Archive for November, 2006

You are currently browsing the archives of Steve’s hut .

Penulisan nama tionghoa di Indonesia

Jaman tahun 70-an, ada pasangan bulutangkis terkenal dari Malaysia, namanya Ng Boon Bee dan Tan Yee Kwan. Aku masih ingat bahwa pasangan double Indonesia kocar-kacir melawan mereka. Tentu saja waktu itu pasangan Indonesia yang terkenal seperti Christian dan Ade Chandra atau Tjuntjun dan Johan Wahyudi belum terkenal.
Waktu aku membaca nama Ng Boon Bee, aku tertawa, nama koq ya “Ng” ? bicaranya gimana tuh ? Koq bisa ya nama tionghoa jadi “Ng” ? Kayaknya di Indonesia ngga ada deh nama yang kayak gitu. Belakangan aku baru tahu kalau nama “Ng” di Malaysia itu di Indonesia sama saja dengan “Oey” atau “Oei”. Hal ini disebabkan oleh penulisan nama tionghoa ke huruf latin yang dilakukan di Malaysia (d/h Malaya) berlainan dengan yang ditulis di Indonesia.
Seperti banyak diketahui, banyak orang-orang tionghoa yang merantau ke daerah asia tenggara. Memang adanya diaspora dari orang-orang tionghoa sudah berjalan dari jaman dahulu, tetapi memuncak tinggi setelah dinasti Manchu berkuasa di daratan Tiongkok. Karena orang Manchu sebenarnya berasal dari daerah timur laut Tiongkok dan dianggap bukan orang “Han” oleh orang-orang tionghoa dulu, maka setelah dinasti Manchu berkuasa banyak terjadi pemberontakan. Hal ini membuat dinasti Manchu sebagai penguasa melakukan penindasan kepada orang tionghoa biasa. Karena keadaan hidup yang susah dengan adanya penindasan itu maka mereka yang susah akan berusaha untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Entah bagaimana dengan yang tinggal di daerah pedalaman sana, tetapi yang pasti didaerah pesisir Tiongkok atau daerah pantai, tentunya mereka mempunyai alternatip yaitu merantau ke negeri seberang.
Terutama dari propinsi Fujian dan Guandong banyak yang merantau ke asia tenggara. Dan entah apa sebab utamanya ternyata dari propinsi Fujian lebih banyak daripada yang dari propinsi Guandong. Orang-orang tionghoa yang datang ke asia tenggara itu biasanya hanya orang-orang miskin yang hanya mampu berbicara dialeknya sendiri-sendiri. Biasanya mereka berbicara memakai dialek hokkian atau hokchia atau khek (hakka) atau tiociu atau kwantung atau kongfu. Yang paling besar adalah yang berbahasa hokkian, karena itulah bahasa dialek hokkian ini yang menjadi paling terkenal dipakai didaerah asia tenggara. Terutama daerah Malaysia dan Indonesia, pada waktu abad ke XIX bahasa hokkian lebih banyak dipakai daripada bahasa mandarin.
Karena yang merantau itu adalah orang-orang kelas rendah atau dapat dikatakan miskin, tentu saja kebanyakan dari mereka tidak dapat berbahasa asing selain bahasanya sendiri. Karena kebanyakan datang dari propinsi Hokkian (mandarin : Fujian), maka bahasa Hokkianlah yang banyak digunakan. Nah kesulitan mulai terjadi ketika pendatang-pendatang ini diwajibkan untuk mencatatkan namanya di kota-kota dimana mereka datang. Malaysia (d/h Malaya) dan Singapore waktu itu termasuk jajahan Inggris, sedangkan Indonesia waktu itu bernama Hindia Belanda yang merupakan jajahan Negeri Belanda. Dapat dibayangkan bahwa karena pendatang yang ditanyai namanya itu tidak dapat menuliskan namanya dengan memakai huruf latin, maka yang menulis adalah pegawai negeri setempat yang tentu saja cara penulisannya hanya berdasarkan pendengarannya.
Karena ejaan bahasa Inggris dan ejaan bahasa belanda banyak yang berbeda, maka cara penulisan marga jadi berbeda-beda. Belum lagi perbedaan yang ada antar daerah seperti daerah jawa barat dan jawa tengah/timur yang juga menimbulkan perbedaan tulisan.
Kalau kita melihat tulisan marga “TAN”, maka tidak ada bedanya antara marga ini di Malaysia/Singapore dan di Indonesia. Juga di marga-marga “Ong” dan “Ang”, tidak ada perbedaan antara 2 daerah bekas jajahan Inggris dan Belanda ini. Tetapi banyak sekali marga-marga yang tulisan latin nya berbeda. Misalnya saja yang mudah kita lihat adalah “Liem” yang banyak kita jumpai di Indonesia, di Malaysia atau Singapore kita akan menjumpai marga yang sama dengan tulisan “Lim”. Hal ini karena cara penulisan dalam bahasa Belanda yang memang menuliskan “ie” untuk penyuaraan “i”. Juga tulisan yang kita sering lihat seperti “Tjan”,”Tjia”, “Tjoa”, “Tjioe” jelas tidak dipakai oleh orang-orang tionghoa di Malaysia/Singapore. Mereka memakai “Chan”, “Chia” “Choa” dan “Chiu”.
Sewaktu aku lahir, papiku memberi nama tionghoa yang sesuai dengan dinasehatkan oleh engkongku. Dan waktu itu papiku sudah memakai nama YEO sebagai marganya. Ada kemungkinan (ini aku sendiri kurang yakin) bahwa waktu beliau lahir namanya masih memakai tulisan JEO, sesuai dengan cara penulisan engkongku. Menurut cerita, papiku mengganti marganya menjadi YEO karena melihat di Singapore nama JEO kalau dipanggil menjadi lain bunyinya dengan apa yang biasa didengar di Indonesia waktu itu. Di keluarga papiku jadi marganya bermacam-macam. Ada yang Yeo, ada yang Jeo, ada juga yang Yo. Padahal semuanya kalau di mandarinkan menjadi YANG. Di kota lain, misalnya Semarang ada juga keluarga Njo atau Nyo, di daerah lain juga ada yang memakai marga Nyoo. Semua marga ini ternyata kalau dalam bahasa mandarin semuanya sama, YANG juga. Menurut seorang pakar yang pernah aku tanyakan, dalam pengucapan bahasa hokkian, marga Yeo ini diucapkan dengan bunyi sengau. Nah ternyata, bunyi sengau ini yang menjadi gara-gara dari perbedaan penulisan ini. Sebabnya karena bunyi sengau tidak dikenal dalam alfabet latin. Karenanya dicoba menulis menurut pendengaran masing-masing penulis yang akhirnya mengakibatkan perbedaan penulisan, sedangkan seharusnya semuanya itu sama.
Menurut temanku yang aku kenal lewat internet, bahasa hokkian juga sudah mulai di standarisasi. Kita ingat dulu kalau menuliskan Mao Tse Tung harus diubah sesuai dengan pinyin nya menjadi Mao Ze Dong. Di bahasa hokkian juga sedang diusahakan untuk menjadi seperti pinyin antara lain kalau menuliskan Yeo menjadi Yno, dan The menjadi Tne, Thio menjadi Tnio. Entah bagaimana menuliskan  nama-nama yang lainnya.

Posted by steve on Nov 3rd 2006 | Filed in Misc | Comments (2)

Ngubek-ngubek family Oey

Sudah lama sebenarnya aku ingin mampir kerumah tante Els Khohonggiem. Dengan anaknya Robby, aku sudah mengenal sejak aktif dulu di gereja di Amstelveen. Sejak dahulu sudah pernah aku diceritakan oleh salah seorang teman papi ku kalau tante Els itu masih saudara. Cuman saja saudaranya darimana tidak diceritakan.
Akhirnya ketika beberapa bulan lalu aku mengunjungi putra dari teman papiku itu di Jerman aku mendapatkan alamat tante Els ini dan aku memberanikan diri untuk menelponnya dan membuat janji untuk mengunjungi beliau. Ketika menelponnya, aku sekalian menanyakan hubungan keluarga beliau dengan keluargaku. Ternyata menurut ceritanya tante Els, keluarge beliau dan keluargaku termasuk keturunan dari Oey Thiam Seng dari Jamblang. Di salah satu tulisanku sebelumnya aku salah menuliskan sebagai Oey Hian Seng, ternyata seharusnya adalah Oey Thiam Seng.
Menurut cerita Oey Thiam Seng ini tinggal di desa Jamblang, dimana kongco ku Yeo Tjeng Kang juga tinggal. Hanya saja Oey Thiam Seng tidak tinggal di jalan raya antara Cirebon – Bandung tetapi agak masuk kedalam sedikit. Kalau menurut cerita oom dan tanteku Oey Thiam Seng termasuk salah satu orang yang terkaya di desa Jamblang. Kurang diketahui apa usahanya sehingga menjadi kaya seperti itu, tetapi anak dan menantunya tercatat sebagai pengelola tanah yang disewa dari pemerintah Hindia Belanda saat itu (tercatat dalam buku Regeringsalmanak).
Oey Thiam Seng tercatat diangkat pada tahun 1874 menjadi Luitenant der Chinezen te Cheribon sampai pada tahun 1909 mengundurkan diri dan dianugerahi pangkat Kapitein Titulair (Kapten kehormatan) oleh pemerintah.
Kembali ke tante Els ini, beliau adalah cucu dari Oey Kim Lan, sedangkan papiku cucu daru Oey Kim Lie, adiknya Oey Kim Lan. Tante Els sudah dikirim ke belanda sejak awal tahun 50-an untuk sekolah. Kemudian beliau betemu dengan calon suaminya waktu itu, seorang tionghoa keturunan dari Ambon. Menurut cerita, orang tionghoa di Ambon yang di ‘gelijkgesteld’ namanya dijadikan satu dan mungkin itu nama dari opanya atau papanya alm suami tante Els ini, tetapi nama itu dipakai sebagai nama keluarga. Jadi Khohonggiem ini adalah nama keluarga. Anaknya tante Els, yang mempunyai nama tionghoa juga, jadi agak aneh namanya, sebab namanya jadi Robert Bian Liem Khohonggiem.
Karena tante Els ini memang sudah lama tinggal di negeri Belanda tentu saja pengenalannya dengan saudara-saudaranya tidak seperti dulu lagi, karena itu beliau menyayangkan tidak bertemu sebulan sebelumnya, dimana waktu itu adiknya dari Indonesia sedang berkunjung beberapa minggu dirumahnya, dan menurut tante Els, adiknya ini lebih banyak mengenal saudara-saudaranya. Beliau menyarankan kalau aku menghubungi adiknya yang tinggal di jalan Tanah Abang II di Jakarta.
Beberapa minggu sesudahnya aku berhasil menelpon tante Nelly adiknya tante Els ini di Jakarta. Beliau mengatakan sangat sulit untuk mencari nama-nama yang diperlukan karena mereka sudah tersebar kemana-mana, tetapi meskipun demikian tante Nelly berjanji membantuku dalam menyelesaikan silsilahnya Oey Thiam Seng ini. Tante Nelly mengakatakan kalau beliau membutuhkan barang 2 atau 3 minggu untuk mengumpulkan keluarga-keluarganya itu.
Karena aku sudah tahu kalau akan susah berkomunikasi lewat telpon sedangkan tante Nelly tidak mempunyai akses internet, aku meminta bantuan kepada Johan Gondokusumo alias Gan Kong Siang, yang waktu itu mengumpulkan silsilah Gan sampai dicetaknya buku silsilah Gan Peng. Koh Kong Siang ini memang luar biasa orangnya, dalam mencari data benar-benar diluar dugaan. Aku mengatakan apakah koh Kong Siang bersedia datang kerumahnya tante Nelly itu dan kemudian mencatatkan apa yang didapat dan kemudian mengirimkannya melalui email kepadaku.
Hasil yang ku terima benar-benar luar biasa. Yang sebelumnya keturunan Oey Kim Lan itu hanya setengah atau sepertiga halaman, sekarang setelah koh Kong Siang itu “turun tangan” menjadi 9 halaman. Yang tadinya keturunan Oey Kim Lan hanya sampai basa anak-anaknya saja, sekarang menjadi komplit dengan anak-cucu-buyut dan sebagainya.
Melalui tante Nelly koh Kong Siang juga mendapatkan beberapa nomor telpon dan alamat dari keturunan adiknya Oey Kim Lan yang lain, sehingga diperkirakan dalam waktu tidak lama keturunan adiknya Oey Kim Lan ini juga ada dilacak. Mudah-mudahan saja silsilah Oey Thiam Seng ini bisa disempurnakan dengan baik, karena mencari silsilah dari marga Oey ini extra susah karena nama ini nama yang sangat umum di kalangan marga tionghoa, seperti juga marga Tan dan Liem.

Posted by steve on Nov 2nd 2006 | Filed in Silsilah | Comments (1)

Ditinggal pergi 3 bulan

Sebenarnya sudah lama rencana menulis blog ini. Kadang aku malu juga sama Nike yang sudah susah payah membuatkan layout nya tetapi aku memang pemalas, sehingga selalu menunda-nunda saja rencana menulisku itu.

Sekarang ini Nike sedang ada di negaranya paman Sam selama 3 bulan. Lho kenapa begitu ? Nah ceritanya dia sedang belajar lagi di TU Delft, dan dalam rangka belajarnya itu dia diberikan kesempatan untuk mengikuti kuliah dari salah satu pakarnya yang mengajar di Ohio State University.
Aku selalu mengatakan, kalau dapat kesempatan untuk belajar secara gratis jangan dilewatkan, apalagi kalau kesempatan belajarnya di luar negeri dan semua urusan keuangan ditanggung oleh sekolahnya, ya jelas mesti dipakai kesempatan tersebut.
Alhasil Nike berangkat ke Columbus, Ohio bulan September yang lalu dan rencananya akan tinggal disana sampai pertengahan bulan December, dan in the mean time aku jadi bujangan lagi selama 3 bulan. Awalnya sih enak juga, sendirian dirumah, mau maen kek, mau nonton tivi kek, mau abis makan ngga cuci piring kek, tidak ada yang kasih komentar. Jadi dipuas-puasin deh main World of Warcraft nya sampai bikin beberapa charracter dengan tujuan kalau nanti expansion nya keluar bulan December nanti, aku sudah mempunya beberapa charracter dengan level tinggi.

Tapi maen game sendirian koq ya sepi juga ya ? Misalnya saja pada hari weekend sudah merencanakan untuk main game seharian, supaya bisa naik beberapa level, baru main 2 jam sudah merasa bosan, akhirnya aku coba untuk menonton tivi, tidak ada acara yang bagus dilihat, kembali lagi main, bosan lagi, akhirnya jadi nggak tahu apa yang mesti dikerjakan.

Anyway, sekarang sudah setengah jalan, dan 7 minggu lagi Nike akan pulang ke Belanda lagi setelah liburan selama 2 minggu di California. Sementara itu, main game dan menulis silsilah masih tetap menjadi hobbyku

Posted by steve on Nov 2nd 2006 | Filed in Misc | Comments (0)