<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Steve's hut</title>
	<atom:link href="http://www.haryono.net/blog/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.haryono.net/blog</link>
	<description>Dibawah pohon jambu di belakang rumah</description>
	<pubDate>Mon, 30 Jul 2007 04:23:17 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Perjalanan ke Qishan-Yongchun/Menelusuri desa asal keluarga Gan</title>
		<link>http://www.haryono.net/blog/?p=35</link>
		<comments>http://www.haryono.net/blog/?p=35#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jul 2007 04:23:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>steve</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Silsilah]]></category>

		<category><![CDATA[Travelling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haryono.net/blog/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[
Peran :
Steve Haryono
Nike Gunawan

Chen You Li (Tan You Li) - guide
Chen Chao Jie - suami You Li - sebagai orang native hokkian, mahir berbahasa hokkian
Xie Rui An (Tjia Swie An) - Pengemudi
Seperti banyak diketahui, leluhur keluarga Gan, baik yang dari keluarga Gan Peng dari Pekalongan maupun keluarga Gan Hwan dari Purbalingga berasal dari 1 desa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="3" face="Times New Roman" /></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Peran :</font></p>
<p style="margin: 0in 0in 0.0001pt"><font size="3" face="Times New Roman">Steve Haryono</font></p>
<p style="margin: 0in 0in 0.0001pt"><font size="3" face="Times New Roman">Nike Gunawan</font></p>
<p style="margin: 0in 0in 0.0001pt">
<p style="margin: 0in 0in 0.0001pt"><font size="3" face="Times New Roman">Chen You Li (Tan You Li) - guide</font></p>
<p style="margin: 0in 0in 0.0001pt"><font size="3" face="Times New Roman">Chen Chao Jie - suami You Li - sebagai orang native hokkian, mahir berbahasa hokkian</font></p>
<p style="margin: 0in 0in 0.0001pt"><font size="3" face="Times New Roman">Xie Rui An (Tjia Swie An) - Pengemudi</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Seperti banyak diketahui, leluhur keluarga Gan, baik yang dari keluarga Gan Peng dari Pekalongan maupun keluarga Gan Hwan dari Purbalingga berasal dari 1 desa bernama Qishan. Menurut catatan Gan Tjioe Hway, dikatakan bahwa Gan Peng berasal dari desa Kie San (Qishan), kecamatan Eng Tjoen (Yongchun), kabupaten Tjoan Tjioe (Quanzhou) propinsi Hokkian (Fujian). Sedangkan dari pihak Gan Hwan dengan berdasarkan referensi batu nisan (bongpay) dari Gan Sin Sing dan Gan Thian Koeij yang mencantumkan nama desa asal yaitu Qishan.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Dengan berbekal nama desa, kecamatan, kabupaten yang jelas, saya mencoba menghubungi seorang huaqiao yang tinggal di Xiamen. Beliau bernama Tan You Li, putri dari Tan Tjing Wie dan Anny Tan yang pulang ke Tiongkok di tahun 1961. Anny Tan adalah seorang wanita yang pernah mengecap pendidikan di universitas di Utrecht sebelum perang dunia ke 2 mengambil jurusan matematik. Jurusan yang unik untuk seorang wanita pada jaman itu, apalagi untuk seorang wanita tionghoa dari hindia belanda. Seorang researcher belanda yang bernama DR. Leonard Blusee pernah menuliskan jalan kehidupan Anny Tan dalam bukunya yang berjudul : Retour Amoy, Vrouwenleven in Indonesie, Nederlands en China (Kembali ke Amoy, kehidupan seorang wanita di Indonesia, Belanda dan Tiongkok)</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Saya menghubungi You Li lewat seorang kenalan yang juga pencari silsilah keluarga. Keluarga Lie dari Sumatra Barat (Padang-Bukit Tinggi). Data Qishan/Yongchun sudah saya kirimkan berbulan-bulan lalu ke You Li tetapi sehubungan kesibukannya dengan jatuhnya mama You Li, sehingga You Li kurang ada waktu untuk meneliti lebih lanjut. Ketika 3 minggu sebelum keberangkatan saya Ny. Anny Tan meninggal dunia, barulah You Li ada mempunyai waktu untuk melakukan riset tentang desa Qishan.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Sebenarnya bersama Esther Hermann-Winata dari keluarga Gan Hwan saya sudah berusaha mencari tahu dimana letaknya Qishan ini, tetapi tidak ada satu peta pun yang didapat lewat internet dimana didapatkan desa Qishan di daerah Yongchun. Karena hal itulah kami sudah berpikir kalau desa Qishan pasti satu desa yang kecil dan kemungkinan desa nya sudah tidak ada lagi. Misalnya saja kalau desanya berada di dekat suatu kota yang maju pesat menjadi kota modern, maka dimungkinkan kalau desanya sudah tercaplok oleh kota besarnya.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">2 hari sebelum saya tiba di Xiamen, saya mendapat kabar dari You Li kalau dia berhasil menemukan letak desa Qishan tersebut. You Li begitu antusiasnya memberitakan kepada saya dan saya baru tahu kalau teman saya itu dalam pencariannya ke desa asal keluarga Lie memakan waktu lebih dari 5 tahun dari berkali-kali teman saya itu sudah berkunjung ke Xiamen hanya untuk mencari desa asalnya itu. You Li sendiri mengatakan bahwa keluarganya juga setelah 40 tahun tinggal di Tiongkok (Xiamen) baru saja menemukan desa asalnya. Jadi menemukan desa asal itu tidak mudah dan saya boleh dikatakan beruntung kata You Li sebab sekali riset sudah langsung ketemu, tempat dimana desa Qishan itu berada.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Kami datang di Hongkong tanggal 12, dan tanggal 14 July lewat Shenzhen kami terbang ke Xiamen yang langsung dijemput oleh You Li di airport. Sebelum kami sampai hotel, You Li sengaja membawa kami dengan sight seeing bus untuk melihat-lihat Xiamen. Setelah kami sampai di hotel dan refreshing sebentar kami pergi untuk makan malam sebelum kembali lagi ke hotel untuk beristirahat, sebab You Li mengatakan kalau esoknya jam 6 pagi sudah harus siap untuk berangkat ke Qishan. Perjalanan diperkirakan memakan waktu 4-5 jam kesana dan untuk kembali dibutuhkan waktu yang sama, jadi diperhitungkan kami akan tiba sekitar jam 6 atau jam 7 malam. You Li juga mengatakan kalau suaminya Chao Jie akan turut serta sebab meskipun You Li sudah 45 tahun tinggal di Xiamen,  ia tidak mahir berbahasa hokkian. Chao Jie yang seorang asli Hokkian lebih mahir berbahasa hokkian, dan bahasa hokkian kemungkinan masih diperlukan di desa-desa, sedangkan di kota-kota besar, berbahasa putonghoa sudah cukup. You Li mengatakan juga kalau sopir yang akan mengantar kami seorang huaqiao juga yang bisa berbahasa Indonesia.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Esoknya, tepat jam 6 kami dijemput oleh You Li bersama Chao Jie dan Swie An. Jalan masih cukup sepi, karena memang hari minggu dan masih pagi. Ketika kamu berbicara bahwa keluarga Gan Peng berasal dari Pekalongan, Swie An juga mengatakan kalau dia lahir di Pekalongan, dan mama nya seorang yang bermarga Gan. Kemudian Swie An juga mengatakan kalau engku nya bernama Gan Kay Liem. Saya mencari-cari nama Gan Kay Liem, dan setelah ketemu saya menanyakan marga Swie An. Swie An mengatakan kalau ia bernama Tjia Swie An. Ketika saya melihat dibuku, saya mengtakan kalau dalam buku silsilah Gan Peng namanya sudah ada tercatat. Swie An begitu gembiranya karena ia tidak menyangka akan bertemu dengan saudara. Dalam kesempatan pertama ketika mobil berhenti karena Nike hendak membuat foto, Swie An langsung meminta buku silsilah nya untuk dilihat. Swie An juga menunjukkan gambar foto dari kakak nya yang tertua yang katanya sekarang tinggal di Jakarta dan ada di dalam buku silsilah tersebut. Kalau dipikir-pikir kembali, sebenarnya pertemuan dengan Swie An ini cukup unik. Berapa banyak huaqiao yang kembali ke Tiongkok dan berapa banyak yang benar-benar tinggal di Xiamen, toh kami bisa saling bertemu, suatu kejadian yang mungkin terjadi sekali dalam sejuta.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Setelah beberapa kilometer meninggalkan kota Xiamen, jalan masih termasuk cukup lancar dan bagus. Meskipun bukan highway tapi kondisi jalan masih cukup mulus. Kebiasaan mengemudi kendaraan yang hampir sama dengan Indonesia, membuat perasaan seperti kembali ke kampung halaman. Juga melalui kota-kota kecil, keadaan rumah-rumah sama seperti yang dijumpai di kota-kota kecil di pulau jawa. Ketika kendaraan telah melewati kota Yongchun, kita harus mengambil jalan kecil menuju desa Guiyang. Di tengah jalan kita mampir di satu rumah makan untuk makan siang, sebab diperkirakan kita sampai di Qishan jam 12 siang, dan tentunya akan lebih sulit mendapatkan restoran disana. Chao Jie memesankan 3 mangkuk bakmi kuah dan 1 piring bakmi goreng yang tidak dapat dihabiskan oleh kami ber 5. Setelah selesai menyantap makan siang, Chao Jie membayar semuanya dan ternyata kami hanya membayar 15 yuan alias 1,5 euro.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Setelah kita sampai di desa Guiyang, kami sempat bertanya kepada penduduk setempat mengenai desa Qishan. Dikatakan bahwa di desa Qishan mereka tidak mengenal ada yang mempunyai marga Gan. Mereka mengenal beberapa orang yang tinggal disana tetapi hanya bermarga Liem. Dikatakan juga bahwa jalan ke desa Qishan sangat sempit dan tidak semuanya dalam kondisi baik. Memang kenyataannya kondisi jalan boleh dikatakan rusak, meskipun  tidak semuanya rusak tapi kadang kendaraan harus berjalan merayap agar bagian bawah mobil tidak tersantuk batu.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Akhirnya kami sampai di desa Qishan bagian bawah. Dikatakan ada 2 desa Qishan, bagian bawah dan bagian atas. Bagian bawah hanya dihuni oleh beberapa orang sedang bagian atas lebih banyak. Di bagian bawah tidak diketemukan orang yang bisa ditanyai, dan hanya ada 3 atau 4 rumah yang terlihat. Kami meneruskan perjalanan sebentar dan kami langsung mencapai yang bagian atas. Ada beberapa rumah yang terlihat, tidak lebih dari 20 rumah, tetapi tidak ada orang yang terlihat, keadaan sangat sepi. Chao Jie mencoba mengetuk beberapa rumah, dan setelah rumah ke 3 ada seorang wanita muda keluar. Wanita itu mengaku kalau dia bukan penduduk asal desa tersebut, dia hanya pendatang karena menikah. Dianjurkan untuk menanyakan kepada wanita yang tinggal di 4 rumah sesudahnya yang sudah setengah umur. Dari wanita ini juga dikatakan sepanjang pengetahuannya tidak ada orang yang bermarga Gan yang tinggal di desa Qishan ini. Tetapi karena beliau hanya setengah umur, ia mengajak ke rumah seseorang yang sudah diatas 70 tahun.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Setelah berjalan lagi dibawah terik matahari kami sampai di rumah yang dikatakan wanita tersebut. Ada seorang laki-laki tua yang sedang membasuh tangannya di sumur. Chao Jie mencoba menanyakan keadaan desa Qishan sepanjang ingatan si pak tua tersebut. Kembali beliau mengatakan kalau tidak pernah mengenal ada seseorang yang bermarga Gan yang pernah tinggal di desa Qishan ini. Rumah pak tua ini benar-benar miskin, alas nya berdasarkan tanah, rumahnya berdinding kayu dan beliau tinggal bersama anak istri dan menantu berserta ayam dan anjing di rumah tersebut yang dijamin akan becek kalau tertimpah hujan. Kehidupan sehari-hari kelihatannya adalah bertani, dan yang membuat saya terheran-heran adalah, meskipun kehidupan mereka miskin, karena kami datang sekitar jam 1 siang, mereka masih sempat mengajak kami makan siang bersama dan juga menawarkan minum yang tentu saja kami tolak, karena kami sudah makan siang sebelumnya.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Dari pak tua tersebut kami mendapatkan informasi kalau sebelum marga Liem yang tinggal di desa Qishan ini sebelumnya adalah marga Tjan. Pak tua sendiri tidak mengetahui kenapa dari marga Tjan bisa berubah menjadi marga Liem. You Li menceritakan bahwa ada beberapa kemungkinan kenapa marga bisa berubah :</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Kemungkinan terbesar adalah kebanyakan marga Gan yang laki-laki yang ada waktu itu pergi merantau ke negara lain sehingga yang tertinggal hanya wanita saja, dan ketika wanita-wanita ini menikah dengan marga lain, marga Gan yang sebenarnya menjadi lenyap dan berubah menjadi marga lain, kemungkinan marga Tjan yang disebutkan pak tua tadi.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Kemungkinan juga terjadi perseteruan antar desa yang katanya sering terjadi, sehingga terjadi perang dimana yang kalah harus keluar dari desanya dan desanya dihuni oleh si pemenang. Hal ini cukup diragukan juga karena letak desa di daerah pegunungan sehingga bertani juga sangat sulit, dan dapat dilihat dengan kehidupan mereka sampai sekarang, dimana kebanyakan pria muda meninggalkan desanya dan mencari kehidupan lebih baik di kota-kota besar.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Menurut berita sejarah yang tertulis, daerah Yongchun pernah terjadi bencana alam (banjir/tanah longsor) yang sangat hebat di tahun 1860-an. Meskipun bukan merupakan bukti yang pasti, tapi bisa jadi juga orang-orang marga Gan waktu itu harus mengungsi ke daerah lain sehingga tidak ada lagi yang menyandang marga Gan tinggal di desa Qishan.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Setelah kami pulang ke Xiamen, esoknya kami diajak oleh You Li untuk mengunjungi Museum Hua Qiao di Xiamen. Museum yang seyogya nya setiap hari kamis ditutup untuk umum, sengaja dibuka untuk kami. Saya sebenarnya membawa 1 buku silsilah Gan yang hendak saya hadiahkan kepada You Li dan Chao Jie sebagai tanda terima kasih saya kepada mereka yang sudah menyediakan waktu mengantar kami, tetapi You Li mengatakan kalau sebaiknya buku ini diberikan kepada Museum saja karena akan lebih berguna bagi Museum Hua Qiao.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Setelah kami diterima oleh oleh direktur, wakil direktur museum dan beberapa staf ahli diantaranya juga seorang profesor asal Singapore yang menjadi specialist Hua Qiao di Xiamen University, kami memberikan buku Silsilah Gan Peng tersebut. Kami juga menjanjikan akan mengirimkan lagi kalau kami mengupdate buku tersebut. Dari beberapa staf ahli kami dijanjikan bahwa mereka akan membantu mencari alasan/sebab kenapa tidak ada lagi marga Gan di desa Qishan. Dan juga mereka akan membantu mencari hubungan dengan marga-marga Gan yang ada di desa Yu Dou dan Wan Li yang masih berada dalam wilayah kecamatan Yongchun untuk mengetahui apakah mereka berasal dari desa Qishan atau setidaknya mempunyai hubungan dengan desa Qishan. Menurut apa yang para staf ahli ini katakan marga Gan bukan marga yang besar, dan di daerah Yongchun sampai saat ini diketahui kalau hanya desa Yu Dou dan Wan Li inilah tempat tinggal marga Gan.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">Meskipun demikian, karena kami membawa tulisan tua dan foto dari bongpay yang bertuliskan Qishan para staf ahli ini mengatakan bahwa kami sudah berada di jalan yang benar untuk menelusuri desa Qishan di Yongchun ini.</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman">3 Malam kami menginap di Xiamen, 1 hari kami mengadakan perjalanan ke desa Qishan, setengah hari kami berada di Museum Hua Qiao, selebihnya kami diajak melihat-lihat Xiamen dan pulau Gulangyu oleh You Li. Besar terima kasih kami kepada You Li dan suaminya Chao Jie, tanpa mereka mungkin kamu tidak akan menemukan desa Qishan. Terima kasih kami juga kepada Swie An yang sudah menyediakan waktu mengantar kami ke lapangan udara tanpa mau dibayar. Saya berjanji kepada You Li kalau satu saat saya akan kembali lagi ke Xiamen, baik untuk menelaah marga Gan lebih lanjut maupun untuk menelusuri marga-marga lainnya</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"><font size="3" face="Times New Roman"> </font></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haryono.net/blog/?feed=rss2&amp;p=35</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Reuni keluarga</title>
		<link>http://www.haryono.net/blog/?p=34</link>
		<comments>http://www.haryono.net/blog/?p=34#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2007 11:10:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>steve</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Silsilah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haryono.net/blog/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Ketika beberapa tahun lalu aku menghubungi beberapa keluarga dalam penyusunan silsilah keluarga Gan Peng, aku bertemu dengan beberapa oom dan tante yang sebelumnya aku belum pernah bertemu. Kemudian ketika aku sedang menelusuri silsilah The aku juga bertemu dengan beberapa orang yang untukku asing tetapi mereka masih saudaraku juga.
Lalu ketika buku silsilah Gan Peng terbit, lengkap dengan foto-fotonya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika beberapa tahun lalu aku menghubungi beberapa keluarga dalam penyusunan silsilah keluarga Gan Peng, aku bertemu dengan beberapa oom dan tante yang sebelumnya aku belum pernah bertemu. Kemudian ketika aku sedang menelusuri silsilah The aku juga bertemu dengan beberapa orang yang untukku asing tetapi mereka masih saudaraku juga.</p>
<p>Lalu ketika buku silsilah Gan Peng terbit, lengkap dengan foto-fotonya, mereka terkejut karena mereka mengenal beberapa saudara dalam buku itu yang tinggalnya juga di negara yang sama (dalam hal ini Negeri Belanda), tetapi tidak mengetahui kalau mereka masih mempunyai hubungan saudara.</p>
<p>Sebelum buku silsilah Gan itu diterbitkan, saudara-saudara yang aktif di Indonesia memang sudah pernah merencanakan untuk mengadakan reuni akbar, tetapi karena satu dan lain hal tidak pernah terjadi. Yang di Indonesia memang pernah mengadakan beberapa kali pertemuan antar saudara tetapi terbatas dengan lokasi. Misalnya saja yang di Jakarta Barat pernah mengadakan pertemuan di Heartz Chicken sedangkan di Pekalongan sendiri juga pernah diadakan semacam reuni juga.</p>
<p>Sudah lama aku juga ingin mengadakan reuni keluarga, tetapi waktu itu aku masih belum mempunyai ide bagaimana harus dilakukan. Dan terus terang saja aku bukan organisator yang baik yang mempunyai banyak ide. Tujuanku sebenarnya cuman 1, yaitu memberikan saudara-saudara ku itu satu tempat dan waktu untuk saling mengenal satu sama lainnya.</p>
<p>Tahun lalu aku mencoba untuk mengorganisir reuni untuk keluarga The yang sebenarnya masih boleh dikatakan keluarga kecil dibanding dengan keluarga Gan ini. Untuk itu aku negosiasi dengan satu restorant di Rotterdam untuk mengadakan reuni tersebut. Aku mengajak beberapa saudara yang antusias untuk ikut dalam mengorganisir reuni nya. Hauw Gie, Hok Soei dan oom Dick van Thessen dengan semangat menyediakan waktunya untuk turut dalam kepengurusan menyelenggarakan reuni. Oom Louis Go yang tadinya juga sudah bersedia membantu terpaksa harus mengundurkan diri karena sakit, dan sayang sekali beliau meninggal dunia seminggu sebelum reuni.</p>
<p>Waktu reuni keluarga The, ternyata yang datang ada 99 orang. Dari jumlah 250 orang dari keluarga The yang berdomisili di Belanda dan sekitarnya. Kalau saja tidak ada musibah di keluarga Go tentunya lebih banyak lagi yang datang. Kita beruntung juga mempunyai saudara yang masih mengerti tulisan china sehingga menu di resto bisa dipesan dengan baik. Maklum saja resto china di Belanda ini kadang hanya memberikan pilihan sebanyak 60 makanan Dim Sum, sedang menu dengan tulisan cacing bisa mencapai 300 macam.</p>
<p>Salah satu ketidak nyamanan waktu reuni tahun lalu itu karena restonya terlalu besar, kita tidak bisa menyewa seluruh restorantnya. Akibatnya kelompok kita diberi tempat tertentu, tetapi ada tamu-tamu resto yang lain yang juga datang pada saat yang sama. Meskipun tidak mencampur dengan kelompok yang lagi reuni, tapi toh terasa tidak adanya privacy yang kelihatannya diperlukan juga untuk acara reuni keluarga itu. Misalnya saja, speech yang dibawakan tentunya juga didengar juga oleh orang-orang lain yang tidak ada urusannya dengan keluarga.</p>
<p>Reuni tahun lalu boleh dikatakan cukup sukses. Semua yang datang mengatakan bahwa pertemuan seperti itu patut diulang, meskipun tidak harus dilakukan tiap tahun. Mungkin sekali dalam 3-4 tahun cukup perlu diadakan dimana kontak antar saudara bisa diperbaharui lagi.</p>
<p>Tahun ini aku rencana lagi untuk reuni keluarga GAN. Kebetulan aku kenal juga dengan Esther Winata dari keluarga Gan yang dari Purbalingga. Dan ketika aku menanyakan bagaimana pendapatnya kalau diadakan reuni gabungan antara 2 keluarga Gan ini, ternyata jawaban Esther memberiku semangat juga. Karena Esther tinggal di Jerman, dan kebanyakan keluarga Gan tinggal nya di Belanda (maksudnya keluarga Gan yang tinggal di Eropa), maka aku pikir lebih baik diadakan di Belanda saja.</p>
<p>Kali ini aku memilih restorant china lain yang makanannya tidak kalah dengan resto yang pertama. Dan karena resto nya kecil, aku pikir mungkin kita bisa menyewa seluruh restorant kalau yang datang cukup. Untuk itu aku pikir sebaiknya aku mengumpulkan beberapa orang dari keluarga Gan yang mau turut dalam organisasinya.</p>
<p>Untuk itu aku pertama-tama meminta apakah oom Gan Kay Sian bersedia turut aktif. Maklum saja, keluarga Gan ini darahnya di aku sudah sangat sedikit, hanya 1/16 nya saja. Sehingga yang bermarga GAN mestinya turut dalam organisasinya, dan karena oom Kay Sian itu masih termasuk generasi papi/mami ku, tentunya tidak boleh dilupakan. Selain itu ada beberapa saudara lain yang turut serta juga dalam kepengurusan reuni ini yaitu Hauw Gie, Han Go, Oki, Ignace &#038; Ying Ong &#038; Danny Tjhie. Ying dan Danny dari keluarga Gan Purbalingga sedang yang lain dari Gan Pekalongan.</p>
<p>Reuni akan diadakan tanggal 9 Juni yang akan datang di Den Haag dan sampai sekarang sudah ada 111 orang yang mendaftar. Sebenarnya target kita hanya 120 orang, sebab 120 orang restorant nya akan cukup penuh. Tetapi si manager resto mengatakan kalau perlu bisa sampai 150 orang. Mudah-mudahan saja tidak terjadi, sebab nanti peserta reuni bisa seperti ikan sarden dalam kaleng yang tidak bisa bergerak, sedangkan maksudnya mengadakan reuini ini justru memberikan tempat dan waktu untuk mengenal satu sama lainnya.</p>
<p>Aku harap saja cuaca juga tidak hujan dan sudah agak panas sehingga bagi mereka yang sudah lanjut usia tidak berhalangan untuk datang. Laporan lengkap akan menyusul ;-)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haryono.net/blog/?feed=rss2&amp;p=34</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Situs Silsilah</title>
		<link>http://www.haryono.net/blog/?p=33</link>
		<comments>http://www.haryono.net/blog/?p=33#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 14:35:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>steve</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Silsilah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haryono.net/blog/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu angan-anganku adalah mempunyai satu database dimana semua silsilah yang aku kumpulkan dimasukkan kedalam database tersebut sehingga kalau ada orang yang menanyakan mengenai satu keluarga aku bisa mengetahui dengan cepat apakah keluarga yang dimaksud ada dalam database tersebut.
Kebetulan lewat salah seorang kenalan aku mendapatkan satu alamat dimana bisa membeli software untuk familytree. Setelah aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu angan-anganku adalah mempunyai satu database dimana semua silsilah yang aku kumpulkan dimasukkan kedalam database tersebut sehingga kalau ada orang yang menanyakan mengenai satu keluarga aku bisa mengetahui dengan cepat apakah keluarga yang dimaksud ada dalam database tersebut.</p>
<p>Kebetulan lewat salah seorang kenalan aku mendapatkan satu alamat dimana bisa membeli software untuk familytree. Setelah aku lihat-lihat, sepertinya masih banyak kekurangan dari software tersebut, misalnya saja software tersebut hanya mempunyai tempat untuk 3 nama : firstname, surname dan nickname. Untuk yang mempunyai 1 nama memang tidak ada persoalan, tetapi bagi kebanyakan orang tionghoa di Indonesia yang mempunyai 2 nama tentunya akan menambah problim.</p>
<p>Sebenarnya sudah lama aku mengikuti perkembangan banyak program silsilah (Familytree atau genealogy) dan kebanyakan yang aku temukan tidak cocok untuk nama-nama tionghoa. Biasanya program-program ini dibuat di Amerika, jadi tentu saja si penulis program hanya melihat lingkungannya saja dan cara penulisan nama disesuaikan dengan lingkungannya. Di Amerika orang menulis seperti nama sebagai : firstname initial surname. Nah ketika aku hendak memasukkan nama papiku sebagai Yeo Peng Liem, aku jadi bingung, bagaimana aku harus menuliskannya, sebab programnya begitu pinternya sehingga bisa membedakan mana firstname mana secondname dll. Untuk ku jelas, YEO ada surname, sebab YEO khan nama keluarga. Kemudian ketika aku memasukkan nama Peng Liem di nama papiku, si program langsung secara sok tau mendefinisikan sendiri kalau PENG adalah firstname dan Liem sebagai secondname. Alhasil nama papiku diganti menjadi Peng L. Yeo. Bayangkan saja kalau papiku mempunyai beberapa saudara yang namanya Peng Lam, Peng Lin, Peng Long, Peng Liauw dan Peng Loen. Nanti dalam silsilahnya hanya keliatan Peng L. Yeo semua. Waktu itu aku pernah sampai mengirim email kepada programmernya dan menyampaikan persoalannya. Sayang mungkin saat itu si programmer tidak tertarik untuk memberikan satu solusi yang baik, kepadaku hanya diusulkan untuk memakai underscore supaya tidak di perlakukan sebagai firstname dan secondname. Jadi nama papiku akan menjadi Peng_Liem Yeo. Tentu saja ini bukan solusi yang baik. Lagipula nama keluarga selalu ditempatkan dibelakang tanpa memikirkan bahwa dibudaya lain, nama keluarga bisa saja didepan. Karena kesal aku tidak lagi memakai software itu.</p>
<p>Terakhir dengan saudaraku Jafet, aku juga mencari-cari program lain, dan aku menemukan program Genopro. Dengan program Genopro setiap data dapat kita membolak-balikkan nama sekehendak si pemakai program. Ada bagusnya juga program ini, dimana hubungan antara anggota keluarga bisa diturut sertakan juga, misalnya saja si A musuhan dengan si B dan sebagainya. Salah satu sebab kenapa akhirnya aku tidak memakai program ini adalah karena programnya tidak compatible untuk orang-orang yang mempunyai banyak istri, katakanlah lebih dari 2.</p>
<p>Dalam silsilah yang aku kumpulkan banyak juga yang menikah lebih dari 1 kali. Bahkan jaman dulu makin kaya orang tionghoa, makin banyak istrinya. Program Genopro masih terlihat bagus dalam diagramnya jika seseorang mempunyai 2 istri. Tetapi kalau seseorang mempunyai 3 istri, maka dalam sekejap diagramnya menjadi kacau.</p>
<p>Program terakhir yang aku lihat adalah program &#8216;The New Generation&#8217;. Sepintas keliatannya programnya cukup bagus dan aku melihat juga kalau banyak data yang bisa dimasukkan kedalam databasenya. Ketika aku menceritakan kepada temanku yang juga gila akan silsilah, dia langsung memesannya. Ternyata dalam installationnya dia mengalami banyak kesulitan. Sepertinya orang yang memakai program ini harus jebolan IT sehingga bisa mengerti apa yang dimaksud oleh readme file nya. Kalau aku tentunya tidak ada problem, sebab kalau aku tidak mengerti aku tinggal bertanya kepada Nike dan 95% jawabannya sudah bisa langsung didapat.</p>
<p>Untuk sementara aku akan menggunakan program ini meskipun aku masih belum tau solusi apa yang harus aku berikan untuk orang-orang yang mempunyai 2 nama. Untuk sementara situs silsilahnya aku taruh di : <a href="http://www.haryono.net/familytree/">http://www.haryono.net/familytree/</a></p>
<p>Salah satu yang membuatku tidak senang dengan program ini adalah karena pemakai dipaksa untuk langsung memasang programnya di webserver dan semua editing dan pengisian data dilakukan online. Jadi tanpe kita mengetahui bagus atau tidaknya kita harus langsung memasang di internet. Tetapi dilain pihak ada beberapa kebagusannya antara lain karena lewat internet, aku bisa meminta bantuan teman-teman atau saudara yang lain untuk membantu mengisi. Jadi silsilah yang dibuat dapat diisi secara bersama-sama. Juga salah satu kebagusannya adalah adanya alat untuk mencari nama yang sama dan mempersamakan 2 data yang sama tersebut. Sehingga kalau saja terjadi secara tidak sengaja adanya 2 nama yang sama, dan nama orang tua, istri, anak dan lainnya sama, si program dapat mendeteksinya secara cepat. Hal ini bisa juga dilakukan di program lain tetapi tidak mudah.</p>
<p>Mudah-mudahan saja aku dapat menyelesaikan situs silsilah ini dengan waktu yang relatif singkat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haryono.net/blog/?feed=rss2&amp;p=33</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis</title>
		<link>http://www.haryono.net/blog/?p=32</link>
		<comments>http://www.haryono.net/blog/?p=32#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 21:31:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>steve</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Misc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haryono.net/blog/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Jaman sekarang dimana internet sudah mendarah daging, banyak orang jadi rajin menulis. Ada baiknya juga sih aku pikir, sebab banyak orang-orang yang tadinya tidak tau kalau mempunyai bakat menulis, ternyata setelah beberapa tahun ini justru rajin menulis dan tulisan-tulisannya renyah dibaca alias menyenangkan untuk dibaca dan tidak kaku. Kadang aku terkagum-kagum kalau membaca tulisan seseorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="NL">Jaman sekarang dimana internet sudah mendarah daging, banyak orang jadi rajin menulis. Ada baiknya juga sih aku pikir, sebab banyak orang-orang yang tadinya tidak tau kalau mempunyai bakat menulis, ternyata setelah beberapa tahun ini justru rajin menulis dan tulisan-tulisannya renyah dibaca alias menyenangkan untuk dibaca dan tidak kaku. Kadang aku terkagum-kagum kalau membaca tulisan seseorang yang bisa membawa si pembaca kedalam suatu cerita.</span></p>
<p><span lang="NL">Salah satu cara mempublikasi tulisan yaitu melalui apa yang dinamakan sebagai weblog atau kerennya : Blog. Orang-orang yang menulis blog itu banyak macamnya. Ada yang sekedar nulis supaya hati lega (ini penting lho, kadang menulis suatu yang menjadi pikiran itu melenggangkan perasaan), ada yang menulis karena ingin share suatu yang dialaminya. Ada juga yang menulis karena pengen beken.</span></p>
<p><span lang="NL">Untuk orang-orang yang termasuk dari golongan pertama ini, mereka tidak memusingkan siapa yang membaca. Kasarnya dibaca bagus, tidak ada yang baca juga tidak apa-apa karena tujuannya menulis cuman ingin mengeluarkan pikiran yang mungkin mencekamnya.</span></p>
<p><span lang="NL">Untuk orang-orang yang termasuk golongan kedua ini biasanya mempunyai kelompok pembaca tersendiri. </span><span lang="EN-GB">Entah keluarganya atau teman-temannya tetapi jelas mempunyai pembaca yang setia. Kalaupun ada stranger atau pengunjung asing yang membaca tulisannya tentunya yang menulis juga akan senang. Apalagi kalau mendapatkan komentar/kritik/pendapat dari pengunjungnya.</span></p>
<p><span lang="EN-GB">Untuk golongan yang ketiga ini, aku benar-benar sebal. Sebab menurut perasaanku aku tidak pernah tertarik membaca blog seseorang tetapi seolah dipaksa untuk membaca. </span><span lang="NL">Aku sering mendapatkan email dari friendster yang mengatakan kalau salah satu temanku di friendster baru saja menuliskan blog. Kadang memang aku tidak interested untuk membaca blognya, tapi aku masih mengerti, sebab ya inilah risikonya kalau menjadi anggota friendster. </span><span lang="EN-GB">Cara lain yang sama seperti friendster ini adalah multiply. Tapi aku sangat membenci orang-orang yang tidak kukenal kemudian mengirimkan email dan menyebutkan kalau yang bersangkutan baru saja menyelesaikan blognya. Aku pikir, apa hubungannya denganku ? aku kenal dia juga tidak. Kenapa aku mesti masuk dalam daftarnya sehingga selalu dikirimi email. Akhirnya dengan memakai fasilitas auto delete atau auto junks langsung saja email yang tidak diundang itu dikirim ke trash.</span></p>
<p><span lang="NL">Cara lain dari orang yang pengen beken mendadak ini adalah mengirimkan tulisan-tulisannya di milis. Masih lumayan kalau kalau tulisannya berbobot sehingga menjadi bahan pengetahuan. Meskipun mungkin untuk yang sudah tahu berita yang ditulis malah bisa membuat annoyed, tapi sampai disitu aku masih bisa menerima. Yang tidak bisa ku terima adalah adanya peri laku seseorang yang suka sok tahu, mengirimkan berita panjang, yang seolah-olah berita itu suatu penulisan dirinya sendiri, tetapi sebenarnya 100% menuliskan hasil karya orang lain. Dan juga kadang si penulis sama sekali tidak menguasai bidang yang ditulisnya. </span></p>
<p><span lang="NL">Aku pernah mengatakan pada si pelaku itu, kalau tidak tahu ya mbok nanya, jangan nulis sesuatu yang salah, dengan harapan ada orang yang ngasih tau salahnya dimana. Emangnya kenapa sih kalau nanya ? Aku selalu mengaku kalau pengetahuanku rendah di beberapa hal. Karena itu aku sering bertanya. Misalnya saja aku masuk milis Budaya Tionghua, dan tujuanku cuman satu, yaitu mengetahui lebih banyak mengenai kebudayaan orang tionghoa di jaman dulu. Karenanya aku sering bertanya kepada sesepuh-sesepuh disana mengenai dan itu.</span></p>
<p><span lang="NL">Aku tidak pernah melarang orang untuk menulis. </span><span lang="EN-GB">Kalau memang seseorang ingin menulis cerita panjang, ya tulislah. Yang membuatku annoyed hanya adalah karena mereka ini mengirimkan tulisannya ini ke milis-milis yang kadang tidak ada sangkut pautnya dengan isi tulisannya. Thank God bahwa di outlook ada feature yang bisa mengirim email langsung ke ‘deleted items’.</span></p>
<p><span lang="NL">Ada beberapa penulis yang aku kagumi. Salah satunya adalah alm. pak Sobron Aidit. Pak Sobron ini menulis tia</span><span lang="EN-GB">p hari dan herannya setiap hari itu aku bisa membacanya tanpa ada rasa bosan sedikitpun. Sepertinya tulisan-tulisan pak Sobron selalu membuat mulutku tersenyum sedikit. Menghilangkan stress meskipun hanya sejenak. Sungguh suatu bakat yang luar biasa, menulis tiap hari tanpa membosankan si pembaca. Entah beliau menulis soal pengalamannya, ataukan menuliskan soal makanan yang disukainya, atau menulis kejadian dulu atau cerita tentang cucu nya yang lucu yang menjadi penjaga gawang, semua tulisannya itu sangat jelas dan mudah dicerna. Sayang beliau terlalu cepat meninggalkan kita semua. Aku yakin sekarang orang-orang di Sorga sana menjadi terhibur karena Pak Sobron menemani mereka dengan tulisan-tulisannya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haryono.net/blog/?feed=rss2&amp;p=32</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ganti Nama</title>
		<link>http://www.haryono.net/blog/?p=30</link>
		<comments>http://www.haryono.net/blog/?p=30#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jan 2007 21:34:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>steve</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Misc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haryono.net/blog/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan kita mengetahui kalau tahun-tahun 60-an nama-nama tionghoa diganti menjadi nama Indonesia. Ada yang mengganti nama secara mudah, ada juga yang mencari nama lewat dukun atau sinshé. Ada yang mengganti nama sekenanya saja ada juga yang mengganti nama dengan cara menterjemahkan nama tionghoanya ke nama yang berbau-bau Jawa atau Sangsekerta.
Papiku mengganti nama menjadi Djohan Haryono. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height: 14.4pt">Kebanyakan kita mengetahui kalau tahun-tahun 60-an nama-nama tionghoa diganti menjadi nama Indonesia. Ada yang mengganti nama secara mudah, ada juga yang mencari nama lewat dukun atau sinshé. Ada yang mengganti nama sekenanya saja ada juga yang mengganti nama dengan cara menterjemahkan nama tionghoanya ke nama yang berbau-bau Jawa atau Sangsekerta.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Papiku mengganti nama menjadi Djohan Haryono. Aku pernah menanyakan kenapa ganti nama ? jawabnya : Papi itu pedagang, kadang perlu minta ijin ini dan itu. Kalau memakai nama tionghoa, sulit dapat surat ijinnya, jadi kalau pakai nama Indonesia mestinya lebih gampang. Aku pernah mendengar beliau pernah ngobrol dengan alm. Mr. Yap Thiam Hien dalam pertemuan keluarga (Yeah right, oom Yap ini menikah dengan salah satu sepupu jauh dari mamiku, jadi mereka pernah ketemu dalam acara keluarga) dan waktu itu papiku mengatakan : yah broer, U kan tau semua semua ayat di wetboek, lha owé tau apa ? di gertak sama polisi ya owé juga gemeter.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Intinya sebenarnya simpel. Papiku tidak mau disusahkan. Kalau pemerintah menganjurkan untuk ganti nama demi pembauran, ya papiku ganti nama, no problem toh ?</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Nah bagaimana prosesnya ganti nama papi waktu dulu ? Katanya sih papi waktu sekolah di desa Jamblang waktu kelas 0 gitu, guru belanda nya tidak bisa menyebutkan nama Yeo Peng Liem, jadi dikasih nama sebagai Johan. Menurut cerita tante dan oomku yang lain, memang si guru londo itu memberikan semua muridnya nama belanda, agar mudah diingat. Selain itu papiku juga diberi nama oleh teman-teman pribuminya sebagai soeharjono (ejaan lama ya, soalnya ini pasti sekitar tahun 1930-an).</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Pas papi ganti nama dia tidak lama mesti mikir, dia pikir, hey…aku toh sudah ada nama jawa, kenapa tidak aku pakai saja nama itu. Alhasil namanya jadi Johan Soeharjono. Nama itu yang masuk di kepalanya papiku saat itu. Kemudian dia berpikir juga : wah…. Soe itu artinya selain 4 juga berarti ‘mati’. Nah karena dia tidak mau mati saat itu, dia buang itu huruf ‘soe’ nya. Jadi tinggal Johan Harjono. Dan karena waktu itu dia sudah beberapa kali pergi ke luar negeri dia mengetahui kalau memakai nama Harjono pasti akan penyebutan bahasa Inggris akan lain dengan pendengaran bahasa Indonesia, karenanya papiku mengganti menjadi Haryono. Hal ini terjadi sebelum penggantian ejaan baru, sekitar tahun 1964.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Setelah menemukan nama Johan Haryono itu, papi juga mengusulkan memakai nama Grace Haryono dan Steve Haryono untuk kakakku dan aku sendiri. Dan papiku mengirimkan permohonan penggantian nama tersebut ke pengadilan tinggi di Jakarta. Menurut cerita yang aku dapat, katanya pengadilan tinggi Jakarta menyatakan tidak berkeberatan permohonan ganti nama tersebut, tetapi pengadilan kota Cirebon menolak, katanya namanya berbau Belanda dan harus diganti.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Karena permohonan ditolak, maka papiku menambahkan D didepan Johan menjadi Djohan. Sedangkan kakakku menganti nama menjadi Yani Hendrawati Haryono. Entah darimana dia mendapatkan nama tersebut, tetapi karena dia memakai Yani, aku jadi ikut-ikutan mau pake Yan juga alhasil aku memilih Yanto, dan nama tengahnya aku memakai nama Adang. Lha darimana nama Adang itu ? waktu itu papiku mempunyai perusahaan yang bernama C.V. Adang, dan aku pikir saat itu, mungkin suatu waktu perusahaan ini akan menjadi milikku jadi aku ganti nama saja sekalian pake nama perusahaan, simpel toh ?</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Karena nama tionghoaku adalah Yeo Tjong Hian, di sekolah SD di Cirebon, mereka masih memanggil sebagai Tjong Hian atau Hian. Dan karena Hian dan Yan masih ada bau-baunya, maka aku tidak berkeberatan dipanggil Hian atau Yan. Susahnya pas pindah ke Jakarta, di SMP dan SMA tidak ada yang mengenal nama tionghoaku, semuanya mengenal sebagai Yanto. Jadi lah nama panggilanku menjadi ‘to’ ‘to’ ‘to’.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Ketika aku pertama kali menginjakkan kakiku di negeri Belanda ini aku bersalaman untuk mengenalkan diri kepada salah seorang kenalan papiku. Saat itu kepalaku berpikir, kalau aku memberikan nama yang salah, maka nama itu akan aku pakai sepanjang kehidupanku di negara ini. Karena aku tidak mau lagi dipanggil sebagai ‘to’…..’to’……’to’…. waktu itu aku menyebutkan namaku sebagai ‘Steve’ dan sejak saat itu semua memanggil aku dengan nama Steve. Nama panggilan yang memang sudah diberikan sejak lahir tetapi memang jarang digunakan.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Kalau kebanyakan nama tionghoa di Indonesia diganti menjadi nama Indonesia, ternyata waktu aku berkenalan dengan seorang oom dari keluarga The, dia mengganti namanya menjadi nama Belanda.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Si oom ini memang keturunan tionghoa belanda. Papinya masih keturunan The, tetapi maminya seorang belanda tulen. Kalau dilihat raut mukanya juga sudah tidak mirip seorang tionghoa lagi. Menurrut ceritanya si oom diberi nama sebagai Theodorus Franciscus The. Nama panggilannya adalah Dick.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Selain mendapat nama belanda, oom Dick juga mempunyai nama tionghoa yaitu The Tjwan Bing. Menurut oom Dick nama tionghoanya tidak resmi, sebab ayahnya mendaftarkan nama belanda di catatan sipil.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Terus dikemudian hari oom Dick mengganti namanya menjadi Dick van Thessen. Aku sempat menanyakan mengapa mesti mengganti nama ? apakah takut didiskriminasi ? Oom Dick mengatakan kalau beliau mengganti nama bukan karena diskriminasi tetapi ada pertimbangan-pertimbangan lain.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Oom Dick ini diplomat, dan dalam karirnya oom Dick cukup berhasil. Beliau bahkan sempat menjabat sebagai Duta Besar New Zealand dan Duta Besar kerajaan Belgia. Sebagai diplomat dia sudah mencapai puncaknya, dan beliau mengatakan bahwa pekerjaannya itu menyulitkan kalau dia memakai nama marga tionghoanya. Bukan karena diskriminasi atau apa, tetapi cuman karena kombinasi antara nama depan dan nama belakangnya. Bayangkan saja kalau duta besar belanda bernama : Dick The ……. Dan kalau di balik menjadi : ………..The Dick.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haryono.net/blog/?feed=rss2&amp;p=30</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Keluarga Kwee</title>
		<link>http://www.haryono.net/blog/?p=29</link>
		<comments>http://www.haryono.net/blog/?p=29#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jan 2007 20:39:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>steve</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Silsilah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haryono.net/blog/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari aku menerima undangan dari Hok Soei untuk datang ke rumahnya. Katanya ada seorang keturunan marga The yang dari Surabaya akan datang ke rumahnya juga dan bersama dengan Hauw Gie kita bisa berbincang-bincang siapa tau saja ada hubungan dengan keluarga The yang di Cirebon dan keluarga The yang di Surabaya.
Sebelumnya lewat buku-buku ‘Regerings Alamak’ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height: 14.4pt">Suatu hari aku menerima undangan dari Hok Soei untuk datang ke rumahnya. Katanya ada seorang keturunan marga The yang dari Surabaya akan datang ke rumahnya juga dan bersama dengan Hauw Gie kita bisa berbincang-bincang siapa tau saja ada hubungan dengan keluarga The yang di Cirebon dan keluarga The yang di Surabaya.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Sebelumnya lewat buku-buku ‘Regerings Alamak’ sebenarnya aku sudah mengira-ngira kalau bakalnya sulit mencari hubungan antara dua keluarga The ini. Karena keluarga The yang di Surabaya sudah sejak awal abad ke 19 menjadi Kapten dan Letnan tionghoa disana sedangkan leluhur keluarga The yang dari Cirebon diperkirakan baru jaya sekitar tahun 1840-an lebih.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Akhirnya perkiraanku menjadi kenyataan, bahwa kedua keluarga The ini memang tidak diketemukan hubungannya kecuali marganya saja yang sama. Keluarga The dari Surabaya termasuk keluarga yang sangat terkenal dan memegang jabatan Mayor, Kapten dan Letnan secara bergilir sejak awal abad ke 19 sampai akhirnya jabatan itu dihapuskan. Tidak heran kalau keluarga yang besar itu mempunyai juga buku silsilah yang lumayan lengkap dari leluhur yang pertama. Kenalan Hok Soei yang keturunan keluarga The ini bernama ‘Tik’ dan istrinya bernama ‘Mey’, mereka tinggal di Amstelveen. Sebenarnya aku sudah lama mengetahui tentang mereka cuman saja tidak pernah ada kontak.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Aku mengetahui kalau keduanya berasal dari Jawa Timur jadi tidak pernah kepikiran untuk bertanya lebih lanjut. Pada hari itu aku kebetulan membawa buku pinjaman dari perpustakaan yang judulnya ‘Orang-orang Tionghoa jang Terkemoeka’ cetakan tahun 1935. Tik dan Mey sempat melihat-lihat buku itu dan karena mereka melihat juga bagian kota Bandung (orang-orang tionghoa terkenal di Bandung), aku menanyakan apakah pernah tinggal di Bandung.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Mey mengatakan kalau sebenarnya maminya berasal dari Bandung, dan tepatnya Linggajati. Mey bahkan menanyakan apakah aku mengetahui dimana Linggajati itu. Tentu saja aku mengetahui sebab sebagai orang yang lahir di Cirebon, Linggajati termasuk tempat kunjungan tiap weekend. Mey Mengatakan kalau maminya lahir di desa Linggajati dan kemudian pindah ke Bandung dan sekolah disana sampai bertemu dengan papinya yang orang Jember kemudian setelah menikah diboyong ke Jember.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Tentu saja kesempatan ini tidak aku lewatkan untuk menanyakan siapa nama maminya, nama engkong, kongco dan lain-lainnya. Ternyata Mey mengatakan kalau engkongnya bernama Kwee Zwan Liang dan kongconya Kwee Keng Liem. Nama keluarga Kwee ini sudah cukup lama aku cari keturunannya, sebab menurut cerita orang-orang tua, di Cirebon dulu ada beberapa keluarga besar yang cukup terkenal dan mereka selalu menjabat pangkat opsir-opsir tionghoa.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Sejak awal abad ke 19 sampai sekitar tahun 1925-an pangkat opsir tionghoa di Cirebon hampir selalu di dominasi oleh beberapa keluarga. Kemungkinan keluarga-keluarga ini yang mempunyai pengaruh besar di kota Cirebon itu. Keluarga-keluarga itu antara lain keluarga Tan, Kwee, The dan Oey. Menurut data dari Regerings Alamak aku dapat mengetahui bahwa keluarga Tan dan Kwee di Cirebon ini dulunya mengelola pabrik gula, sedangkan keluarga Oey mempunyai beberapa perkebunan singkong. Keluarga The di lain pihak mempunyai perusahaan perkapalan.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Keluarga The dan Oey sudah aku punyai silsilahnya karena aku masih keturunan dari 2 keluarga tersebut. Silsilah keluarga Tan aku juga punya karena pernah dikirimi oleh Oom Swie, adik papiku yang tinggal di Cirebon. Cuman silsilah keluarga Kwee saja yang belum aku punyai.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Dari buku Regerings Almanak itu ada 4 orang Kwee yang pernah menjabat opsir tionghoa di Cirebon. Pertama adalah Kwee Boen Pien yang menjadi Letnan tahun 1874, kemudian Kwee Keng Eng dan Kwee Keng Liem tahun 1884, keduanya menjdai Letnan dan terakhir ada Kwee Zwan Hong yang diangkat menjadi Letnan di tahun 1908 kemudian menjadi Kapten di tahun 1924 sampai tahun 1935. Selain itu sebenarnya masih ada yang bernama Kwee Tjiong Ien menjadi Letnan antara tahun 1907 sampai 1921, tetapi yang terakhir ini sebenarnya bukan dari keluarga Kwee yang sama, tetapi pendatang dari Jawa Timur yang menikah dengan putri dari Mayor Tan Tjin Kie.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Karena nama-nama bermarga Kwee ini ada 4 di daftar opsir tionghoa aku menjadi penasaran dan ingin melihat (atau memiliki) silsilah dari keluarga ini sebab aku menduga kalau keluarga ini juga pasti keluarga besar yang tidak kalah dengan keluarga Tan atau The.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Lewat penelusuran silsilah lain, aku berkenalan dengan ci Renate yang tinggal di Jerman. Ci Renate ini masih keturunan Gan dari Purbalingga tapi kemudian aku mengetahui kalau beliau ini masih keturunan Kapten Tan Tiang Keng dari Cirebon dari anak perempuannya yang menikah dengan Letnan Kwee Keng Eng. Menurut ci Renate ini Kwee Keng Eng hanya mempunyai 1 anak perempuan jadi marga Kwee nya habis tidak ada yang meneruskan.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Kemudian penelusuranku sampai di silsilah yang dibuat oleh Peter Oey Kok Khioe di Freemont, USA. Peter juga seorang yang tergila-gila silsilah dan dia membuat silsilah dari hampir semua leluhurnya. Di silsilah Liem dari Tegal yang disusun oleh Peter, aku menemukan ada nama Kwee Keng Joe, Kwee Keng Wan dan Kwee Keng Po. Aku mulai yakin kalau semua Kwee Keng … itu pasti saudara. Entah saudara kandung atau sepupu tapi mestinya mereka bersaudara 1 generasi.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Beberapa bulan kemudian aku sempat browsing di google dan menemukan suatu artikel mengenai keluarga Kwee ini yang dikatakan diawali oleh Kwee Giok San dan kemudian anaknya Kwee Boen Pien dan cucunya Kwee Keng Liem. Artikel itu mengenai homemovie yang dibuat oleh putra Kwee Keng Liem yang bernama Kwee Zwan Liang. Dan karena homemovie itu dibuat di tahun 1928 tentunya sangat unik sekali. Lengkapnya artikel itu bisa dibaca di : <a href="http://www.chineseheritagecentre.org/bulletin/jun2004/CHC.pdf">http://www.chineseheritagecentre.org/bulletin/jun2004/CHC.pdf</a> .</p>
<p style="line-height: 14.4pt">Kembali ke awal tulisanku, setelah bertemu dengan Mey, dia berjanji kalau dia akan usahakan agar aku bisa bertemu dengan salah satu sesepuh keluarga Kwee yang tinggal di Belanda untuk membicarakan silsilah, karena aku mengatakan kalau aku tertarik dengan silsilah keluarga Kwee ini.</p>
<p style="line-height: 14.4pt">2 Minggu lalu aku menerima sms dari Mey yang mengatakan kalau oom nya bersedia menemui aku, dan aku mengunjungi oom Kwee Kiem Toen pada hari Minggunya dan meminta copy dari silsilah Kwee yang disimpannya. Dalam silsilah memang terlihat kalau Kwee Keng Yoe dan Kwee Keng Wan adalah adiknya Kwee Keng Liem tetapi tidak jelas siapa Kwee Keng Eng dan Kwee Keng Po. Yang pasti silsilah oom Kiem Toen hanya mencatat keturunan Kwee Boen Pien, sedangkan keturunan kakaknya tidak ada datanya, jadi diperkirakan Kwee Keng … yang lain kemungkinan besar keturunan kakaknya yang bernama Kwee Ban Hok.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haryono.net/blog/?feed=rss2&amp;p=29</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Penulisan nama tionghoa di Indonesia</title>
		<link>http://www.haryono.net/blog/?p=28</link>
		<comments>http://www.haryono.net/blog/?p=28#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Nov 2006 10:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>steve</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Misc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haryono.net/blog/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Jaman tahun 70-an, ada pasangan bulutangkis terkenal dari Malaysia, namanya Ng Boon Bee dan Tan Yee Kwan. Aku masih ingat bahwa pasangan double Indonesia kocar-kacir melawan mereka. Tentu saja waktu itu pasangan Indonesia yang terkenal seperti Christian dan Ade Chandra atau Tjuntjun dan Johan Wahyudi belum terkenal.
Waktu aku membaca nama Ng Boon Bee, aku tertawa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jaman tahun 70-an, ada pasangan bulutangkis terkenal dari Malaysia, namanya Ng Boon Bee dan Tan Yee Kwan. Aku masih ingat bahwa pasangan double Indonesia kocar-kacir melawan mereka. Tentu saja waktu itu pasangan Indonesia yang terkenal seperti Christian dan Ade Chandra atau Tjuntjun dan Johan Wahyudi belum terkenal.<br />
Waktu aku membaca nama Ng Boon Bee, aku tertawa, nama koq ya &#8220;Ng&#8221; ? bicaranya gimana tuh ? Koq bisa ya nama tionghoa jadi &#8220;Ng&#8221; ? Kayaknya di Indonesia ngga ada deh nama yang kayak gitu. Belakangan aku baru tahu kalau nama &#8220;Ng&#8221; di Malaysia itu di Indonesia sama saja dengan &#8220;Oey&#8221; atau &#8220;Oei&#8221;. Hal ini disebabkan oleh penulisan nama tionghoa ke huruf latin yang dilakukan di Malaysia (d/h Malaya) berlainan dengan yang ditulis di Indonesia.<br />
Seperti banyak diketahui, banyak orang-orang tionghoa yang merantau ke daerah asia tenggara. Memang adanya diaspora dari orang-orang tionghoa sudah berjalan dari jaman dahulu, tetapi memuncak tinggi setelah dinasti Manchu berkuasa di daratan Tiongkok. Karena orang Manchu sebenarnya berasal dari daerah timur laut Tiongkok dan dianggap bukan orang &#8220;Han&#8221; oleh orang-orang tionghoa dulu, maka setelah dinasti Manchu berkuasa banyak terjadi pemberontakan. Hal ini membuat dinasti Manchu sebagai penguasa melakukan penindasan kepada orang tionghoa biasa. Karena keadaan hidup yang susah dengan adanya penindasan itu maka mereka yang susah akan berusaha untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Entah bagaimana dengan yang tinggal di daerah pedalaman sana, tetapi yang pasti didaerah pesisir Tiongkok atau daerah pantai, tentunya mereka mempunyai alternatip yaitu merantau ke negeri seberang.<br />
Terutama dari propinsi Fujian dan Guandong banyak yang merantau ke asia tenggara. Dan entah apa sebab utamanya ternyata dari propinsi Fujian lebih banyak daripada yang dari propinsi Guandong. Orang-orang tionghoa yang datang ke asia tenggara itu biasanya hanya orang-orang miskin yang hanya mampu berbicara dialeknya sendiri-sendiri. Biasanya mereka berbicara memakai dialek hokkian atau hokchia atau khek (hakka) atau tiociu atau kwantung atau kongfu. Yang paling besar adalah yang berbahasa hokkian, karena itulah bahasa dialek hokkian ini yang menjadi paling terkenal dipakai didaerah asia tenggara. Terutama daerah Malaysia dan Indonesia, pada waktu abad ke XIX bahasa hokkian lebih banyak dipakai daripada bahasa mandarin.<br />
Karena yang merantau itu adalah orang-orang kelas rendah atau dapat dikatakan miskin, tentu saja kebanyakan dari mereka tidak dapat berbahasa asing selain bahasanya sendiri. Karena kebanyakan datang dari propinsi Hokkian (mandarin : Fujian), maka bahasa Hokkianlah yang banyak digunakan. Nah kesulitan mulai terjadi ketika pendatang-pendatang ini diwajibkan untuk mencatatkan namanya di kota-kota dimana mereka datang. Malaysia (d/h Malaya) dan Singapore waktu itu termasuk jajahan Inggris, sedangkan Indonesia waktu itu bernama Hindia Belanda yang merupakan jajahan Negeri Belanda. Dapat dibayangkan bahwa karena pendatang yang ditanyai namanya itu tidak dapat menuliskan namanya dengan memakai huruf latin, maka yang menulis adalah pegawai negeri setempat yang tentu saja cara penulisannya hanya berdasarkan pendengarannya.<br />
Karena ejaan bahasa Inggris dan ejaan bahasa belanda banyak yang berbeda, maka cara penulisan marga jadi berbeda-beda. Belum lagi perbedaan yang ada antar daerah seperti daerah jawa barat dan jawa tengah/timur yang juga menimbulkan perbedaan tulisan.<br />
Kalau kita melihat tulisan marga &#8220;TAN&#8221;, maka tidak ada bedanya antara marga ini di Malaysia/Singapore dan di Indonesia. <span lang="NL">Juga di marga-marga &#8220;Ong&#8221; dan &#8220;Ang&#8221;, tidak ada perbedaan antara 2 daerah bekas jajahan Inggris dan Belanda ini. Tetapi banyak sekali marga-marga yang tulisan latin nya berbeda. Misalnya saja yang mudah kita lihat adalah &#8220;Liem&#8221; yang banyak kita jumpai di Indonesia, di Malaysia atau Singapore kita akan menjumpai marga yang sama dengan tulisan &#8220;Lim&#8221;. Hal ini karena cara penulisan dalam bahasa Belanda yang memang menuliskan &#8220;ie&#8221; untuk penyuaraan &#8220;i&#8221;. Juga tulisan yang kita sering lihat seperti &#8220;Tjan&#8221;,&#8221;Tjia&#8221;, &#8220;Tjoa&#8221;, &#8220;Tjioe&#8221; jelas tidak dipakai oleh orang-orang tionghoa di Malaysia/Singapore. Mereka memakai &#8220;Chan&#8221;, &#8220;Chia&#8221; &#8220;Choa&#8221; dan &#8220;Chiu&#8221;.<br />
</span><span lang="NL">Sewaktu aku lahir, papiku memberi nama tionghoa yang sesuai dengan dinasehatkan oleh engkongku. Dan waktu itu papiku sudah memakai nama YEO sebagai marganya. Ada kemungkinan (ini aku sendiri kurang yakin) bahwa waktu beliau lahir namanya masih memakai tulisan JEO, sesuai dengan cara penulisan engkongku. Menurut cerita, papiku mengganti marganya menjadi YEO karena melihat di Singapore nama JEO kalau dipanggil menjadi lain bunyinya dengan apa yang biasa didengar di Indonesia waktu itu. Di keluarga papiku jadi marganya bermacam-macam. Ada yang Yeo, ada yang Jeo, ada juga yang Yo. Padahal semuanya kalau di mandarinkan menjadi YANG. Di kota lain, misalnya Semarang ada juga keluarga Njo atau Nyo, di daerah lain juga ada yang memakai marga Nyoo. </span>Semua marga ini ternyata kalau dalam bahasa mandarin semuanya sama, YANG juga. Menurut seorang pakar yang pernah aku tanyakan, dalam pengucapan bahasa hokkian, marga Yeo ini diucapkan dengan bunyi sengau. Nah ternyata, bunyi sengau ini yang menjadi gara-gara dari perbedaan penulisan ini. Sebabnya karena bunyi sengau tidak dikenal dalam alfabet latin. Karenanya dicoba menulis menurut pendengaran masing-masing penulis yang akhirnya mengakibatkan perbedaan penulisan, sedangkan seharusnya semuanya itu sama.<br />
Menurut temanku yang aku kenal lewat internet, bahasa hokkian juga sudah mulai di standarisasi. Kita ingat dulu kalau menuliskan Mao Tse Tung harus diubah sesuai dengan pinyin nya menjadi Mao Ze Dong. Di bahasa hokkian juga sedang diusahakan untuk menjadi seperti pinyin antara lain kalau menuliskan Yeo menjadi Yno, dan The menjadi Tne, Thio menjadi Tnio. Entah bagaimana menuliskan  nama-nama yang lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haryono.net/blog/?feed=rss2&amp;p=28</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ngubek-ngubek family Oey</title>
		<link>http://www.haryono.net/blog/?p=27</link>
		<comments>http://www.haryono.net/blog/?p=27#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Nov 2006 15:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>steve</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Silsilah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haryono.net/blog/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama sebenarnya aku ingin mampir kerumah tante Els Khohonggiem. Dengan anaknya Robby, aku sudah mengenal sejak aktif dulu di gereja di Amstelveen. Sejak dahulu sudah pernah aku diceritakan oleh salah seorang teman papi ku kalau tante Els itu masih saudara. Cuman saja saudaranya darimana tidak diceritakan.
Akhirnya ketika beberapa bulan lalu aku mengunjungi putra dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama sebenarnya aku ingin mampir kerumah tante Els Khohonggiem. Dengan anaknya Robby, aku sudah mengenal sejak aktif dulu di gereja di Amstelveen. Sejak dahulu sudah pernah aku diceritakan oleh salah seorang teman papi ku kalau tante Els itu masih saudara. Cuman saja saudaranya darimana tidak diceritakan.<br />
Akhirnya ketika beberapa bulan lalu aku mengunjungi putra dari teman papiku itu di Jerman aku mendapatkan alamat tante Els ini dan aku memberanikan diri untuk menelponnya dan membuat janji untuk mengunjungi beliau. Ketika menelponnya, aku sekalian menanyakan hubungan keluarga beliau dengan keluargaku. Ternyata menurut ceritanya tante Els, keluarge beliau dan keluargaku termasuk keturunan dari Oey Thiam Seng dari Jamblang. Di salah satu tulisanku sebelumnya aku salah menuliskan sebagai Oey Hian Seng, ternyata seharusnya adalah Oey Thiam Seng.<br />
Menurut cerita Oey Thiam Seng ini tinggal di desa Jamblang, dimana kongco ku Yeo Tjeng Kang juga tinggal. Hanya saja Oey Thiam Seng tidak tinggal di jalan raya antara Cirebon – Bandung tetapi agak masuk kedalam sedikit. Kalau menurut cerita oom dan tanteku Oey Thiam Seng termasuk salah satu orang yang terkaya di desa Jamblang. Kurang diketahui apa usahanya sehingga menjadi kaya seperti itu, tetapi anak dan menantunya tercatat sebagai pengelola tanah yang disewa dari pemerintah Hindia Belanda saat itu (tercatat dalam buku Regeringsalmanak).<br />
Oey Thiam Seng tercatat diangkat pada tahun 1874 menjadi Luitenant der Chinezen te Cheribon sampai pada tahun 1909 mengundurkan diri dan dianugerahi pangkat Kapitein Titulair (Kapten kehormatan) oleh pemerintah.<br />
Kembali ke tante Els ini, beliau adalah cucu dari Oey Kim Lan, sedangkan papiku cucu daru Oey Kim Lie, adiknya Oey Kim Lan. Tante Els sudah dikirim ke belanda sejak awal tahun 50-an untuk sekolah. Kemudian beliau betemu dengan calon suaminya waktu itu, seorang tionghoa keturunan dari Ambon. Menurut cerita, orang tionghoa di Ambon yang di ‘gelijkgesteld’ namanya dijadikan satu dan mungkin itu nama dari opanya atau papanya alm suami tante Els ini, tetapi nama itu dipakai sebagai nama keluarga. Jadi Khohonggiem ini adalah nama keluarga. Anaknya tante Els, yang mempunyai nama tionghoa juga, jadi agak aneh namanya, sebab namanya jadi Robert Bian Liem Khohonggiem.<br />
Karena tante Els ini memang sudah lama tinggal di negeri Belanda tentu saja pengenalannya dengan saudara-saudaranya tidak seperti dulu lagi, karena itu beliau menyayangkan tidak bertemu sebulan sebelumnya, dimana waktu itu adiknya dari Indonesia sedang berkunjung beberapa minggu dirumahnya, dan menurut tante Els, adiknya ini lebih banyak mengenal saudara-saudaranya. Beliau menyarankan kalau aku menghubungi adiknya yang tinggal di jalan Tanah Abang II di Jakarta.<br />
Beberapa minggu sesudahnya aku berhasil menelpon tante Nelly adiknya tante Els ini di Jakarta. Beliau mengatakan sangat sulit untuk mencari nama-nama yang diperlukan karena mereka sudah tersebar kemana-mana, tetapi meskipun demikian tante Nelly berjanji membantuku dalam menyelesaikan silsilahnya Oey Thiam Seng ini. Tante Nelly mengakatakan kalau beliau membutuhkan barang 2 atau 3 minggu untuk mengumpulkan keluarga-keluarganya itu.<br />
Karena aku sudah tahu kalau akan susah berkomunikasi lewat telpon sedangkan tante Nelly tidak mempunyai akses internet, aku meminta bantuan kepada Johan Gondokusumo alias Gan Kong Siang, yang waktu itu mengumpulkan silsilah Gan sampai dicetaknya buku silsilah Gan Peng. Koh Kong Siang ini memang luar biasa orangnya, dalam mencari data benar-benar diluar dugaan. Aku mengatakan apakah koh Kong Siang bersedia datang kerumahnya tante Nelly itu dan kemudian mencatatkan apa yang didapat dan kemudian mengirimkannya melalui email kepadaku.<br />
Hasil yang ku terima benar-benar luar biasa. Yang sebelumnya keturunan Oey Kim Lan itu hanya setengah atau sepertiga halaman, sekarang setelah koh Kong Siang itu “turun tangan” menjadi 9 halaman. Yang tadinya keturunan Oey Kim Lan hanya sampai basa anak-anaknya saja, sekarang menjadi komplit dengan anak-cucu-buyut dan sebagainya.<br />
Melalui tante Nelly koh Kong Siang juga mendapatkan beberapa nomor telpon dan alamat dari keturunan adiknya Oey Kim Lan yang lain, sehingga diperkirakan dalam waktu tidak lama keturunan adiknya Oey Kim Lan ini juga ada dilacak. Mudah-mudahan saja silsilah Oey Thiam Seng ini bisa disempurnakan dengan baik, karena mencari silsilah dari marga Oey ini extra susah karena nama ini nama yang sangat umum di kalangan marga tionghoa, seperti juga marga Tan dan Liem.<br />
�</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haryono.net/blog/?feed=rss2&amp;p=27</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ditinggal pergi 3 bulan</title>
		<link>http://www.haryono.net/blog/?p=26</link>
		<comments>http://www.haryono.net/blog/?p=26#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Nov 2006 12:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>steve</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Misc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haryono.net/blog/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya sudah lama rencana menulis blog ini. Kadang aku malu juga sama Nike yang sudah susah payah membuatkan layout nya tetapi aku memang pemalas, sehingga selalu menunda-nunda saja rencana menulisku itu.
Sekarang ini Nike sedang ada di negaranya paman Sam selama 3 bulan. Lho kenapa begitu ? Nah ceritanya dia sedang belajar lagi di TU Delft, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya sudah lama rencana menulis blog ini. Kadang aku malu juga sama Nike yang sudah susah payah membuatkan layout nya tetapi aku memang pemalas, sehingga selalu menunda-nunda saja rencana menulisku itu.</p>
<p>Sekarang ini Nike sedang ada di negaranya paman Sam selama 3 bulan. Lho kenapa begitu ? Nah ceritanya dia sedang belajar lagi di TU Delft, dan dalam rangka belajarnya itu dia diberikan kesempatan untuk mengikuti kuliah dari salah satu pakarnya yang mengajar di Ohio State University.<br />
Aku selalu mengatakan, kalau dapat kesempatan untuk belajar secara gratis jangan dilewatkan, apalagi kalau kesempatan belajarnya di luar negeri dan semua urusan keuangan ditanggung oleh sekolahnya, ya jelas mesti dipakai kesempatan tersebut.<br />
Alhasil Nike berangkat ke Columbus, Ohio bulan September yang lalu dan rencananya akan tinggal disana sampai pertengahan bulan December, dan in the mean time aku jadi bujangan lagi selama 3 bulan. Awalnya sih enak juga, sendirian dirumah, mau maen kek, mau nonton tivi kek, mau abis makan ngga cuci piring kek, tidak ada yang kasih komentar. Jadi dipuas-puasin deh main World of Warcraft nya sampai bikin beberapa charracter dengan tujuan kalau nanti expansion nya keluar bulan December nanti, aku sudah mempunya beberapa charracter dengan level tinggi.</p>
<p>Tapi maen game sendirian koq ya sepi juga ya ? Misalnya saja pada hari weekend sudah merencanakan untuk main game seharian, supaya bisa naik beberapa level, baru main 2 jam sudah merasa bosan, akhirnya aku coba untuk menonton tivi, tidak ada acara yang bagus dilihat, kembali lagi main, bosan lagi, akhirnya jadi nggak tahu apa yang mesti dikerjakan.</p>
<p>Anyway, sekarang sudah setengah jalan, dan 7 minggu lagi Nike akan pulang ke Belanda lagi setelah liburan selama 2 minggu di California. Sementara itu, main game dan menulis silsilah masih tetap menjadi hobbyku</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haryono.net/blog/?feed=rss2&amp;p=26</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi generasi</title>
		<link>http://www.haryono.net/blog/?p=25</link>
		<comments>http://www.haryono.net/blog/?p=25#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Mar 2006 09:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>steve</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Misc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haryono.net/blog/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu kebiasaan yang sangat istimewa di keluarga tionghoa jaman dulu pada umumnya adalah bahwa mereka mempunyai nama unik untuk generasinya. Seperti banyak diketahui, nama tionghoa biasanya terdiri dari 3 kata. Kata pertama adalah nama keluarganya (marga) dan seperti juga lazimnya, nama ini diturunkan kepada semua keturunan dari ayah. Di Indonesia dapat juga diketemukan bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu kebiasaan yang sangat istimewa di keluarga tionghoa jaman dulu pada umumnya adalah bahwa mereka mempunyai nama unik untuk generasinya. Seperti banyak diketahui, nama tionghoa biasanya terdiri dari 3 kata. Kata pertama adalah nama keluarganya (marga) dan seperti juga lazimnya, nama ini diturunkan kepada semua keturunan dari ayah. Di Indonesia dapat juga diketemukan bahwa nama keluarga yang diturunkan dari ibu karena perkawinan mereka tidak diakui oleh pemerintah setempat. Nama marga sudah menjadi tradisi berabad-abad sehingga boleh dikatakan semua orang tionghoa akan menuruti tradisi ini. Seseorang tidak dapat memilih marga seenak hatinya. Marga adalah warisan dari orang tua turun menurun. Selain nama marga, nama tionghoa juga mengenal nama generasi. Nama generasi ini bisa ditengah, tetapi juga bisa ditempatkan dibelakang. Biasanya antara saudara sekandung dan sepupu yang masih termasuk satu generasi akan mempunyai nama generasi yang sama. Sehingga satu nama terakhir, itu adalah nama orang itu sendiri.</p>
<p>Keluarga-keluarga tionghoa yang besar mempunyai suatu yang dinamakan puisi keluarga. Kemungkinan ada seseorang yang menciptakan puisi tersebut dan kemudian menurunkan puisi tersebut kepada keturunannya untuk dipakai sebagai puisi generasi. Untuk penelusuran silsilah, nama generasi ini sangat berguna. Banyak saudara-saudara yang lebih mudah diketemukan hanya karena nama generasinya ini. Nama generasi ini mudah hilang pada jaman-jaman dahulu apalagi untuk orang-orang tionghoa yang merantau. Biasanya mereka adalah orang yang miskin dari daratan Tiongkok sana dan tidak jarang juga mereka buta huruf. Kalau leluhur suatu keluarga ini buta huruf, beliau harus menurunkan puisi generasi itu secara lisan kepada keturunannya. Hal ini tentunya akan mempersulit keberadaan puisi generasi ini. Apalagi kalau salah satu keturunannya pergi ke kota lain, yang letaknya agak jauh. Hubungan telpon dan jalan belum semudah sekarang, sehingga biasanya ranting keluarga yang berpindah akan tidak menggunakan puisi generasi lagi.</p>
<p>Keluarga Gan yang berasal dari Pekalongan, mempunyai puisi generasi yang dituruti oleh kebanyakan keturunannya. Dimulai dengan generasi Gan Sam &#8230;., kemudian Gan Jang &#8230;., kemudian Gan Kay &#8230;. dan Gan Thay &#8230;.. Hampir 85% dari keturunan laki-laki keluarga Gan ini memakai nama generasi yang sama. Akibatnya ada beberapa yang namanya benar-benar sama, karena mungkin tinggalnya dilain kota sehingga ketika anaknya lahir dan diberi nama yang memberi nama tidak mengetahui kalau nama tersebut sudah dipakai oleh keluarga lain. Kalau tidak salah, ada 4 yang memakai nama Gan Thay Hien dan ada 3 yang memakai nama Gan Thay Sien. Sesudah generasi Gan Thay &#8230;.. nama generasi sudah jarang dipakai. Hal ini disebabkan oleh adanya persoalan ganti nama di Indonesia, yang kebanyakan orang memberikan nama Indonesia kepada anak-anaknya dan tidak lagi memberikan nama tionghoa. Juga dengan adanya trend baru yang meskipun masih memakai nama marganya tetapi memberikan nama kristen atau nama eropa.</p>
<p>Di keluarga The aku tidak melihat adanya puisi generasi. Yang ada hanya nama generasi yang boleh dikatakan dipakai oleh keluarga keturunan kongcoku. Keturunan adik dari kongco tidak memakai nama generasi yang sama. Menurut cerita, engkongku dulu adalah seorang yang sering ditanyai oleh keluarganya untuk memberikan nama bagi anak-anak mereka. Namaku juga didapat atas pemberian engkongku itu. Konon menurut cerita mamiku, engkongku yang lain, yang dari papiku, ingin memberikan nama Tjong Houw kepada cucu laki-lakinya yang pertama itu. Hal itu dikarenakan karena waktu itu terkenal sekali bahwa yang namanya Oei Tjong Houw adalah putra dari Oei Tiong Ham yang meskipun bukan anak laki-laki tertua, dialah yang bisa memimpin perusahaan dan mengembangkan perusahaan bapaknya sampai menjadi perusahaan mancanegara. Semua orang-orang tua tentu mengimpi-impikan keturunannya bisa jadi orang, dan kalau bisa kaya-raya. Tetapi engkongku yang lain, engkong The Tie Sek tidak begitu setuju dengan usul engkong Yeo yang dari papi. Dikatakan bahwa nama Tjong Houw itu berat sekali artinya, dan kalau nanti anak ini (aku tentunya) tidak kuat, malah akan tidak baik dikemudian hari. Kemudian oleh engkong Tie Sek, aku diberi nama Tjong Hian, yang konon menurut beliau mengambil contoh seorang yang mengabdi kepada ilmu. Entah ilmu apa, tetapi kenyataannya, aku tidak suka ilmu.</p>
<p>Karena aku sebagai cucu laki-laki pertama dari engkong Yeo, 3 cucu laki-laki selanjutnyapun memakai nama Tjong juga. Sayang dari 3 sepupu itu 2 orang meninggal dunia, sehingga hanya satu yang masih memakai nama Yeo Tjong &#8230; . Sepupuku yang lahir sesudah kejadian G-30-S tidak memakai nama tionghoa lagi. Keluarga dari kakak dan adik engkongku tidak menggunakan nama generasi yang sama. Memang mungkin mereka tidak bersepakat untuk mempunyai nama generasi yang sama untuk cucu-cucu mereka sehingga masing-masing keluarga memakai nama generasi yang berbeda. Cucu dari keturunan kakak engkongku ada yang memakai nama generai &#8220;Hoey&#8221; dan juga ada yang memakai nama generasi &#8220;Bun&#8221;.</p>
<p>Keturunan dari kongcoku yang lain, kongco The, mengenal 2 nama generasi. Ada yang memakai nama Thian, dan juga ada yang memakai nama Tjing. Kemungkinan besar sebenarnya mereka sudah sepakat memakai nama Thian, tetapi ada salah satu keluarga keturunan dari kakak engkongku yang memakai Tjing. Ada kejadian yang lucu sebenarnya mengenai Thian dan Tjing ini. Salah satu oom ku yang anaknya menggunakan Tjing, mempunyai anak banyak. Dan satu saat lahir kembali anak yang kesekian, dan waktu engkongku, engkong Tie Sek, datang berkunjung kerumahnya, beliau mengatakan bahwa anak terlalu banyak ini dikarenakan si ayah tidak menggunakan nama Thian. Karena itu si oom yang masih keponakan dari engkong Tie Sek menanyakan kepada engkongku agar memberikan nama kepada anaknya yang baru lahir ini. Kemudian engkongku memberi nama Thian Ien, dan dikatakan bahwa dengan nama ini, nantinya tidak akan ada adik-adiknya lagi. Ternyata kata-kata engkongku salah kaprah, sebab setelah itu masih ada lagi 2 adiknya yang lahir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haryono.net/blog/?feed=rss2&amp;p=25</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
