Archive for the 'Travelling' Category

You are currently browsing the archives of Steve’s hut .

Perjalanan ke Qishan-Yongchun/Menelusuri desa asal keluarga Gan

Peran :

Steve Haryono

Nike Gunawan

Chen You Li (Tan You Li) - guide

Chen Chao Jie - suami You Li - sebagai orang native hokkian, mahir berbahasa hokkian

Xie Rui An (Tjia Swie An) - Pengemudi

Seperti banyak diketahui, leluhur keluarga Gan, baik yang dari keluarga Gan Peng dari Pekalongan maupun keluarga Gan Hwan dari Purbalingga berasal dari 1 desa bernama Qishan. Menurut catatan Gan Tjioe Hway, dikatakan bahwa Gan Peng berasal dari desa Kie San (Qishan), kecamatan Eng Tjoen (Yongchun), kabupaten Tjoan Tjioe (Quanzhou) propinsi Hokkian (Fujian). Sedangkan dari pihak Gan Hwan dengan berdasarkan referensi batu nisan (bongpay) dari Gan Sin Sing dan Gan Thian Koeij yang mencantumkan nama desa asal yaitu Qishan.

Dengan berbekal nama desa, kecamatan, kabupaten yang jelas, saya mencoba menghubungi seorang huaqiao yang tinggal di Xiamen. Beliau bernama Tan You Li, putri dari Tan Tjing Wie dan Anny Tan yang pulang ke Tiongkok di tahun 1961. Anny Tan adalah seorang wanita yang pernah mengecap pendidikan di universitas di Utrecht sebelum perang dunia ke 2 mengambil jurusan matematik. Jurusan yang unik untuk seorang wanita pada jaman itu, apalagi untuk seorang wanita tionghoa dari hindia belanda. Seorang researcher belanda yang bernama DR. Leonard Blusee pernah menuliskan jalan kehidupan Anny Tan dalam bukunya yang berjudul : Retour Amoy, Vrouwenleven in Indonesie, Nederlands en China (Kembali ke Amoy, kehidupan seorang wanita di Indonesia, Belanda dan Tiongkok)

Saya menghubungi You Li lewat seorang kenalan yang juga pencari silsilah keluarga. Keluarga Lie dari Sumatra Barat (Padang-Bukit Tinggi). Data Qishan/Yongchun sudah saya kirimkan berbulan-bulan lalu ke You Li tetapi sehubungan kesibukannya dengan jatuhnya mama You Li, sehingga You Li kurang ada waktu untuk meneliti lebih lanjut. Ketika 3 minggu sebelum keberangkatan saya Ny. Anny Tan meninggal dunia, barulah You Li ada mempunyai waktu untuk melakukan riset tentang desa Qishan.

Sebenarnya bersama Esther Hermann-Winata dari keluarga Gan Hwan saya sudah berusaha mencari tahu dimana letaknya Qishan ini, tetapi tidak ada satu peta pun yang didapat lewat internet dimana didapatkan desa Qishan di daerah Yongchun. Karena hal itulah kami sudah berpikir kalau desa Qishan pasti satu desa yang kecil dan kemungkinan desa nya sudah tidak ada lagi. Misalnya saja kalau desanya berada di dekat suatu kota yang maju pesat menjadi kota modern, maka dimungkinkan kalau desanya sudah tercaplok oleh kota besarnya.

2 hari sebelum saya tiba di Xiamen, saya mendapat kabar dari You Li kalau dia berhasil menemukan letak desa Qishan tersebut. You Li begitu antusiasnya memberitakan kepada saya dan saya baru tahu kalau teman saya itu dalam pencariannya ke desa asal keluarga Lie memakan waktu lebih dari 5 tahun dari berkali-kali teman saya itu sudah berkunjung ke Xiamen hanya untuk mencari desa asalnya itu. You Li sendiri mengatakan bahwa keluarganya juga setelah 40 tahun tinggal di Tiongkok (Xiamen) baru saja menemukan desa asalnya. Jadi menemukan desa asal itu tidak mudah dan saya boleh dikatakan beruntung kata You Li sebab sekali riset sudah langsung ketemu, tempat dimana desa Qishan itu berada.

Kami datang di Hongkong tanggal 12, dan tanggal 14 July lewat Shenzhen kami terbang ke Xiamen yang langsung dijemput oleh You Li di airport. Sebelum kami sampai hotel, You Li sengaja membawa kami dengan sight seeing bus untuk melihat-lihat Xiamen. Setelah kami sampai di hotel dan refreshing sebentar kami pergi untuk makan malam sebelum kembali lagi ke hotel untuk beristirahat, sebab You Li mengatakan kalau esoknya jam 6 pagi sudah harus siap untuk berangkat ke Qishan. Perjalanan diperkirakan memakan waktu 4-5 jam kesana dan untuk kembali dibutuhkan waktu yang sama, jadi diperhitungkan kami akan tiba sekitar jam 6 atau jam 7 malam. You Li juga mengatakan kalau suaminya Chao Jie akan turut serta sebab meskipun You Li sudah 45 tahun tinggal di Xiamen, ia tidak mahir berbahasa hokkian. Chao Jie yang seorang asli Hokkian lebih mahir berbahasa hokkian, dan bahasa hokkian kemungkinan masih diperlukan di desa-desa, sedangkan di kota-kota besar, berbahasa putonghoa sudah cukup. You Li mengatakan juga kalau sopir yang akan mengantar kami seorang huaqiao juga yang bisa berbahasa Indonesia.

Esoknya, tepat jam 6 kami dijemput oleh You Li bersama Chao Jie dan Swie An. Jalan masih cukup sepi, karena memang hari minggu dan masih pagi. Ketika kamu berbicara bahwa keluarga Gan Peng berasal dari Pekalongan, Swie An juga mengatakan kalau dia lahir di Pekalongan, dan mama nya seorang yang bermarga Gan. Kemudian Swie An juga mengatakan kalau engku nya bernama Gan Kay Liem. Saya mencari-cari nama Gan Kay Liem, dan setelah ketemu saya menanyakan marga Swie An. Swie An mengatakan kalau ia bernama Tjia Swie An. Ketika saya melihat dibuku, saya mengtakan kalau dalam buku silsilah Gan Peng namanya sudah ada tercatat. Swie An begitu gembiranya karena ia tidak menyangka akan bertemu dengan saudara. Dalam kesempatan pertama ketika mobil berhenti karena Nike hendak membuat foto, Swie An langsung meminta buku silsilah nya untuk dilihat. Swie An juga menunjukkan gambar foto dari kakak nya yang tertua yang katanya sekarang tinggal di Jakarta dan ada di dalam buku silsilah tersebut. Kalau dipikir-pikir kembali, sebenarnya pertemuan dengan Swie An ini cukup unik. Berapa banyak huaqiao yang kembali ke Tiongkok dan berapa banyak yang benar-benar tinggal di Xiamen, toh kami bisa saling bertemu, suatu kejadian yang mungkin terjadi sekali dalam sejuta.

Setelah beberapa kilometer meninggalkan kota Xiamen, jalan masih termasuk cukup lancar dan bagus. Meskipun bukan highway tapi kondisi jalan masih cukup mulus. Kebiasaan mengemudi kendaraan yang hampir sama dengan Indonesia, membuat perasaan seperti kembali ke kampung halaman. Juga melalui kota-kota kecil, keadaan rumah-rumah sama seperti yang dijumpai di kota-kota kecil di pulau jawa. Ketika kendaraan telah melewati kota Yongchun, kita harus mengambil jalan kecil menuju desa Guiyang. Di tengah jalan kita mampir di satu rumah makan untuk makan siang, sebab diperkirakan kita sampai di Qishan jam 12 siang, dan tentunya akan lebih sulit mendapatkan restoran disana. Chao Jie memesankan 3 mangkuk bakmi kuah dan 1 piring bakmi goreng yang tidak dapat dihabiskan oleh kami ber 5. Setelah selesai menyantap makan siang, Chao Jie membayar semuanya dan ternyata kami hanya membayar 15 yuan alias 1,5 euro.

Setelah kita sampai di desa Guiyang, kami sempat bertanya kepada penduduk setempat mengenai desa Qishan. Dikatakan bahwa di desa Qishan mereka tidak mengenal ada yang mempunyai marga Gan. Mereka mengenal beberapa orang yang tinggal disana tetapi hanya bermarga Liem. Dikatakan juga bahwa jalan ke desa Qishan sangat sempit dan tidak semuanya dalam kondisi baik. Memang kenyataannya kondisi jalan boleh dikatakan rusak, meskipun tidak semuanya rusak tapi kadang kendaraan harus berjalan merayap agar bagian bawah mobil tidak tersantuk batu.

Akhirnya kami sampai di desa Qishan bagian bawah. Dikatakan ada 2 desa Qishan, bagian bawah dan bagian atas. Bagian bawah hanya dihuni oleh beberapa orang sedang bagian atas lebih banyak. Di bagian bawah tidak diketemukan orang yang bisa ditanyai, dan hanya ada 3 atau 4 rumah yang terlihat. Kami meneruskan perjalanan sebentar dan kami langsung mencapai yang bagian atas. Ada beberapa rumah yang terlihat, tidak lebih dari 20 rumah, tetapi tidak ada orang yang terlihat, keadaan sangat sepi. Chao Jie mencoba mengetuk beberapa rumah, dan setelah rumah ke 3 ada seorang wanita muda keluar. Wanita itu mengaku kalau dia bukan penduduk asal desa tersebut, dia hanya pendatang karena menikah. Dianjurkan untuk menanyakan kepada wanita yang tinggal di 4 rumah sesudahnya yang sudah setengah umur. Dari wanita ini juga dikatakan sepanjang pengetahuannya tidak ada orang yang bermarga Gan yang tinggal di desa Qishan ini. Tetapi karena beliau hanya setengah umur, ia mengajak ke rumah seseorang yang sudah diatas 70 tahun.

Setelah berjalan lagi dibawah terik matahari kami sampai di rumah yang dikatakan wanita tersebut. Ada seorang laki-laki tua yang sedang membasuh tangannya di sumur. Chao Jie mencoba menanyakan keadaan desa Qishan sepanjang ingatan si pak tua tersebut. Kembali beliau mengatakan kalau tidak pernah mengenal ada seseorang yang bermarga Gan yang pernah tinggal di desa Qishan ini. Rumah pak tua ini benar-benar miskin, alas nya berdasarkan tanah, rumahnya berdinding kayu dan beliau tinggal bersama anak istri dan menantu berserta ayam dan anjing di rumah tersebut yang dijamin akan becek kalau tertimpah hujan. Kehidupan sehari-hari kelihatannya adalah bertani, dan yang membuat saya terheran-heran adalah, meskipun kehidupan mereka miskin, karena kami datang sekitar jam 1 siang, mereka masih sempat mengajak kami makan siang bersama dan juga menawarkan minum yang tentu saja kami tolak, karena kami sudah makan siang sebelumnya.

Dari pak tua tersebut kami mendapatkan informasi kalau sebelum marga Liem yang tinggal di desa Qishan ini sebelumnya adalah marga Tjan. Pak tua sendiri tidak mengetahui kenapa dari marga Tjan bisa berubah menjadi marga Liem. You Li menceritakan bahwa ada beberapa kemungkinan kenapa marga bisa berubah :

Kemungkinan terbesar adalah kebanyakan marga Gan yang laki-laki yang ada waktu itu pergi merantau ke negara lain sehingga yang tertinggal hanya wanita saja, dan ketika wanita-wanita ini menikah dengan marga lain, marga Gan yang sebenarnya menjadi lenyap dan berubah menjadi marga lain, kemungkinan marga Tjan yang disebutkan pak tua tadi.

Kemungkinan juga terjadi perseteruan antar desa yang katanya sering terjadi, sehingga terjadi perang dimana yang kalah harus keluar dari desanya dan desanya dihuni oleh si pemenang. Hal ini cukup diragukan juga karena letak desa di daerah pegunungan sehingga bertani juga sangat sulit, dan dapat dilihat dengan kehidupan mereka sampai sekarang, dimana kebanyakan pria muda meninggalkan desanya dan mencari kehidupan lebih baik di kota-kota besar.

Menurut berita sejarah yang tertulis, daerah Yongchun pernah terjadi bencana alam (banjir/tanah longsor) yang sangat hebat di tahun 1860-an. Meskipun bukan merupakan bukti yang pasti, tapi bisa jadi juga orang-orang marga Gan waktu itu harus mengungsi ke daerah lain sehingga tidak ada lagi yang menyandang marga Gan tinggal di desa Qishan.

Setelah kami pulang ke Xiamen, esoknya kami diajak oleh You Li untuk mengunjungi Museum Hua Qiao di Xiamen. Museum yang seyogya nya setiap hari kamis ditutup untuk umum, sengaja dibuka untuk kami. Saya sebenarnya membawa 1 buku silsilah Gan yang hendak saya hadiahkan kepada You Li dan Chao Jie sebagai tanda terima kasih saya kepada mereka yang sudah menyediakan waktu mengantar kami, tetapi You Li mengatakan kalau sebaiknya buku ini diberikan kepada Museum saja karena akan lebih berguna bagi Museum Hua Qiao.

Setelah kami diterima oleh oleh direktur, wakil direktur museum dan beberapa staf ahli diantaranya juga seorang profesor asal Singapore yang menjadi specialist Hua Qiao di Xiamen University, kami memberikan buku Silsilah Gan Peng tersebut. Kami juga menjanjikan akan mengirimkan lagi kalau kami mengupdate buku tersebut. Dari beberapa staf ahli kami dijanjikan bahwa mereka akan membantu mencari alasan/sebab kenapa tidak ada lagi marga Gan di desa Qishan. Dan juga mereka akan membantu mencari hubungan dengan marga-marga Gan yang ada di desa Yu Dou dan Wan Li yang masih berada dalam wilayah kecamatan Yongchun untuk mengetahui apakah mereka berasal dari desa Qishan atau setidaknya mempunyai hubungan dengan desa Qishan. Menurut apa yang para staf ahli ini katakan marga Gan bukan marga yang besar, dan di daerah Yongchun sampai saat ini diketahui kalau hanya desa Yu Dou dan Wan Li inilah tempat tinggal marga Gan.

Meskipun demikian, karena kami membawa tulisan tua dan foto dari bongpay yang bertuliskan Qishan para staf ahli ini mengatakan bahwa kami sudah berada di jalan yang benar untuk menelusuri desa Qishan di Yongchun ini.

3 Malam kami menginap di Xiamen, 1 hari kami mengadakan perjalanan ke desa Qishan, setengah hari kami berada di Museum Hua Qiao, selebihnya kami diajak melihat-lihat Xiamen dan pulau Gulangyu oleh You Li. Besar terima kasih kami kepada You Li dan suaminya Chao Jie, tanpa mereka mungkin kamu tidak akan menemukan desa Qishan. Terima kasih kami juga kepada Swie An yang sudah menyediakan waktu mengantar kami ke lapangan udara tanpa mau dibayar. Saya berjanji kepada You Li kalau satu saat saya akan kembali lagi ke Xiamen, baik untuk menelaah marga Gan lebih lanjut maupun untuk menelusuri marga-marga lainnya

Posted by steve on Jul 30th 2007 | Filed in Silsilah, Travelling | Comments (0)

Bakpao jerman dan kepleset

Sial !

Gara-gara hujan salju yang lebat aku kepleset dan jatuh, untung saja tidak ada yang patah hanya tangan kananku yang terbeset-beset dan bokongku yang tak berdaging agak sakit karenanya.

Sudah berbulan-bulan lalu Nike merencanakan untuk mengajakku melihat pameran komputer terbesar diseluruh Eropa, CeBIT di Hannover Messe yang dilangsungkan mulai tanggal 9 Maret sampai dengan tanggal 12 Maret memang sangat terkenal dan bergengsi, sehingga tidak mengherankan Nike ingin sekali melihatnya. Kita membuat kombinasi antara mengunjungi Hannover Messe dan long weekend. Hotel yang dipilih adalah hotel yang terletak agak jauh dari kota Hannover dan terlihat menurut gambarnya bahwa hotel tersebut terletak di lereng gunung, di dekat kota Einbeck. Setelah 2 malem di hotel itu, kita akan bermalam di Wuppertal didekat Dusseldorf untuk mengunjungi Esther dan keluarganya untuk berkenalan, dan Robby Sugiri yang sudah lebih dari 15 tahun tidak bertemu.

Berangkat dari Rotterdam jam 5 pagi, membuat kita sampai di Hannover jam 10.30 pagi. Cukup waktu untuk melihat pameran tersebut, pikirku. Ternyata setelah putar-putar selama 2,5 jam plus makan siang selama 30 menit, kita sudah merasa capai dan lelah. Sebenarnya kalau aku melihat Nike, dia ini lelah dan kecewa karena tidak menemukan stand Apple computer disana, sedangkan sebelumnya dia sudah mengimpi-impikan bahwa di Messe sana dia akan mencoba sana-sini. Akhirnya kita memutuskan untuk keluar dari Messe dan pergi mencari hotel yang sudah di book lewat ‘weekeindje weg’

Hotel yang dituju ternyata memang sangat bagus letaknya. Di lereng satu bukit yang tidak terlalu tinggi, hotel itu mempunyai beberapa bunggalow, dan 1 bunggalow ada 2 kamar yang berjejer disana. Bunggalow yang kita dapat adalah salah satu bunggalow yang paling tinggi letaknya, sehingga pemandangannya sangat indah. Udara memang dingin dan salju kadang turun meskipun tidak lebat, tetapi semuanya membuat pemandangan menjadi lebih bagus. Kelelahan Nike sebelumnya yang sudah capai berjalan hilang seperti salju terkena sinar matahari. Dengan foto cameranya dia mengabadikan gambar-gambar alam yang jarang bisa didapat di negeri belanda yang biasanya hanya kecipratan hujan di musim dingin.

Bakpao JermanMalam itu kami memutuskan untuk mencoba makan malam di restorant hotel tersebut, sebab selain sudah malas keluar mencari restorant lain, kita juga ingin mencoba restorant hotel. Kalau enak bisa diulangi esoknya, kalau tidak enak, bisa mencari restorant lain. Setelah menyelesaikan maincourse kita memesan dessert dan sungguh sial, apa yang aku pesan tidak ada, sehingga aku harus memesan yang lain. Dan malangnya apa yang aku pesan ini adalah mirip bakpao tetapi bikinan orang jerman. Kita jadi tertawa terpingkel-pingkel mengingat ini kejadian yang kedua kali aku mendapatkan bakpao jerman ini. Pertama kali waktu kita pergi ke Koenigsee. Disana aku meilhat suatu makanan yang kelihatannya menarik. Satu gundukan yang disiram dengan saus putih, dan aku menyangka saus putih itu adalah vla. Ketika aku menanyakan kepada pelayannya, si pelayan justru mengatakan itu adalah makanan khas disana, jadi tentu saja sebagai turis yang baik aku harus mencobanya.

Ketika yang dipesan datang dan aku cicipi, ternyata makanan itu mirip dengan roti bakpao, dan didalamnya ada semacam jam dari plums. Ditambah juga saus putih yang aku kira vla itu, ternyata hanya mirip saja tetapi rasanya tidak seenak vla. Pokoknya aku berpendapat bahwa bakpao mamiku jauh lebih enak dari makanan bakpao jerman ini.

Esoknya kita berjalan-jalan (naik mobil tentunya) di national park, dan karena cuaca yang bersalju aku harus beberapa kali menghentikan mobilku dipinggir jalan karena si “nyonya” ingin membuat foto. Disalah satu perhentian mobilku hampir tidak bisa keluar dari tempat perhentian itu karena tempat yang penuh salju dan meskipun sudah di beri gas berulang-ulang mobilku tidak bergerak dari tempatnya alias ban nya selip. Siangnya kita mencari imbiss, sebab Nike cuman mau makan brattwurst kalau ke Jerman, tetapi ternyata tidak menemukan imbiss, mungkin karena kita sudah terlambat untuk hari Sabtu siang itu, kebanyakan rumah makan kecil sudah tutup.

Mungkin karena terlalu banyak masuk-keluar mobil dimusim dingin, yang berarti dari panas ke dingin, terus ke panas lagi, dan ditambah pula karena telat makan, esoknya Nike merasa pusing. Aku katakan, itulah, akibat masuk keluar mobil terus, jadi aja deh kena masuk angin. Hotel kami di Wuppertal ternyata terletak dipuncak bukit kecil. Jalan menuju kepuncak bukit adalah jalan perumahan, dan dikiri-kanan jalan banyak rumah-rumah yang boleh dikatakan bertaraf cukup mewah. Setelah kita menyimpan bagasi, kita pergi mencari makan dan sekalian pergi kerumah Esther di kota Muhlheim am Ruhr. Ternyata saking asiknya kita ngobrol ngalor ngidul dengan keluarga Esther tanpa diketahui selama itu turun salju yang cukup lebat di kota Wuppertal, dan ketika kita kembali ke hotel pukul 21.30, mobilku tidak bisa naik keatas bukit karena licinnya jalan. Kedaan lebih berbahaya lagi karena kalau salah mengemudikan bisa-bisa mobilku menubruk mobil-mobil lain yang diparkir di kiri-kanan jalan. Setelah dinasehati oleh sepasang orang belanda yang jugaakan berjalan kaki keatas (ke hotel yang sama), aku memarkir mobilku dibawah bukit. Aku memilih sisa-sisa tempat terakhir yang masih ada yang aku anggap paling aman. Sebab siapa tahu ada saja orang yang gila menyetir mobil dengan tidak hati-hati, bisa-bisa mobilku kena senggol. Hujan salju itu memang lebat, dan karena jalan menuju hotel itu hanya jalan kecil dinas penaburan garam tidak lewat disana.

Esoknya setelah makan pagi aku katakan pada Nike kalau kita sebaiknya mengambil mobil dahulu dibawah, sebelum kita checkout dari kamar kita. Dan ketika aku meilhat jalan yang akan kita tempuh nantinya, aku lihat jalan sudah digarami, sehingga tidak ada salju yang tersisa ditengah jalan. Di pinggir jalan dan di trotoir memang masih banyak salju, dan karena sudah sering diinjak-injak salju itu sudah membeku menjadi es. Karena suatu saat Nike berjalan ditengah jalan, aku memperingati agar jalan dipingir jalan, sebab jalan itu dibuat untuk jalan mobil, sehingga tentunya nanti ada mobil yang lewat disana. Belum selesai aku berbicara, tau-tau aku sudah terkapar dipinggir jalan. Aku tergelincir karena salju yang membeku. Tanganku terbeset-beset dan penuh darah. Untung saja tidak ada yang patah tulangnya, tetapi aku merasa sebal, kenapa aku tidak mengikuti tingkah Nike untuk jalan ditengah jalan. Tidak saja tanganku yang berdarah-darah bokong ku yang tidak berdagingpun terasa sakit. Mungkin Nike dalam hati tertawa haha-hihi, tetapi dia cukup banyak membantu dalam membersihkan luka-luka dan memberikan plester.

Arghhhh…..gara-gara memperingati orang malah aku yang kena sial !

Posted by steve on Mar 21st 2006 | Filed in Travelling | Comments (3)