Ganti Nama
Kebanyakan kita mengetahui kalau tahun-tahun 60-an nama-nama tionghoa diganti menjadi nama Indonesia. Ada yang mengganti nama secara mudah, ada juga yang mencari nama lewat dukun atau sinshé. Ada yang mengganti nama sekenanya saja ada juga yang mengganti nama dengan cara menterjemahkan nama tionghoanya ke nama yang berbau-bau Jawa atau Sangsekerta.
Papiku mengganti nama menjadi Djohan Haryono. Aku pernah menanyakan kenapa ganti nama ? jawabnya : Papi itu pedagang, kadang perlu minta ijin ini dan itu. Kalau memakai nama tionghoa, sulit dapat surat ijinnya, jadi kalau pakai nama Indonesia mestinya lebih gampang. Aku pernah mendengar beliau pernah ngobrol dengan alm. Mr. Yap Thiam Hien dalam pertemuan keluarga (Yeah right, oom Yap ini menikah dengan salah satu sepupu jauh dari mamiku, jadi mereka pernah ketemu dalam acara keluarga) dan waktu itu papiku mengatakan : yah broer, U kan tau semua semua ayat di wetboek, lha owé tau apa ? di gertak sama polisi ya owé juga gemeter.
Intinya sebenarnya simpel. Papiku tidak mau disusahkan. Kalau pemerintah menganjurkan untuk ganti nama demi pembauran, ya papiku ganti nama, no problem toh ?
Nah bagaimana prosesnya ganti nama papi waktu dulu ? Katanya sih papi waktu sekolah di desa Jamblang waktu kelas 0 gitu, guru belanda nya tidak bisa menyebutkan nama Yeo Peng Liem, jadi dikasih nama sebagai Johan. Menurut cerita tante dan oomku yang lain, memang si guru londo itu memberikan semua muridnya nama belanda, agar mudah diingat. Selain itu papiku juga diberi nama oleh teman-teman pribuminya sebagai soeharjono (ejaan lama ya, soalnya ini pasti sekitar tahun 1930-an).
Pas papi ganti nama dia tidak lama mesti mikir, dia pikir, hey…aku toh sudah ada nama jawa, kenapa tidak aku pakai saja nama itu. Alhasil namanya jadi Johan Soeharjono. Nama itu yang masuk di kepalanya papiku saat itu. Kemudian dia berpikir juga : wah…. Soe itu artinya selain 4 juga berarti ‘mati’. Nah karena dia tidak mau mati saat itu, dia buang itu huruf ‘soe’ nya. Jadi tinggal Johan Harjono. Dan karena waktu itu dia sudah beberapa kali pergi ke luar negeri dia mengetahui kalau memakai nama Harjono pasti akan penyebutan bahasa Inggris akan lain dengan pendengaran bahasa Indonesia, karenanya papiku mengganti menjadi Haryono. Hal ini terjadi sebelum penggantian ejaan baru, sekitar tahun 1964.
Setelah menemukan nama Johan Haryono itu, papi juga mengusulkan memakai nama Grace Haryono dan Steve Haryono untuk kakakku dan aku sendiri. Dan papiku mengirimkan permohonan penggantian nama tersebut ke pengadilan tinggi di Jakarta. Menurut cerita yang aku dapat, katanya pengadilan tinggi Jakarta menyatakan tidak berkeberatan permohonan ganti nama tersebut, tetapi pengadilan kota Cirebon menolak, katanya namanya berbau Belanda dan harus diganti.
Karena permohonan ditolak, maka papiku menambahkan D didepan Johan menjadi Djohan. Sedangkan kakakku menganti nama menjadi Yani Hendrawati Haryono. Entah darimana dia mendapatkan nama tersebut, tetapi karena dia memakai Yani, aku jadi ikut-ikutan mau pake Yan juga alhasil aku memilih Yanto, dan nama tengahnya aku memakai nama Adang. Lha darimana nama Adang itu ? waktu itu papiku mempunyai perusahaan yang bernama C.V. Adang, dan aku pikir saat itu, mungkin suatu waktu perusahaan ini akan menjadi milikku jadi aku ganti nama saja sekalian pake nama perusahaan, simpel toh ?
Karena nama tionghoaku adalah Yeo Tjong Hian, di sekolah SD di Cirebon, mereka masih memanggil sebagai Tjong Hian atau Hian. Dan karena Hian dan Yan masih ada bau-baunya, maka aku tidak berkeberatan dipanggil Hian atau Yan. Susahnya pas pindah ke Jakarta, di SMP dan SMA tidak ada yang mengenal nama tionghoaku, semuanya mengenal sebagai Yanto. Jadi lah nama panggilanku menjadi ‘to’ ‘to’ ‘to’.
Ketika aku pertama kali menginjakkan kakiku di negeri Belanda ini aku bersalaman untuk mengenalkan diri kepada salah seorang kenalan papiku. Saat itu kepalaku berpikir, kalau aku memberikan nama yang salah, maka nama itu akan aku pakai sepanjang kehidupanku di negara ini. Karena aku tidak mau lagi dipanggil sebagai ‘to’…..’to’……’to’…. waktu itu aku menyebutkan namaku sebagai ‘Steve’ dan sejak saat itu semua memanggil aku dengan nama Steve. Nama panggilan yang memang sudah diberikan sejak lahir tetapi memang jarang digunakan.
Kalau kebanyakan nama tionghoa di Indonesia diganti menjadi nama Indonesia, ternyata waktu aku berkenalan dengan seorang oom dari keluarga The, dia mengganti namanya menjadi nama Belanda.
Si oom ini memang keturunan tionghoa belanda. Papinya masih keturunan The, tetapi maminya seorang belanda tulen. Kalau dilihat raut mukanya juga sudah tidak mirip seorang tionghoa lagi. Menurrut ceritanya si oom diberi nama sebagai Theodorus Franciscus The. Nama panggilannya adalah Dick.
Selain mendapat nama belanda, oom Dick juga mempunyai nama tionghoa yaitu The Tjwan Bing. Menurut oom Dick nama tionghoanya tidak resmi, sebab ayahnya mendaftarkan nama belanda di catatan sipil.
Terus dikemudian hari oom Dick mengganti namanya menjadi Dick van Thessen. Aku sempat menanyakan mengapa mesti mengganti nama ? apakah takut didiskriminasi ? Oom Dick mengatakan kalau beliau mengganti nama bukan karena diskriminasi tetapi ada pertimbangan-pertimbangan lain.
Oom Dick ini diplomat, dan dalam karirnya oom Dick cukup berhasil. Beliau bahkan sempat menjabat sebagai Duta Besar New Zealand dan Duta Besar kerajaan Belgia. Sebagai diplomat dia sudah mencapai puncaknya, dan beliau mengatakan bahwa pekerjaannya itu menyulitkan kalau dia memakai nama marga tionghoanya. Bukan karena diskriminasi atau apa, tetapi cuman karena kombinasi antara nama depan dan nama belakangnya. Bayangkan saja kalau duta besar belanda bernama : Dick The ……. Dan kalau di balik menjadi : ………..The Dick.