Keluarga Kwee
Suatu hari aku menerima undangan dari Hok Soei untuk datang ke rumahnya. Katanya ada seorang keturunan marga The yang dari Surabaya akan datang ke rumahnya juga dan bersama dengan Hauw Gie kita bisa berbincang-bincang siapa tau saja ada hubungan dengan keluarga The yang di Cirebon dan keluarga The yang di Surabaya.
Sebelumnya lewat buku-buku ‘Regerings Alamak’ sebenarnya aku sudah mengira-ngira kalau bakalnya sulit mencari hubungan antara dua keluarga The ini. Karena keluarga The yang di Surabaya sudah sejak awal abad ke 19 menjadi Kapten dan Letnan tionghoa disana sedangkan leluhur keluarga The yang dari Cirebon diperkirakan baru jaya sekitar tahun 1840-an lebih.
Akhirnya perkiraanku menjadi kenyataan, bahwa kedua keluarga The ini memang tidak diketemukan hubungannya kecuali marganya saja yang sama. Keluarga The dari Surabaya termasuk keluarga yang sangat terkenal dan memegang jabatan Mayor, Kapten dan Letnan secara bergilir sejak awal abad ke 19 sampai akhirnya jabatan itu dihapuskan. Tidak heran kalau keluarga yang besar itu mempunyai juga buku silsilah yang lumayan lengkap dari leluhur yang pertama. Kenalan Hok Soei yang keturunan keluarga The ini bernama ‘Tik’ dan istrinya bernama ‘Mey’, mereka tinggal di Amstelveen. Sebenarnya aku sudah lama mengetahui tentang mereka cuman saja tidak pernah ada kontak.
Aku mengetahui kalau keduanya berasal dari Jawa Timur jadi tidak pernah kepikiran untuk bertanya lebih lanjut. Pada hari itu aku kebetulan membawa buku pinjaman dari perpustakaan yang judulnya ‘Orang-orang Tionghoa jang Terkemoeka’ cetakan tahun 1935. Tik dan Mey sempat melihat-lihat buku itu dan karena mereka melihat juga bagian kota Bandung (orang-orang tionghoa terkenal di Bandung), aku menanyakan apakah pernah tinggal di Bandung.
Mey mengatakan kalau sebenarnya maminya berasal dari Bandung, dan tepatnya Linggajati. Mey bahkan menanyakan apakah aku mengetahui dimana Linggajati itu. Tentu saja aku mengetahui sebab sebagai orang yang lahir di Cirebon, Linggajati termasuk tempat kunjungan tiap weekend. Mey Mengatakan kalau maminya lahir di desa Linggajati dan kemudian pindah ke Bandung dan sekolah disana sampai bertemu dengan papinya yang orang Jember kemudian setelah menikah diboyong ke Jember.
Tentu saja kesempatan ini tidak aku lewatkan untuk menanyakan siapa nama maminya, nama engkong, kongco dan lain-lainnya. Ternyata Mey mengatakan kalau engkongnya bernama Kwee Zwan Liang dan kongconya Kwee Keng Liem. Nama keluarga Kwee ini sudah cukup lama aku cari keturunannya, sebab menurut cerita orang-orang tua, di Cirebon dulu ada beberapa keluarga besar yang cukup terkenal dan mereka selalu menjabat pangkat opsir-opsir tionghoa.
Sejak awal abad ke 19 sampai sekitar tahun 1925-an pangkat opsir tionghoa di Cirebon hampir selalu di dominasi oleh beberapa keluarga. Kemungkinan keluarga-keluarga ini yang mempunyai pengaruh besar di kota Cirebon itu. Keluarga-keluarga itu antara lain keluarga Tan, Kwee, The dan Oey. Menurut data dari Regerings Alamak aku dapat mengetahui bahwa keluarga Tan dan Kwee di Cirebon ini dulunya mengelola pabrik gula, sedangkan keluarga Oey mempunyai beberapa perkebunan singkong. Keluarga The di lain pihak mempunyai perusahaan perkapalan.
Keluarga The dan Oey sudah aku punyai silsilahnya karena aku masih keturunan dari 2 keluarga tersebut. Silsilah keluarga Tan aku juga punya karena pernah dikirimi oleh Oom Swie, adik papiku yang tinggal di Cirebon. Cuman silsilah keluarga Kwee saja yang belum aku punyai.
Dari buku Regerings Almanak itu ada 4 orang Kwee yang pernah menjabat opsir tionghoa di Cirebon. Pertama adalah Kwee Boen Pien yang menjadi Letnan tahun 1874, kemudian Kwee Keng Eng dan Kwee Keng Liem tahun 1884, keduanya menjdai Letnan dan terakhir ada Kwee Zwan Hong yang diangkat menjadi Letnan di tahun 1908 kemudian menjadi Kapten di tahun 1924 sampai tahun 1935. Selain itu sebenarnya masih ada yang bernama Kwee Tjiong Ien menjadi Letnan antara tahun 1907 sampai 1921, tetapi yang terakhir ini sebenarnya bukan dari keluarga Kwee yang sama, tetapi pendatang dari Jawa Timur yang menikah dengan putri dari Mayor Tan Tjin Kie.
Karena nama-nama bermarga Kwee ini ada 4 di daftar opsir tionghoa aku menjadi penasaran dan ingin melihat (atau memiliki) silsilah dari keluarga ini sebab aku menduga kalau keluarga ini juga pasti keluarga besar yang tidak kalah dengan keluarga Tan atau The.
Lewat penelusuran silsilah lain, aku berkenalan dengan ci Renate yang tinggal di Jerman. Ci Renate ini masih keturunan Gan dari Purbalingga tapi kemudian aku mengetahui kalau beliau ini masih keturunan Kapten Tan Tiang Keng dari Cirebon dari anak perempuannya yang menikah dengan Letnan Kwee Keng Eng. Menurut ci Renate ini Kwee Keng Eng hanya mempunyai 1 anak perempuan jadi marga Kwee nya habis tidak ada yang meneruskan.
Kemudian penelusuranku sampai di silsilah yang dibuat oleh Peter Oey Kok Khioe di Freemont, USA. Peter juga seorang yang tergila-gila silsilah dan dia membuat silsilah dari hampir semua leluhurnya. Di silsilah Liem dari Tegal yang disusun oleh Peter, aku menemukan ada nama Kwee Keng Joe, Kwee Keng Wan dan Kwee Keng Po. Aku mulai yakin kalau semua Kwee Keng … itu pasti saudara. Entah saudara kandung atau sepupu tapi mestinya mereka bersaudara 1 generasi.
Beberapa bulan kemudian aku sempat browsing di google dan menemukan suatu artikel mengenai keluarga Kwee ini yang dikatakan diawali oleh Kwee Giok San dan kemudian anaknya Kwee Boen Pien dan cucunya Kwee Keng Liem. Artikel itu mengenai homemovie yang dibuat oleh putra Kwee Keng Liem yang bernama Kwee Zwan Liang. Dan karena homemovie itu dibuat di tahun 1928 tentunya sangat unik sekali. Lengkapnya artikel itu bisa dibaca di : http://www.chineseheritagecentre.org/bulletin/jun2004/CHC.pdf .
Kembali ke awal tulisanku, setelah bertemu dengan Mey, dia berjanji kalau dia akan usahakan agar aku bisa bertemu dengan salah satu sesepuh keluarga Kwee yang tinggal di Belanda untuk membicarakan silsilah, karena aku mengatakan kalau aku tertarik dengan silsilah keluarga Kwee ini.
2 Minggu lalu aku menerima sms dari Mey yang mengatakan kalau oom nya bersedia menemui aku, dan aku mengunjungi oom Kwee Kiem Toen pada hari Minggunya dan meminta copy dari silsilah Kwee yang disimpannya. Dalam silsilah memang terlihat kalau Kwee Keng Yoe dan Kwee Keng Wan adalah adiknya Kwee Keng Liem tetapi tidak jelas siapa Kwee Keng Eng dan Kwee Keng Po. Yang pasti silsilah oom Kiem Toen hanya mencatat keturunan Kwee Boen Pien, sedangkan keturunan kakaknya tidak ada datanya, jadi diperkirakan Kwee Keng … yang lain kemungkinan besar keturunan kakaknya yang bernama Kwee Ban Hok.
Haloo, salam kenal,
saja sanget tertarik sewaktoe jij bilang batja boekoe Orang-orang Tionghoa jang Terkemoeka’ cetakan tahun 1935. kaloe tida salah karangannja Tan hong boen ampir 2 taon saja tjari itoe boekoe tapi tida djoempa,
sekiranja jij masih inget apa ada nama Kwee Thiam Tjing di dalem itoe boekoe kaloe ada, bisa di tjeritaken tentang itoe nama?
trima kasih sebelonnja djoega saja soeka batja jij poenja tjerita, poen saja pernah berdomisili di Cirebon 9 boelan lamanja
December 2006 yang lalu, ketika berada di Jamblang, saya pernah SMS Anda tentang saudara Anda yang di Surabaya, sudah dihubungi ?
kiranja saja bisa dapet itoe boekoe komplit, berapa saja moesti bajar ongkos foto copynja? saja sanget perloe itoe boekoe teroetawa tentang Kwee Hing tjiat
toean Saja bisakah dapetken boekoe Orang-orang Tionghoa jang Terkemoeka’ cetakan tahun 1935. dalem bentoek apapoen saja sanget boetoeh sama itoe boekoe.
trima kasih sebelonnja