mau baca dan bisa menarik pelajaran dari apa yang aku tulis ini. Kalau enggak, ya anggap saja lagi latihan menulis.

Posted by steve on Mar 21st 2006 | Filed in Silsilah | Comments (0)

« Prev - Next »