Menelusuri desa leluhur II - Xiamen III
Esoh hari nya, kami merencanakan untuk mengunjungi desa Jinyang (Kimyong), desanya keluarga The dari Cirebon, dan desa Yujing (GiokCeng) dari keluarga Kho Sokaraja. Ada keraguan mengenai 2 desa ini, karena tidak jelas dimana letaknya. Satu-satunya data cuman berasal dari batu bongpay. Aku pernah mengirimkan foto bongpay dari leluhur keluarga The, ke seorang kenalanku yang bisa membaca tulisan mandarin dan menterjemahkannya ke dialek hokkian. Pertama dia menyebutkan beberapa nama, yang kemudian aku koreksi sedikit, sebab ada beberapa yang aku tau namanya dengan pasti. Waktu itu teman ku mengatakan : Oh berarti keluarga The ini berasal dari daerah Tjiang Tjioe, sebab saya tadinya memakai dialek Tjoan Tjioe. Jadi sejak saat itu aku berpikir kalau keluarga The dari mamiku ini asalnya dari daerah Tjiang Tjioe.
Tetapi ketika aku memberikan nama-nama desa ke YouLi, YouLi tidak bisa menemukan desa Jinyang di daerah Tjiang Tjioe (Zhangzhou). Yang ada justru di daerah Tjoan Tjioe (Quanzhou). Kalau 2 tahun sebelumnya perjalanan mencari desanya keluarga Gan di daerah Yongchun (juga masih daerah Tjoan Tjioe) memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan naik mobil, desa Jinyang lebih jauh lagi. Ada di sekitar kota Dehua. Masih 1 jam atau 90 menit lagi dari Yongchun. Pagi-pagi sekali Swie An (Rui An) sopir kami sudah menjemput, YouLi, ko Jip dan suami YouLi juga ikut serta, sebab YouLi kurang begitu bisa bahasa dialek hokkian maka ChaoJie sangat dibutuhkan kalau kami akan masuk ke desa pedalaman.
Setelah mengendarai mobil hampir 4,5 jam, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Desa yang kami datangi ternyata hanya terdiri dari satu jalan dan mungkin 5 atau 6 rumah saja. Rumah-rumahnya tidak terlalu jelek, tapi kami jadi ragu, apakah benar ini desa yang kami tuju. YouLi ingin bertanya mengenai kepala desa, tetapi tidak ada orang yang bisa ditanyai. Akhirnya kami kembali ke desa di sebelahnya, sekitar 200 meter dari desa yang tadi. Desa di sebelahnya lebih besar dan cukup modern. Banyak toko-toko yang buka, sehingga memudahkan YouLi untuk bertanya. Tetapi tetap tidak bisa menemukan kepala desa. Dari beberapa pemilik toko dikatakan kalau desa tersebut desa marga Tan, ada juga marga The tetapi pendatang baru. Juga di desa yang pertama tadi (Jinyang) tidak ada marga The, cuman ada marga Tan.
Meskipun ada kejadian dimana satu desa dengan marga tertentu berubah menjadi marga lain (karena perkawinan, bencana alam dan lain sebagainya), aku merasa kalau desa ini bukanlah desa leluhurku yang marga The. Ada beberapa alasan mengapa aku ragu kalau desa jinyang yang kami datangi ini benar-benar desanya leluhurku. Pertama, karena kata-kata teman ku yang mengatakan kalau nama-nama leluhurku lebih menunjukkan kalau mereka memakai subdialek Zhangzhou dibanding Quanzhou. Kemudian latar belakang leluhurku ini adalah berbisnis angkutan laut, alias perkapalan. Beberapa nama leluhurku bahkan tercatat sebagai pemilik kapal di Regerings Almanak. Jadi untukku agak janggal kalau mereka dulunya tinggal di pedalaman tanpa sungai tanpa laut dan di kaki pegunungan.
Dari desa Jinyang, kami kembali ke arah kota Yongchun lagi, dan menuju ke kota Anxi, dimana katanya desa Yujing terletak di dekatnya. sesampai di Yujing, kami juga mendengar kalau tidak ada marga Kho disana, yang ada hanya marga Liem. Jadi 1 hari itu, kami mengunjungi 2 desa, tetapi tidak menemukan desa yang dicari. Akhirnya kami pulang kembali menuju Xiamen. Di tengah jalan, aku menerima sms dari kawanku Siauw Ie, yang meminta diambilkan foto rumah keluarga Oei Tjie Sien (papanya Oei Tiong Ham) di dekat kota TongAn yang terletak tidak jauh dari kota Xiamen. Hari sudah mulai setengah gelap ketika kami sampai di desa Lilishin, Guankou, di pinggiran kota TongAn. Seperti biasa YouLi langsung keluar untuk bertanya-tanya, dan entah benar atau tidak, kami bertemu dengan seorang pemilik toko yang mengaku masih keturunan dari saudara Oei Tjie Sien. Yah, kecurigaan selalu ada, karena dari kabar yang aku dengar keluarga Oei Tiong Ham memang pernah mengirimkan uang untuk membangun kembali rumah papanya, dan tentu ini suatu kejadian yang tidak sering terjadi. Apalagi Oei Tiong Ham nya sudah menjadi orang kaya, jadi tentunya banyak yang mengaku masih saudara.
Saudara atau tidak, kami menanyakan mengenai rumahnya Oei Tjie Sien, yang kemudian ditunjukkan oleh si pemilik toko itu (Setelah menunggu agak lama, karena si pemilik toko harus mencari seseorang yang dapat menjagai tokonya selama dia mengantar kami). Si pemilik toko mengantar kami ke sebuah rumah yang boleh dikatakan bukan rumah kuno. Rumah itu dikunci, dan kami disuruh menunggu selama dia mencari orang yang memegang kunci nya. Tidak lama yang memegang kunci datang, dan setelah tanya jawab dengan YouLi dan ko Jip, dia pun membukakan pintunya. Di dalam rumah hanya ada 1 ruangan besar, dengan 1 altar sembahyang. Ruangannya tidak terpelihara, jadi penuh debu, tapi tidak banyak kotoran. Ada 2 pilar batu yang tergeletak di lantai. Karena hari sudah gelap, sangat sulit untuk membaca tulisan di pilar tersebut. Tapi setelah dengan susah payah aku mendengar dari ko Jip dan YouLi (yang bisa membaca) kalau di 2 pilar batu tertulis nama-nama anaknya Oei Tiong Ham, sesuai yang aku tau dari silsilahnya. Kesimpulanku jadi memang rumah ini dulunya rumah sembahyang nya keluarga Oei Tiong Ham. Menurut yang memegang kunci, sebagian rumah ini disita oleh tentara merah pada jaman revolusi kebudayaan dan hanya ruangan ini yang tidak dijamah. Yang lainnya hancur dimakan jaman.
Malam itu kami pulang ke hotel. Aku masih cukup kecewa karena 2 desa yang dikunjungi sepertinya bukan desa yang ku cari. Meskipun sebenarnya dalam hati kecil ku aku sudah siap menerima, kalau tidak semua desa yang aku cari akan mudah diketemukan.
Esoknya ko Ardy pamitan, sebab beliau akan pergi ke Beijing, sedangkan aku masih tetap tinggal di Xiamen untuk 2 hari lagi. Pagi itu YouLi ada acara sehingga tidak bisa mengantar aku. Jadi aku jalan-jalan di mall dan untuk makan siang aku ditunggu dirumah YouLi. Setelah makan siang, aku diantar ke rumahnya ko Jip, yang tidak jauh dari rumah YouLi. Aku berkenalan juga dengan istrinya ko Jip yang ramah. Ko Jip memperlihatkan koleksi silsilahnya, dan juga koleksi coin (mata uang) yang mana termasuk juga hobbynya ko Jip.
Besoknya lagi, adalah hari terakhir di Xiamen, sebelum aku kembali ke Guangzhou. Hari itu aku pakai untuk mengunjungi desa Xin-An, desa keluarga Khoe nya Nike dan desa Xia-Yang, desa nya keluarga Yeo dari papiku. Kedua desa ini terletak di sebelah jalan raya dan di jalan raya tersebut banyak dibangun pabrik-pabrik. Jadi tidak heran kalau 2 desa ini (yang letaknya juga bersebelahan satu sama lainnya) turut maju ekonominya. Kebanyakan buruh dari pabrik menyewa kamar untuk tinggal dekat pabrik, dan mereka tentunya ya membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari di desa tersebut. Hasilnya desa Xin-An dan desa Xia-Yang boleh dikatakan setengah kota. Jalan-jalan sudah beraspal. Desa Xin-An memang terkenal sebagai desa keluarga Khoe. Boleh dikatakan hampir semua Khoe yang asal hokkian berasal dari desa ini. Di pulau Penang, dimana keluarga Khoe (di Malaysia ditulis sebagai Khoo) termasuk keluarga yang sangat berperan ada sebuah gedung yang dinamakan Khoo kongsi. Gedung kongsi ini dibangun oleh keluarga Khoo (Khoe) dan ditulis pula kalau mereka asalnya dari desa Xin-An.
YouLi dan ChaoJie pernah mengantar seseorang juga yang tinggal di Negeri Belanda untuk mendatangi desa Xia-Yang. Orang tersebut marganya Njoo dari daerah Kebumen. YouLi menceritakan kalau di Xia-Yang juga semuanya bermarga Yeo (atau Yo, atau Njoo, Nyoo, Nyo, Injo). Jadi boleh dipastikan memang desa Xia-yang adalah desa leluhurnya keluarga Yeo dari papiku. Di desa itu ada beberapa rumah tua, salah satunya kebetulan pintu sampingnya terbuka. YouLi bertanya apakah aku mau melihat rumahnya ? Aku katakan, kalau yang punya tidak berkeberatan tentu aku mau melihat dalamnya. Setelah diijinkan, kamipun masuk ke dalam rumah tua tersebut. Entah kenapa aku merasa kalau rumah keluarga engkong ku di desa Jamblang dulu mempunya komposisi yang sama dengan rumah tua ini. Ruangan tengah, kemudian pelataran yang terbuka, rumah kecil di pinggir, sampai letak kamar mandi pun ada di tempat yang sama. Cuman bedanya terbalik letaknya antara kira dan kanan.
Setelah kembali ke Xiamen, malam itu malam terakhir, dan aku mengundang keluarga ko Jip dan keluarga YouLi untuk makan bersama. Tidak lupa Swie An yang menjadi sopir setia saya ajak sekalian. Entah mengapa aku selalu merasa betah kalau datang ke Xiamen. Besoknya aku sudah terbang kembali ke Guangzhou, dan langsung berangkat pulang ke Belanda.
Write Something
about you at the intro.php file in the theme folder. just a little bit to introduce yourself and then
give a link to your