Archive for January, 2007

You are currently browsing the archives of Steve’s hut .

Ganti Nama

Kebanyakan kita mengetahui kalau tahun-tahun 60-an nama-nama tionghoa diganti menjadi nama Indonesia. Ada yang mengganti nama secara mudah, ada juga yang mencari nama lewat dukun atau sinshé. Ada yang mengganti nama sekenanya saja ada juga yang mengganti nama dengan cara menterjemahkan nama tionghoanya ke nama yang berbau-bau Jawa atau Sangsekerta.

Papiku mengganti nama menjadi Djohan Haryono. Aku pernah menanyakan kenapa ganti nama ? jawabnya : Papi itu pedagang, kadang perlu minta ijin ini dan itu. Kalau memakai nama tionghoa, sulit dapat surat ijinnya, jadi kalau pakai nama Indonesia mestinya lebih gampang. Aku pernah mendengar beliau pernah ngobrol dengan alm. Mr. Yap Thiam Hien dalam pertemuan keluarga (Yeah right, oom Yap ini menikah dengan salah satu sepupu jauh dari mamiku, jadi mereka pernah ketemu dalam acara keluarga) dan waktu itu papiku mengatakan : yah broer, U kan tau semua semua ayat di wetboek, lha owé tau apa ? di gertak sama polisi ya owé juga gemeter.

Intinya sebenarnya simpel. Papiku tidak mau disusahkan. Kalau pemerintah menganjurkan untuk ganti nama demi pembauran, ya papiku ganti nama, no problem toh ?

Nah bagaimana prosesnya ganti nama papi waktu dulu ? Katanya sih papi waktu sekolah di desa Jamblang waktu kelas 0 gitu, guru belanda nya tidak bisa menyebutkan nama Yeo Peng Liem, jadi dikasih nama sebagai Johan. Menurut cerita tante dan oomku yang lain, memang si guru londo itu memberikan semua muridnya nama belanda, agar mudah diingat. Selain itu papiku juga diberi nama oleh teman-teman pribuminya sebagai soeharjono (ejaan lama ya, soalnya ini pasti sekitar tahun 1930-an).

Pas papi ganti nama dia tidak lama mesti mikir, dia pikir, hey…aku toh sudah ada nama jawa, kenapa tidak aku pakai saja nama itu. Alhasil namanya jadi Johan Soeharjono. Nama itu yang masuk di kepalanya papiku saat itu. Kemudian dia berpikir juga : wah…. Soe itu artinya selain 4 juga berarti ‘mati’. Nah karena dia tidak mau mati saat itu, dia buang itu huruf ‘soe’ nya. Jadi tinggal Johan Harjono. Dan karena waktu itu dia sudah beberapa kali pergi ke luar negeri dia mengetahui kalau memakai nama Harjono pasti akan penyebutan bahasa Inggris akan lain dengan pendengaran bahasa Indonesia, karenanya papiku mengganti menjadi Haryono. Hal ini terjadi sebelum penggantian ejaan baru, sekitar tahun 1964.

Setelah menemukan nama Johan Haryono itu, papi juga mengusulkan memakai nama Grace Haryono dan Steve Haryono untuk kakakku dan aku sendiri. Dan papiku mengirimkan permohonan penggantian nama tersebut ke pengadilan tinggi di Jakarta. Menurut cerita yang aku dapat, katanya pengadilan tinggi Jakarta menyatakan tidak berkeberatan permohonan ganti nama tersebut, tetapi pengadilan kota Cirebon menolak, katanya namanya berbau Belanda dan harus diganti.

Karena permohonan ditolak, maka papiku menambahkan D didepan Johan menjadi Djohan. Sedangkan kakakku menganti nama menjadi Yani Hendrawati Haryono. Entah darimana dia mendapatkan nama tersebut, tetapi karena dia memakai Yani, aku jadi ikut-ikutan mau pake Yan juga alhasil aku memilih Yanto, dan nama tengahnya aku memakai nama Adang. Lha darimana nama Adang itu ? waktu itu papiku mempunyai perusahaan yang bernama C.V. Adang, dan aku pikir saat itu, mungkin suatu waktu perusahaan ini akan menjadi milikku jadi aku ganti nama saja sekalian pake nama perusahaan, simpel toh ?

Karena nama tionghoaku adalah Yeo Tjong Hian, di sekolah SD di Cirebon, mereka masih memanggil sebagai Tjong Hian atau Hian. Dan karena Hian dan Yan masih ada bau-baunya, maka aku tidak berkeberatan dipanggil Hian atau Yan. Susahnya pas pindah ke Jakarta, di SMP dan SMA tidak ada yang mengenal nama tionghoaku, semuanya mengenal sebagai Yanto. Jadi lah nama panggilanku menjadi ‘to’ ‘to’ ‘to’.

Ketika aku pertama kali menginjakkan kakiku di negeri Belanda ini aku bersalaman untuk mengenalkan diri kepada salah seorang kenalan papiku. Saat itu kepalaku berpikir, kalau aku memberikan nama yang salah, maka nama itu akan aku pakai sepanjang kehidupanku di negara ini. Karena aku tidak mau lagi dipanggil sebagai ‘to’…..’to’……’to’…. waktu itu aku menyebutkan namaku sebagai ‘Steve’ dan sejak saat itu semua memanggil aku dengan nama Steve. Nama panggilan yang memang sudah diberikan sejak lahir tetapi memang jarang digunakan.

Kalau kebanyakan nama tionghoa di Indonesia diganti menjadi nama Indonesia, ternyata waktu aku berkenalan dengan seorang oom dari keluarga The, dia mengganti namanya menjadi nama Belanda.

Si oom ini memang keturunan tionghoa belanda. Papinya masih keturunan The, tetapi maminya seorang belanda tulen. Kalau dilihat raut mukanya juga sudah tidak mirip seorang tionghoa lagi. Menurrut ceritanya si oom diberi nama sebagai Theodorus Franciscus The. Nama panggilannya adalah Dick.

Selain mendapat nama belanda, oom Dick juga mempunyai nama tionghoa yaitu The Tjwan Bing. Menurut oom Dick nama tionghoanya tidak resmi, sebab ayahnya mendaftarkan nama belanda di catatan sipil.

Terus dikemudian hari oom Dick mengganti namanya menjadi Dick van Thessen. Aku sempat menanyakan mengapa mesti mengganti nama ? apakah takut didiskriminasi ? Oom Dick mengatakan kalau beliau mengganti nama bukan karena diskriminasi tetapi ada pertimbangan-pertimbangan lain.

Oom Dick ini diplomat, dan dalam karirnya oom Dick cukup berhasil. Beliau bahkan sempat menjabat sebagai Duta Besar New Zealand dan Duta Besar kerajaan Belgia. Sebagai diplomat dia sudah mencapai puncaknya, dan beliau mengatakan bahwa pekerjaannya itu menyulitkan kalau dia memakai nama marga tionghoanya. Bukan karena diskriminasi atau apa, tetapi cuman karena kombinasi antara nama depan dan nama belakangnya. Bayangkan saja kalau duta besar belanda bernama : Dick The ……. Dan kalau di balik menjadi : ………..The Dick.

Posted by steve on Jan 30th 2007 | Filed in Misc | Comments (1)

Keluarga Kwee

Suatu hari aku menerima undangan dari Hok Soei untuk datang ke rumahnya. Katanya ada seorang keturunan marga The yang dari Surabaya akan datang ke rumahnya juga dan bersama dengan Hauw Gie kita bisa berbincang-bincang siapa tau saja ada hubungan dengan keluarga The yang di Cirebon dan keluarga The yang di Surabaya.

Sebelumnya lewat buku-buku ‘Regerings Alamak’ sebenarnya aku sudah mengira-ngira kalau bakalnya sulit mencari hubungan antara dua keluarga The ini. Karena keluarga The yang di Surabaya sudah sejak awal abad ke 19 menjadi Kapten dan Letnan tionghoa disana sedangkan leluhur keluarga The yang dari Cirebon diperkirakan baru jaya sekitar tahun 1840-an lebih.

Akhirnya perkiraanku menjadi kenyataan, bahwa kedua keluarga The ini memang tidak diketemukan hubungannya kecuali marganya saja yang sama. Keluarga The dari Surabaya termasuk keluarga yang sangat terkenal dan memegang jabatan Mayor, Kapten dan Letnan secara bergilir sejak awal abad ke 19 sampai akhirnya jabatan itu dihapuskan. Tidak heran kalau keluarga yang besar itu mempunyai juga buku silsilah yang lumayan lengkap dari leluhur yang pertama. Kenalan Hok Soei yang keturunan keluarga The ini bernama ‘Tik’ dan istrinya bernama ‘Mey’, mereka tinggal di Amstelveen. Sebenarnya aku sudah lama mengetahui tentang mereka cuman saja tidak pernah ada kontak.

Aku mengetahui kalau keduanya berasal dari Jawa Timur jadi tidak pernah kepikiran untuk bertanya lebih lanjut. Pada hari itu aku kebetulan membawa buku pinjaman dari perpustakaan yang judulnya ‘Orang-orang Tionghoa jang Terkemoeka’ cetakan tahun 1935. Tik dan Mey sempat melihat-lihat buku itu dan karena mereka melihat juga bagian kota Bandung (orang-orang tionghoa terkenal di Bandung), aku menanyakan apakah pernah tinggal di Bandung.

Mey mengatakan kalau sebenarnya maminya berasal dari Bandung, dan tepatnya Linggajati. Mey bahkan menanyakan apakah aku mengetahui dimana Linggajati itu. Tentu saja aku mengetahui sebab sebagai orang yang lahir di Cirebon, Linggajati termasuk tempat kunjungan tiap weekend. Mey Mengatakan kalau maminya lahir di desa Linggajati dan kemudian pindah ke Bandung dan sekolah disana sampai bertemu dengan papinya yang orang Jember kemudian setelah menikah diboyong ke Jember.

Tentu saja kesempatan ini tidak aku lewatkan untuk menanyakan siapa nama maminya, nama engkong, kongco dan lain-lainnya. Ternyata Mey mengatakan kalau engkongnya bernama Kwee Zwan Liang dan kongconya Kwee Keng Liem. Nama keluarga Kwee ini sudah cukup lama aku cari keturunannya, sebab menurut cerita orang-orang tua, di Cirebon dulu ada beberapa keluarga besar yang cukup terkenal dan mereka selalu menjabat pangkat opsir-opsir tionghoa.

Sejak awal abad ke 19 sampai sekitar tahun 1925-an pangkat opsir tionghoa di Cirebon hampir selalu di dominasi oleh beberapa keluarga. Kemungkinan keluarga-keluarga ini yang mempunyai pengaruh besar di kota Cirebon itu. Keluarga-keluarga itu antara lain keluarga Tan, Kwee, The dan Oey. Menurut data dari Regerings Alamak aku dapat mengetahui bahwa keluarga Tan dan Kwee di Cirebon ini dulunya mengelola pabrik gula, sedangkan keluarga Oey mempunyai beberapa perkebunan singkong. Keluarga The di lain pihak mempunyai perusahaan perkapalan.

Keluarga The dan Oey sudah aku punyai silsilahnya karena aku masih keturunan dari 2 keluarga tersebut. Silsilah keluarga Tan aku juga punya karena pernah dikirimi oleh Oom Swie, adik papiku yang tinggal di Cirebon. Cuman silsilah keluarga Kwee saja yang belum aku punyai.

Dari buku Regerings Almanak itu ada 4 orang Kwee yang pernah menjabat opsir tionghoa di Cirebon. Pertama adalah Kwee Boen Pien yang menjadi Letnan tahun 1874, kemudian Kwee Keng Eng dan Kwee Keng Liem tahun 1884, keduanya menjdai Letnan dan terakhir ada Kwee Zwan Hong yang diangkat menjadi Letnan di tahun 1908 kemudian menjadi Kapten di tahun 1924 sampai tahun 1935. Selain itu sebenarnya masih ada yang bernama Kwee Tjiong Ien menjadi Letnan antara tahun 1907 sampai 1921, tetapi yang terakhir ini sebenarnya bukan dari keluarga Kwee yang sama, tetapi pendatang dari Jawa Timur yang menikah dengan putri dari Mayor Tan Tjin Kie.

Karena nama-nama bermarga Kwee ini ada 4 di daftar opsir tionghoa aku menjadi penasaran dan ingin melihat (atau memiliki) silsilah dari keluarga ini sebab aku menduga kalau keluarga ini juga pasti keluarga besar yang tidak kalah dengan keluarga Tan atau The.

Lewat penelusuran silsilah lain, aku berkenalan dengan ci Renate yang tinggal di Jerman. Ci Renate ini masih keturunan Gan dari Purbalingga tapi kemudian aku mengetahui kalau beliau ini masih keturunan Kapten Tan Tiang Keng dari Cirebon dari anak perempuannya yang menikah dengan Letnan Kwee Keng Eng. Menurut ci Renate ini Kwee Keng Eng hanya mempunyai 1 anak perempuan jadi marga Kwee nya habis tidak ada yang meneruskan.

Kemudian penelusuranku sampai di silsilah yang dibuat oleh Peter Oey Kok Khioe di Freemont, USA. Peter juga seorang yang tergila-gila silsilah dan dia membuat silsilah dari hampir semua leluhurnya. Di silsilah Liem dari Tegal yang disusun oleh Peter, aku menemukan ada nama Kwee Keng Joe, Kwee Keng Wan dan Kwee Keng Po. Aku mulai yakin kalau semua Kwee Keng … itu pasti saudara. Entah saudara kandung atau sepupu tapi mestinya mereka bersaudara 1 generasi.

Beberapa bulan kemudian aku sempat browsing di google dan menemukan suatu artikel mengenai keluarga Kwee ini yang dikatakan diawali oleh Kwee Giok San dan kemudian anaknya Kwee Boen Pien dan cucunya Kwee Keng Liem. Artikel itu mengenai homemovie yang dibuat oleh putra Kwee Keng Liem yang bernama Kwee Zwan Liang. Dan karena homemovie itu dibuat di tahun 1928 tentunya sangat unik sekali. Lengkapnya artikel itu bisa dibaca di : http://www.chineseheritagecentre.org/bulletin/jun2004/CHC.pdf .

Kembali ke awal tulisanku, setelah bertemu dengan Mey, dia berjanji kalau dia akan usahakan agar aku bisa bertemu dengan salah satu sesepuh keluarga Kwee yang tinggal di Belanda untuk membicarakan silsilah, karena aku mengatakan kalau aku tertarik dengan silsilah keluarga Kwee ini.

2 Minggu lalu aku menerima sms dari Mey yang mengatakan kalau oom nya bersedia menemui aku, dan aku mengunjungi oom Kwee Kiem Toen pada hari Minggunya dan meminta copy dari silsilah Kwee yang disimpannya. Dalam silsilah memang terlihat kalau Kwee Keng Yoe dan Kwee Keng Wan adalah adiknya Kwee Keng Liem tetapi tidak jelas siapa Kwee Keng Eng dan Kwee Keng Po. Yang pasti silsilah oom Kiem Toen hanya mencatat keturunan Kwee Boen Pien, sedangkan keturunan kakaknya tidak ada datanya, jadi diperkirakan Kwee Keng … yang lain kemungkinan besar keturunan kakaknya yang bernama Kwee Ban Hok.

Posted by steve on Jan 30th 2007 | Filed in Silsilah | Comments (4)