Puisi generasi
Salah satu kebiasaan yang sangat istimewa di keluarga tionghoa jaman dulu pada umumnya adalah bahwa mereka mempunyai nama unik untuk generasinya. Seperti banyak diketahui, nama tionghoa biasanya terdiri dari 3 kata. Kata pertama adalah nama keluarganya (marga) dan seperti juga lazimnya, nama ini diturunkan kepada semua keturunan dari ayah. Di Indonesia dapat juga diketemukan bahwa nama keluarga yang diturunkan dari ibu karena perkawinan mereka tidak diakui oleh pemerintah setempat. Nama marga sudah menjadi tradisi berabad-abad sehingga boleh dikatakan semua orang tionghoa akan menuruti tradisi ini. Seseorang tidak dapat memilih marga seenak hatinya. Marga adalah warisan dari orang tua turun menurun. Selain nama marga, nama tionghoa juga mengenal nama generasi. Nama generasi ini bisa ditengah, tetapi juga bisa ditempatkan dibelakang. Biasanya antara saudara sekandung dan sepupu yang masih termasuk satu generasi akan mempunyai nama generasi yang sama. Sehingga satu nama terakhir, itu adalah nama orang itu sendiri.
Keluarga-keluarga tionghoa yang besar mempunyai suatu yang dinamakan puisi keluarga. Kemungkinan ada seseorang yang menciptakan puisi tersebut dan kemudian menurunkan puisi tersebut kepada keturunannya untuk dipakai sebagai puisi generasi. Untuk penelusuran silsilah, nama generasi ini sangat berguna. Banyak saudara-saudara yang lebih mudah diketemukan hanya karena nama generasinya ini. Nama generasi ini mudah hilang pada jaman-jaman dahulu apalagi untuk orang-orang tionghoa yang merantau. Biasanya mereka adalah orang yang miskin dari daratan Tiongkok sana dan tidak jarang juga mereka buta huruf. Kalau leluhur suatu keluarga ini buta huruf, beliau harus menurunkan puisi generasi itu secara lisan kepada keturunannya. Hal ini tentunya akan mempersulit keberadaan puisi generasi ini. Apalagi kalau salah satu keturunannya pergi ke kota lain, yang letaknya agak jauh. Hubungan telpon dan jalan belum semudah sekarang, sehingga biasanya ranting keluarga yang berpindah akan tidak menggunakan puisi generasi lagi.
Keluarga Gan yang berasal dari Pekalongan, mempunyai puisi generasi yang dituruti oleh kebanyakan keturunannya. Dimulai dengan generasi Gan Sam …., kemudian Gan Jang …., kemudian Gan Kay …. dan Gan Thay ….. Hampir 85% dari keturunan laki-laki keluarga Gan ini memakai nama generasi yang sama. Akibatnya ada beberapa yang namanya benar-benar sama, karena mungkin tinggalnya dilain kota sehingga ketika anaknya lahir dan diberi nama yang memberi nama tidak mengetahui kalau nama tersebut sudah dipakai oleh keluarga lain. Kalau tidak salah, ada 4 yang memakai nama Gan Thay Hien dan ada 3 yang memakai nama Gan Thay Sien. Sesudah generasi Gan Thay ….. nama generasi sudah jarang dipakai. Hal ini disebabkan oleh adanya persoalan ganti nama di Indonesia, yang kebanyakan orang memberikan nama Indonesia kepada anak-anaknya dan tidak lagi memberikan nama tionghoa. Juga dengan adanya trend baru yang meskipun masih memakai nama marganya tetapi memberikan nama kristen atau nama eropa.
Di keluarga The aku tidak melihat adanya puisi generasi. Yang ada hanya nama generasi yang boleh dikatakan dipakai oleh keluarga keturunan kongcoku. Keturunan adik dari kongco tidak memakai nama generasi yang sama. Menurut cerita, engkongku dulu adalah seorang yang sering ditanyai oleh keluarganya untuk memberikan nama bagi anak-anak mereka. Namaku juga didapat atas pemberian engkongku itu. Konon menurut cerita mamiku, engkongku yang lain, yang dari papiku, ingin memberikan nama Tjong Houw kepada cucu laki-lakinya yang pertama itu. Hal itu dikarenakan karena waktu itu terkenal sekali bahwa yang namanya Oei Tjong Houw adalah putra dari Oei Tiong Ham yang meskipun bukan anak laki-laki tertua, dialah yang bisa memimpin perusahaan dan mengembangkan perusahaan bapaknya sampai menjadi perusahaan mancanegara. Semua orang-orang tua tentu mengimpi-impikan keturunannya bisa jadi orang, dan kalau bisa kaya-raya. Tetapi engkongku yang lain, engkong The Tie Sek tidak begitu setuju dengan usul engkong Yeo yang dari papi. Dikatakan bahwa nama Tjong Houw itu berat sekali artinya, dan kalau nanti anak ini (aku tentunya) tidak kuat, malah akan tidak baik dikemudian hari. Kemudian oleh engkong Tie Sek, aku diberi nama Tjong Hian, yang konon menurut beliau mengambil contoh seorang yang mengabdi kepada ilmu. Entah ilmu apa, tetapi kenyataannya, aku tidak suka ilmu.
Karena aku sebagai cucu laki-laki pertama dari engkong Yeo, 3 cucu laki-laki selanjutnyapun memakai nama Tjong juga. Sayang dari 3 sepupu itu 2 orang meninggal dunia, sehingga hanya satu yang masih memakai nama Yeo Tjong … . Sepupuku yang lahir sesudah kejadian G-30-S tidak memakai nama tionghoa lagi. Keluarga dari kakak dan adik engkongku tidak menggunakan nama generasi yang sama. Memang mungkin mereka tidak bersepakat untuk mempunyai nama generasi yang sama untuk cucu-cucu mereka sehingga masing-masing keluarga memakai nama generasi yang berbeda. Cucu dari keturunan kakak engkongku ada yang memakai nama generai “Hoey” dan juga ada yang memakai nama generasi “Bun”.
Keturunan dari kongcoku yang lain, kongco The, mengenal 2 nama generasi. Ada yang memakai nama Thian, dan juga ada yang memakai nama Tjing. Kemungkinan besar sebenarnya mereka sudah sepakat memakai nama Thian, tetapi ada salah satu keluarga keturunan dari kakak engkongku yang memakai Tjing. Ada kejadian yang lucu sebenarnya mengenai Thian dan Tjing ini. Salah satu oom ku yang anaknya menggunakan Tjing, mempunyai anak banyak. Dan satu saat lahir kembali anak yang kesekian, dan waktu engkongku, engkong Tie Sek, datang berkunjung kerumahnya, beliau mengatakan bahwa anak terlalu banyak ini dikarenakan si ayah tidak menggunakan nama Thian. Karena itu si oom yang masih keponakan dari engkong Tie Sek menanyakan kepada engkongku agar memberikan nama kepada anaknya yang baru lahir ini. Kemudian engkongku memberi nama Thian Ien, dan dikatakan bahwa dengan nama ini, nantinya tidak akan ada adik-adiknya lagi. Ternyata kata-kata engkongku salah kaprah, sebab setelah itu masih ada lagi 2 adiknya yang lahir.
Orang-orang tionghoa yang merantau ke Indonesia, biasanya mempunyai tempat pemakaman yang terpisah dengan suku-suku lainnya. Orang-orang tionghoa yang kaya bahkan mempunyai tempat pemakanan keluarga yang hanya digunakan untuk lingkungan keluarga saja. Karena keluarga THE BOEN yang di Cirebon itu dulunya termasuk keluarga yang cukup berada, mereka juga mempunyai tempat pemakaman keluarga, letaknya di pinggir jalan yang menuju ke Kuningan. Tempat pemakaman itu tidak berada tepat dipinggir jalan, tetapi agak masuk kedalam sedikit.
Suatu hari aku berjanji dengan “oom” ku yang bernama Hauw Gie untuk mampir dirumahnya membicarakan perkembangan silsilah dan menerima perbaikan-perbaikan silsilah yang baru saja didapatkan olehnya ketika berlibur ke Indonesia. “oom” ku ini tidak aku panggil oom, sebab karena dia masih muda. Papanya memang satu generasi dengan engkongku, dan mamiku masih memanggil “oom” atau “ncek” tetapi kepada anaknya aku tidak lagi memanggil “oom” karena kami hanya berbeda 6 tahun saja. Apalagi setelah si “oom” ini menikah dengan teman seangkatanku waktu aku kuliah di TH Delft (sekarang : TU-Delft). Nah, si “tante” ini aku panggil Kiki. Entah kenapa dipanggil begitu, mungkin memang nama panggilannya begitu. Kita memang mengenalnya sebagai Kiki, dan hampir tidak ada yang tahu nama tionghoanya.
Malam itu kami memutuskan untuk mencoba makan malam di restorant hotel tersebut, sebab selain sudah malas keluar mencari restorant lain, kita juga ingin mencoba restorant hotel. Kalau enak bisa diulangi esoknya, kalau tidak enak, bisa mencari restorant lain. Setelah menyelesaikan maincourse kita memesan dessert dan sungguh sial, apa yang aku pesan tidak ada, sehingga aku harus memesan yang lain. Dan malangnya apa yang aku pesan ini adalah mirip bakpao tetapi bikinan orang jerman. Kita jadi tertawa terpingkel-pingkel mengingat ini kejadian yang kedua kali aku mendapatkan bakpao jerman ini. Pertama kali waktu kita pergi ke Koenigsee. Disana aku meilhat suatu makanan yang kelihatannya menarik. Satu gundukan yang disiram dengan saus putih, dan aku menyangka saus putih itu adalah vla. Ketika aku menanyakan kepada pelayannya, si pelayan justru mengatakan itu adalah makanan khas disana, jadi tentu saja sebagai turis yang baik aku harus mencobanya.
Sudah lebih dari 1 tahun yang lalu buku “Silsilah keturunan keluarga GAN PENG” diterbitkan. Banyak orang yang terkagum-kagum dengan jerih usaha penulis yang sudah berhasil mengumpulkan lebih dari 7.500 nama. Belum lagi dengan adanya foto-foto baik baru dan lama, semuanya mengacungkan jempol kepada ngkoh Gan Kong Siang yang tanpa jemu-jemunya selalu berusaha untuk mencari keluarga yang belum diketemukan kembali. Bangga juga aku kalau buku tersebut dipuji-puji, setidaknya aku juga turut berpartisipasi dalam penulisannya. Meskipun segala hormat dan respek harus diberikan kepada ngkoh Kong Siang. Tanpa usahanya buku itu tidak akan ada.
Mamiku marganya THE, menurut cerita leluhurnya bernama The Boen atau menurut bahasa mandarinnya ditulis sebagai Zheng Wen. Dalam ceritaku mengenai kongcoku Yeo Tjeng Kang, aku selalu bermalam tahun baru imlek dirumahnya di Jamblang. Dan pada esok harinya barusan kita mengujungi ema dan engkong yang dari THE ini.
Dari semua silsilah yang aku pernah telusuri. Silsilah keluarga Yeo Tjeng Kang ini yang pertama kali aku buat. Awalnya simple saja untuk nostalgia jaman ke awal tahun 60-an. Aku kepingin menulis nama-nama oom-oom dan tante-tante yang dulu sering bertemu dan sekarang sudah jarang bahkan hampir tidak pernah ketemu lagi.