Archive for the 'Misc' Category

You are currently browsing the archives of Steve’s hut .

Menulis

Jaman sekarang dimana internet sudah mendarah daging, banyak orang jadi rajin menulis. Ada baiknya juga sih aku pikir, sebab banyak orang-orang yang tadinya tidak tau kalau mempunyai bakat menulis, ternyata setelah beberapa tahun ini justru rajin menulis dan tulisan-tulisannya renyah dibaca alias menyenangkan untuk dibaca dan tidak kaku. Kadang aku terkagum-kagum kalau membaca tulisan seseorang yang bisa membawa si pembaca kedalam suatu cerita.

Salah satu cara mempublikasi tulisan yaitu melalui apa yang dinamakan sebagai weblog atau kerennya : Blog. Orang-orang yang menulis blog itu banyak macamnya. Ada yang sekedar nulis supaya hati lega (ini penting lho, kadang menulis suatu yang menjadi pikiran itu melenggangkan perasaan), ada yang menulis karena ingin share suatu yang dialaminya. Ada juga yang menulis karena pengen beken.

Untuk orang-orang yang termasuk dari golongan pertama ini, mereka tidak memusingkan siapa yang membaca. Kasarnya dibaca bagus, tidak ada yang baca juga tidak apa-apa karena tujuannya menulis cuman ingin mengeluarkan pikiran yang mungkin mencekamnya.

Untuk orang-orang yang termasuk golongan kedua ini biasanya mempunyai kelompok pembaca tersendiri. Entah keluarganya atau teman-temannya tetapi jelas mempunyai pembaca yang setia. Kalaupun ada stranger atau pengunjung asing yang membaca tulisannya tentunya yang menulis juga akan senang. Apalagi kalau mendapatkan komentar/kritik/pendapat dari pengunjungnya.

Untuk golongan yang ketiga ini, aku benar-benar sebal. Sebab menurut perasaanku aku tidak pernah tertarik membaca blog seseorang tetapi seolah dipaksa untuk membaca. Aku sering mendapatkan email dari friendster yang mengatakan kalau salah satu temanku di friendster baru saja menuliskan blog. Kadang memang aku tidak interested untuk membaca blognya, tapi aku masih mengerti, sebab ya inilah risikonya kalau menjadi anggota friendster. Cara lain yang sama seperti friendster ini adalah multiply. Tapi aku sangat membenci orang-orang yang tidak kukenal kemudian mengirimkan email dan menyebutkan kalau yang bersangkutan baru saja menyelesaikan blognya. Aku pikir, apa hubungannya denganku ? aku kenal dia juga tidak. Kenapa aku mesti masuk dalam daftarnya sehingga selalu dikirimi email. Akhirnya dengan memakai fasilitas auto delete atau auto junks langsung saja email yang tidak diundang itu dikirim ke trash.

Cara lain dari orang yang pengen beken mendadak ini adalah mengirimkan tulisan-tulisannya di milis. Masih lumayan kalau kalau tulisannya berbobot sehingga menjadi bahan pengetahuan. Meskipun mungkin untuk yang sudah tahu berita yang ditulis malah bisa membuat annoyed, tapi sampai disitu aku masih bisa menerima. Yang tidak bisa ku terima adalah adanya peri laku seseorang yang suka sok tahu, mengirimkan berita panjang, yang seolah-olah berita itu suatu penulisan dirinya sendiri, tetapi sebenarnya 100% menuliskan hasil karya orang lain. Dan juga kadang si penulis sama sekali tidak menguasai bidang yang ditulisnya.

Aku pernah mengatakan pada si pelaku itu, kalau tidak tahu ya mbok nanya, jangan nulis sesuatu yang salah, dengan harapan ada orang yang ngasih tau salahnya dimana. Emangnya kenapa sih kalau nanya ? Aku selalu mengaku kalau pengetahuanku rendah di beberapa hal. Karena itu aku sering bertanya. Misalnya saja aku masuk milis Budaya Tionghua, dan tujuanku cuman satu, yaitu mengetahui lebih banyak mengenai kebudayaan orang tionghoa di jaman dulu. Karenanya aku sering bertanya kepada sesepuh-sesepuh disana mengenai dan itu.

Aku tidak pernah melarang orang untuk menulis. Kalau memang seseorang ingin menulis cerita panjang, ya tulislah. Yang membuatku annoyed hanya adalah karena mereka ini mengirimkan tulisannya ini ke milis-milis yang kadang tidak ada sangkut pautnya dengan isi tulisannya. Thank God bahwa di outlook ada feature yang bisa mengirim email langsung ke ‘deleted items’.

Ada beberapa penulis yang aku kagumi. Salah satunya adalah alm. pak Sobron Aidit. Pak Sobron ini menulis tiap hari dan herannya setiap hari itu aku bisa membacanya tanpa ada rasa bosan sedikitpun. Sepertinya tulisan-tulisan pak Sobron selalu membuat mulutku tersenyum sedikit. Menghilangkan stress meskipun hanya sejenak. Sungguh suatu bakat yang luar biasa, menulis tiap hari tanpa membosankan si pembaca. Entah beliau menulis soal pengalamannya, ataukan menuliskan soal makanan yang disukainya, atau menulis kejadian dulu atau cerita tentang cucu nya yang lucu yang menjadi penjaga gawang, semua tulisannya itu sangat jelas dan mudah dicerna. Sayang beliau terlalu cepat meninggalkan kita semua. Aku yakin sekarang orang-orang di Sorga sana menjadi terhibur karena Pak Sobron menemani mereka dengan tulisan-tulisannya.

Posted by steve on Apr 11th 2007 | Filed in Misc | Comments (1)

Ganti Nama

Kebanyakan kita mengetahui kalau tahun-tahun 60-an nama-nama tionghoa diganti menjadi nama Indonesia. Ada yang mengganti nama secara mudah, ada juga yang mencari nama lewat dukun atau sinshé. Ada yang mengganti nama sekenanya saja ada juga yang mengganti nama dengan cara menterjemahkan nama tionghoanya ke nama yang berbau-bau Jawa atau Sangsekerta.

Papiku mengganti nama menjadi Djohan Haryono. Aku pernah menanyakan kenapa ganti nama ? jawabnya : Papi itu pedagang, kadang perlu minta ijin ini dan itu. Kalau memakai nama tionghoa, sulit dapat surat ijinnya, jadi kalau pakai nama Indonesia mestinya lebih gampang. Aku pernah mendengar beliau pernah ngobrol dengan alm. Mr. Yap Thiam Hien dalam pertemuan keluarga (Yeah right, oom Yap ini menikah dengan salah satu sepupu jauh dari mamiku, jadi mereka pernah ketemu dalam acara keluarga) dan waktu itu papiku mengatakan : yah broer, U kan tau semua semua ayat di wetboek, lha owé tau apa ? di gertak sama polisi ya owé juga gemeter.

Intinya sebenarnya simpel. Papiku tidak mau disusahkan. Kalau pemerintah menganjurkan untuk ganti nama demi pembauran, ya papiku ganti nama, no problem toh ?

Nah bagaimana prosesnya ganti nama papi waktu dulu ? Katanya sih papi waktu sekolah di desa Jamblang waktu kelas 0 gitu, guru belanda nya tidak bisa menyebutkan nama Yeo Peng Liem, jadi dikasih nama sebagai Johan. Menurut cerita tante dan oomku yang lain, memang si guru londo itu memberikan semua muridnya nama belanda, agar mudah diingat. Selain itu papiku juga diberi nama oleh teman-teman pribuminya sebagai soeharjono (ejaan lama ya, soalnya ini pasti sekitar tahun 1930-an).

Pas papi ganti nama dia tidak lama mesti mikir, dia pikir, hey…aku toh sudah ada nama jawa, kenapa tidak aku pakai saja nama itu. Alhasil namanya jadi Johan Soeharjono. Nama itu yang masuk di kepalanya papiku saat itu. Kemudian dia berpikir juga : wah…. Soe itu artinya selain 4 juga berarti ‘mati’. Nah karena dia tidak mau mati saat itu, dia buang itu huruf ‘soe’ nya. Jadi tinggal Johan Harjono. Dan karena waktu itu dia sudah beberapa kali pergi ke luar negeri dia mengetahui kalau memakai nama Harjono pasti akan penyebutan bahasa Inggris akan lain dengan pendengaran bahasa Indonesia, karenanya papiku mengganti menjadi Haryono. Hal ini terjadi sebelum penggantian ejaan baru, sekitar tahun 1964.

Setelah menemukan nama Johan Haryono itu, papi juga mengusulkan memakai nama Grace Haryono dan Steve Haryono untuk kakakku dan aku sendiri. Dan papiku mengirimkan permohonan penggantian nama tersebut ke pengadilan tinggi di Jakarta. Menurut cerita yang aku dapat, katanya pengadilan tinggi Jakarta menyatakan tidak berkeberatan permohonan ganti nama tersebut, tetapi pengadilan kota Cirebon menolak, katanya namanya berbau Belanda dan harus diganti.

Karena permohonan ditolak, maka papiku menambahkan D didepan Johan menjadi Djohan. Sedangkan kakakku menganti nama menjadi Yani Hendrawati Haryono. Entah darimana dia mendapatkan nama tersebut, tetapi karena dia memakai Yani, aku jadi ikut-ikutan mau pake Yan juga alhasil aku memilih Yanto, dan nama tengahnya aku memakai nama Adang. Lha darimana nama Adang itu ? waktu itu papiku mempunyai perusahaan yang bernama C.V. Adang, dan aku pikir saat itu, mungkin suatu waktu perusahaan ini akan menjadi milikku jadi aku ganti nama saja sekalian pake nama perusahaan, simpel toh ?

Karena nama tionghoaku adalah Yeo Tjong Hian, di sekolah SD di Cirebon, mereka masih memanggil sebagai Tjong Hian atau Hian. Dan karena Hian dan Yan masih ada bau-baunya, maka aku tidak berkeberatan dipanggil Hian atau Yan. Susahnya pas pindah ke Jakarta, di SMP dan SMA tidak ada yang mengenal nama tionghoaku, semuanya mengenal sebagai Yanto. Jadi lah nama panggilanku menjadi ‘to’ ‘to’ ‘to’.

Ketika aku pertama kali menginjakkan kakiku di negeri Belanda ini aku bersalaman untuk mengenalkan diri kepada salah seorang kenalan papiku. Saat itu kepalaku berpikir, kalau aku memberikan nama yang salah, maka nama itu akan aku pakai sepanjang kehidupanku di negara ini. Karena aku tidak mau lagi dipanggil sebagai ‘to’…..’to’……’to’…. waktu itu aku menyebutkan namaku sebagai ‘Steve’ dan sejak saat itu semua memanggil aku dengan nama Steve. Nama panggilan yang memang sudah diberikan sejak lahir tetapi memang jarang digunakan.

Kalau kebanyakan nama tionghoa di Indonesia diganti menjadi nama Indonesia, ternyata waktu aku berkenalan dengan seorang oom dari keluarga The, dia mengganti namanya menjadi nama Belanda.

Si oom ini memang keturunan tionghoa belanda. Papinya masih keturunan The, tetapi maminya seorang belanda tulen. Kalau dilihat raut mukanya juga sudah tidak mirip seorang tionghoa lagi. Menurrut ceritanya si oom diberi nama sebagai Theodorus Franciscus The. Nama panggilannya adalah Dick.

Selain mendapat nama belanda, oom Dick juga mempunyai nama tionghoa yaitu The Tjwan Bing. Menurut oom Dick nama tionghoanya tidak resmi, sebab ayahnya mendaftarkan nama belanda di catatan sipil.

Terus dikemudian hari oom Dick mengganti namanya menjadi Dick van Thessen. Aku sempat menanyakan mengapa mesti mengganti nama ? apakah takut didiskriminasi ? Oom Dick mengatakan kalau beliau mengganti nama bukan karena diskriminasi tetapi ada pertimbangan-pertimbangan lain.

Oom Dick ini diplomat, dan dalam karirnya oom Dick cukup berhasil. Beliau bahkan sempat menjabat sebagai Duta Besar New Zealand dan Duta Besar kerajaan Belgia. Sebagai diplomat dia sudah mencapai puncaknya, dan beliau mengatakan bahwa pekerjaannya itu menyulitkan kalau dia memakai nama marga tionghoanya. Bukan karena diskriminasi atau apa, tetapi cuman karena kombinasi antara nama depan dan nama belakangnya. Bayangkan saja kalau duta besar belanda bernama : Dick The ……. Dan kalau di balik menjadi : ………..The Dick.

Posted by steve on Jan 30th 2007 | Filed in Misc | Comments (1)

Penulisan nama tionghoa di Indonesia

Jaman tahun 70-an, ada pasangan bulutangkis terkenal dari Malaysia, namanya Ng Boon Bee dan Tan Yee Kwan. Aku masih ingat bahwa pasangan double Indonesia kocar-kacir melawan mereka. Tentu saja waktu itu pasangan Indonesia yang terkenal seperti Christian dan Ade Chandra atau Tjuntjun dan Johan Wahyudi belum terkenal.
Waktu aku membaca nama Ng Boon Bee, aku tertawa, nama koq ya “Ng” ? bicaranya gimana tuh ? Koq bisa ya nama tionghoa jadi “Ng” ? Kayaknya di Indonesia ngga ada deh nama yang kayak gitu. Belakangan aku baru tahu kalau nama “Ng” di Malaysia itu di Indonesia sama saja dengan “Oey” atau “Oei”. Hal ini disebabkan oleh penulisan nama tionghoa ke huruf latin yang dilakukan di Malaysia (d/h Malaya) berlainan dengan yang ditulis di Indonesia.
Seperti banyak diketahui, banyak orang-orang tionghoa yang merantau ke daerah asia tenggara. Memang adanya diaspora dari orang-orang tionghoa sudah berjalan dari jaman dahulu, tetapi memuncak tinggi setelah dinasti Manchu berkuasa di daratan Tiongkok. Karena orang Manchu sebenarnya berasal dari daerah timur laut Tiongkok dan dianggap bukan orang “Han” oleh orang-orang tionghoa dulu, maka setelah dinasti Manchu berkuasa banyak terjadi pemberontakan. Hal ini membuat dinasti Manchu sebagai penguasa melakukan penindasan kepada orang tionghoa biasa. Karena keadaan hidup yang susah dengan adanya penindasan itu maka mereka yang susah akan berusaha untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Entah bagaimana dengan yang tinggal di daerah pedalaman sana, tetapi yang pasti didaerah pesisir Tiongkok atau daerah pantai, tentunya mereka mempunyai alternatip yaitu merantau ke negeri seberang.
Terutama dari propinsi Fujian dan Guandong banyak yang merantau ke asia tenggara. Dan entah apa sebab utamanya ternyata dari propinsi Fujian lebih banyak daripada yang dari propinsi Guandong. Orang-orang tionghoa yang datang ke asia tenggara itu biasanya hanya orang-orang miskin yang hanya mampu berbicara dialeknya sendiri-sendiri. Biasanya mereka berbicara memakai dialek hokkian atau hokchia atau khek (hakka) atau tiociu atau kwantung atau kongfu. Yang paling besar adalah yang berbahasa hokkian, karena itulah bahasa dialek hokkian ini yang menjadi paling terkenal dipakai didaerah asia tenggara. Terutama daerah Malaysia dan Indonesia, pada waktu abad ke XIX bahasa hokkian lebih banyak dipakai daripada bahasa mandarin.
Karena yang merantau itu adalah orang-orang kelas rendah atau dapat dikatakan miskin, tentu saja kebanyakan dari mereka tidak dapat berbahasa asing selain bahasanya sendiri. Karena kebanyakan datang dari propinsi Hokkian (mandarin : Fujian), maka bahasa Hokkianlah yang banyak digunakan. Nah kesulitan mulai terjadi ketika pendatang-pendatang ini diwajibkan untuk mencatatkan namanya di kota-kota dimana mereka datang. Malaysia (d/h Malaya) dan Singapore waktu itu termasuk jajahan Inggris, sedangkan Indonesia waktu itu bernama Hindia Belanda yang merupakan jajahan Negeri Belanda. Dapat dibayangkan bahwa karena pendatang yang ditanyai namanya itu tidak dapat menuliskan namanya dengan memakai huruf latin, maka yang menulis adalah pegawai negeri setempat yang tentu saja cara penulisannya hanya berdasarkan pendengarannya.
Karena ejaan bahasa Inggris dan ejaan bahasa belanda banyak yang berbeda, maka cara penulisan marga jadi berbeda-beda. Belum lagi perbedaan yang ada antar daerah seperti daerah jawa barat dan jawa tengah/timur yang juga menimbulkan perbedaan tulisan.
Kalau kita melihat tulisan marga “TAN”, maka tidak ada bedanya antara marga ini di Malaysia/Singapore dan di Indonesia. Juga di marga-marga “Ong” dan “Ang”, tidak ada perbedaan antara 2 daerah bekas jajahan Inggris dan Belanda ini. Tetapi banyak sekali marga-marga yang tulisan latin nya berbeda. Misalnya saja yang mudah kita lihat adalah “Liem” yang banyak kita jumpai di Indonesia, di Malaysia atau Singapore kita akan menjumpai marga yang sama dengan tulisan “Lim”. Hal ini karena cara penulisan dalam bahasa Belanda yang memang menuliskan “ie” untuk penyuaraan “i”. Juga tulisan yang kita sering lihat seperti “Tjan”,”Tjia”, “Tjoa”, “Tjioe” jelas tidak dipakai oleh orang-orang tionghoa di Malaysia/Singapore. Mereka memakai “Chan”, “Chia” “Choa” dan “Chiu”.
Sewaktu aku lahir, papiku memberi nama tionghoa yang sesuai dengan dinasehatkan oleh engkongku. Dan waktu itu papiku sudah memakai nama YEO sebagai marganya. Ada kemungkinan (ini aku sendiri kurang yakin) bahwa waktu beliau lahir namanya masih memakai tulisan JEO, sesuai dengan cara penulisan engkongku. Menurut cerita, papiku mengganti marganya menjadi YEO karena melihat di Singapore nama JEO kalau dipanggil menjadi lain bunyinya dengan apa yang biasa didengar di Indonesia waktu itu. Di keluarga papiku jadi marganya bermacam-macam. Ada yang Yeo, ada yang Jeo, ada juga yang Yo. Padahal semuanya kalau di mandarinkan menjadi YANG. Di kota lain, misalnya Semarang ada juga keluarga Njo atau Nyo, di daerah lain juga ada yang memakai marga Nyoo. Semua marga ini ternyata kalau dalam bahasa mandarin semuanya sama, YANG juga. Menurut seorang pakar yang pernah aku tanyakan, dalam pengucapan bahasa hokkian, marga Yeo ini diucapkan dengan bunyi sengau. Nah ternyata, bunyi sengau ini yang menjadi gara-gara dari perbedaan penulisan ini. Sebabnya karena bunyi sengau tidak dikenal dalam alfabet latin. Karenanya dicoba menulis menurut pendengaran masing-masing penulis yang akhirnya mengakibatkan perbedaan penulisan, sedangkan seharusnya semuanya itu sama.
Menurut temanku yang aku kenal lewat internet, bahasa hokkian juga sudah mulai di standarisasi. Kita ingat dulu kalau menuliskan Mao Tse Tung harus diubah sesuai dengan pinyin nya menjadi Mao Ze Dong. Di bahasa hokkian juga sedang diusahakan untuk menjadi seperti pinyin antara lain kalau menuliskan Yeo menjadi Yno, dan The menjadi Tne, Thio menjadi Tnio. Entah bagaimana menuliskan  nama-nama yang lainnya.

Posted by steve on Nov 3rd 2006 | Filed in Misc | Comments (2)

Ditinggal pergi 3 bulan

Sebenarnya sudah lama rencana menulis blog ini. Kadang aku malu juga sama Nike yang sudah susah payah membuatkan layout nya tetapi aku memang pemalas, sehingga selalu menunda-nunda saja rencana menulisku itu.

Sekarang ini Nike sedang ada di negaranya paman Sam selama 3 bulan. Lho kenapa begitu ? Nah ceritanya dia sedang belajar lagi di TU Delft, dan dalam rangka belajarnya itu dia diberikan kesempatan untuk mengikuti kuliah dari salah satu pakarnya yang mengajar di Ohio State University.
Aku selalu mengatakan, kalau dapat kesempatan untuk belajar secara gratis jangan dilewatkan, apalagi kalau kesempatan belajarnya di luar negeri dan semua urusan keuangan ditanggung oleh sekolahnya, ya jelas mesti dipakai kesempatan tersebut.
Alhasil Nike berangkat ke Columbus, Ohio bulan September yang lalu dan rencananya akan tinggal disana sampai pertengahan bulan December, dan in the mean time aku jadi bujangan lagi selama 3 bulan. Awalnya sih enak juga, sendirian dirumah, mau maen kek, mau nonton tivi kek, mau abis makan ngga cuci piring kek, tidak ada yang kasih komentar. Jadi dipuas-puasin deh main World of Warcraft nya sampai bikin beberapa charracter dengan tujuan kalau nanti expansion nya keluar bulan December nanti, aku sudah mempunya beberapa charracter dengan level tinggi.

Tapi maen game sendirian koq ya sepi juga ya ? Misalnya saja pada hari weekend sudah merencanakan untuk main game seharian, supaya bisa naik beberapa level, baru main 2 jam sudah merasa bosan, akhirnya aku coba untuk menonton tivi, tidak ada acara yang bagus dilihat, kembali lagi main, bosan lagi, akhirnya jadi nggak tahu apa yang mesti dikerjakan.

Anyway, sekarang sudah setengah jalan, dan 7 minggu lagi Nike akan pulang ke Belanda lagi setelah liburan selama 2 minggu di California. Sementara itu, main game dan menulis silsilah masih tetap menjadi hobbyku

Posted by steve on Nov 2nd 2006 | Filed in Misc | Comments (0)

Puisi generasi

Salah satu kebiasaan yang sangat istimewa di keluarga tionghoa jaman dulu pada umumnya adalah bahwa mereka mempunyai nama unik untuk generasinya. Seperti banyak diketahui, nama tionghoa biasanya terdiri dari 3 kata. Kata pertama adalah nama keluarganya (marga) dan seperti juga lazimnya, nama ini diturunkan kepada semua keturunan dari ayah. Di Indonesia dapat juga diketemukan bahwa nama keluarga yang diturunkan dari ibu karena perkawinan mereka tidak diakui oleh pemerintah setempat. Nama marga sudah menjadi tradisi berabad-abad sehingga boleh dikatakan semua orang tionghoa akan menuruti tradisi ini. Seseorang tidak dapat memilih marga seenak hatinya. Marga adalah warisan dari orang tua turun menurun. Selain nama marga, nama tionghoa juga mengenal nama generasi. Nama generasi ini bisa ditengah, tetapi juga bisa ditempatkan dibelakang. Biasanya antara saudara sekandung dan sepupu yang masih termasuk satu generasi akan mempunyai nama generasi yang sama. Sehingga satu nama terakhir, itu adalah nama orang itu sendiri.

Keluarga-keluarga tionghoa yang besar mempunyai suatu yang dinamakan puisi keluarga. Kemungkinan ada seseorang yang menciptakan puisi tersebut dan kemudian menurunkan puisi tersebut kepada keturunannya untuk dipakai sebagai puisi generasi. Untuk penelusuran silsilah, nama generasi ini sangat berguna. Banyak saudara-saudara yang lebih mudah diketemukan hanya karena nama generasinya ini. Nama generasi ini mudah hilang pada jaman-jaman dahulu apalagi untuk orang-orang tionghoa yang merantau. Biasanya mereka adalah orang yang miskin dari daratan Tiongkok sana dan tidak jarang juga mereka buta huruf. Kalau leluhur suatu keluarga ini buta huruf, beliau harus menurunkan puisi generasi itu secara lisan kepada keturunannya. Hal ini tentunya akan mempersulit keberadaan puisi generasi ini. Apalagi kalau salah satu keturunannya pergi ke kota lain, yang letaknya agak jauh. Hubungan telpon dan jalan belum semudah sekarang, sehingga biasanya ranting keluarga yang berpindah akan tidak menggunakan puisi generasi lagi.

Keluarga Gan yang berasal dari Pekalongan, mempunyai puisi generasi yang dituruti oleh kebanyakan keturunannya. Dimulai dengan generasi Gan Sam …., kemudian Gan Jang …., kemudian Gan Kay …. dan Gan Thay ….. Hampir 85% dari keturunan laki-laki keluarga Gan ini memakai nama generasi yang sama. Akibatnya ada beberapa yang namanya benar-benar sama, karena mungkin tinggalnya dilain kota sehingga ketika anaknya lahir dan diberi nama yang memberi nama tidak mengetahui kalau nama tersebut sudah dipakai oleh keluarga lain. Kalau tidak salah, ada 4 yang memakai nama Gan Thay Hien dan ada 3 yang memakai nama Gan Thay Sien. Sesudah generasi Gan Thay ….. nama generasi sudah jarang dipakai. Hal ini disebabkan oleh adanya persoalan ganti nama di Indonesia, yang kebanyakan orang memberikan nama Indonesia kepada anak-anaknya dan tidak lagi memberikan nama tionghoa. Juga dengan adanya trend baru yang meskipun masih memakai nama marganya tetapi memberikan nama kristen atau nama eropa.

Di keluarga The aku tidak melihat adanya puisi generasi. Yang ada hanya nama generasi yang boleh dikatakan dipakai oleh keluarga keturunan kongcoku. Keturunan adik dari kongco tidak memakai nama generasi yang sama. Menurut cerita, engkongku dulu adalah seorang yang sering ditanyai oleh keluarganya untuk memberikan nama bagi anak-anak mereka. Namaku juga didapat atas pemberian engkongku itu. Konon menurut cerita mamiku, engkongku yang lain, yang dari papiku, ingin memberikan nama Tjong Houw kepada cucu laki-lakinya yang pertama itu. Hal itu dikarenakan karena waktu itu terkenal sekali bahwa yang namanya Oei Tjong Houw adalah putra dari Oei Tiong Ham yang meskipun bukan anak laki-laki tertua, dialah yang bisa memimpin perusahaan dan mengembangkan perusahaan bapaknya sampai menjadi perusahaan mancanegara. Semua orang-orang tua tentu mengimpi-impikan keturunannya bisa jadi orang, dan kalau bisa kaya-raya. Tetapi engkongku yang lain, engkong The Tie Sek tidak begitu setuju dengan usul engkong Yeo yang dari papi. Dikatakan bahwa nama Tjong Houw itu berat sekali artinya, dan kalau nanti anak ini (aku tentunya) tidak kuat, malah akan tidak baik dikemudian hari. Kemudian oleh engkong Tie Sek, aku diberi nama Tjong Hian, yang konon menurut beliau mengambil contoh seorang yang mengabdi kepada ilmu. Entah ilmu apa, tetapi kenyataannya, aku tidak suka ilmu.

Karena aku sebagai cucu laki-laki pertama dari engkong Yeo, 3 cucu laki-laki selanjutnyapun memakai nama Tjong juga. Sayang dari 3 sepupu itu 2 orang meninggal dunia, sehingga hanya satu yang masih memakai nama Yeo Tjong … . Sepupuku yang lahir sesudah kejadian G-30-S tidak memakai nama tionghoa lagi. Keluarga dari kakak dan adik engkongku tidak menggunakan nama generasi yang sama. Memang mungkin mereka tidak bersepakat untuk mempunyai nama generasi yang sama untuk cucu-cucu mereka sehingga masing-masing keluarga memakai nama generasi yang berbeda. Cucu dari keturunan kakak engkongku ada yang memakai nama generai “Hoey” dan juga ada yang memakai nama generasi “Bun”.

Keturunan dari kongcoku yang lain, kongco The, mengenal 2 nama generasi. Ada yang memakai nama Thian, dan juga ada yang memakai nama Tjing. Kemungkinan besar sebenarnya mereka sudah sepakat memakai nama Thian, tetapi ada salah satu keluarga keturunan dari kakak engkongku yang memakai Tjing. Ada kejadian yang lucu sebenarnya mengenai Thian dan Tjing ini. Salah satu oom ku yang anaknya menggunakan Tjing, mempunyai anak banyak. Dan satu saat lahir kembali anak yang kesekian, dan waktu engkongku, engkong Tie Sek, datang berkunjung kerumahnya, beliau mengatakan bahwa anak terlalu banyak ini dikarenakan si ayah tidak menggunakan nama Thian. Karena itu si oom yang masih keponakan dari engkong Tie Sek menanyakan kepada engkongku agar memberikan nama kepada anaknya yang baru lahir ini. Kemudian engkongku memberi nama Thian Ien, dan dikatakan bahwa dengan nama ini, nantinya tidak akan ada adik-adiknya lagi. Ternyata kata-kata engkongku salah kaprah, sebab setelah itu masih ada lagi 2 adiknya yang lahir.

Posted by steve on Mar 28th 2006 | Filed in Misc | Comments (2)

Warisan turun menurun

Di keluargaku ada satu kebiasaan yang aneh. Mungkin juga ada di keluarga lain, tapi di keluargaku itu aku suka tertawa kalau mengingat-ingatnya. Aku mempunyai beberapa engkong dan ema. Loh ? koq ? beberapa ? bukannya cuman 2 engkong dan 2 ema ? Nah itu dia, aku punya ema jamblang, ema cerbon (cirebon), ema bandung dan ema garut. Demikian juga dengan engkongnya. Sebenarnya yang asli ema dan engkong itu cuman yang di Jamblang dan di Cirebon. Yang di Bandung dan Garut itu adiknya ema Jamblang. Anehnya aku sendiri tidak tahu siapa yang memulai memanggil ema Bandung dan ema Garut, kemungkinan besar ciciku.

Anehnya, panggilan ema Bandung dan ema Garut ini semacam jadi warisan ke sepupu-sepupuku lainnya yang lebih muda. Aku tahu sepupu-sepupu dekatku memang memanggil panggilan yang sama, dan itu karena mereka sering kumpul dengan ciciku dan aku, tentu saja kebiasaan itu menular. Aku baru saja mengetahui bahwa sepupu-sepupuku yang jauhpun memanggil panggilan yang sama.

Di keluarga papiku panggilan-panggilan secara tradional seperti mpek, ncek, ie-ie, kow dll. tidak seketat pada umumnya. Aku memanggil kakak laki-laki papiku dengan panggilan Apé. Kemungkinan karena waktu ciciku kecil, dia tidak bisa menyebutkan toapé atau tuapé, yang keluar cuman Apé, jadilah beliau divonis dipanggil Apé oleh keponakan-keponakannya. Sepanjang pengetahuanku, panggilan apé ini tidak ekslusif di keluargaku saja. Banyak juga teman-temanku dan sepupu-sepupuku yang tidak pernah bertemu sebelumnya, memanggil panggilan yang sama untuk kakak dari papinya. Karena papiku anak nomor dua di keluarganya, aku tidak punya jipé, shapé dan sebagainya. Adik laki-laki papiku aku panggil oom. Entah kenapa dia tidak dipanggil ncek, tetapi sudah modern dipanggil oom. Adik-adik papiku yang perempuan semuanya aku panggil kow, kecuali 1 tante yang aku panggil mamah, karena menurut cerita dulu aku di kwepang oleh beliau dan suaminya. Mamahku itu luar biasa orangnya, selalu telaten kalau main denganku. Dulu sekali rumahnya kecil dan sempit, aku sering main ke rumahnya dan seharian aku dirumahnya. Aku suka main halma dan boardgames lainnya sama mamahku itu. Dan dari Papahku aku belajar main catur. Saya beliau sudah lama meninggal lebih 20 tahun lalu. Saat aku sudah pindah ke Jakarta dan pulang berlibur ke Cirebon, papahku selalu membelikanku gulai dengkil di pagi hari. Aku masih ingat sosok tubuhnya yang kelihatannya selalu tertawa dengan Vespa Sprint 150 cc nya.

Kembali ke soal panggilan-panggilan, kepada suami dari tante-tanteku itu aku semua memanggil oom. Susah mungkin kalau mesti manggi nthio. Juga untuk sepupu perempuan papiku, aku juga memanggil kow, dan suaminya aku panggil oom. Special untuk adik laki-laki papiku itu, ada suatu panggilan lucu dulunya. Mungkin karena namanya memakai kata “Swie”, ciciku tidak bisa menyebutkannya, sehingga dipanggil sebagai oom pli. Lucunya si oom ini dulu termasuk kurus, jadi beliau kita panggil oom pli kurus. Kalau ada oom pli kurus, tentunya ada juga oom pli gendut. Si oom pli gendut ini sepupu dari papiku, yang namanya juga ada “Swie” nya. Dulu tiap malam imlek beliau juga suka datang kerumah ema dan engkongku di Jamblang. Dulu memang dia lebih gemuk dibanding dengan oom pli kurus. Di kemudian hari oom pli gendut ini meninggal dengan usia muda, sehingga kita hanya mempunyai oom pli kurus saja, dan beliau sudah tidak kurus lagi, bahkan lebih mengarah ke gemuk. Anehnya panggilan oom pli ini tidak menurun ke saudara-saudara yang lain, dan bahkan aku sendiri tidak lagi memakainya. Mungkin setelah agak besar aku malu memanggil oom pli, sebab takut disangka masih pelo.

Posted by steve on Mar 23rd 2006 | Filed in Misc | Comments (0)

Ketiban segabreg famili

The - ZhengMamiku marganya THE, menurut cerita leluhurnya bernama The Boen atau menurut bahasa mandarinnya ditulis sebagai Zheng Wen. Dalam ceritaku mengenai kongcoku Yeo Tjeng Kang, aku selalu bermalam tahun baru imlek dirumahnya di Jamblang. Dan pada esok harinya barusan kita mengujungi ema dan engkong yang dari THE ini.

Sepanjang ingatanku, rumahnya engkong The Tie Sek di jl. Parujakan no 4. Rumahnya tidak sebesar rumah engkongku yang di Jamblang, tetapi dibelakang rumah ada pabrik kecil-kecilan untuk vulkanisir ban. Aku sendiri tidak begitu dekat dengan engkongku yang ini. Aku hanya mengenai sampai tahun 1965, ketika beliau meninggal dunia sebelum peristiwa G-30-S. Beruntung baginya, sebab pasti beliau akan ditangkap oleh penguasa orde baru kalau beliau masih hidup. Menurut mamiku beliau bukan anggota Baperki, tetapi beliau adalah pemuka masyarakat tionghoa di Cirebon.

Menurut mamiku, beliau keturunan Kapten dan Letnan tionghoa. Dan mungkin saja beliau dipersiapkan untuk menjabat jabatan tersebut kalau saja jabatan itu tidak dihapus oleh pemerintah hindia belanda di tahun 1920-an. Ketika belakangan aku mendapatkan silsilah keluarga THE ini dari papiku yang katanya beliau mendapatkannya dari seorang yang bernama Kopo Po Hie, aku melihat bahwa kongcoku yang bernama The Han Tong mempunyai jabatan Letnan, dan papanya yang bernama The Tjiauw Tjay mempunyai jabatan sebagai Kapten. Yang paling atas, yang disebutkan sebagai leluhur kami ditulis THE BOEN, dituliskan terlahir di tahun 1785. Tidak ditulis kapan beliau meninggal, dan kapan pula beliau datang ke Indonesia. Juga tidak tertulis dari daerah mana beliau datang.

Silsilah yang semula ditulis oleh salah satu “oom” ku yang bernama The Hauw Gie, aku perbaiki dan aku lengkapi sedikit demi sedikit. Silsilah yang dulunya hanya mencatat keturunan The Tjiauw Tjay saja sekarang sudah dilengkapi dengan keturunan adik The Tjiauw Tjay yang bernama The Tjiauw Hok, dan bermukim di Pekalongan. Silsilah yang aku kerjakan tetap keturunan dari The Boen, sebab selama ini memang kami hanya mengetahui bahwa leluhur kami namanya THE BOEN dan beliau yang datang ke kota Cirebon.

Suatu hari aku mendapat satu email dari salah seorang sepupuku yang bernama Tan Chun Mey. Dia menuliskan bahwa dia mendengar dari salah seorang kerabatnya kalau The Boen itu dulunya datang tidak sendirian ke Indonesia. Mereka kakak beradik ada 4 orang, dan mereka berpisah, satu ke Bogor, satu ke Cirebon, satu ke Surabaya dan satu lagi entah ke pulau lain, dan diperkirakan ke daerah Makassar. Sebenarnya mendengar berita begini aku masih tetap dingin-dingin saja, dan tidak begitu antusias, sebab kayaknya koq seperti fairy tale, kayaknya enggak mungkin deh. Sampai suatu hari ketika aku mengunjungi rumahnya, dia menunjukan silsilah dari keturunan THE HIE yang berasal dari Bogor. Keturunannya tersebar di kota-kota Bandung, Karawang, Sukabumi, Cianjur, Jakarta dan Bogor sendiri. Di halaman terakhir ada tertulis silsilah THE BOEN dengan sederhana dan dikatakan bahwa The Boen adalah saudara tua dari The Hie.

Gara-gara buku silsilah THE HIE itu, aku jadi ketiban segabreg famili lagi. Dan gara-gara buku silsilah itu, buku silsilah The Boen, yang lagi digarap akan menjadi lebih tebal 2 kali lipat.

Posted by steve on Mar 21st 2006 | Filed in Misc | Comments (1)

Nulis apa ya ?

Yang namanya BLOG itu kayak apa sih ? koq kayaknya semua orang pada ngomongin BLOG-BLOG-BLOG. “Say, say, Steve juga mau BLOG yah, kalau kamu udah kelar sama paper kamu, tolong kamu bikinin BLOG buat steve yah?”

Nah akhirnya si “Say” alias Nike ngubek-ngubek cariin BLOG yang gampang buat aku yang gaptek ini supaya dengan mudahnya bisa bikin BLOG kalau ada yang mau ditulis. Nah pas udah selesai BLOG nya, bingung deh mau nulis apa. Padahal heran, kapan itu rasanya pengen banget nulis, sekarang udah bisa mulai nulis, malah ngga tau mau nulis apa.

Posted by steve on Mar 21st 2006 | Filed in Misc | Comments (0)