Menulis
Jaman sekarang dimana internet sudah mendarah daging, banyak orang jadi rajin menulis. Ada baiknya juga sih aku pikir, sebab banyak orang-orang yang tadinya tidak tau kalau mempunyai bakat menulis, ternyata setelah beberapa tahun ini justru rajin menulis dan tulisan-tulisannya renyah dibaca alias menyenangkan untuk dibaca dan tidak kaku. Kadang aku terkagum-kagum kalau membaca tulisan seseorang yang bisa membawa si pembaca kedalam suatu cerita.
Salah satu cara mempublikasi tulisan yaitu melalui apa yang dinamakan sebagai weblog atau kerennya : Blog. Orang-orang yang menulis blog itu banyak macamnya. Ada yang sekedar nulis supaya hati lega (ini penting lho, kadang menulis suatu yang menjadi pikiran itu melenggangkan perasaan), ada yang menulis karena ingin share suatu yang dialaminya. Ada juga yang menulis karena pengen beken.
Untuk orang-orang yang termasuk dari golongan pertama ini, mereka tidak memusingkan siapa yang membaca. Kasarnya dibaca bagus, tidak ada yang baca juga tidak apa-apa karena tujuannya menulis cuman ingin mengeluarkan pikiran yang mungkin mencekamnya.
Untuk orang-orang yang termasuk golongan kedua ini biasanya mempunyai kelompok pembaca tersendiri. Entah keluarganya atau teman-temannya tetapi jelas mempunyai pembaca yang setia. Kalaupun ada stranger atau pengunjung asing yang membaca tulisannya tentunya yang menulis juga akan senang. Apalagi kalau mendapatkan komentar/kritik/pendapat dari pengunjungnya.
Untuk golongan yang ketiga ini, aku benar-benar sebal. Sebab menurut perasaanku aku tidak pernah tertarik membaca blog seseorang tetapi seolah dipaksa untuk membaca. Aku sering mendapatkan email dari friendster yang mengatakan kalau salah satu temanku di friendster baru saja menuliskan blog. Kadang memang aku tidak interested untuk membaca blognya, tapi aku masih mengerti, sebab ya inilah risikonya kalau menjadi anggota friendster. Cara lain yang sama seperti friendster ini adalah multiply. Tapi aku sangat membenci orang-orang yang tidak kukenal kemudian mengirimkan email dan menyebutkan kalau yang bersangkutan baru saja menyelesaikan blognya. Aku pikir, apa hubungannya denganku ? aku kenal dia juga tidak. Kenapa aku mesti masuk dalam daftarnya sehingga selalu dikirimi email. Akhirnya dengan memakai fasilitas auto delete atau auto junks langsung saja email yang tidak diundang itu dikirim ke trash.
Cara lain dari orang yang pengen beken mendadak ini adalah mengirimkan tulisan-tulisannya di milis. Masih lumayan kalau kalau tulisannya berbobot sehingga menjadi bahan pengetahuan. Meskipun mungkin untuk yang sudah tahu berita yang ditulis malah bisa membuat annoyed, tapi sampai disitu aku masih bisa menerima. Yang tidak bisa ku terima adalah adanya peri laku seseorang yang suka sok tahu, mengirimkan berita panjang, yang seolah-olah berita itu suatu penulisan dirinya sendiri, tetapi sebenarnya 100% menuliskan hasil karya orang lain. Dan juga kadang si penulis sama sekali tidak menguasai bidang yang ditulisnya.
Aku pernah mengatakan pada si pelaku itu, kalau tidak tahu ya mbok nanya, jangan nulis sesuatu yang salah, dengan harapan ada orang yang ngasih tau salahnya dimana. Emangnya kenapa sih kalau nanya ? Aku selalu mengaku kalau pengetahuanku rendah di beberapa hal. Karena itu aku sering bertanya. Misalnya saja aku masuk milis Budaya Tionghua, dan tujuanku cuman satu, yaitu mengetahui lebih banyak mengenai kebudayaan orang tionghoa di jaman dulu. Karenanya aku sering bertanya kepada sesepuh-sesepuh disana mengenai dan itu.
Aku tidak pernah melarang orang untuk menulis. Kalau memang seseorang ingin menulis cerita panjang, ya tulislah. Yang membuatku annoyed hanya adalah karena mereka ini mengirimkan tulisannya ini ke milis-milis yang kadang tidak ada sangkut pautnya dengan isi tulisannya. Thank God bahwa di outlook ada feature yang bisa mengirim email langsung ke ‘deleted items’.
Ada beberapa penulis yang aku kagumi. Salah satunya adalah alm. pak Sobron Aidit. Pak Sobron ini menulis tiap hari dan herannya setiap hari itu aku bisa membacanya tanpa ada rasa bosan sedikitpun. Sepertinya tulisan-tulisan pak Sobron selalu membuat mulutku tersenyum sedikit. Menghilangkan stress meskipun hanya sejenak. Sungguh suatu bakat yang luar biasa, menulis tiap hari tanpa membosankan si pembaca. Entah beliau menulis soal pengalamannya, ataukan menuliskan soal makanan yang disukainya, atau menulis kejadian dulu atau cerita tentang cucu nya yang lucu yang menjadi penjaga gawang, semua tulisannya itu sangat jelas dan mudah dicerna. Sayang beliau terlalu cepat meninggalkan kita semua. Aku yakin sekarang orang-orang di Sorga sana menjadi terhibur karena Pak Sobron menemani mereka dengan tulisan-tulisannya.