Penulisan nama tionghoa di Indonesia
Jaman tahun 70-an, ada pasangan bulutangkis terkenal dari Malaysia, namanya Ng Boon Bee dan Tan Yee Kwan. Aku masih ingat bahwa pasangan double Indonesia kocar-kacir melawan mereka. Tentu saja waktu itu pasangan Indonesia yang terkenal seperti Christian dan Ade Chandra atau Tjuntjun dan Johan Wahyudi belum terkenal.
Waktu aku membaca nama Ng Boon Bee, aku tertawa, nama koq ya “Ng” ? bicaranya gimana tuh ? Koq bisa ya nama tionghoa jadi “Ng” ? Kayaknya di Indonesia ngga ada deh nama yang kayak gitu. Belakangan aku baru tahu kalau nama “Ng” di Malaysia itu di Indonesia sama saja dengan “Oey” atau “Oei”. Hal ini disebabkan oleh penulisan nama tionghoa ke huruf latin yang dilakukan di Malaysia (d/h Malaya) berlainan dengan yang ditulis di Indonesia.
Seperti banyak diketahui, banyak orang-orang tionghoa yang merantau ke daerah asia tenggara. Memang adanya diaspora dari orang-orang tionghoa sudah berjalan dari jaman dahulu, tetapi memuncak tinggi setelah dinasti Manchu berkuasa di daratan Tiongkok. Karena orang Manchu sebenarnya berasal dari daerah timur laut Tiongkok dan dianggap bukan orang “Han” oleh orang-orang tionghoa dulu, maka setelah dinasti Manchu berkuasa banyak terjadi pemberontakan. Hal ini membuat dinasti Manchu sebagai penguasa melakukan penindasan kepada orang tionghoa biasa. Karena keadaan hidup yang susah dengan adanya penindasan itu maka mereka yang susah akan berusaha untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Entah bagaimana dengan yang tinggal di daerah pedalaman sana, tetapi yang pasti didaerah pesisir Tiongkok atau daerah pantai, tentunya mereka mempunyai alternatip yaitu merantau ke negeri seberang.
Terutama dari propinsi Fujian dan Guandong banyak yang merantau ke asia tenggara. Dan entah apa sebab utamanya ternyata dari propinsi Fujian lebih banyak daripada yang dari propinsi Guandong. Orang-orang tionghoa yang datang ke asia tenggara itu biasanya hanya orang-orang miskin yang hanya mampu berbicara dialeknya sendiri-sendiri. Biasanya mereka berbicara memakai dialek hokkian atau hokchia atau khek (hakka) atau tiociu atau kwantung atau kongfu. Yang paling besar adalah yang berbahasa hokkian, karena itulah bahasa dialek hokkian ini yang menjadi paling terkenal dipakai didaerah asia tenggara. Terutama daerah Malaysia dan Indonesia, pada waktu abad ke XIX bahasa hokkian lebih banyak dipakai daripada bahasa mandarin.
Karena yang merantau itu adalah orang-orang kelas rendah atau dapat dikatakan miskin, tentu saja kebanyakan dari mereka tidak dapat berbahasa asing selain bahasanya sendiri. Karena kebanyakan datang dari propinsi Hokkian (mandarin : Fujian), maka bahasa Hokkianlah yang banyak digunakan. Nah kesulitan mulai terjadi ketika pendatang-pendatang ini diwajibkan untuk mencatatkan namanya di kota-kota dimana mereka datang. Malaysia (d/h Malaya) dan Singapore waktu itu termasuk jajahan Inggris, sedangkan Indonesia waktu itu bernama Hindia Belanda yang merupakan jajahan Negeri Belanda. Dapat dibayangkan bahwa karena pendatang yang ditanyai namanya itu tidak dapat menuliskan namanya dengan memakai huruf latin, maka yang menulis adalah pegawai negeri setempat yang tentu saja cara penulisannya hanya berdasarkan pendengarannya.
Karena ejaan bahasa Inggris dan ejaan bahasa belanda banyak yang berbeda, maka cara penulisan marga jadi berbeda-beda. Belum lagi perbedaan yang ada antar daerah seperti daerah jawa barat dan jawa tengah/timur yang juga menimbulkan perbedaan tulisan.
Kalau kita melihat tulisan marga “TAN”, maka tidak ada bedanya antara marga ini di Malaysia/Singapore dan di Indonesia. Juga di marga-marga “Ong” dan “Ang”, tidak ada perbedaan antara 2 daerah bekas jajahan Inggris dan Belanda ini. Tetapi banyak sekali marga-marga yang tulisan latin nya berbeda. Misalnya saja yang mudah kita lihat adalah “Liem” yang banyak kita jumpai di Indonesia, di Malaysia atau Singapore kita akan menjumpai marga yang sama dengan tulisan “Lim”. Hal ini karena cara penulisan dalam bahasa Belanda yang memang menuliskan “ie” untuk penyuaraan “i”. Juga tulisan yang kita sering lihat seperti “Tjan”,”Tjia”, “Tjoa”, “Tjioe” jelas tidak dipakai oleh orang-orang tionghoa di Malaysia/Singapore. Mereka memakai “Chan”, “Chia” “Choa” dan “Chiu”.
Sewaktu aku lahir, papiku memberi nama tionghoa yang sesuai dengan dinasehatkan oleh engkongku. Dan waktu itu papiku sudah memakai nama YEO sebagai marganya. Ada kemungkinan (ini aku sendiri kurang yakin) bahwa waktu beliau lahir namanya masih memakai tulisan JEO, sesuai dengan cara penulisan engkongku. Menurut cerita, papiku mengganti marganya menjadi YEO karena melihat di Singapore nama JEO kalau dipanggil menjadi lain bunyinya dengan apa yang biasa didengar di Indonesia waktu itu. Di keluarga papiku jadi marganya bermacam-macam. Ada yang Yeo, ada yang Jeo, ada juga yang Yo. Padahal semuanya kalau di mandarinkan menjadi YANG. Di kota lain, misalnya Semarang ada juga keluarga Njo atau Nyo, di daerah lain juga ada yang memakai marga Nyoo. Semua marga ini ternyata kalau dalam bahasa mandarin semuanya sama, YANG juga. Menurut seorang pakar yang pernah aku tanyakan, dalam pengucapan bahasa hokkian, marga Yeo ini diucapkan dengan bunyi sengau. Nah ternyata, bunyi sengau ini yang menjadi gara-gara dari perbedaan penulisan ini. Sebabnya karena bunyi sengau tidak dikenal dalam alfabet latin. Karenanya dicoba menulis menurut pendengaran masing-masing penulis yang akhirnya mengakibatkan perbedaan penulisan, sedangkan seharusnya semuanya itu sama.
Menurut temanku yang aku kenal lewat internet, bahasa hokkian juga sudah mulai di standarisasi. Kita ingat dulu kalau menuliskan Mao Tse Tung harus diubah sesuai dengan pinyin nya menjadi Mao Ze Dong. Di bahasa hokkian juga sedang diusahakan untuk menjadi seperti pinyin antara lain kalau menuliskan Yeo menjadi Yno, dan The menjadi Tne, Thio menjadi Tnio. Entah bagaimana menuliskan nama-nama yang lainnya.
hi…steve….
tenang aja..ada yang always setia baca blog kamu kok…budi….aku juga kadang baca…kamu suka males nulis sih…gak kayak nike….
cuman kalo budi dia gak suka kasih komentar…demen baca doang…
contohnya barusan…aku bilang dia…aku mau baca blog steve ah…
kata dia …emang steve nulis lagi…udah lama dia gak nulis lagi…terakhir november -an kali…
pas aku buka …betul juga…nah jadi terus nulis yah…
ada pembaca setia kok….
ada ga sejarah antara marga lim dengan huang??
apa yg terjadi antara marga lim dengan marga huang??