Archive for the 'Silsilah' Category

You are currently browsing the archives of Steve’s hut .

Perjalanan ke Qishan-Yongchun/Menelusuri desa asal keluarga Gan

Peran :

Steve Haryono

Nike Gunawan

Chen You Li (Tan You Li) - guide

Chen Chao Jie - suami You Li - sebagai orang native hokkian, mahir berbahasa hokkian

Xie Rui An (Tjia Swie An) - Pengemudi

Seperti banyak diketahui, leluhur keluarga Gan, baik yang dari keluarga Gan Peng dari Pekalongan maupun keluarga Gan Hwan dari Purbalingga berasal dari 1 desa bernama Qishan. Menurut catatan Gan Tjioe Hway, dikatakan bahwa Gan Peng berasal dari desa Kie San (Qishan), kecamatan Eng Tjoen (Yongchun), kabupaten Tjoan Tjioe (Quanzhou) propinsi Hokkian (Fujian). Sedangkan dari pihak Gan Hwan dengan berdasarkan referensi batu nisan (bongpay) dari Gan Sin Sing dan Gan Thian Koeij yang mencantumkan nama desa asal yaitu Qishan.

Dengan berbekal nama desa, kecamatan, kabupaten yang jelas, saya mencoba menghubungi seorang huaqiao yang tinggal di Xiamen. Beliau bernama Tan You Li, putri dari Tan Tjing Wie dan Anny Tan yang pulang ke Tiongkok di tahun 1961. Anny Tan adalah seorang wanita yang pernah mengecap pendidikan di universitas di Utrecht sebelum perang dunia ke 2 mengambil jurusan matematik. Jurusan yang unik untuk seorang wanita pada jaman itu, apalagi untuk seorang wanita tionghoa dari hindia belanda. Seorang researcher belanda yang bernama DR. Leonard Blusee pernah menuliskan jalan kehidupan Anny Tan dalam bukunya yang berjudul : Retour Amoy, Vrouwenleven in Indonesie, Nederlands en China (Kembali ke Amoy, kehidupan seorang wanita di Indonesia, Belanda dan Tiongkok)

Saya menghubungi You Li lewat seorang kenalan yang juga pencari silsilah keluarga. Keluarga Lie dari Sumatra Barat (Padang-Bukit Tinggi). Data Qishan/Yongchun sudah saya kirimkan berbulan-bulan lalu ke You Li tetapi sehubungan kesibukannya dengan jatuhnya mama You Li, sehingga You Li kurang ada waktu untuk meneliti lebih lanjut. Ketika 3 minggu sebelum keberangkatan saya Ny. Anny Tan meninggal dunia, barulah You Li ada mempunyai waktu untuk melakukan riset tentang desa Qishan.

Sebenarnya bersama Esther Hermann-Winata dari keluarga Gan Hwan saya sudah berusaha mencari tahu dimana letaknya Qishan ini, tetapi tidak ada satu peta pun yang didapat lewat internet dimana didapatkan desa Qishan di daerah Yongchun. Karena hal itulah kami sudah berpikir kalau desa Qishan pasti satu desa yang kecil dan kemungkinan desa nya sudah tidak ada lagi. Misalnya saja kalau desanya berada di dekat suatu kota yang maju pesat menjadi kota modern, maka dimungkinkan kalau desanya sudah tercaplok oleh kota besarnya.

2 hari sebelum saya tiba di Xiamen, saya mendapat kabar dari You Li kalau dia berhasil menemukan letak desa Qishan tersebut. You Li begitu antusiasnya memberitakan kepada saya dan saya baru tahu kalau teman saya itu dalam pencariannya ke desa asal keluarga Lie memakan waktu lebih dari 5 tahun dari berkali-kali teman saya itu sudah berkunjung ke Xiamen hanya untuk mencari desa asalnya itu. You Li sendiri mengatakan bahwa keluarganya juga setelah 40 tahun tinggal di Tiongkok (Xiamen) baru saja menemukan desa asalnya. Jadi menemukan desa asal itu tidak mudah dan saya boleh dikatakan beruntung kata You Li sebab sekali riset sudah langsung ketemu, tempat dimana desa Qishan itu berada.

Kami datang di Hongkong tanggal 12, dan tanggal 14 July lewat Shenzhen kami terbang ke Xiamen yang langsung dijemput oleh You Li di airport. Sebelum kami sampai hotel, You Li sengaja membawa kami dengan sight seeing bus untuk melihat-lihat Xiamen. Setelah kami sampai di hotel dan refreshing sebentar kami pergi untuk makan malam sebelum kembali lagi ke hotel untuk beristirahat, sebab You Li mengatakan kalau esoknya jam 6 pagi sudah harus siap untuk berangkat ke Qishan. Perjalanan diperkirakan memakan waktu 4-5 jam kesana dan untuk kembali dibutuhkan waktu yang sama, jadi diperhitungkan kami akan tiba sekitar jam 6 atau jam 7 malam. You Li juga mengatakan kalau suaminya Chao Jie akan turut serta sebab meskipun You Li sudah 45 tahun tinggal di Xiamen, ia tidak mahir berbahasa hokkian. Chao Jie yang seorang asli Hokkian lebih mahir berbahasa hokkian, dan bahasa hokkian kemungkinan masih diperlukan di desa-desa, sedangkan di kota-kota besar, berbahasa putonghoa sudah cukup. You Li mengatakan juga kalau sopir yang akan mengantar kami seorang huaqiao juga yang bisa berbahasa Indonesia.

Esoknya, tepat jam 6 kami dijemput oleh You Li bersama Chao Jie dan Swie An. Jalan masih cukup sepi, karena memang hari minggu dan masih pagi. Ketika kamu berbicara bahwa keluarga Gan Peng berasal dari Pekalongan, Swie An juga mengatakan kalau dia lahir di Pekalongan, dan mama nya seorang yang bermarga Gan. Kemudian Swie An juga mengatakan kalau engku nya bernama Gan Kay Liem. Saya mencari-cari nama Gan Kay Liem, dan setelah ketemu saya menanyakan marga Swie An. Swie An mengatakan kalau ia bernama Tjia Swie An. Ketika saya melihat dibuku, saya mengtakan kalau dalam buku silsilah Gan Peng namanya sudah ada tercatat. Swie An begitu gembiranya karena ia tidak menyangka akan bertemu dengan saudara. Dalam kesempatan pertama ketika mobil berhenti karena Nike hendak membuat foto, Swie An langsung meminta buku silsilah nya untuk dilihat. Swie An juga menunjukkan gambar foto dari kakak nya yang tertua yang katanya sekarang tinggal di Jakarta dan ada di dalam buku silsilah tersebut. Kalau dipikir-pikir kembali, sebenarnya pertemuan dengan Swie An ini cukup unik. Berapa banyak huaqiao yang kembali ke Tiongkok dan berapa banyak yang benar-benar tinggal di Xiamen, toh kami bisa saling bertemu, suatu kejadian yang mungkin terjadi sekali dalam sejuta.

Setelah beberapa kilometer meninggalkan kota Xiamen, jalan masih termasuk cukup lancar dan bagus. Meskipun bukan highway tapi kondisi jalan masih cukup mulus. Kebiasaan mengemudi kendaraan yang hampir sama dengan Indonesia, membuat perasaan seperti kembali ke kampung halaman. Juga melalui kota-kota kecil, keadaan rumah-rumah sama seperti yang dijumpai di kota-kota kecil di pulau jawa. Ketika kendaraan telah melewati kota Yongchun, kita harus mengambil jalan kecil menuju desa Guiyang. Di tengah jalan kita mampir di satu rumah makan untuk makan siang, sebab diperkirakan kita sampai di Qishan jam 12 siang, dan tentunya akan lebih sulit mendapatkan restoran disana. Chao Jie memesankan 3 mangkuk bakmi kuah dan 1 piring bakmi goreng yang tidak dapat dihabiskan oleh kami ber 5. Setelah selesai menyantap makan siang, Chao Jie membayar semuanya dan ternyata kami hanya membayar 15 yuan alias 1,5 euro.

Setelah kita sampai di desa Guiyang, kami sempat bertanya kepada penduduk setempat mengenai desa Qishan. Dikatakan bahwa di desa Qishan mereka tidak mengenal ada yang mempunyai marga Gan. Mereka mengenal beberapa orang yang tinggal disana tetapi hanya bermarga Liem. Dikatakan juga bahwa jalan ke desa Qishan sangat sempit dan tidak semuanya dalam kondisi baik. Memang kenyataannya kondisi jalan boleh dikatakan rusak, meskipun tidak semuanya rusak tapi kadang kendaraan harus berjalan merayap agar bagian bawah mobil tidak tersantuk batu.

Akhirnya kami sampai di desa Qishan bagian bawah. Dikatakan ada 2 desa Qishan, bagian bawah dan bagian atas. Bagian bawah hanya dihuni oleh beberapa orang sedang bagian atas lebih banyak. Di bagian bawah tidak diketemukan orang yang bisa ditanyai, dan hanya ada 3 atau 4 rumah yang terlihat. Kami meneruskan perjalanan sebentar dan kami langsung mencapai yang bagian atas. Ada beberapa rumah yang terlihat, tidak lebih dari 20 rumah, tetapi tidak ada orang yang terlihat, keadaan sangat sepi. Chao Jie mencoba mengetuk beberapa rumah, dan setelah rumah ke 3 ada seorang wanita muda keluar. Wanita itu mengaku kalau dia bukan penduduk asal desa tersebut, dia hanya pendatang karena menikah. Dianjurkan untuk menanyakan kepada wanita yang tinggal di 4 rumah sesudahnya yang sudah setengah umur. Dari wanita ini juga dikatakan sepanjang pengetahuannya tidak ada orang yang bermarga Gan yang tinggal di desa Qishan ini. Tetapi karena beliau hanya setengah umur, ia mengajak ke rumah seseorang yang sudah diatas 70 tahun.

Setelah berjalan lagi dibawah terik matahari kami sampai di rumah yang dikatakan wanita tersebut. Ada seorang laki-laki tua yang sedang membasuh tangannya di sumur. Chao Jie mencoba menanyakan keadaan desa Qishan sepanjang ingatan si pak tua tersebut. Kembali beliau mengatakan kalau tidak pernah mengenal ada seseorang yang bermarga Gan yang pernah tinggal di desa Qishan ini. Rumah pak tua ini benar-benar miskin, alas nya berdasarkan tanah, rumahnya berdinding kayu dan beliau tinggal bersama anak istri dan menantu berserta ayam dan anjing di rumah tersebut yang dijamin akan becek kalau tertimpah hujan. Kehidupan sehari-hari kelihatannya adalah bertani, dan yang membuat saya terheran-heran adalah, meskipun kehidupan mereka miskin, karena kami datang sekitar jam 1 siang, mereka masih sempat mengajak kami makan siang bersama dan juga menawarkan minum yang tentu saja kami tolak, karena kami sudah makan siang sebelumnya.

Dari pak tua tersebut kami mendapatkan informasi kalau sebelum marga Liem yang tinggal di desa Qishan ini sebelumnya adalah marga Tjan. Pak tua sendiri tidak mengetahui kenapa dari marga Tjan bisa berubah menjadi marga Liem. You Li menceritakan bahwa ada beberapa kemungkinan kenapa marga bisa berubah :

Kemungkinan terbesar adalah kebanyakan marga Gan yang laki-laki yang ada waktu itu pergi merantau ke negara lain sehingga yang tertinggal hanya wanita saja, dan ketika wanita-wanita ini menikah dengan marga lain, marga Gan yang sebenarnya menjadi lenyap dan berubah menjadi marga lain, kemungkinan marga Tjan yang disebutkan pak tua tadi.

Kemungkinan juga terjadi perseteruan antar desa yang katanya sering terjadi, sehingga terjadi perang dimana yang kalah harus keluar dari desanya dan desanya dihuni oleh si pemenang. Hal ini cukup diragukan juga karena letak desa di daerah pegunungan sehingga bertani juga sangat sulit, dan dapat dilihat dengan kehidupan mereka sampai sekarang, dimana kebanyakan pria muda meninggalkan desanya dan mencari kehidupan lebih baik di kota-kota besar.

Menurut berita sejarah yang tertulis, daerah Yongchun pernah terjadi bencana alam (banjir/tanah longsor) yang sangat hebat di tahun 1860-an. Meskipun bukan merupakan bukti yang pasti, tapi bisa jadi juga orang-orang marga Gan waktu itu harus mengungsi ke daerah lain sehingga tidak ada lagi yang menyandang marga Gan tinggal di desa Qishan.

Setelah kami pulang ke Xiamen, esoknya kami diajak oleh You Li untuk mengunjungi Museum Hua Qiao di Xiamen. Museum yang seyogya nya setiap hari kamis ditutup untuk umum, sengaja dibuka untuk kami. Saya sebenarnya membawa 1 buku silsilah Gan yang hendak saya hadiahkan kepada You Li dan Chao Jie sebagai tanda terima kasih saya kepada mereka yang sudah menyediakan waktu mengantar kami, tetapi You Li mengatakan kalau sebaiknya buku ini diberikan kepada Museum saja karena akan lebih berguna bagi Museum Hua Qiao.

Setelah kami diterima oleh oleh direktur, wakil direktur museum dan beberapa staf ahli diantaranya juga seorang profesor asal Singapore yang menjadi specialist Hua Qiao di Xiamen University, kami memberikan buku Silsilah Gan Peng tersebut. Kami juga menjanjikan akan mengirimkan lagi kalau kami mengupdate buku tersebut. Dari beberapa staf ahli kami dijanjikan bahwa mereka akan membantu mencari alasan/sebab kenapa tidak ada lagi marga Gan di desa Qishan. Dan juga mereka akan membantu mencari hubungan dengan marga-marga Gan yang ada di desa Yu Dou dan Wan Li yang masih berada dalam wilayah kecamatan Yongchun untuk mengetahui apakah mereka berasal dari desa Qishan atau setidaknya mempunyai hubungan dengan desa Qishan. Menurut apa yang para staf ahli ini katakan marga Gan bukan marga yang besar, dan di daerah Yongchun sampai saat ini diketahui kalau hanya desa Yu Dou dan Wan Li inilah tempat tinggal marga Gan.

Meskipun demikian, karena kami membawa tulisan tua dan foto dari bongpay yang bertuliskan Qishan para staf ahli ini mengatakan bahwa kami sudah berada di jalan yang benar untuk menelusuri desa Qishan di Yongchun ini.

3 Malam kami menginap di Xiamen, 1 hari kami mengadakan perjalanan ke desa Qishan, setengah hari kami berada di Museum Hua Qiao, selebihnya kami diajak melihat-lihat Xiamen dan pulau Gulangyu oleh You Li. Besar terima kasih kami kepada You Li dan suaminya Chao Jie, tanpa mereka mungkin kamu tidak akan menemukan desa Qishan. Terima kasih kami juga kepada Swie An yang sudah menyediakan waktu mengantar kami ke lapangan udara tanpa mau dibayar. Saya berjanji kepada You Li kalau satu saat saya akan kembali lagi ke Xiamen, baik untuk menelaah marga Gan lebih lanjut maupun untuk menelusuri marga-marga lainnya

Posted by steve on Jul 30th 2007 | Filed in Silsilah, Travelling | Comments (0)

Reuni keluarga

Ketika beberapa tahun lalu aku menghubungi beberapa keluarga dalam penyusunan silsilah keluarga Gan Peng, aku bertemu dengan beberapa oom dan tante yang sebelumnya aku belum pernah bertemu. Kemudian ketika aku sedang menelusuri silsilah The aku juga bertemu dengan beberapa orang yang untukku asing tetapi mereka masih saudaraku juga.

Lalu ketika buku silsilah Gan Peng terbit, lengkap dengan foto-fotonya, mereka terkejut karena mereka mengenal beberapa saudara dalam buku itu yang tinggalnya juga di negara yang sama (dalam hal ini Negeri Belanda), tetapi tidak mengetahui kalau mereka masih mempunyai hubungan saudara.

Sebelum buku silsilah Gan itu diterbitkan, saudara-saudara yang aktif di Indonesia memang sudah pernah merencanakan untuk mengadakan reuni akbar, tetapi karena satu dan lain hal tidak pernah terjadi. Yang di Indonesia memang pernah mengadakan beberapa kali pertemuan antar saudara tetapi terbatas dengan lokasi. Misalnya saja yang di Jakarta Barat pernah mengadakan pertemuan di Heartz Chicken sedangkan di Pekalongan sendiri juga pernah diadakan semacam reuni juga.

Sudah lama aku juga ingin mengadakan reuni keluarga, tetapi waktu itu aku masih belum mempunyai ide bagaimana harus dilakukan. Dan terus terang saja aku bukan organisator yang baik yang mempunyai banyak ide. Tujuanku sebenarnya cuman 1, yaitu memberikan saudara-saudara ku itu satu tempat dan waktu untuk saling mengenal satu sama lainnya.

Tahun lalu aku mencoba untuk mengorganisir reuni untuk keluarga The yang sebenarnya masih boleh dikatakan keluarga kecil dibanding dengan keluarga Gan ini. Untuk itu aku negosiasi dengan satu restorant di Rotterdam untuk mengadakan reuni tersebut. Aku mengajak beberapa saudara yang antusias untuk ikut dalam mengorganisir reuni nya. Hauw Gie, Hok Soei dan oom Dick van Thessen dengan semangat menyediakan waktunya untuk turut dalam kepengurusan menyelenggarakan reuni. Oom Louis Go yang tadinya juga sudah bersedia membantu terpaksa harus mengundurkan diri karena sakit, dan sayang sekali beliau meninggal dunia seminggu sebelum reuni.

Waktu reuni keluarga The, ternyata yang datang ada 99 orang. Dari jumlah 250 orang dari keluarga The yang berdomisili di Belanda dan sekitarnya. Kalau saja tidak ada musibah di keluarga Go tentunya lebih banyak lagi yang datang. Kita beruntung juga mempunyai saudara yang masih mengerti tulisan china sehingga menu di resto bisa dipesan dengan baik. Maklum saja resto china di Belanda ini kadang hanya memberikan pilihan sebanyak 60 makanan Dim Sum, sedang menu dengan tulisan cacing bisa mencapai 300 macam.

Salah satu ketidak nyamanan waktu reuni tahun lalu itu karena restonya terlalu besar, kita tidak bisa menyewa seluruh restorantnya. Akibatnya kelompok kita diberi tempat tertentu, tetapi ada tamu-tamu resto yang lain yang juga datang pada saat yang sama. Meskipun tidak mencampur dengan kelompok yang lagi reuni, tapi toh terasa tidak adanya privacy yang kelihatannya diperlukan juga untuk acara reuni keluarga itu. Misalnya saja, speech yang dibawakan tentunya juga didengar juga oleh orang-orang lain yang tidak ada urusannya dengan keluarga.

Reuni tahun lalu boleh dikatakan cukup sukses. Semua yang datang mengatakan bahwa pertemuan seperti itu patut diulang, meskipun tidak harus dilakukan tiap tahun. Mungkin sekali dalam 3-4 tahun cukup perlu diadakan dimana kontak antar saudara bisa diperbaharui lagi.

Tahun ini aku rencana lagi untuk reuni keluarga GAN. Kebetulan aku kenal juga dengan Esther Winata dari keluarga Gan yang dari Purbalingga. Dan ketika aku menanyakan bagaimana pendapatnya kalau diadakan reuni gabungan antara 2 keluarga Gan ini, ternyata jawaban Esther memberiku semangat juga. Karena Esther tinggal di Jerman, dan kebanyakan keluarga Gan tinggal nya di Belanda (maksudnya keluarga Gan yang tinggal di Eropa), maka aku pikir lebih baik diadakan di Belanda saja.

Kali ini aku memilih restorant china lain yang makanannya tidak kalah dengan resto yang pertama. Dan karena resto nya kecil, aku pikir mungkin kita bisa menyewa seluruh restorant kalau yang datang cukup. Untuk itu aku pikir sebaiknya aku mengumpulkan beberapa orang dari keluarga Gan yang mau turut dalam organisasinya.

Untuk itu aku pertama-tama meminta apakah oom Gan Kay Sian bersedia turut aktif. Maklum saja, keluarga Gan ini darahnya di aku sudah sangat sedikit, hanya 1/16 nya saja. Sehingga yang bermarga GAN mestinya turut dalam organisasinya, dan karena oom Kay Sian itu masih termasuk generasi papi/mami ku, tentunya tidak boleh dilupakan. Selain itu ada beberapa saudara lain yang turut serta juga dalam kepengurusan reuni ini yaitu Hauw Gie, Han Go, Oki, Ignace & Ying Ong & Danny Tjhie. Ying dan Danny dari keluarga Gan Purbalingga sedang yang lain dari Gan Pekalongan.

Reuni akan diadakan tanggal 9 Juni yang akan datang di Den Haag dan sampai sekarang sudah ada 111 orang yang mendaftar. Sebenarnya target kita hanya 120 orang, sebab 120 orang restorant nya akan cukup penuh. Tetapi si manager resto mengatakan kalau perlu bisa sampai 150 orang. Mudah-mudahan saja tidak terjadi, sebab nanti peserta reuni bisa seperti ikan sarden dalam kaleng yang tidak bisa bergerak, sedangkan maksudnya mengadakan reuini ini justru memberikan tempat dan waktu untuk mengenal satu sama lainnya.

Aku harap saja cuaca juga tidak hujan dan sudah agak panas sehingga bagi mereka yang sudah lanjut usia tidak berhalangan untuk datang. Laporan lengkap akan menyusul ;-)

Posted by steve on May 11th 2007 | Filed in Silsilah | Comments (0)

Situs Silsilah

Salah satu angan-anganku adalah mempunyai satu database dimana semua silsilah yang aku kumpulkan dimasukkan kedalam database tersebut sehingga kalau ada orang yang menanyakan mengenai satu keluarga aku bisa mengetahui dengan cepat apakah keluarga yang dimaksud ada dalam database tersebut.

Kebetulan lewat salah seorang kenalan aku mendapatkan satu alamat dimana bisa membeli software untuk familytree. Setelah aku lihat-lihat, sepertinya masih banyak kekurangan dari software tersebut, misalnya saja software tersebut hanya mempunyai tempat untuk 3 nama : firstname, surname dan nickname. Untuk yang mempunyai 1 nama memang tidak ada persoalan, tetapi bagi kebanyakan orang tionghoa di Indonesia yang mempunyai 2 nama tentunya akan menambah problim.

Sebenarnya sudah lama aku mengikuti perkembangan banyak program silsilah (Familytree atau genealogy) dan kebanyakan yang aku temukan tidak cocok untuk nama-nama tionghoa. Biasanya program-program ini dibuat di Amerika, jadi tentu saja si penulis program hanya melihat lingkungannya saja dan cara penulisan nama disesuaikan dengan lingkungannya. Di Amerika orang menulis seperti nama sebagai : firstname initial surname. Nah ketika aku hendak memasukkan nama papiku sebagai Yeo Peng Liem, aku jadi bingung, bagaimana aku harus menuliskannya, sebab programnya begitu pinternya sehingga bisa membedakan mana firstname mana secondname dll. Untuk ku jelas, YEO ada surname, sebab YEO khan nama keluarga. Kemudian ketika aku memasukkan nama Peng Liem di nama papiku, si program langsung secara sok tau mendefinisikan sendiri kalau PENG adalah firstname dan Liem sebagai secondname. Alhasil nama papiku diganti menjadi Peng L. Yeo. Bayangkan saja kalau papiku mempunyai beberapa saudara yang namanya Peng Lam, Peng Lin, Peng Long, Peng Liauw dan Peng Loen. Nanti dalam silsilahnya hanya keliatan Peng L. Yeo semua. Waktu itu aku pernah sampai mengirim email kepada programmernya dan menyampaikan persoalannya. Sayang mungkin saat itu si programmer tidak tertarik untuk memberikan satu solusi yang baik, kepadaku hanya diusulkan untuk memakai underscore supaya tidak di perlakukan sebagai firstname dan secondname. Jadi nama papiku akan menjadi Peng_Liem Yeo. Tentu saja ini bukan solusi yang baik. Lagipula nama keluarga selalu ditempatkan dibelakang tanpa memikirkan bahwa dibudaya lain, nama keluarga bisa saja didepan. Karena kesal aku tidak lagi memakai software itu.

Terakhir dengan saudaraku Jafet, aku juga mencari-cari program lain, dan aku menemukan program Genopro. Dengan program Genopro setiap data dapat kita membolak-balikkan nama sekehendak si pemakai program. Ada bagusnya juga program ini, dimana hubungan antara anggota keluarga bisa diturut sertakan juga, misalnya saja si A musuhan dengan si B dan sebagainya. Salah satu sebab kenapa akhirnya aku tidak memakai program ini adalah karena programnya tidak compatible untuk orang-orang yang mempunyai banyak istri, katakanlah lebih dari 2.

Dalam silsilah yang aku kumpulkan banyak juga yang menikah lebih dari 1 kali. Bahkan jaman dulu makin kaya orang tionghoa, makin banyak istrinya. Program Genopro masih terlihat bagus dalam diagramnya jika seseorang mempunyai 2 istri. Tetapi kalau seseorang mempunyai 3 istri, maka dalam sekejap diagramnya menjadi kacau.

Program terakhir yang aku lihat adalah program ‘The New Generation’. Sepintas keliatannya programnya cukup bagus dan aku melihat juga kalau banyak data yang bisa dimasukkan kedalam databasenya. Ketika aku menceritakan kepada temanku yang juga gila akan silsilah, dia langsung memesannya. Ternyata dalam installationnya dia mengalami banyak kesulitan. Sepertinya orang yang memakai program ini harus jebolan IT sehingga bisa mengerti apa yang dimaksud oleh readme file nya. Kalau aku tentunya tidak ada problem, sebab kalau aku tidak mengerti aku tinggal bertanya kepada Nike dan 95% jawabannya sudah bisa langsung didapat.

Untuk sementara aku akan menggunakan program ini meskipun aku masih belum tau solusi apa yang harus aku berikan untuk orang-orang yang mempunyai 2 nama. Untuk sementara situs silsilahnya aku taruh di : http://www.haryono.net/familytree/

Salah satu yang membuatku tidak senang dengan program ini adalah karena pemakai dipaksa untuk langsung memasang programnya di webserver dan semua editing dan pengisian data dilakukan online. Jadi tanpe kita mengetahui bagus atau tidaknya kita harus langsung memasang di internet. Tetapi dilain pihak ada beberapa kebagusannya antara lain karena lewat internet, aku bisa meminta bantuan teman-teman atau saudara yang lain untuk membantu mengisi. Jadi silsilah yang dibuat dapat diisi secara bersama-sama. Juga salah satu kebagusannya adalah adanya alat untuk mencari nama yang sama dan mempersamakan 2 data yang sama tersebut. Sehingga kalau saja terjadi secara tidak sengaja adanya 2 nama yang sama, dan nama orang tua, istri, anak dan lainnya sama, si program dapat mendeteksinya secara cepat. Hal ini bisa juga dilakukan di program lain tetapi tidak mudah.

Mudah-mudahan saja aku dapat menyelesaikan situs silsilah ini dengan waktu yang relatif singkat.

Posted by steve on May 10th 2007 | Filed in Silsilah | Comments (1)

Keluarga Kwee

Suatu hari aku menerima undangan dari Hok Soei untuk datang ke rumahnya. Katanya ada seorang keturunan marga The yang dari Surabaya akan datang ke rumahnya juga dan bersama dengan Hauw Gie kita bisa berbincang-bincang siapa tau saja ada hubungan dengan keluarga The yang di Cirebon dan keluarga The yang di Surabaya.

Sebelumnya lewat buku-buku ‘Regerings Alamak’ sebenarnya aku sudah mengira-ngira kalau bakalnya sulit mencari hubungan antara dua keluarga The ini. Karena keluarga The yang di Surabaya sudah sejak awal abad ke 19 menjadi Kapten dan Letnan tionghoa disana sedangkan leluhur keluarga The yang dari Cirebon diperkirakan baru jaya sekitar tahun 1840-an lebih.

Akhirnya perkiraanku menjadi kenyataan, bahwa kedua keluarga The ini memang tidak diketemukan hubungannya kecuali marganya saja yang sama. Keluarga The dari Surabaya termasuk keluarga yang sangat terkenal dan memegang jabatan Mayor, Kapten dan Letnan secara bergilir sejak awal abad ke 19 sampai akhirnya jabatan itu dihapuskan. Tidak heran kalau keluarga yang besar itu mempunyai juga buku silsilah yang lumayan lengkap dari leluhur yang pertama. Kenalan Hok Soei yang keturunan keluarga The ini bernama ‘Tik’ dan istrinya bernama ‘Mey’, mereka tinggal di Amstelveen. Sebenarnya aku sudah lama mengetahui tentang mereka cuman saja tidak pernah ada kontak.

Aku mengetahui kalau keduanya berasal dari Jawa Timur jadi tidak pernah kepikiran untuk bertanya lebih lanjut. Pada hari itu aku kebetulan membawa buku pinjaman dari perpustakaan yang judulnya ‘Orang-orang Tionghoa jang Terkemoeka’ cetakan tahun 1935. Tik dan Mey sempat melihat-lihat buku itu dan karena mereka melihat juga bagian kota Bandung (orang-orang tionghoa terkenal di Bandung), aku menanyakan apakah pernah tinggal di Bandung.

Mey mengatakan kalau sebenarnya maminya berasal dari Bandung, dan tepatnya Linggajati. Mey bahkan menanyakan apakah aku mengetahui dimana Linggajati itu. Tentu saja aku mengetahui sebab sebagai orang yang lahir di Cirebon, Linggajati termasuk tempat kunjungan tiap weekend. Mey Mengatakan kalau maminya lahir di desa Linggajati dan kemudian pindah ke Bandung dan sekolah disana sampai bertemu dengan papinya yang orang Jember kemudian setelah menikah diboyong ke Jember.

Tentu saja kesempatan ini tidak aku lewatkan untuk menanyakan siapa nama maminya, nama engkong, kongco dan lain-lainnya. Ternyata Mey mengatakan kalau engkongnya bernama Kwee Zwan Liang dan kongconya Kwee Keng Liem. Nama keluarga Kwee ini sudah cukup lama aku cari keturunannya, sebab menurut cerita orang-orang tua, di Cirebon dulu ada beberapa keluarga besar yang cukup terkenal dan mereka selalu menjabat pangkat opsir-opsir tionghoa.

Sejak awal abad ke 19 sampai sekitar tahun 1925-an pangkat opsir tionghoa di Cirebon hampir selalu di dominasi oleh beberapa keluarga. Kemungkinan keluarga-keluarga ini yang mempunyai pengaruh besar di kota Cirebon itu. Keluarga-keluarga itu antara lain keluarga Tan, Kwee, The dan Oey. Menurut data dari Regerings Alamak aku dapat mengetahui bahwa keluarga Tan dan Kwee di Cirebon ini dulunya mengelola pabrik gula, sedangkan keluarga Oey mempunyai beberapa perkebunan singkong. Keluarga The di lain pihak mempunyai perusahaan perkapalan.

Keluarga The dan Oey sudah aku punyai silsilahnya karena aku masih keturunan dari 2 keluarga tersebut. Silsilah keluarga Tan aku juga punya karena pernah dikirimi oleh Oom Swie, adik papiku yang tinggal di Cirebon. Cuman silsilah keluarga Kwee saja yang belum aku punyai.

Dari buku Regerings Almanak itu ada 4 orang Kwee yang pernah menjabat opsir tionghoa di Cirebon. Pertama adalah Kwee Boen Pien yang menjadi Letnan tahun 1874, kemudian Kwee Keng Eng dan Kwee Keng Liem tahun 1884, keduanya menjdai Letnan dan terakhir ada Kwee Zwan Hong yang diangkat menjadi Letnan di tahun 1908 kemudian menjadi Kapten di tahun 1924 sampai tahun 1935. Selain itu sebenarnya masih ada yang bernama Kwee Tjiong Ien menjadi Letnan antara tahun 1907 sampai 1921, tetapi yang terakhir ini sebenarnya bukan dari keluarga Kwee yang sama, tetapi pendatang dari Jawa Timur yang menikah dengan putri dari Mayor Tan Tjin Kie.

Karena nama-nama bermarga Kwee ini ada 4 di daftar opsir tionghoa aku menjadi penasaran dan ingin melihat (atau memiliki) silsilah dari keluarga ini sebab aku menduga kalau keluarga ini juga pasti keluarga besar yang tidak kalah dengan keluarga Tan atau The.

Lewat penelusuran silsilah lain, aku berkenalan dengan ci Renate yang tinggal di Jerman. Ci Renate ini masih keturunan Gan dari Purbalingga tapi kemudian aku mengetahui kalau beliau ini masih keturunan Kapten Tan Tiang Keng dari Cirebon dari anak perempuannya yang menikah dengan Letnan Kwee Keng Eng. Menurut ci Renate ini Kwee Keng Eng hanya mempunyai 1 anak perempuan jadi marga Kwee nya habis tidak ada yang meneruskan.

Kemudian penelusuranku sampai di silsilah yang dibuat oleh Peter Oey Kok Khioe di Freemont, USA. Peter juga seorang yang tergila-gila silsilah dan dia membuat silsilah dari hampir semua leluhurnya. Di silsilah Liem dari Tegal yang disusun oleh Peter, aku menemukan ada nama Kwee Keng Joe, Kwee Keng Wan dan Kwee Keng Po. Aku mulai yakin kalau semua Kwee Keng … itu pasti saudara. Entah saudara kandung atau sepupu tapi mestinya mereka bersaudara 1 generasi.

Beberapa bulan kemudian aku sempat browsing di google dan menemukan suatu artikel mengenai keluarga Kwee ini yang dikatakan diawali oleh Kwee Giok San dan kemudian anaknya Kwee Boen Pien dan cucunya Kwee Keng Liem. Artikel itu mengenai homemovie yang dibuat oleh putra Kwee Keng Liem yang bernama Kwee Zwan Liang. Dan karena homemovie itu dibuat di tahun 1928 tentunya sangat unik sekali. Lengkapnya artikel itu bisa dibaca di : http://www.chineseheritagecentre.org/bulletin/jun2004/CHC.pdf .

Kembali ke awal tulisanku, setelah bertemu dengan Mey, dia berjanji kalau dia akan usahakan agar aku bisa bertemu dengan salah satu sesepuh keluarga Kwee yang tinggal di Belanda untuk membicarakan silsilah, karena aku mengatakan kalau aku tertarik dengan silsilah keluarga Kwee ini.

2 Minggu lalu aku menerima sms dari Mey yang mengatakan kalau oom nya bersedia menemui aku, dan aku mengunjungi oom Kwee Kiem Toen pada hari Minggunya dan meminta copy dari silsilah Kwee yang disimpannya. Dalam silsilah memang terlihat kalau Kwee Keng Yoe dan Kwee Keng Wan adalah adiknya Kwee Keng Liem tetapi tidak jelas siapa Kwee Keng Eng dan Kwee Keng Po. Yang pasti silsilah oom Kiem Toen hanya mencatat keturunan Kwee Boen Pien, sedangkan keturunan kakaknya tidak ada datanya, jadi diperkirakan Kwee Keng … yang lain kemungkinan besar keturunan kakaknya yang bernama Kwee Ban Hok.

Posted by steve on Jan 30th 2007 | Filed in Silsilah | Comments (4)

Ngubek-ngubek family Oey

Sudah lama sebenarnya aku ingin mampir kerumah tante Els Khohonggiem. Dengan anaknya Robby, aku sudah mengenal sejak aktif dulu di gereja di Amstelveen. Sejak dahulu sudah pernah aku diceritakan oleh salah seorang teman papi ku kalau tante Els itu masih saudara. Cuman saja saudaranya darimana tidak diceritakan.
Akhirnya ketika beberapa bulan lalu aku mengunjungi putra dari teman papiku itu di Jerman aku mendapatkan alamat tante Els ini dan aku memberanikan diri untuk menelponnya dan membuat janji untuk mengunjungi beliau. Ketika menelponnya, aku sekalian menanyakan hubungan keluarga beliau dengan keluargaku. Ternyata menurut ceritanya tante Els, keluarge beliau dan keluargaku termasuk keturunan dari Oey Thiam Seng dari Jamblang. Di salah satu tulisanku sebelumnya aku salah menuliskan sebagai Oey Hian Seng, ternyata seharusnya adalah Oey Thiam Seng.
Menurut cerita Oey Thiam Seng ini tinggal di desa Jamblang, dimana kongco ku Yeo Tjeng Kang juga tinggal. Hanya saja Oey Thiam Seng tidak tinggal di jalan raya antara Cirebon – Bandung tetapi agak masuk kedalam sedikit. Kalau menurut cerita oom dan tanteku Oey Thiam Seng termasuk salah satu orang yang terkaya di desa Jamblang. Kurang diketahui apa usahanya sehingga menjadi kaya seperti itu, tetapi anak dan menantunya tercatat sebagai pengelola tanah yang disewa dari pemerintah Hindia Belanda saat itu (tercatat dalam buku Regeringsalmanak).
Oey Thiam Seng tercatat diangkat pada tahun 1874 menjadi Luitenant der Chinezen te Cheribon sampai pada tahun 1909 mengundurkan diri dan dianugerahi pangkat Kapitein Titulair (Kapten kehormatan) oleh pemerintah.
Kembali ke tante Els ini, beliau adalah cucu dari Oey Kim Lan, sedangkan papiku cucu daru Oey Kim Lie, adiknya Oey Kim Lan. Tante Els sudah dikirim ke belanda sejak awal tahun 50-an untuk sekolah. Kemudian beliau betemu dengan calon suaminya waktu itu, seorang tionghoa keturunan dari Ambon. Menurut cerita, orang tionghoa di Ambon yang di ‘gelijkgesteld’ namanya dijadikan satu dan mungkin itu nama dari opanya atau papanya alm suami tante Els ini, tetapi nama itu dipakai sebagai nama keluarga. Jadi Khohonggiem ini adalah nama keluarga. Anaknya tante Els, yang mempunyai nama tionghoa juga, jadi agak aneh namanya, sebab namanya jadi Robert Bian Liem Khohonggiem.
Karena tante Els ini memang sudah lama tinggal di negeri Belanda tentu saja pengenalannya dengan saudara-saudaranya tidak seperti dulu lagi, karena itu beliau menyayangkan tidak bertemu sebulan sebelumnya, dimana waktu itu adiknya dari Indonesia sedang berkunjung beberapa minggu dirumahnya, dan menurut tante Els, adiknya ini lebih banyak mengenal saudara-saudaranya. Beliau menyarankan kalau aku menghubungi adiknya yang tinggal di jalan Tanah Abang II di Jakarta.
Beberapa minggu sesudahnya aku berhasil menelpon tante Nelly adiknya tante Els ini di Jakarta. Beliau mengatakan sangat sulit untuk mencari nama-nama yang diperlukan karena mereka sudah tersebar kemana-mana, tetapi meskipun demikian tante Nelly berjanji membantuku dalam menyelesaikan silsilahnya Oey Thiam Seng ini. Tante Nelly mengakatakan kalau beliau membutuhkan barang 2 atau 3 minggu untuk mengumpulkan keluarga-keluarganya itu.
Karena aku sudah tahu kalau akan susah berkomunikasi lewat telpon sedangkan tante Nelly tidak mempunyai akses internet, aku meminta bantuan kepada Johan Gondokusumo alias Gan Kong Siang, yang waktu itu mengumpulkan silsilah Gan sampai dicetaknya buku silsilah Gan Peng. Koh Kong Siang ini memang luar biasa orangnya, dalam mencari data benar-benar diluar dugaan. Aku mengatakan apakah koh Kong Siang bersedia datang kerumahnya tante Nelly itu dan kemudian mencatatkan apa yang didapat dan kemudian mengirimkannya melalui email kepadaku.
Hasil yang ku terima benar-benar luar biasa. Yang sebelumnya keturunan Oey Kim Lan itu hanya setengah atau sepertiga halaman, sekarang setelah koh Kong Siang itu “turun tangan” menjadi 9 halaman. Yang tadinya keturunan Oey Kim Lan hanya sampai basa anak-anaknya saja, sekarang menjadi komplit dengan anak-cucu-buyut dan sebagainya.
Melalui tante Nelly koh Kong Siang juga mendapatkan beberapa nomor telpon dan alamat dari keturunan adiknya Oey Kim Lan yang lain, sehingga diperkirakan dalam waktu tidak lama keturunan adiknya Oey Kim Lan ini juga ada dilacak. Mudah-mudahan saja silsilah Oey Thiam Seng ini bisa disempurnakan dengan baik, karena mencari silsilah dari marga Oey ini extra susah karena nama ini nama yang sangat umum di kalangan marga tionghoa, seperti juga marga Tan dan Liem.

Posted by steve on Nov 2nd 2006 | Filed in Silsilah | Comments (1)

Bongpay

Bongpay Tan Ko ShiaOrang-orang tionghoa yang merantau ke Indonesia, biasanya mempunyai tempat pemakaman yang terpisah dengan suku-suku lainnya. Orang-orang tionghoa yang kaya bahkan mempunyai tempat pemakanan keluarga yang hanya digunakan untuk lingkungan keluarga saja. Karena keluarga THE BOEN yang di Cirebon itu dulunya termasuk keluarga yang cukup berada, mereka juga mempunyai tempat pemakaman keluarga, letaknya di pinggir jalan yang menuju ke Kuningan. Tempat pemakaman itu tidak berada tepat dipinggir jalan, tetapi agak masuk kedalam sedikit.

Menurut cerita orang-orang tua, hampir semua keturunan The Boen dikubur di tempat pemakaman itu. Tentu saja meraka yang bermukim di Cirebon. Kalau mereka berpindah ke lain kota, mereka akan dimakamkan di kota tersebut. Ingatanku hanya sampai sejauh tahun 1965, dimana waktu itu engkongku meninggal dunia. Waktu itu, karena aku masih kecil aku tidak mengingat banyak hal. Aku cuman tahu bahwa aku harus memakai baju putih-putih karena aku hanya cucu luar. Sepupuku yang masih termasuk cucu dalam, mesti memakai kain belacu yang dibalik. Aku juga masih ingat bahwa begitu banyak orang yang melayat sehingga ketika iring-iringan bergerak menuju ke tempat pemakaman, kepala iring-iringan sudah hampir sampai ke ujung kota, ekornya masih belum keluar dari rumah. Aku sendiri rupanya tidak diperbolehkan pergi ke tempat pemakaman waktu itu, rupanya mamiku takut kalau-kalau aku pingsan karena terik matahari dan malah akan menambah problem saja.

Beberapa bulan setelah engkongku meninggal terjadi peristiwa G-30-S, dan sesudah itu sepertinya semua yang berbau tionghoa agak disingkirkan. Papi dan mamiku juga jarang sekali menengok ke kuburan engkong karena menurut berita banyak penduduk desa disana yang suka meminta uang kalau kita berkunjung kesana. Memberi uang kepada mereka kadang membantu, tetapi malah membuat keadaan makin genting karena mereka akan berebutan uang tadi, dan yang tidak kedapatan akan marah-marah kepada yang berkunjung. Apalagi kalau kita tidak memberi uang, sudah tidak dapat dipikirkan lagi apa nanti akibatnya. Setelah beberapa tahun akupun pindah ke Jakarta, sehingga tempat pemakaman keluarga itu jarang sekali dikunjungi. Menurut berita salah satu kakak mamiku masih suka datang dan membersihkan kuburan engkongku dan leluhur lainnya, semasa beliau hidup. Juga salah satu sepupu mamiku lainnya, masih suka datang kesana.

Ketika aku mulai mengurusi silsilah keluarga GAN dimana belakangan aku mencoba menyempurnakan silsilah keluarga The, aku menyesal sekali dulu-dulu tidak pernah ke kuburan keluarga itu. Apalagi ketika aku membeli buku “Chinese Epygraphic Material in Indonesia” aku melihat banyak sekali bongpay (batu nisan) yang tua-tua difoto dan diperlihatkan dalam buku tersebut. Banyak data-data yang bisa diambil dari bongpay makam orang tionghoa, apalagi yang sudah tua-tua sebelum awal ke XX. Aku telah meminta beberapa saudaraku yang di Indonesia agar datang ke kuburan keluarga itu, dan membuat foto dari bongpaynya. Penting sekali mengabadikan bongpay itu sebelum hancur kena erosi dan sebagainya. Tetapi rupanya mengunjungi kuburan itu suatu perbuatan yang tidak menyenangkan untuk beberapa orang sehingga beberapa saudaraku itu tidak melakukannya. Mereka juga mengatakan bahwa makam keluarga itu sudah digusur oleh orang-orang kampung disekitar sana. Beberapa kuburan sekarang sudah menjadi sawah.

Akhirnya pada musim panas tahun 2005, salah seorang “oom” ku yang juga sama-sama menelusuri silsilah pergi berlibur ke Indonesia, dan beliau ini menyempatkan diri untuk mampir menengok keadaan makam keluarga yang katanya sudah digusur. Ternyata Hauw Gie, oomku itu menemukan 5 bongpay yang masih ada disana. Memang menurutnya sebagian besar sudah digusur, dan yang belum digusur masih sempat dibuat digital fotonya. Yang masih tersisa disana adalah bongpay dari salah satu kakak dari mamiku dan istrinya, engkongku, adik dari engkongku dan satu makam yang sudah tua, dan dikatakan adalah salah satu dari dua istri The Boen. Sayang memang kalau bongpay yang lain sudah hilang, tidak tahu kemana beradanya, tetapi 1 bongpay tua yang menurut tulisannya sudah berusia lebih dari 120 tahun justru banyak membantu penyusunan silsilah The Boen yang sedang kita garap.

Sebelumnya, menurut silsilah yang dibuat oleh kopo Po Hie, seperti yang sudah aku ceritakan di tulisanku yang lain, mengatakan bahwa The Boen mempunyai 5 anak laki-laki dan yang tertua bernama The Hoan Tjiang. Hauw Gie dan juga aku sendiri adalah keturunan dari anak ke 3, The Tiang Seng. Sekitar setahun yang lalu akhirnya Hauw Gie menemukan keturunan The Hoan Tjiang ini yang sebenarnya adalah teman sekolahnya sendiri. Aku sendiri sudah mengenal dia sejak aku mulai sekolah di TH Delft tahun 1976. Dia bernama The Hok Soei, dan umurnya sekitar umur Hauw Gie juga, jadi sekitar 5-6 tahun diatasku. Setelah kita memastikan bahwa Hok Soei adalah keturunan The Hoan Tjiang, aku mulai mengurut-urut generasinya. Wah aku sebenarnya masih harus memanggil cekkong sebab dia masih segenerasi dengan engkongku. Hanya saja sepertinya tidak logis karena The Hoan Tjiang menurut silsilah lebih tua dari The Tiang Seng (leluhurku) jadi keturunannya seharusnya lebih tua atau setidaknya seumur. Apalagi kalau dipikir bahwa papanya, engkongnya dan kongconya Hok Soei ini bukanlah anak yang bungsu. Jadi diperkirakan waktu itu, kemungkinan The Hoan Tjiang ini menikah terlambat.

Ternyata pemotretan bongpay oleh Hauw Gie dapat menjawab semua keragu-raguan kita semua. Setelah dikirim kepada beberapa orang yang bisa berbahasa hokkian, maka dapat dilihat bahwa bongpay itu adalah bongpay dari istri dari seseorang yang bermarga THE. Tidak ditulis memang, nama suaminya, tetapi dari nama anak-anaknya, dapat dipastikan bahwa beliau istri dari The Boen sendiri. Ada cerita orang tua juga yang mengatakan bahwa kuburan The Boen sendiri tidak ada di Cirebon karena beliau dimakamkan di daratan Tiongkok. Hal ini tidak bisa dipercaya secara 100% mengingat pada jaman itu sangat sulit untuk membawa jenazah seorang yang telah keluar dari daratan Tiongkok kembali untuk dimakamkan. Juga dapat disimpulkan bahwa bongpay dari istri The Boen ini didirikan pada tahun 1884. Dapat dilihat juga bahwa putra The Boen yang bernama The Tiang Seng sudah meninggal lebih dahulu sebelumnya. Hal ini terlihat dari cara penulisan nama anak-anaknya yang terpisah dari yang lain, yang dianggap masih hidup pada tahun 1884 itu. Ternyata dari urut-urutan nama anak laki-laki The Boen ini, The Hoan Tjiang adalah anak yang paling muda. Jadi dapat dimengerti kalau keturunannya lebih muda dibanding dengan keturunan dari The Tiang Seng. Patut diingat juga bahwa The Tiang Seng dan The Hoan Tjiang tidak berasal dari 1 ibu kandung. The Tiang Seng berasal dari istri pertama yang bernama Tan Ban Nio, sedangkan The Hoan Tjiang berasal dari istri yang kedua bernama Tan Ko Shia, yang bongpaynya diketemukan ini.

Dari 5 anak laki-laki The Boen, hanya keturunan The Tiang Seng dan The Hoan Tjiang saja yang bisa diketemukan dan ditulis dalam silsilah. Aku penasaran sekali kemana 3 anak laki-laki lainnya. Kemungkinan besar, menurut theoriku, anak tertua yang bernama The Phia Teng tidak ada di Indonesia. Kemungkinan beliau kembali ke daratan Tiongkok, atau mungkin saja dia tidak ikut dengan The Boen ke Cirebon. Mengapa aku berpikir demikian ? karena The Tiang Seng sebagai anak kedua, justru yang menjadi kaya dan mewarisi kekayaan The Boen di Cirebon, dan ini biasanya tidak terjadi dikalangan orang-orang tionghoa yang selalu memberikan yang terbaik kepada anaknya yang tertua. Mengenai 2 anaknya yang lain, The Thian Hwee dan The Twie Kiem, aku tidak mempunyai jejak sama sekali. Harapanku cuman mudah-mudahan saja ada silsilah The yang aku temukan dari daerah lain di dekat-dekat Cirebon, dan leluhurnya dapat aku temukan di daftar nama dari bongpay yang difoto oleh Hauw Gie itu. Kalau itu terjadi, betapa gembiranya aku karena salah satu cita-citaku tersampai.

Posted by steve on Mar 23rd 2006 | Filed in Silsilah | Comments (2)

Kapten dan Letnan Tionghoa

Seperti yang pernah aku tuliskan sebelumnya. Keluarga THE keturunan The Boen yang tinggal di kota Cirebon dulunya termasuk keluarga yang ternama. Menurut silsilah yang dulu ditulis oleh kopo Po Hie, The Boen mempunyai 5 anak laki-laki. Yang pertama ditulis bernama The Hoan Tjiang, yang kedua The Phia Teng, yang ketiga The Tiang Seng. Ditambah dengan beberapa anak perempuan, ketiga anak laki-laki itu adalah anak-anak The Boen dari istri pertama yang bernama Tan Ban Nio. Selain itu ada istri kedua yang tidak diketahui namanya, dan mempunyai 2 anak laki-laki bernama The Thay San dan The Twie Kiem. Keluargaku termasuk keturunan The Tiang Seng, dan sebenarnya sampai setahun lalu, silsilah The Boen hanya mencantumkan keturunan The Tiang Seng saja. Dituliskan juga oleh kopo Po Hie bahwa The Tiang Seng bergelar “Hap Goan”. Dibawahnya tertulis nama 3 anak laki-lakinya, masing-masing The Tjiauw Tjay, The Tjiauw Hok dan The Tjiauw Jong.

Dibawah tulisan The Tjiauw Tjay tertulis “Ek Goan Kong” Kapitein der Chinezen Cheribon, sedangkan dibawah tulisan The Tjiauw Hok tertulis “Teng Goan Kong” Kapitein der Chinezen Pekalongan. Dibawah tulisan The Tjiauw Jong ada tulisan “Hong Goan” Luitenant der Chinezen Cheribon.

Kopo Po Hie ini hanya menuliskan silsilah keturunan The Tjiauw Tjay saja, karena itu keturunan 2 adiknya tidak dicantumkan dalam lembarang yang diberikan kepada papiku itu. Dibawah nama The Tjiauw Tjay tertulis 3 nama anak laki-lakinya yang bernama The Han Tong “Liong Goan” Luitenant der Chinezen Cheribon, The Joe Gie “Siauw Goan” Luitenant der Chinezen Cheribon dan The Joe Sin.

Aku sangat tertarik dengan pangkat-pangkat seperti kapten, letnan dan sebagainya, sehingga aku berusaha mencari tahu lewat segala macam buku dan internet. Ternyata jabatan yang paling rendah adalah “Wijkmeester”. Biasanya kalau di desa yang tidak begitu besar, pemimpin masyarakat tionghoanya diberi jabatan wijkmeester. Di kota-kota yang lebih besar ada jabatan yang lebih tinggi dari wijkmeester yaitu “Luitenant der chinezen” atau Letnan tionghoa. Diatasnya ada “Kapitein der Chinezen” atau Kapten tionghoa, dan yang paling tinggi adalah “Majoor der Chinezen” atau Mayor tionghoa. Mayor biasanya hanya dapat diketemukan di kota-kota besar seperti Jakarta (d/h Batavia), Semarang dan Surabaya. Tetapi kadang ada semacam titel “Majoor titulaire” atau major kehormatan. Jabatan ini sebenarnya bisa ada di kota kecil dan kalau si majoor kehormatan meninggal, dia tidak diganti secara langsung oleh major kehormatan yang baru. Di Cirebon pada akhir abad ke XIX hanya ada kapten dan letnan. Biasanya ada 1 kapten dan 2 letnan. Di kota-kota lain tentu lain pula keadaannya Di Jakarta misalnya di jaman Mayor Khouw Kim An yang terkenal itu ada beberapa kapten dan ada belasan letnan yang membantunya. Di Jamblang, satu desa yang aku anggap kecil, 15 km sebelah barat kota Cirebon, ternyata di awal abad ke XX itu mempunyai seorang Letnan bernama Liem Kwat Tjiang yang masih merupakan menantu dari Oey Hian Seng, salah satu leluhurku yang lain.

Menurut buku “Chinese Epigraphic Materials in Indonesia” dituliskan bahwa The Tjiauw Tjay menjadi kapten pada tahun 1884. Beliau ditulis sebagai The Ek Goan dalam buku itu. Jadi mereka yang mendapatkan jabatan, biasanya juga mempunyai gelar. Ek Goan itu adalah gelar dari The Tjiauw Tjay. Ada dua hal yang menarik perhatianku sebenarnya. Siapa yang mengangkat seseorang menjadi letnan atau kapten ? Dan apa saja yang dilakukan oleh letnan atau kapten itu ?

Setelah mencari-cari tulisan-tulisan mengenai pangkat tionghoa ini, yang mengangkat adalah masyarakat tionghoa setempat sendiri. Biasanya seseorang tionghoa yang disegani dan kaya raya mempunyai kesempatan yang besar untuk diangkat menjadi letnan atau kapten. Meskipun pangkat ini tidak turun menurun dari ayah ke anak, biasanya yang terjadi adalah demikian. Karena si ayah kaya, maka si anak pun kalau saja dia tidak menghambur-hamburkan uang ayahnya boleh dikatakan kaya juga. Sehingga biasanya si anak akan menuruti jejak ayahnya.

Di Cirebon pada akhir abad ke XIX dan awal abad ke XX ada 2 keluarga yang “menguasai” percaturan pangkat kapten dan letnan tionghoa tadi. Keluarga Tan yang menurut mamiku dulunya tinggal di jl. Pasuketan dan keluarga The yang sekarang rumah keluarganya sudah diratakan dengan tanah pada jaman penjajahan jepang karena dibuat jalan.

Setelah tahun 1888 The Tjiauw Tjay meninggal dunia, maka Tan Tjin Kie yang diangkat menjadi kapten dan The Tjiauw Jong, adik The Tjiauw Tjay menjadi Letnan dengan gelar Hong Goan. Kemungkinan sebelumnya The Tjiauw Hok sudah menjadi letnan dan pindah ke kota Pekalongan untuk menjadi kapten disana. Tidak ada bukti nyata sebenarnya, tetapi diperkirakan The Tjiauw Jong meninggal pada tahun 1898, dimana di tahun yang sama anak The Tjiauw Tjay yang tertua, The Han Tong diangkat menjadi Letnan dengan gelar Liong Goan. Dan ketika itu yang menjabat Kapten adalah tetap Tan Tjin Kie. Beliau dibantu oleh 2 orang letnan yaitu The Han Tong dan Tan Gin Ho (putra Tan Tjin Kie sendiri). Ketika The Han Tong meninggal di tahun 1901 dengan usia sekitar 40-an tahun, adiknya The Joe Gie yang menggantikan kedudukan Letnan tersebut dengan gelar Siauw Goan.

Pemerintah Hindia Belanda menghapuskan jabatan-jabatan mayor, kapten, letnan dan wijkmeester pada tahun 1910. Sejak itu tidak ada jabatan kapten atau letnan di masyarakat tionghoa di Indonesia tetapi mereka yang pernah menjabat kapten atau letnan tetap disegani, bahkan terkadang keturunan mereka juga dihormati oleh masrakat setempat. Aku pernah mendengar cerita dari mamiku yang mengatakan bahwa waktu The Joe Gie meninggal di tahun 1931, banyak sekali yang melayat beliau. Menurut mamiku juga, engkongku cukup dihormati oleh banyak masyarakat tionghoa di kota Cirebon. Mungkin engkongku dulunya sudah disiapkan oleh “oom” nya The Joe Gie untuk menggantikannya di satu saat atau kalau ada lowongan jabatan yang kosong. Kadang kalau engkongku berjalan-jalan di sore hari banyak orang-orang lain yang membungkukkan tubuhnya semata-mata hanya untuk menghormati engkong, meskipun sebenarnya si engkongku ini tidak pernah jadi kapten atau letnan

Rasa ingin tahuku yang lain adalah, apa saja yang harus dilakukan mereka yang menjabat kapten atau letnan itu. Dari tulisan-tulisan yang kudapati lewat google, mereka menjadi semacam juru bicara masyarakat tionghoa terhadap pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah lokal (bupati dsb). Selain itu kapten atau letnan juga menjadi semacam hakim atau penengah jika terjadi pertikaian atau persengketaan antara sesama masyarakat tionghoa setempat. Kemungkinan juga si kapten atau letnan ini yang akan ditegur oleh pemerintah Hindia Belanda jika terjadi kekacauan pada masyarakat tionghoa setempat.

Aku tidak tahu apa sebenarnya usaha dari The Tjiauw Tjay atau The Han Tong itu. Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah pengusaha garam. Sedangkan keluarga Tan Tjin Kie mempunyai beberapa pabrik gula di daerah sekeliling Cirebon. Tentu saja dapat dimengerti kalau mereka menjadi tambah kaya, sebab siapa yang tidak membutuhkan gula atau garam dalam makanan dan minumannya ? Yang aku tahu, kekayaan mereka kebanyakan habis bersamaan dengan adanya financial crash ditahun 1930-an. Heran sebenarnya, apa hubungannya antara leluhurku dengan financial crash tahun 1930, aku kira mereka tidak main saham seperti yang terjadi di Amerika saat itu, tetapi kenyataannya memang demikian. Keluarga The yang dipimpin oleh The Joe Gie jatuh miskin disekitar tahun 1930-an. Kalaupun mereka akhirnya bangkit kembali dan mempunyai beberapa kapal tongkang yang akhirnya disita pada jaman penjajahan Jepang, mereka tidak sekaya sebelumnya. Hal yang sama aku dengar juga dengan keturunan adik The Tjiauw Tjay yang menjadi kapten di Pekalongan. Sepeninggal The Tjiauw Hok, 2 anak laki-lakinya meneruskan usahanya dan menurut keturunannya, mereka cukup kaya dan mempunyai banyak mobil. Kekayaan itu juga habis pada jaman tahun 1930-an.

Posted by steve on Mar 22nd 2006 | Filed in Silsilah | Comments (0)

Eh, kita beneran saudara yah ?

KhoeSuatu hari aku berjanji dengan “oom” ku yang bernama Hauw Gie untuk mampir dirumahnya membicarakan perkembangan silsilah dan menerima perbaikan-perbaikan silsilah yang baru saja didapatkan olehnya ketika berlibur ke Indonesia. “oom” ku ini tidak aku panggil oom, sebab karena dia masih muda. Papanya memang satu generasi dengan engkongku, dan mamiku masih memanggil “oom” atau “ncek” tetapi kepada anaknya aku tidak lagi memanggil “oom” karena kami hanya berbeda 6 tahun saja. Apalagi setelah si “oom” ini menikah dengan teman seangkatanku waktu aku kuliah di TH Delft (sekarang : TU-Delft). Nah, si “tante” ini aku panggil Kiki. Entah kenapa dipanggil begitu, mungkin memang nama panggilannya begitu. Kita memang mengenalnya sebagai Kiki, dan hampir tidak ada yang tahu nama tionghoanya.

Disana kita mengobrol persoalan keluarga terutama mengenai silsilah keluarga THE Boen tentunya, sebab itu yang menjadi tujuan utama kedatanganku kerumahnya. Kemudian pembicaraan beralih ke keluarga Nike. Tentu saja mereka ingin tahu nama keluarga Nike, dan ketika Nike mengatakan bahwa marganya KHOE, si Kiki juga mengatakan kalau emanya juga bermarga KHOE. Kemudian Nike mengatakan kalau kongconya bernama Khoe Khee Ing, lalu Kiki juga mengatakan bahwa kongconya bernama Khoe Khee Sioe. Nah lho….nah lho…., koq bisa sama ya ? nama generasinya, mungkin masih saudara ? Terus Nike mengatakan kalau Khoe Khee Ing itu asalnya dari Purworejo, sedangkan Kiki mengatakan kalau Khoe Khee Sioe asalnya Gombong. Well, Purworejo dan Gombong memang tidak jauh, tapi persoalan ini mesti nanya-nanya dulu dan dicari hubungan keluarganya. Mungkin saja Khoe Khee Sioe dan Khoe Khee Ing ini saudara sekandung.

Sepulang dirumah, Nike mengubrak-abrik file-filenya yang dibawa dari Indonesia. Dia ingat ketika dalam kunjungan terakhir ke Indonesia waktu papinya meninggal dia membawa kembali satu buku dan satu stensilan daftar nama peninggalan papinya tersebut. Dari buku tersebut satu persatu dikumpulkan nama-namanya dan dicoba untuk menghubungkan satu sama lainnya. Misalnya saja generasi engkongnya adalah Khoe Giok …. sedangkan generasi kongconya adalah Khoe Khee …. untuk yang laki-laki dan Khoe Ang …. untuk yang perempuan. Sayang tidak diketemukan nama Khoe Khee Sioe disitu, jadi dipastikan kalaupun saudara bukan saudara dekat.

Kemudian nike menanyakan lagi kepada Kiki apakah ada nama-nama lain selain Khoe Khee Sioe. Ternyata informasi yang didapat dari Kiki memperkuat dugaan kita bahwa 2 keluarga ini masih ada tali persaudaraan. Kiki mengatakan bahwa selain Khoe Khee Sioe, ada juga Khoe Khee Tjong, Khoe Ang Tjiauw, Khoe Ang Nie. Ini berarti nama generasinya sudah sama. Sudah hampir tidak bisa disangkal lagi bahwa mereka bersaudara. Cuman saja kita belum bisa menemukan bagaimana persaudaraan itu ?

Beberapa hari kemudian Nike menelpon salah satu oom nya di Indonesia untuk menanyakan. Hasilnya boleh dikatakan cukup memuaskan untuk keturunan dari papanya Khoe Khee Ing, sebab oomnya tersebut bisa mengatakan nama leluhurnya yaitu Khoe Boen Koen, dan juga bisa menyebutkan urutan dari anak-anaknya yang salah satu diantaranya Khoe Khee Ing tadi. Dari oom itu Nike mendapatkan satu alamat dari oom yang lain di jakarta untuk dihubungi, katanya oom yang ini tahu banyak mengenai keluarga KHOE.

Esoknya Nike mencoba untuk menelpon oom tersebut tetapi beliau malah menyuruh Nike menulis surat dan menanyakan apa yang ingin ditanyakan. Beliau bersedia untuk menjawab apa saja yang berurusan dengan keluarga KHOE. Karena Nike sudah tidak biasa menulis surat kecuali email, maka Nike meminta cicinya Yvonne untuk mendatangi saja si oom tersebut dan meminta data-datanya.

Lewat Yvonne Nike bisa mengetahui bahwa orang yang datang ke Indonesia dari daratan Tiongkok adalah Khoe Tjwee Kiem. Beliau menetap di daerah Gombong dan beliau adalah ayah dari 9 anak. Anak pertamanya adalah Khoe Ik Ngo, dan anak terakhirnya bernama Khoe Boen Koen. Khoe Ik Ngo kemudian mempunyai anak dan salah satunya Khoe Khee Sioe yang tealh disebutkan tadi, sedangkan Khoe Boen Koen adalah papa dari Khoe Khee Ing. Maka jelaslah sudah hubungan persaudaraan dari Khoe Khee Sioe dan Khoe Khee Ing ini. Menurut keterangan Yvonne, keluarga Khoe ini menyebar didaerah pulau Jawa bagian selatan. Dari daerah Cilacap/Purwokerto sampai ke daerah Yogyakarta. Dari oom tersebut Yvonne mendapatkan buku yang cukup lumayan tebalnya dan Yvonne akan mencoba membuat fotokopi serta mengirimkannya ke Nike supaya bisa dibuat silsilahnya.

Jadi ketika terakhir Nike bertemu kembali dengan Kiki, komentarnya adalah : “Eh, kita beneran saudara yah ?, ternyata kongco kita itu bersepupu”.

Posted by steve on Mar 22nd 2006 | Filed in Silsilah | Comments (2)

Keluarga

“Say, menurut Kelvin, kalau sudah 5 generasi orang belanda tidak lagi dianggap family”. Demikian kata-kata Nike disuatu hari. Pada saat itu aku seenaknya mengatakan : “Akh….itu sih pendapat orang belanda, kalau orang china sih mau tujuh tururnan kek, 10 turunan kek, kayaknya sih masih dianggap saudara tuh”.

Nah, suatu hari aku membuka-buka silsilah-silsilah yang aku buat. Ternyata memang benar, aku hanya membuat silsilah sejauh 4 generasi saja, sebab generasi ke 5, biasanya sudah tidak tau lagi siapa-siapanya. Maksudku 4 generasi adalah bahwa aku membuat silsilah keluarga dari 4 generasi diatasku, artinya batas kongco dan makcoku. Jadi misalnya aku mempunyai 2 orang tua (papi dan mami), aku punya 4 ema dan engkong, aku punya 8 kongco dan makco, dan aku cuman mengurusi silsilah itu dengan titik utamanya ya generasi kongco/makco ini.

Kongco-Makco dari papiku adalah Yeo Tjeng Kang - Yap Kiok Nio dan Liem Joe Lee - Oey Kim Lie. Dari mamiku adalah The Han Tong - Gan Bamboe Nio dan Liem Swie Hong - Tan Penang Nio. Dari 8 orang itu aku membuat/mempunyai 6 silsilah. Silsilah Yap Kiok Nio (makco dari papi) dan Liem Swie Hong (Kongco dari mami) tidak/belum aku buat, dan aku rasa tidak akan terjadi, karena orang yang bisa ditanya sudah hampir tidak ada.

Silsilah Yeo Tjeng Kang sebenarnya mudah dibuat, karena beliau sendiri yang datang ke Indonesia, jadi ya mentok sampai kegenerasinya saja. Kemungkinan mencari keturunan kakaknya di Singapore sangat tipis karena aku sendiri tidak tahu harus mencari dimana. Silsilah Liem Joe Lee dan Oey Kim Lie baru saja akhir-akhir ini menjadi gencar sejak aku berkenalan kembali dengan salah satu sepupuku Lo Kok Tjie yang ternyata juga getol mencari silsilah. Bersama Kok Tjie kita bisa mencari leluhur Liem Joe Lee ini sampai 3 generasi lebih atas. Dan yang cukup menggembirakan ternyata asal-usulnya leluhur Liem Joe Lee ini berasal dari Pekalongan. Hal ini boleh dikatakan menggembirakan karena adanya sumber data dari silsilah Gan yang mencakup 7500 nama itu, sehingga bisa diharapkan ada kemungkinan kita dapat menanyakannya kepada beberapa orang di Pekalongan mengenai keturunan lainnya dari leluhur Liem Joe Lee ini.

Keluarga Oey Hian Seng yang leluhurnya makco Oey Kim Lie sebenarnya aku tidak pernah kenal. Sayang sebenarnya, sebab menurut oomku, rumahnya dulu di Jamblang sangat besar. Menurut kabar, Kok Tjie dulu pernah ke rumah itu bersama engkongnya. Kayaknya, selama papiku masih hidup juga jarang sekali berhubungan dengan keluarga ini. Menurut berita-berita yang aku dengar, ada salah satu keturunannya yang tinggal di amsterdam, namanya tante Els Khohonggiem, dan dulu sekali aku sudah pernah bertemu, karena aku kenal anaknya. Mungkin aku harus mencoba menghubungi beliau agar bisa ditelusuri lagi silsilah dan hubungan keluarganya.

Keluarga The dari kongco The Han Tong dan keluarga Gan dari Gan Bamboe Nio sudah pernah aku jelaskan silsilahnya di tulisanku sebelumnya. Satu silsilah lagi yang aku garap adalah silsilahnya Tan Hwie Tjeng. Ini leluhur Makcoku Tan Penang Nio. Silsilah ini ketemu secara kebetulan karena ngobrol sama Jafet, sepupu jauh, cucunya kopo Po Hie yang tahun lalu meninggal. Kopo Po Hie ini luar biasa, sejak jaman dulu beliau sudah membuat silsilah. Pertama ditulis pakai tangan, terakhir sudah diketik sehingga tulisan-tulisannya terlihat jelas dan mudah untuk disalin. Ternyata Jafet dan aku selain masih termasuk keluarga GAN, juga masih termasuk keluarga TAN HWIE TJENG ini. Sayangnya aku tinggal di Negeri Belanda sehingga susah untuk menghubungi keluarga yang ada di Indonesia, dan Jafet sendiri sangat sedikit waktunya untuk mencari keluarga. Terakhir kali dia pergi ke Cirebon untuk menemui beberapa keluarga dan akibatnya malah hampir saja dipecat menjadi suami oleh istrinya.

Posted by steve on Mar 22nd 2006 | Filed in Silsilah | Comments (1)

Menyingkap misteri 2 keluarga GAN

Gan - YanSudah lebih dari 1 tahun yang lalu buku “Silsilah keturunan keluarga GAN PENG” diterbitkan. Banyak orang yang terkagum-kagum dengan jerih usaha penulis yang sudah berhasil mengumpulkan lebih dari 7.500 nama. Belum lagi dengan adanya foto-foto baik baru dan lama, semuanya mengacungkan jempol kepada ngkoh Gan Kong Siang yang tanpa jemu-jemunya selalu berusaha untuk mencari keluarga yang belum diketemukan kembali. Bangga juga aku kalau buku tersebut dipuji-puji, setidaknya aku juga turut berpartisipasi dalam penulisannya. Meskipun segala hormat dan respek harus diberikan kepada ngkoh Kong Siang. Tanpa usahanya buku itu tidak akan ada.

Dalam kata-kata pendahuluannya, ngkoh Kong Siang menceritakan perihal asal-usul bagaimana keluarga GAN PENG ini terjadi, dan bagaimana kongco besar Gan Ka Long akhirnya menetap di Pekalongan. Dari Pekalongan ini lah semua keluarga keturunan Gan Ka Long menyebar ke seluruh dunia. Ngkoh Kong Siang juga menuliskan menurut cerita engkongnya Gan Tjioe Hway bahwa sebenarnya Gan Ka Long ini masih mempunyai saudara yang pada waktu itu berpisah dan meninggalkan Pekalongan untuk pindah dan bermukim di Purbalingga. Dan memang keluarga Gan yang dari Purbalingga ini kemudian hari juga menjadi keluarga besar dan banyak tersebar di kota-kota lain.

Sepertinya keluarga Gan yang di Pekalongan lebih menyebar ke daerah pantai utara, keluarga yang di Purbalingga menyebar juga di daerah pantai selatan. Kalau di keluarga Gan dari Pekalongan terkenal dengan nama-nama khas seperti Gan Kay ….. dan Gan Thay …., maka keluarga Gan dari Purbalingga terkenal dengan nama-nama Gan Koen ….. dan Gan Tiong …..

Di keluarga Gan dari Pekalongan, selalu ada cerita bahwa keluarga Gan yang di Purbalingga itu adalah keturunan dari adiknya kongco besar Gan Ka Long, sebab itu yang diceritakan turun menurun.

Setahun yang lalu secara tidak sengaja aku menemukan website dari salah satu keturunan Gan dari Purbalingga ini. Disana diceritakan kalau keluarga Gan dari Purbalingga ini adalah keturunan dari seorang yang bernama Gan Hwan yang datang dari daratan Tiongkok mendarat di kota Pekalongan, sebelum beliau pindah dan bermukim di Purbalingga. Aneh sebenarnya, mengapa mesti datang ke kota Pekalongan ? begitu banyak kota-kota di pesisir utara pulau Jawa, dan Gan Hwan ini special datang ke Pekalongan. Apakah ada hubungan dengan keluarga Gan Ka Long. Aku menulis email kepada webmasternya dan menanyakan kepastian bahwa Gan Hwan ini sungguh datang dari Tiongkok. Sebab bisa saja kita menyangka kalau leluhur kita berasal dari tiongkok karena di bongpay makamnya tercantum nama desa di Tiongkok sana. Tetapi sebenarnya hal itu tidak bisa dipercaya. Banyak bongpay-bongpay yang didirikan di akhir abad 19 dan awal abad 20 yang mencantumkan desa asal dari yang meninggal, tetapi tetap saja bukan berarti yang meninggal ini lahir di desa tersebut. Itu hanya suatu kebiasaan saja untuk mencantumkan desa asalnya.

Beberapa bulan lalu aku mendapat email dari seorang teman yang tinggal di Austria. Dia ini alumnus dari sekolahku yang sudah lama tinggal disana. Secara tidak sengaja dia melihat website Gan Peng yang aku buat, dan menanyakan apakah dia termasuk dari keluarga Gan Peng ini karena dia memang bermarga GAN. Setelah tanya punya tanya, ternyata namanya tidak ada di database keluarga Gan Peng, dan saya menganjurkan untuk menanyakan kepada webmaster dari keluarga Gan yang di Purbalingga ini, karena teman saya ini asalnya dari daerah Purwokerto dan Cilacap. Sejak saat itu hubunganku dengan keluarga Gan yang dari Purbalingga lebih dekat. Aku mencoba bertanya kepada mereka agar ditanyakan kepada sesepuh-sesepuhnya apakah pernah disebutkan mengenai keluarga Gan yang di Pekalongan.

Ternyata dalam keluarga Gan yang berasal dari Purbalingga juga ada cerita turun menurun yang mengatakan kalau keluarga Gan yang dari Pekalongan tadi masih ada tali persaudaraan. Dikatakan bahwa ada saudara dari leluhur mereka Gan Hwan yang tinggal di Pekalongan. Ini jelas membuktikan bahwa dua keluarga besar ini masih saling bersaudara, hanya saja bagaimana tali persaudaraan itu terjadi masih belum jelas. Yang jelas Gan Peng berumur sekitar 40 tahun lebih tua dari Gan Hwan. Jadi kemungkinan kalau Gan Peng itu kakaknya Gan Hwan tidaklah mungkin. Kemungkinan yang bisa terjadi adalah bahwa Gan Hwan adalah anaknya Gan Peng atau keponakan atau cucu (satu generasi dengan Gan Ka Long).

Perihal bahwa kedua keluarga Gan ini bersaudara terlihat juga dari desa asal mereka di daratan Tiongkoknya. Keluarga Gan Peng mengatakan berdasarkan tulisan-tulisan peninggalan Gan Tjioe Hway bahwa mereka berasal dari desa Kie San (Qishan), keresidenan Eng Chun (YongChun). Menurut buku “Chinese Epigraphic Materials in Indonesia” yang disusun oleh Wolfang Franke, keluarga Gan dari Purbalingga juga berasal dari Qishan. Hal ini tertera di gambar bongpay yang dimuat di buku tersebut.

Jadi sekarang ini tinggal mencari data untuk menyatukan 2 keluarga besar GAN ini menjadi 1 keluarga.

Posted by steve on Mar 21st 2006 | Filed in Silsilah | Comments (1)

Next »