Latest

Indonesian trip I - Tomb Hunter part 1

Sudah sejak tahun 2004 aku menekuni silsilah, dan sudah lama juga aku berkeinginan untuk pergi ke Indonesia, bertemu dengan saudara-saudara dan menanyakan ini dan itu yang sehubungan dengan silsilah. Juga timbul keinginanku untuk mengunjungi makam leluhurku. Selain untuk mengabadikan melalui foto, aku juga ingin mengetahui desa asal dari leluhurku itu. Seperti biasanya kalau bongpay atau batu nisan masih bertuliskan memakai tulisan mandarin, maka nama desa asal selalu di tulis di bagian atas. Tahun 2007 aku berkesempatan pergi ke Indonesia selama 3 minggu dengan rencana melakukan tour melewati kota-kota dimana ada sangkut paut nya dengan keluarga ku dan keluarga Nike.

Aku sudah lama tidak pulang ke Indonesia, jadi pasti banyak saudara-saudara juga yang ingin aku kunjungi. Cerita kunjungan ke keluarga tidak aku ceritakan disini. Aku hanya akan menceritakan bagaimana perjalanan kami mengunjungi kuburan-kuburan leluhur.

Sesampai aku di Cirebon, aku menyampaikan keinginan kepada oom ku bahwa aku ingin mengunjungi kuburan dari kongco dari keluarga Yeo, dan leluhur keluarga Oey. Dua-duanya keluarga dari Jamblang. Oom ku memberitahukan kalau kuburan Kongco ada di kuburan tionghoa di Jamblang yang bernama Serang, dan adanya di pinggiran kuburan. Kuburan leluhurku yang marga Oey ada di desa Gempol, dan disana bukan kuburan tionghoa umum, melainkan kuburan keluarga.

Pertama kami mengunjungi kelenteng di Jamblang dulu. Setelah membuat beberapa foto di Kelenteng Jamblang, aku bertanya kepada salah seorang yang menjaga kelenteng tersebut. Orang tersebut menceritakan sedikit mengenai sejarah kelenteng dan aku diberikan 2 lembar kertas dimana tertuliskan sejarah dari kelenteng Jamblang seperti yang tertulis di batu prasasti di kelenteng. Cukup bangga juga ketika membaca sejarahnya dimana tertulis kalau leluhurku Oey Thiam Seng dan Oey Yat Bie turut berjasa dalam renovasi kelenteng Jamblang. Kepada orang tersebut aku juga menanyakan dimana letak kuburan tionghoa di Jamblang. Orang tersebut meminta kawannya, yang bertempat tinggal di sebelah kelenteng untuk mengantar kami ke kuburan Serang.

Kuburan Serang terletak di tengah sawah. Tidak banyak orang disana. Kalaupun ada ya hanya petani yang sedang mengerjakan sawahnya. Tidak ada yang menjaga sebenarnya, tetapi melihat ada mobil berhenti di dekat kuburan, salah satu petani menghampiri dan membawa arit, kemana-mana kami berjalan, dia mengikuti dan membersihkan kuburan yang kami datangi. Aku menemukan kuburannya kakak nya papiku yang belum lama meninggal. Kuburan kongcoku juga akhirnya kami temukan, dan memang benar kata oom ku, terletak dibagian pinggir dari lahan kuburan itu. Nike mengambil banyak foto dari bongpay disana. Terutama foto bongpay nya kongcoku, sehingga tulisan keturunannya diambil dengan detail satu persatu.

Setelah selesai kami kembali ke kelenteng sambil menanyakan untuk kuburan keluarga Oey di Gempol yang letaknya sekitar 5 km dari desa Jamblang. Karena keluarga Oey ini keluarga cukup terkenal di Jamblang dan juga banyak berjasa untuk kelenteng, ada beberapa orang yang tau kira-kiranya letak dimana kuburan keluarga tersebut. Sebelumnya aku pernah menanyakan juga ke sepupu jauh ku yang katanya setiap cengbeng selalu datang ke kuburan tersebut. Tetapi penjelasannya membuatku geli dan bercampur bingung. Katanya aku mesti mencari pabrik kapur yang sudah tidak lagi bekerja, dan kuburan itu ada di belakang pabrik kapur tersebut. Untung saja ada orang di kelenteng yang bersedia mengantar, dan menurutnya, samar-samar kuburannya ada di dekat sekolah. Jadi patokanku adalah pabrik kapur dan sekolah.

Kuburan keluarga Oey memang ada di belakang pabrik kapur yang sudah tidak dipakai lagi. Ada jalan masuk, dan setelah 50 meter, kami melihat ada sekolah, dan kuburannya persis di belakang sekolah tersebut. Kuburan yang ada disana masih cukup terpelihara dan bersih. Ada beberapa kuburan yang bongpaynya kosong, tidak ada tulisan. Aku diberitahu belakangan kalau kuburan itu adalah kuburan salah satu dari gundik Letnan yang juga dikubur disitu. Letnan itu menurut cerita oom ku dulunya tinggal di rumah persis di seberang rumah engkongku. Beliau adalah menantu dari leluhurku Oey Thiam Seng dan selain mempunyai istri, anaknya Oey Thiam Seng, beliau masih mempunyai 3 orang ‘istri’ lain. Diduga kuburan dengan bongpay tanpa tulisan adalah kuburan dari salah satunya. Tidak banyak kuburan yang ada di kuburan keluarga tersebut. Hanya ada 11 kuburan yang kulihat, termasuk kuburan makco ku yang meninggal muda. Makco itu adalah cucu dari Oey Thiam Seng.

Ada kejadian yang agak lucu juga di Gempol ini. Ketika kami sedang melihat-lihat kuburan, sopir kami menunggu di dekat sekolah. Tidak lama kemudian ada seseorang menghampiri sopir kami, keliatannya salah seorang guru dari sekolah tersebut. Orang tersebut menanyakan kepada pak sopir, siapa yang sedang melihat-lihat kuburan di belakang. Sopir kami menjawab bahwa kami adalah keturunan dari yang dikubur di belakang itu. Orang itu menanyakan kembali, apakah keturunan dari yang dikubur di belakang itu hendak meng-claim kembali tanah kuburan yang dimana sekolah itu dibangun ? Sopir kami tentu menjawab kalau ia tidak tau persoalan itu. Dalam perjalanan pulang ke Cirebon, sopir menceritakan kepada kami. Rupanya tanah sekolah itu dibangun di atas tanah kuburan sehingga si guru perlu mendapatkan kepastian bahwa kami tidak hendak meng-claim kembali tanahnya.

Kuburan berikutnya yang ingin aku datangi adalah kuburan Kali Tanjung di Cirebon. Kuburan Tionghoa di Kali Tanjung Cirebon memang terkenal angker. Angker bukan karena banyak roh-roh halus, tapi angker karena banyak preman yang suka meminta uang. Kadang malah bukan meminta uang lagi, tapi lebih memaksa. Oom ku bercerita kalau salah satu kukong pernah datang ke kuburan untuk bersembahyang waktu Cengbeng, dan ketika si kukong mengeluarkan dompet untuk memberikan uang, dompetnya langsung dirampas oleh si preman, dan isinya diambil. Menurut oomku, si kukong sampai kapok dan tidak mau lagi datang ke kuburan Kali Tanjung, dimana papanya dikubur. Bukan saja oom ku yang memperingatiku. Ada sepupu ku juga yang hobby dengan silsilah dan aku ajak untuk bersama-sama ke kuburan Kali Tanjung, dengan secara halus sepupu ku itu menolak, karena simple saja, takut.

Karena sudah mendapat peringatan aku berpikir juga, bagaimana nih ? Masa ngga jadi ke Kali Tanjung ? Masa niat ke kuburan kalah sama preman ? Akhirnya aku berkata sama pak sopir yang sudah kami pakai sejak dari Bandung, apakah dia bisa berbahasa Inggris ? pak Sopir mengatakan bisa sedikit-sedikit. Jadi aku katakan lagi kalau nanti di kuburan, katakan saja kami orang luar negeri, dan bicaralah pake bahasa Inggris supaya mungkin si preman tidak tau caranya meminta uang. Karena Nike membawa foto camera yang besar, aku katakan agar sebaiknya kita membuat foto semua bongpay yang kita lewati, jadi tidak terlalu lama berhenti di satu kuburan sebab nanti dikira saudara yang dikubur. Benar saja, setelah sampai di tengah kuburan, tidak lama datang beberapa anak muda yang berjalan perlahan-lahan menuju ke arah kami. Pak sopir langsung menegur : “Percumah, kalau mau minta uang, mereka orang luar negeri”. Si preman kemudian mendatangi pak sopir dan bertanya-tanya mengenai kami. Entah tersengat lebah atau tidak, pak sopir menyebutkan kalau kami berasal dari Jepang dan sedang melakukan survey. Tidak lama, mungkin juga gerah karena mereka masih menanyai terus, pak sopir berjalan ke arah kami sambil menunjuk-nunjuk beberapa kuburan dengan tulisan aksara tionghoa dan  memanggil Nike : “Madam, Madam, here, here, here is another one you can take a picture …. “. Aku tertawa geli mendengar pak sopir berbahasa Inggris, tapi lega juga, kalau para preman tidak menggangu kami.

Beberapa hari kemudian kami ada di Pekalongan. Seperti yang ku tulis di cerita sejarah mengenai keluarga The, ada salah satu cabang nya yang pindah ke Pekalongan. Karena kuburan keluarga di Cirebon sudah dibongkar, dan bongpay satu-satunya yang tersisa dan masih bertuliskan aksara tionghoa itu dari istrinya leluhur, aku menjadi ragu kalau desa leluhur yang tertulis disana benar-benar desanya keluarga The atau bukan. Pak Sungkono dari pengurus kelenteng Tiao Kak Sie memang sudah mengatakan kalau biasanya seorang wanita yang menikah, kalau meninggal nama desa yang ditulis adalah nama desa suaminya. Cuman, kalau mau lebih pasti lagi, carilah kuburan dari keturunan laki-laki. Tujuan utamaku ke Pekalongan adalah mengunjungi kakak nya mamiku. Tetapi sekitar 15 kilometer sebelum Pekalongan dari arah Cirebon, aku mampir di rumah sepupu nya oom Dick van Thessen (Cerita mengenai beliau sudah ada di cerita ku sebelumnya). Tante Bwee, yang tinggal di desa Wiradesa dengan putrinya, mengatakan kalau kuburan keluarga The juga ada di Pekalongan, ketika aku menanyakan mengenai kuburan leluhurnya. Cuman tante Bwee kurang tau dimana letaknya, sebab beliau terakhir kali kesana sekitar tahun 1964 sebelum G30S.

Ketika aku datang berkunjung di rumah tante ku (kakaknya mamiku) kebetulan ada anaknya yang bungsu. Sepupu ku ini tinggal di Jakarta, dan kebetulan saja sedang ada di Pekalongan karena ada urusan keluarga.  Waktu aku menceritakan mengenai keluarga The yang ada di Pekalongan, tante ku baru tau kalau ada teman se gereja nya yang sebenarnya masih family. Kemudian sepupuku mengajak untuk pergi ke rumah ‘teman’ maminya itu, yang sebenarnya masih sepupu dari tante Bwee yang di Wiradesa. Tante Soe Lian namanya, dan beliau punya toko meubel. Ketika ditanya mengenai kuburan beliau mengatakan memang benar keluarga The mempunyai kuburan keluarga, tetapi hanya ada 3 kuburan disana, dan tante Soe Lian tidak tau lagi siapa yang dikubur disana. Kemudian tante Soe Lian memberikan petunjuk bagaimana menemukan kuburan tersebut. Dikatakan, pergi ke desa Pandansari, kemudian ambil jalan menuju Wonotunggal, dan setelah beberapa ratus meter, ada jembatan, sesudah jembatan ada pohon randu (kapuk) yang tinggi, dan kuburan itu letaknya dibawah pohon randu tinggi tersebut.

Sebenarnya aku sudah putus asa, sebab dengan petunjuk seperti itu, bagaimana aku bisa menemukan kuburannya. Memangnya jembatan cuman 1 ? Memangnya pohon randu cuman 1 ? Tetapi, sepupuku mengatakan, sudah sampai di Pekalongan, ya dicari saja dulu, kalo dapet ya sukur, kalo ngga dapet, ya at least kita sudah mencoba. Seperjalanan ke Pandansari kami selalu mencari pohon randu, dan melihat apakah ada kuburan dibawahnya. Salah juga sebenarnya, sebab tante Soe Lian mengatakan, ’sesudah’ Pandansari. Dan memang setelah sampai di desa Pandansari, kami sampai di pertigaan, kami mengambil jalan yang ke arah Wonotunggal. Benar juga, tidak lama ada satu jembatan kecil, dan setelah jembatan, ada bukit dimana di atas bukit itu ada pohon randu yang amat sangat tinggi. Kami tidak tau, apakah ini pohon randu nya, tetapi karena memang pohonnya jauh lebih tinggi dan besar dibandingkan pohon-pohon randu lainnya yang kami lihat, kami berhenti. Ada 1 rumah didekat pohon tersebut, dan kami menanyakan apakah ada makam tionghoa di dekat pohon ini.  Jawabannya memang benar, ada kuburan tionghoa di bawah pohon randu ini, cuman saja, dari 3 kuburan yang ada, hanya 1 yang masih berdiri tegak. Yang 2 lain sudah hancur.

Aku sangat bergembira, karena 1 masalah bisa diselesaikan, dimana nama desa dari keluarga The bisa dipastikan. Sebab setelah kami meneliti kuburan yang masih berdiri tegak, kuburan itu adalah kuburan sesorang yang bermarga The. Jadi kemungkinan ini tidak salah lagi. Cuman saja, untuk pastinya, aku perlu tau, siapa yang dikubur disana. Aku tidak bisa berbahasa mandarin. Tidak bisa juga membaca tulisan aksara tionghoa. Aku cuman tau beberapa gambar/tulisan tionghoa dari marga The saja. Kami masih mencoba melihat 2 kuburan lainnya. Sepertinya bongpay nya terjauh, sebab kuburannya masih ada terlihat gundukkan nya, tetapi tanpa bongpay, dan bongpaynya tergeletak di depan kuburan tersebut. Orang yang menjaga mencoba membalikkan bongpay, tapi karena sendirian, dia tidak kuat.

Bersambung

Posted by admin on Sep 30th 2011 | Filed in Silsilah, Travelling | Comments (0)

Author

ProfileWrite Something about you at the intro.php file in the theme folder. just a little bit to introduce yourself and then give a link to your about page.

If you upload your own profile.jpg into the theme's images folder, it would show up above.

Menelusuri desa leluhur II - Xiamen III

Esoh hari nya, kami merencanakan untuk mengunjungi desa Jinyang (Kimyong), desanya keluarga The dari Cirebon, dan desa Yujing (GiokCeng) dari keluarga Kho Sokaraja. Ada keraguan mengenai 2 desa ini, karena tidak jelas dimana letaknya. Satu-satunya data cuman berasal dari batu bongpay. Aku pernah mengirimkan foto bongpay dari leluhur keluarga The, ke seorang kenalanku yang bisa membaca tulisan mandarin dan menterjemahkannya ke dialek hokkian. Pertama dia menyebutkan beberapa nama, yang kemudian aku koreksi sedikit, sebab ada beberapa yang aku tau namanya dengan pasti. Waktu itu teman ku mengatakan : Oh berarti keluarga The ini berasal dari daerah Tjiang Tjioe, sebab saya tadinya memakai dialek Tjoan Tjioe. Jadi sejak saat itu aku berpikir kalau keluarga The dari mamiku ini asalnya dari daerah Tjiang Tjioe.

Tetapi ketika aku memberikan nama-nama desa ke YouLi, YouLi tidak bisa menemukan desa Jinyang di daerah Tjiang Tjioe (Zhangzhou). Yang ada justru di daerah Tjoan Tjioe (Quanzhou). Kalau 2 tahun sebelumnya perjalanan mencari desanya keluarga Gan di daerah Yongchun (juga masih daerah Tjoan Tjioe) memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan naik mobil, desa Jinyang lebih jauh lagi. Ada di sekitar kota Dehua. Masih 1 jam atau 90 menit lagi dari Yongchun. Pagi-pagi sekali Swie An (Rui An) sopir kami sudah menjemput, YouLi, ko Jip dan suami YouLi juga ikut serta, sebab YouLi kurang begitu bisa bahasa dialek hokkian maka ChaoJie sangat dibutuhkan kalau kami akan masuk ke desa pedalaman.

Setelah mengendarai mobil hampir 4,5 jam, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Desa yang kami datangi ternyata hanya terdiri dari satu jalan dan mungkin 5 atau 6 rumah saja. Rumah-rumahnya tidak terlalu jelek, tapi kami jadi ragu, apakah benar ini desa yang kami tuju. YouLi ingin bertanya mengenai kepala desa, tetapi tidak ada orang yang bisa ditanyai. Akhirnya kami kembali ke desa di sebelahnya, sekitar 200 meter dari desa yang tadi. Desa di sebelahnya lebih besar dan cukup modern. Banyak toko-toko yang buka, sehingga memudahkan YouLi untuk bertanya. Tetapi tetap tidak bisa menemukan kepala desa. Dari beberapa pemilik toko dikatakan kalau desa tersebut desa marga Tan, ada juga marga The tetapi pendatang baru. Juga di desa yang pertama tadi (Jinyang) tidak ada marga The, cuman ada marga Tan.

Meskipun ada kejadian dimana satu desa dengan marga tertentu berubah menjadi marga lain (karena perkawinan, bencana alam dan lain sebagainya), aku merasa kalau desa ini bukanlah desa leluhurku yang marga The.  Ada beberapa alasan mengapa aku ragu kalau desa jinyang yang kami datangi ini benar-benar desanya leluhurku. Pertama, karena kata-kata teman ku yang mengatakan kalau nama-nama leluhurku lebih menunjukkan kalau mereka memakai subdialek Zhangzhou dibanding Quanzhou. Kemudian latar belakang leluhurku ini adalah berbisnis angkutan laut, alias perkapalan. Beberapa nama leluhurku bahkan tercatat sebagai pemilik kapal di Regerings Almanak. Jadi untukku agak janggal kalau mereka dulunya tinggal di pedalaman tanpa sungai tanpa laut dan di kaki pegunungan.

Dari desa Jinyang, kami kembali ke arah kota Yongchun lagi, dan menuju ke kota Anxi, dimana katanya desa Yujing terletak di dekatnya. sesampai di Yujing, kami juga mendengar kalau tidak ada marga Kho disana, yang ada hanya marga Liem. Jadi 1 hari itu, kami mengunjungi 2 desa, tetapi tidak menemukan desa yang dicari. Akhirnya kami pulang kembali menuju Xiamen. Di tengah jalan, aku menerima sms dari kawanku Siauw Ie, yang meminta diambilkan foto rumah keluarga Oei Tjie Sien (papanya Oei Tiong Ham) di dekat kota TongAn yang terletak tidak jauh dari kota Xiamen. Hari sudah mulai setengah gelap ketika kami sampai di desa Lilishin, Guankou, di pinggiran kota TongAn. Seperti biasa YouLi langsung keluar untuk bertanya-tanya, dan entah benar atau tidak, kami bertemu dengan seorang pemilik toko yang mengaku masih keturunan dari saudara Oei Tjie Sien. Yah, kecurigaan selalu ada, karena dari kabar yang aku dengar keluarga Oei Tiong Ham memang pernah mengirimkan uang untuk membangun kembali rumah papanya, dan tentu ini suatu kejadian yang tidak sering terjadi. Apalagi Oei Tiong Ham nya sudah menjadi orang kaya, jadi tentunya banyak yang mengaku masih saudara.

Saudara atau tidak, kami menanyakan mengenai rumahnya Oei Tjie Sien, yang kemudian ditunjukkan oleh si pemilik toko itu (Setelah menunggu agak lama, karena si pemilik toko harus mencari seseorang yang dapat menjagai tokonya selama dia mengantar kami). Si pemilik toko mengantar kami ke sebuah rumah yang boleh dikatakan bukan rumah kuno. Rumah itu dikunci, dan kami disuruh menunggu selama dia mencari orang yang memegang kunci nya. Tidak lama yang memegang kunci datang, dan setelah tanya jawab dengan YouLi dan ko Jip, dia pun membukakan pintunya. Di dalam rumah hanya ada 1 ruangan besar, dengan 1 altar sembahyang. Ruangannya tidak terpelihara, jadi penuh debu, tapi tidak banyak kotoran. Ada 2 pilar batu yang tergeletak di lantai. Karena hari sudah gelap, sangat sulit untuk membaca tulisan di pilar tersebut. Tapi setelah dengan susah payah aku mendengar dari ko Jip dan YouLi (yang bisa membaca) kalau di 2 pilar batu tertulis nama-nama anaknya Oei Tiong Ham, sesuai yang aku tau dari silsilahnya. Kesimpulanku jadi memang rumah ini dulunya rumah sembahyang nya keluarga Oei Tiong Ham. Menurut yang memegang kunci, sebagian rumah ini disita oleh tentara merah pada jaman revolusi kebudayaan dan hanya ruangan ini yang tidak dijamah. Yang lainnya hancur dimakan jaman.

Malam itu kami pulang ke hotel. Aku masih cukup kecewa karena 2 desa yang dikunjungi sepertinya bukan desa yang ku cari. Meskipun sebenarnya dalam hati kecil ku aku sudah siap menerima, kalau tidak semua desa yang aku cari akan mudah diketemukan.

Esoknya ko Ardy pamitan, sebab beliau akan pergi ke Beijing, sedangkan aku masih tetap tinggal di Xiamen untuk 2 hari lagi. Pagi itu YouLi ada acara sehingga tidak bisa mengantar aku. Jadi aku jalan-jalan di mall dan untuk makan siang aku ditunggu dirumah YouLi. Setelah makan siang, aku diantar ke rumahnya ko Jip, yang tidak jauh dari rumah YouLi. Aku berkenalan juga dengan istrinya ko Jip yang ramah. Ko Jip memperlihatkan koleksi silsilahnya, dan juga koleksi coin (mata uang) yang mana termasuk juga hobbynya ko Jip.

Besoknya lagi, adalah hari terakhir di Xiamen, sebelum aku kembali ke Guangzhou. Hari itu aku pakai untuk mengunjungi desa Xin-An, desa keluarga Khoe nya Nike dan desa Xia-Yang, desa nya keluarga Yeo dari papiku. Kedua desa ini terletak di sebelah jalan raya dan di jalan raya tersebut banyak dibangun pabrik-pabrik. Jadi tidak heran kalau 2 desa ini (yang letaknya juga bersebelahan satu sama lainnya) turut maju ekonominya. Kebanyakan buruh dari pabrik menyewa kamar untuk tinggal dekat pabrik, dan mereka tentunya ya membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari di desa tersebut. Hasilnya desa Xin-An dan desa Xia-Yang boleh dikatakan setengah kota. Jalan-jalan sudah beraspal. Desa Xin-An memang terkenal sebagai desa keluarga Khoe. Boleh dikatakan hampir semua Khoe yang asal hokkian berasal dari desa ini. Di pulau Penang, dimana keluarga Khoe (di Malaysia ditulis sebagai Khoo) termasuk keluarga yang sangat berperan ada sebuah gedung yang dinamakan Khoo kongsi. Gedung kongsi ini dibangun oleh keluarga Khoo (Khoe) dan ditulis pula kalau mereka asalnya dari desa Xin-An.

YouLi dan ChaoJie pernah mengantar seseorang juga yang tinggal di Negeri Belanda untuk mendatangi desa Xia-Yang. Orang tersebut marganya Njoo dari daerah Kebumen. YouLi menceritakan kalau di Xia-Yang juga semuanya bermarga Yeo (atau Yo, atau Njoo, Nyoo, Nyo, Injo). Jadi boleh dipastikan memang desa Xia-yang adalah desa leluhurnya keluarga Yeo dari papiku. Di desa itu ada beberapa rumah tua, salah satunya kebetulan pintu sampingnya terbuka. YouLi bertanya apakah aku mau melihat rumahnya ? Aku katakan, kalau yang punya tidak berkeberatan tentu aku mau melihat dalamnya. Setelah diijinkan, kamipun masuk ke dalam rumah tua tersebut. Entah kenapa aku merasa kalau rumah keluarga engkong ku di desa Jamblang dulu mempunya komposisi yang sama dengan rumah tua ini. Ruangan tengah, kemudian pelataran yang terbuka, rumah kecil di pinggir, sampai letak kamar mandi pun ada di tempat yang sama. Cuman bedanya terbalik letaknya antara kira dan kanan.

Setelah kembali ke Xiamen, malam itu malam terakhir, dan aku mengundang keluarga ko Jip dan keluarga YouLi untuk makan bersama. Tidak lupa Swie An yang menjadi sopir setia saya ajak sekalian. Entah mengapa aku selalu merasa betah kalau datang ke Xiamen. Besoknya aku sudah terbang kembali ke Guangzhou, dan langsung berangkat pulang ke Belanda.

Posted by admin on Sep 28th 2011 | Filed in Silsilah, Travelling | Comments (0)

Menelusuri desa leluhur II - Xiamen II

Desa pertama yang akan kami datangi adalah desa Ouwtjioe. Adiknya emak ku, yang aku panggil kukong Toen Houw ternyata menyimpan semacam buku catatan. Di buku tersebut tertulis dimana leluhurnya dulu tinggal. Ditulis : desa Ouwtjioe, Kiaotao, kecamatan Hayteng, kabupaten TjiangTjioe, propinsi Hokkian. Tulisan ini tentunya sangat berguna, sebab dengan keterangan ini YouLi bisa mencari desanya dengan lebih terarah. Ouwtjioe, yang dalam bahasa mandarin dituliskan sebagai Wu-shi, dapat diketemukan dipinggiran kota Longhay. Kota Longhay ini sendiri adalah gabungan antara 2 kota yaitu kota Hayteng dan kota Longxi. Dan 2 kota ini memang di dekat kota Zhangzhou (Tjiangtjioe). Jadi sebenarnya untuk mencari kota Wu-shi tidak begitu susah karena YouLi sudah tau kira-kiranya dimana dan memang benar ada desa yang bernama Wu-shi di pinggiran kota Longhay.

Desa yang namanya Wu-shi ini sebenarnya sudah tidak terlihat sebagai desa lagi. Rumah-rumah terlihat ada yang bertingkat (2 tingkat atau 3 tingkat), semacam appartement rendah. YouLi menanyakan kepada penduduk setempat apakah ada seorang yang mengerti mengenai keadaan desa ini dulunya. Kami kemudian ditunjukkan untuk pergi ke satu tempat semacam lapangan kecil. Lapangan tersebut mungkin hanya sebesar 4x lapangan tenis, di satu sisi ada semacam panggung theater dan di sisi yang lain ada bangunan rumah abu. Ketika kami sedang melihat-lihat rumah abu, yang menunjukkan tempat datang kembali membawa seseorang yang diperkenalkan sebagai kepala desanya.

Dari kepala desa kami mendengar bahwa memang desa Wu-shi adalah desa marga Liem. Tetapi karena si kepala desa ini kurang tau mengenai kejadian dulu-dulu, ya cuman segitu saja yang bisa diceritakan. YouLi kemudian menanyakan mengenai KiaoTao, sebab dalam catatan kukong, ditulis desa Ouwtjioe, KiaoTai, kecamatan Hayteng dsb-dsb. Dalam pencarian YouLi di perpustakaan nama KiaoTao tidak diketemukan. Kemudian, si kepala desa mengajak kami untuk berjalan lagi. Sambil melewati kandang babi yang baunya hampir tak tertahan lagi, kami berjalan sekitar 200-250 meter untuk sampai di pinggiran sungai. Kepala desa menceritakan kalau dulu di tempat inilah pusatnya desa Ouwtjioe, dan KiaoTao berarti dipinggir jembatan. Dia mengatakan juga kalau dulunya ada jembatan di dekat tempat itu, dan kalau memang dikatakan desa Ouwtjioe, KiaoTao, artinya ya kemungkinan besar dulu leluhurku marga Liem ini tinggalnya di dekat Jembatan yang sudah hilang tersebut.

Aku sendiri tidak pernah berharap untuk mencari keluarga di negeri Tiongkok. Tujuanku menelusuri desa leluhur cuman karena aku ingin tau bagaimana bentuk rupa desa leluhurku. Bahwasanya aku telah sampai di desa tempat lelhurku berasal, sudah cukup untukku.

Desa berikutnya yang kami akan kunjungi adalah desa keluarga Liem dari ko Ardy Halim. Terus terang aku lupa nama desanya karena aku tidak mencatat. Tetapi letaknya tidak jauh dari desa Wu-shi. Kalau dari jalan besar untuk ke desa Wu-shi kami membelok ke kanan, maka untuk ke desa leluhurnya ko Ardy Halim, kami kembali ke jalan besar, dan setelah mobil berjalan sekitar 500 meter, kami membelok ke kiri. Di desa yang kedua ini, keadaannya lebih baik dari desa Ouwtjioe. Setidaknya tidak ada kandang babi yang baunya ajubilah menyengat hidung. Kami diundang untuk minum the di rumah kepala desanya. Disana ko Ardy menunjukkan silsilahnya yang karena masih memakai tulisan mandarin, tentu dimengerti oleh si kepala desa. Beliau menegaskan bahwa memang desa itu adalah desa yang ditulis di buku silsilahnya ko Ardy.

Desa berikutnya adalah desa Jincai dari keluarga Oey di Jamblang. Nama desa ini aku dapatkan dari tulisan di bongpay. Jadi letaknya dimana, aku juga kurang tau. Untung saja YouLi bisa menemukan desa Jincai ini, yang katanya tidak jauh dari desa marga Liem. Juga di desa Jincai menurut kepala desa dulunya adalah desa marga Oey. Jadi cocok seperti yang ditulis di bongpay. Meskipun tidak ada bukti yang bisa memperkuat bahwa leluhurku benar-benar dari desa ini, bahwasanya dulu desa ini bermarga Oey, bisa juga aku pakai sebagai pegangan. Di tengah-tengah desa Jincai ini juga ada satu lapangan, dan dibangun sebuah monumen kecil. Kata kepala desa, itu adalah monumen dari seseorang pengikut Dr Sun Yat Sen yang membangun rumah abu.

Setelah mengunjungi 3 desa, kami kembali ke hotel kami d Xiamen. Berdua dengan ko Ardy kami mencoba untuk mencari makanan di restorant yang tidak jauh dari hotel. Karena tidak bisa berbahasa mandarin, ko Ardy tidak ketinggalan akal, dia memakai handphone nya untuk mencari terjemahannya. Hasilnya tidak sesuai dengan yang dipesan, tetapi kami tertawa melihat makanan yang dihidangkan.

Besoknya adalah acara mengunjungi kota tua Quanzhou, atau dalam bahasa dialek hokkiannya adalah Tjoantjioe. Mendekati kota Quanzhou dari Xiamen kami melihat satu patung besar dari seorang penunggang kuda diatas puncak lembah. Dari jauh, patung itu begitu gagahnya dan YouLi menceritakan kalau itu adalah patung dari ZhengChenggong alias Koxinga. Seorang perwira dari Ming yang karena tidak mau tunduk kepada penguasa baru dari dynasty Qing (Manchu) kemudian melarikan diri ke Taiwan dan mengusir orang Belanda yang waktu itu berkuasa di Taiwan. Di Quanzhou, pertama kami singgah di museum Huaqiao. Kami disambut oleh direktur museum, dan juga 2 orang huaqiao asal Indonesia. Yang pertama, menjabat sebagai ketua dari perkumpulan HuaQiao dari Indonesia, berasal dari Pekanbaru. Dan karena sudah sejak umur 11-12 tahunan kembali ke Tiongkok, sudah tidak bisa bahasa Indonesia lagi. Yang kedua, asisten nya, berasal dari Semarang, dan masih bisa serta fasih berbahasa Indonesia. Katanya beliau dulu selesai lulus SMA sekitar tahun 1964 sebelum G30S, dan pergi ke Tiongkok untuk masuk universitas. Karena masih jebolan SMA, tentu bahasa Indonesianya lumayan bagus.

Di Museum Huaqiao ini kami melihat beberapa gambaran kehidupan orang tionghoa diperantauan pada jaman abad ke 17 sampai awal abad ke 20. Ada beberapa gambar orang tionghoa yang terkenal dipasang disana, Oey Tiong Ham, raja gula, dan Tan Kah Khe, yang dikenal sebagai raja karet dari Malaya tentu tidak ketinggalan. Ada juga beberapa foto dari rumah keluarga Njoo dari Pasuruan yang dikenal sebagai pemilih pabrik ting-ting Jahe merk Sin A. Sesudah kami melihat-lihat isi museum, kemudian kami memberikan sedikit hadiah untuk dipakai sebagai koleksi. Ko Ardy memberikan silsilah nya yang memakai bahasa mandarin. Ko Ardy mengatakan kalau dia tidak bisa membaca, sehingga takutnya nanti akan terbuang, lebih baik disimpan oleh museum, mungkin akan lebih berguna. Aku sendiri memberikan buku silsilah Gan Peng yang telah mendaftar lebih dari 7.500 orang keturunan.

Entah mungkin karena kita telah memberikan hadiah atau mungkin kebiasaan mereka, kami kemudian dijamu makan siang di restorant dekat museum. Setelah selesai makan, kami berpamitan dan mengunjungi museum lain, yaitu museum Marcopolo. Dari museum ini, dimana kami melihat kerangka kapal tertua yang diketemukan di daerah Quanzhou, kami mengunjungi kuburan muslim. Sepertinya kuburan muslim ini adalah kuburan keluarga, sebab semua yang dikubur disana mempunya marga yang sama, yaitu : DING, atau kalau di hokkian kan, menjadi Teng. Kami juga sempat mengunjungi satu mesjid di Quanzhou, yang dikabarkan salah satu mesjid tertua di Tiongkok. Sayang sekali, mesjid yang dikatakan itu baru saja tersambar petir, hingga hanya tampak tembok nya saja. Sore hari kami pulang ke Xiamen kembali.

Bersambung

Posted by admin on Sep 27th 2011 | Filed in Silsilah, Travelling | Comments (0)

Menelusuri desa leluhur II - Xiamen I

2 tahun sebelum aku mengikuti conference di Guangzhou, aku pernah pergi mengunjungi kota Xiamen bersama Nike, yang mana kami waktu itu mencari desa leluhur dari keluarga Gan yang cerita perjalanannya pernah aku tulis. Pada waktu itu aku belum tau akan nama-nama desa dari leluhurku lainnya, sehingga aku tidak mencarinya sekalian. Sesudah perjalananku ke Xiamen waktu itu yang berakhir di Beijing, kami ke Indonesia, dan membuat banyak foto-foto dari bongpay (batu nisan) dari kuburan-kuburan leluhur.

Setelah conference di Guangzhou selesai, aku sudah merencanakan untuk pergi lagi ke Xiamen untuk mencoba mencari desa-desa leluhurku yang lainnya. Untuk itu ada beberapa desa yang aku cari : desa Kimyong (Jinyang) desanya keluarga The dari Cirebon, keluarganya mamiku. desa Xiayang, desanya keluarga Yeo dari Jamblang, dari papiku. Desa Jincai, desanya keluarga Oey dari Jamblang, emak nya papiku. Desa Ouwtjioe, desa keluarga Liem dari Pekalongan, keluarga engkong nya papiku. Desa Xinan, desanya keluarga Khoe dari Kebumen, keluarganya Nike. Dan desa Yujing, desanya keluarga Kho dari Sokaraja, keluarga emak nya Nike.

Seperti biasa aku akan ditemani oleh Kukkie alias YouLi dan ChaoJie. Kebetulan juga, kakak nya Kukkie yang tertua, yang bernama Tan Ting Lie, atau lebih dikenal dengan nama panggilan Jip sudah pensiun, sehingga Jip juga bisa menemani aku. Jip juga senang akan silsilah, dan banyak mengumpulkan silsilah-silsilah keluarganya. Tentu saja, sebagai anak tertua di keluarganya, Jip banyak masih mengenal saudara-saudara atau kenalan-kenalan orang tuanya.

Perjalanan dari Guangzhou ke Xiamen dapat berlangsung dengan baik, dan sesampainya di Xiamen, aku diantar YouLi ke hotel yang 2 tahun sebelumnya aku menginap. Hotel ini, 2 tahun sebelumnya baru selesai di renovasi, ruangan untuk breakfast belum selesai, dan kita mesti makan pagi di ruangan agak jauh. Kali ini rupanya sudah selesai. Tetapi 2 tahun setelah renovasi, keliatannya sudah tidak bagus lagi. Kalau dulu tiap kamar disediakan komputer (untuk internet), kali ini komputernya tidak ada, cuman ada kabel saja yang bisa dipakai kalau kita membawa laptop.

Siang itu, aku langsung diajak YouLi dan ChaoJie ke restorant, dimana ko Jip dan Eric Djie dengan istrinya sudah datang menunggu. Aku sudah kenal dengan Eric beberapa bulan sebelumnya ketika Eric berada di Belanda untuk beberapa minggu. Eric ini masih saudara dari istrinya ko Westa yang tinggal di Hongkong, dan juga giat mencari silsilah keluarga Djie dari Kediri. Selesai makan siang, YouLi mengajak aku ke library dari Xiamen Huaqiao University, dimana dia menunjukkan beberapa buku dan hasil penyelidikannya mengenai desa-desa yang akan kita kunjungi. Aku memang telah mengirimkan foto-foto bongpay dimana tertulis nama-nama desa dari leluhurku, sehingga YouLi bisa mencari desanya dulu sebelum aku datang.

Perlu diketahui kalau nama desa di Tiongkok sesuai dengan berjalannya tahun kadang berubah. Banyak alasan mengapa nama desa berubah. Kadang nama bisa berubah karena desa nya mengecil sehingga desa tersebut tidak layak lagi disebut desa, dan hanya menjadi bagian dari desa di sebelahnya yang lebih maju. Bisa juga desa yang dulu terletak di pinggiran kota, dengan melebarnya kota, desa tersebut jadi tercaplok oleh kotanya, dan menjadi bagian dari kota tersebut. Yang susahnya juga, di daerah Hokkian sendiri ada banyak desa yang namanya sama, sehingga membingungkan yang mana yang sebenarnya dimaksud. Atau nama desa A yang sudah tidak dipakai lagi, muncul lagi dipakai sebagai nama desa lain, yang jauh letaknya dari desa A yang sebelumnya.

Sorenya, sesudah dari perpustakaan, aku jalan-jalan di pinggir pantai sekedar menghabiskan waktu. Aku senang dengan suasana di Xiamen, karena tidak terlalu ramai seperti di Beijing atau Shanghai. Malam nya, aku pergi ke Mall, untuk mencari makan di foodcourtnya. Makanan di Xiamen hampir mirip dengan makanan rumahan di Indonesia dari keluarga tionghoa. Ya mungkin karena yang di Indonesia itu kebanyakan orang Hokkian yang asalnya dari daerah Xiamen, maka makanan yang dimasak juga mirip.

Esok paginya, setelah makan pagi, yang seperti biasa terdiri dari bubur encer dan beberapa macam sayur asin, aku menunggu kedatangan kenalanku ko Ardy Halim yang datang dari Guangzhou. Ko Ardy Halim ini kebetulan membawa silsilah marga Liem asal Lasem yang masih bertuliskan mandarin. Ketika aku bertemu di Guangzhou, aku katakan, apa tidak mau ikut ke Xiamen, sekalian mencari desa leluhurnya. Waktu itu ko Ardy masih perlu menyesuaikan jadwal ticket pesawatnya, karena sesudah dari Xiamen, ko Ardy ingin melanjutkan perjalannya ke Beijing (mengikuti conference lain). Setelah mengurus kamar ko Ardy, yang juga menginap di hotel yang sama, kami dijemput oleh YouLi, ko Jip dan sopir kami, RuiAn (Swie An) yang masih ada hubungan saudara denganku. Kami berangkat menuju ke daerah kota Zhangzhou.

Bersambung

Posted by admin on Sep 27th 2011 | Filed in Silsilah, Travelling | Comments (0)

Menghadiri Conference di Guangzhou II

Hari pertama, setelah makan pagi yang disediakan di restorant hotel, para peserta conference berkumpul di lobby hotel. Kemudian kami bersama-sama dengan mengendarai bus, diangkut ke Jinan University, dimana conference itu akan diadakan. Di dalam busku, ada 2 orang bule setengah tua yang duduk berdampingan. Yang satu, memang sudah aku kenal dari Belanda, yaitu Prof Leonard Blussee. Kemudian Prof Blusse memperkenalkan dirinya ke teman sebangkunya yang ternyata seorang professor dari Polandia. Diceritakan kalau si Prof Polandia ini dikirim ke Tiongkok untuk belajar bahasa mandarin dari jaman tahun 60-an, dan sejak itu beliau mengajar bahasa mandarin di universitas di Polandia. Kemudian, ternyata si prof. Polandia ini kurang mahir berbahasa Inggris, jadi untuk memperlancar percakapan, Prof Blusse berbicara bahasa mandarin dengan si prof Polandia ini. Di tengah percakapan, aku berpikir juga, aku yang masih keturunan tionghoa sama sekali tidak bisa berbahasa mandarin, sedangkan 2 orang ini, yang mana orang bule, malah bisa berbahasa mandarin sangat fasih.

Conference dimulai dengan beberapa kata sambutan dari petinggi-petinggi setempat. Setelah itu, ada acara istirahat dan dilanjutkan lagi dengan beberapa keynote speakers. Makan siang disediakan di satu restorant di dekat kampus Jinan University. Karena aku tidak mempunyai teman, aku lebih banyak mendekat ke ibu Myra Sidharta, ibu Mona Lohanda dan pak Ardy Halim. Setelah makan siang, mulailah peserta dibagi ke berbagai kelompok. Session-session kecil menurut bidangnya masing-masing terdiri dari sekitar 15 sampai 20 orang dengan 3 atau 4 pannel, yang mana 3 atau 4 pannel ini masing-masing akan membawakan presentasi papernya. Karena giliranku masih di esok hari, hari pertama ini aku masih santai dan belum keringat dingin. Acara hari pertama ini selesai sekitar jam 6, dan kami kembali dengan mengendarai bus dibawa ke satu restorant untuk makan malam, dan sesudah itu kembali pulang ke hotel. Karena waktu belum terlalu malam, aku masih mengobrol dengan beberapa kenalan baru peserta conference.

Esoknya adalah hari giliranku untuk membawakan presentasi mengenai paper yang aku tulis. Setelah melihat peserta-peserta lain yang membawakan presentasi papernya di hari sebelumnya, aku tidak begitu takut lagi. Sebab awalnya aku berpikir bagaimana dengan bahasa Inggris ku yang masih kacau ? Di hari sebelumnya, aku masih hadir di presentasinya ibu Myra Sidharta yang menceritakan tentang booming nya pencarian silsilah di Indonesia dan menunjukkan 2 buku silsilah, yaitu buku silsilah Trah Kolopaking dan buku silsilah keluarga Gan Peng, yang notabene aku adalah salah satu penulis dan kontributornya. Ibu Mona Lohanda menceritakan kedudukan Dewan Tionghoa (Chinese Raad, atau KongKoan) di jaman Belanda dulu. Di giliran session ku, ada 2 orang Singapore yang menceritakan bagaimana mereka menelusuri silsilah keluarganya yang ternyata terdiri dari 2 cabang, yaitu cabang yang memakai nama tionghoa dan cabang yang memakai nama barat (Inggris). Ada juga seorang wanita yang berdomisili di Amerika dan masih keturunan dari Yuan Shi Kay yang membuat silsilah keluarga Yuan. Peserta sebelum giliranku adalah seorang prof Jepang yang menceritakan kegiatannya menelusuri sejarah pembuatan textil di Jawa Barat.

Paperku menceritakan mengenai silsilah keluarga-keluarga ku, selain itu juga menceritakan kegiatanku dimana dengan mengumpulkan silsilah-silsilah keluarga tionghoa, bisa membantu mendapatkan silsilah yang terhilang. Aku juga menceritakan sulitnya mencari silsilah keluarga yang biasa saja dibanding dengan silsilah keluarga terkenal. Ternyata, memang kalau kita membawakan presentasi dimana materi yang dibicarakan itu sudah tertanam di dalam otak, maka presentasipun bisa dilakukan secara lancar. Tanpa terasa 15 menitpun lewat, dan aku malah kekurangan sedikit waktu. Setelah acara session ku selesai, si prof Jepang tadi menanyakan sesuatu kepadaku. Beliau ini menanyakannya dengan bahasa Inggris yang kurang aku mengerti. Entah apakah ejaan nya yang kurang sempurna, atau daya penangkapan bahasa Inggris ku yang kedodoran, aku sering bertanya untuk mengulangi pertanyaannya, sehingga aku bisa lebih mengerti. Mungkin capai atau tidak sabar, si professor akhirnya bertanya memakai bahasa Indonesia yang fasih sekali. Ternyata untuk riset nya mengenai textil tadi, si profesor sudah keluar masuk daerah-daerah di Jawa Barat selama 5 tahun. Jadi bahasa Indonesianya cukup fasih.

Sorenya kembali peserta dikumpulkan di aula dari Jinan University dimana kita mendengarkan beberapa keynote speaker lainnya. Prof Blussee membawakan presentasinya mengenai arsip KongKoan yang diketemukan di satu rumah tua di Jakarta. Arsip KongKoan ini termasuk cukup unik, sebab mencatat kegiatan masyarakat tionghoa di Batavia dulu sejak tahun 1700-an sampai catatan terakhir di tahun 1950-an. Kemudian acara conference secara official ditutup, dan direncanakan conference berikutnya diadakan di Vancover tahun 2012.  Besok hari masih ada acara tidak resmi yaitu tour ke beberapa tempat pariwisata, yang mana aku sendiri sudah memutuskan untuk tidak ikut karena aku akan berangkat ke Xiamen esok hari.

Posted by admin on Sep 26th 2011 | Filed in Travelling | Comments (0)

Sekelumit Sejarah keluarga THE BOEN (VIII) – Keluarga The Han Tong (II)

Bagian ke delapan dari tulisan saya kali ini masih mencakup keluarga The Han Tong. Karena kalau saya tulis semuanya di satu bagian akan menjadi terlalu panjang, maka saya pecah menjadi 2 bagian. Di bagian ke tujuh, telah saya tulis anak-anak The Han Tong dan keturunannya dari istrinya yang bernama Gan Bamboe Nio. Selain mempunyai istri Gan Bamboe Nio, The Han Tong juga masih mempunyai 2 orang istri lain yaitu Tan Kwan Nio dan Djanten.

Perlu diketahui bahwa polygami di jaman dulu merupakan sesuatu yang lumrah dan bahkan menjadi suatu tanda status. Semakin kaya seseorang, semakin banyak istrinya. Oei Tiong Ham misalnya, beliau mempunyai 8 istri. Hal ini semata-mata hanya untuk memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan lalu yang harus diterima oleh kita semua. Banyak keluarga yang mungkin dari lapisan menengah atau lapisan bawah menikahkan anak wanita nya dengan seorang yang posisinya dianggap tinggi semata-mata hanya untuk meningkatkan derajad keluarganya. Ada juga kejadian dimana justru si istri yang meminta si suami untuk mengambil pembantunya menjadi gundik. Anak-anak dari istri ke dua atau ke tiga atau lainnya, tetap diakui secara sah sebagai anak.

Kembali ke keluarga The Han Tong. Dari seorang pribumi yang bernama Djanten, The Han Tong mempunyai anak laki-laki yang bernama The Tie Long. Saya perkirakan beliau lahir antara The Tie Liam dan The Tie Sek, sebab tante Jans (Liem Hian Nio) memanggil beliau sebagai si-ku Tie Long. Menurut cerita yang saya dengar, The Tie Long pertama tinggal di Cirebon dan kemudian pindah ke Bandung. Beliau menikah dengan Gan Lies Nio, yang juga masih keponakan dari Gan Bamboe Nio. Sayang sekali saya tidak dapat menemukan keturunan dari The Tie Long ini. Anak-anaknya yang bernama The Gwat Sioe Nio, The Gwat Nie, The Tjoe Djoen, The Gwat Loen, The Gwat Kong dan The Gwat Lian diperkirakan tinggal di Bandung.

Dari istri The Han Tong yang bernama Tan Kwan Nio dilahirkan 2 orang anak laki-laki. Yang pertama bernama The Kian Hien. The Kian Hien menikah dengan Gan Bie Liam Nio, juga masih dari keluarga Gan Pekalongan. Saya sendiri kurang mengetahui keberadaan The Kian Hien ini. Kemungkinan karena setelah menikah beliau tinggal di Solo sehingga jarang berhubungan dengan keluarga yang Cirebon. Keluarga The Kian Hien dan Gan Bie Liam Nio mempunyai 6 orang anak : The Gwat Heng, The Gwat Siang, The Gwat Tjie, The Gwat Hwie, The Tjoe Go yang dikabarkan hilang di jaman perang kemerdekaan dan The Tjoe Tiong. Kalau mungkin dari keluarga The Kian Hien dalam group ini yang bisa menambahkan sedikit cerita, tentunya saya berterima kasih sekali.

Adik dari The Kian Hien adalah The Kian Giap. Saya perkirakan beliau lebih tua sedikit dari The Tie Liang, sebab dikatakan kalau The Tie Liang adalah anak terakhir dari The Han Tong. The Kian Giap menikah dengan Tan Kiem Kwee dan tinggal di Cirebon. Bersama The Tie Sek, beliau aktif dalam perkumpulan ‘Kong Kauw Hwee, suatu perkumpulan untuk umat agama Kong Hu Cu. Beliau bekerja dengan berdagang tembakau. Keluarga The Kian Giap mempunyai 10 anak : The Gwat Sian, The Gwat Louw, The Tiang Sioe, The Gwat Bie, The Tiam Tjay, The Gwat Yong, The Tiam Hwat, The Tiam An, The Tiam Hok dan The Tiam Leng. Kebanyakan dari mereka tinggal di Jakarta semasa hidupnya.

- Bersambung -

Posted by admin on Sep 26th 2011 | Filed in Silsilah | Comments (0)

Sekelumit Sejarah keluarga THE BOEN (VII) – Keluarga The Han Tong (I)

Pada bagian kali ini saya menengahkan keluarga The Han Tong. The Han Tong yang menjabat sebagai Letnan Tionghoa di Cirebon dari tahun 1894 sampai 1901 mempunyai nama lain yaitu The Liong Goan. Beliau meninggal ketika berumur 31 tahun (lahir tahun 1870). Waktu beliau meninggal putra bungsu nya belum dilahirkan. The Han Tong mempunyai 8 anak laki-laki dan 2 anak wanita dari 3 istri berbeda. The Soei Hong, The Tie Hwie, The Tie Sit, The Tie Liam, The Hiang Tin, The Tie Sek dan The Tie Liang dari istri pertama, The Kian Hien dan The Kian Giap dari istri kedua dan The Tie Long dari istri ke 3.

The Soei Hong, putri pertama dari The Han Tong had 3 children, Liem Hian Nio dari suami pertama kemudian Tan Nie Tjong and Tan Lie Moy dari suami kedua. Keluarga The Soei Hong dulu tinggal di Bandung sebelum masing-masing anak-anaknya berimigrasi ke Negeri Belanda. Liem Hian Nio, atau lebih dikenal sebagai zus Jans oleh saudara-saudara dan sepupu-sepupunya sebagai cucu tertua dari The Han Tong banyak sekali mempunyai kenangan indah di masa kecilnya. Dari beliau juga saya banyak mendapatkan cerita bagaimana kehidupan keluarga The di sekitar awal abad ke 20.

The Tie Hwie, putra tertua dari The Han Tong tinggal di Cirebon sebelum beliau pindah ke Bandung. Beliau menikah dengan Oey Kim Koen, putri bungsu dari Letnan Tionghoa Oey Jap Bie dari Jamblang. Keluarga The Tie Hwie mempunyai 3 orang anak laki-laki : The Tjoe Djian, The Tjoe Djie, The Tjoe Kak dan 5 anak wanita : The Gwat Tian, The Gwat Kiong, The Gwat Go, The Gwat Eng dan The Gwat Jam. Menurut cerita dulunya The Tie Hwie mempunyai perusahaan susu sapi di jl. Kalibaru, Cirebon sebelum akhirnya pindah ke Bandung dan di kota Bandung juga mempunyai perusahaan susu sapi. Perusahaan yang di Cirebon dilanjutkan oleh keluarga anak wanita nya yang bernama Olga The Gwat Eng. The Tie Hwie juga menyekolahkan sebagian besar anak-anaknya, antara lain putra pertamanya, The Tjoe Djian menjadi Apoteker dan putra kedua nya The Tjoe Djie menjadi Pengacara.

The Tie Sit, putra ke dua The Han Tong, menikah dengan Khouw Bie Lam, putri dari Major Tionghoa Khouw Pek Siang dari Batang. Beliau tinggal di Pekalongan. Khouw Bie Lam ternyata seorang yang pandai membuat batik, dan “Batikkerij The Tie Sit” cukup terkenal dengan corak dan motif nya sampai Museum Batik pun merasa perlu untuk mengabadikan salah satu kreasi batik nya. The Tie Sit mempunyai 7 orang anak : The Kwie Pwee, The Tjoe Pie, The Kwie Tjoen, The Kwie Lian, The Kwie Hoa, The Tjoe Hwat dan The Kwie Hien. Seperti kakaknya, The Tie Sit juga menyekolahkan anak-anaknya dengan baik. Putri tertua menjadi guru di Pekalongan. Putra tertuanya, The Tjoe Pie menjadi dokter di Cirebon. Juga The Kwie Hoa menjadi dokter gigi di kota Cirebon.

The Tie Liam, putra ke tiga The Han Tong menikah dengan Gouw Djiong Nio dan tinggal di Cirebon. Keluarga Gouw meskipun tidak pernah menjabat sebagai opsir tionghoa, tetapi terkenal cukup kaya raya karena mempunyai banyak rumah dan tanah di kota Cirebon. The Tie Liam bekerja di ‘Javasche Bank’ dan mencapai satu jabatan yang cukup tinggi di masa itu. The Tie Liam hanya mempunyai satu anak laki-laki yang bernama The Tjoe Kouw yang juga tinggal di Cirebon semasa hidupnya.

Anak ke lima, putri ke dua, The Hiang Tin menikah dengan Khouw To Goan, putra tertua dari Major Khouw Pek Siang dari Batang. Jadi sebenarnya kakak beradik The Tie Sit dan The Hiang Tin menikah dengan kakak beradik Khouw Bie Lam dan Khouw To Goan. Untuk lebih membingungkan lagi, istri Khouw Pek Siang dan istri The Han Tong itu juga kakak beradik dari keluarga Gan. Khouw To Goan dan The Hiang Tin menetap di kota Batang dan mempunyai 9 anak. 3 anak laki-laki : Khouw Khe Tam, Khe Tho dan Khe Tjong dan 6 anak wanita : Khouw Tjoe Lian, Tjoe Giem, Tjoe Sek, Tjoe Ho, Tjoe Bing dan Tjoe Pwee. Semua anak wanita nya tinggal di Negeri Belanda, sedangkan anak laki-lakinya tinggal di Cirebon, Jakarta dan Bandung. Khouw Khe Tho sendiri setelah pensiun sebagai dokter akhirnya juga berimigrasi ke negeri Belanda dimana anak-anak nya tinggal.

Anak ke enam, The Tie Sek, menikah dengan Liem Tin Bie Nio yang berasal juga dari Cirebon. Berlainan dengan kakak-kakak nya, The Tie Sek disekolahkan di sekolah tionghoa (Hokkian) di Semarang. Mungkin karena itulah The Tie Sek aktif di banyak organisasi Tionghoa di Cirebon sehingga namanya perlu dicatat di buku ‘Orang-orang Tionghoa jang terkemoeka’ edisi tahun 1934. The Tie Sek juga sangat aktif di perkumpulan agama Kong Hu Cu bersama adiknya The Kian Giap. Sepanjang pengetahuan saya, hanya The Tie Sek yang menjalankan bisnis perkapalan sampai sekitar tahun 1942 ketika tongkang-tongkang nya disita oleh tentara Jepang. The Tie Sek mempunyai 2 anak laki-laki (The Tjoe Liauw dan The Tjoe Kwan) dan 4 anak wanita (The Gwat Lien, The Gwat Bong, The Gwat Sie dan The Gwat Ouw).

Anak ke tujuh, anak bungsu dari The Han Tong dengan istrinya Gan Bamboe Nio lahir setelah The Han Tong meninggal dunia. Menurut cerita yang saya dengar, The Tie Liang pernah bekerja di perusahaan ‘Kian Gwan’ dari raja gula Oei Tiong Ham dan menjabat kedudukan yang cukup tinggi. Setelah pensiun beliau pindah kembali ke Cirebon, setelah sebelumnya tinggal di Semarang. Keluarga The Tie Liang agak kurang beruntung dalam kehidupannya. Dengan istrinya Oey Kiem Lie, The Tie Liang mempunyai 3 anak dan ketiga nya meninggal dalam usia muda. Setelah itu The Tie Liang mengambil 2 anak asuhan yang tinggal di Cirebon.

- Bersambung -

Posted by admin on Sep 26th 2011 | Filed in Silsilah | Comments (0)

Sekelumit Sejarah keluarga THE BOEN (VI) – Keluarga di Pekalongan

Kesempatan kali ini saya mengajak mengalihkan perhatian kita ke sebagian keluarga The yang pindah ke Pekalongan. Di bagian lalu telah diceritakan bahwa The Tjiauw Hok di tahun yang sama ketika The Tjiauw Tjay meninggal dunia (tahun 1888) namanya tidak lagi dicatat dalam buku Regerings Almanak. Tempatnya sebagai Letnan Tionghoa di Cirebon digantikan oleh The Tjiauw Jong. Nama The Tjiauw Hok muncul kembali di catatan Regerings Almanak di bagian opsir tionghoa pada tahun 1896, dimana beliau diangkat menjadi Kapten di Pekalongan.

Sebelum The Tjiauw Hok mengundurkan diri di tahun 1888, namanya juga sudah beberapa kali dicatat di Regerings Almanak bagian data penyewaan tanah. Disebutkan kalau The Tjiauw Hok menyewa sebidang tanah yang dinamakan ‘Poelasaren’ dan ditanami ketela/ubi. Tidak jelas bagi saya dimana tanah yang dinamakan Poelasaren ini, sebab yang saya tau, dan juga mereka yang pernah tinggal di Cirebon, ada nama jalan yang bernama jalan Pulasaren. Kemungkinan tanah yang disewa adalah tanah di dekat jalan Pulasaren tersebut. Hal ini mungkin karena di tahun 1880-an daerah yang sekarang bernama jalan Pulasaren belum merupakan daerah perumahan dan mungkin masih berada di pinggir kota. Perlu diketahui juga kalau kuburan keluarga The juga awalnya terletak di daerah jalan Jagasatru yang menunjukkan kalau daerah itu di tahun 1880-an bukan daerah perumahan.

Diangkatnya The Tjiauw Hok di Pekalongan sebenarnya juga merupakan suatu kejadian yang tidak biasa. Biasanya di kota seperti Cirebon, Tegal atau Pekalongan, pengangkatan seseorang menjadi Kapten dipilih dari letnan-letnan yang sudah ada. Jadi kalau Kapten nya meninggal dunia atau mengundurkan diri, biasanya dilihat dari letnan-letnan yang ada, dan yang dinilai paling berwibawa maka dialah yang akan diangkat menjadi Kapten. Dalam hal pengangkatan The Tjiauw Hok di Pekalongan, diperkirakan Kapten Oey Tiang Hoo dan Letnan Hoo Tjiong Hie meninggal dunia di tahun yang sama. Satu-satunya opsir yang masih memegang jabatan saat itu adalah Kapten Tituler Ong Lian Tjing, tetapi beliau sudah lanjut usia sehingga tidak ada seorang opsir di kota Pekalongan yang bisa diangkat menjadi Kapten. Anehnya, justru The Tjiauw Hok sebagai pendatang yang diangkat menjadi Kapten dan bukan keluarga dari Kapten dan Letnan yang sebelumnya.

Kapten The Tjiauw Hok yang juga mempunyai nama lain yaitu The Teng Goan, menjadi kapten sampai tahun 1913. Diperkirakan beliau meninggal dan jabatan kapten nya diteruskan oleh Letnan Tan Mo San yang sebelumnya diangkat menjadi Letnan di tahun 1900. Anak laki-laki tertua The Tjiauw Hok, The Khe Bouw diangkat menjadi Letnan untuk mendampingi Tan Mo San. The Khe Bouw menjabat sebagai Letnan Tionghoa di Pekalongan sampai tahun 1924, dan beliau menjadi opsir tionghoa dari keluarga keturunan The Boen.

Menurut silsilah yang saya dapat dari Oom The Thiam Hok, The Tjiauw Hok mempunyai 2 anak laki-laki dan 2 anak wanita. 2 anak laki-lakinya bernama The Khe Bouw dan The Khe Yoe, sedang 2 anak wanitanya bernama The Kwie Nio dan The Swie Lan. Sayang sekali tidak ada data yang lengkap untuk 2 anak wanita The Tjiauw Hok, tetapi keturunan dari The Khe Bouw dan The Khe Yoe cukup lengkap dapat ditelusuri.

Menurut oom Dick van Thessen, The Khe Bouw dan The Khe Yoe pada satu saat mempunyai cukup banyak kekayaan. Terutama The Khe Bouw yang juga menjabat sebagai Letnan, bisa mengirimkan anak tertua nya The Tik Kiem untuk sekolah di Negeri Belanda, tentunya memerlukan uang yang tidak sedikit dimasa itu (sekitar tahun 1915-1924). Oom Dick sendiri menceritakan kalau kemungkinan kekayaan The Khe Bouw sudah sangat berkurang ketika The Tik Kiem kembali ke Indonesia (waktu itu masih Hindia Belanda) setelah menyelesaikan sekolah nya di Sekolah Tinggi Ekonomi di Rotterdam. Juga anak keduanya The Tik Hok berhasil menjadi dokter dengan specialisasi ahli kandungan. Perlu diperhatikan untuk mendapatkan ijazah perguruan tinggi mungkin adalah biasa untuk ukuran jaman sekarang, tetapi untuk jaman tahun 1915-1925 adalah hal yang cukup berprestasi. Sebab selain dibutuhkan kepandaian yang cukup, juga diperlukan keuangan yang memadai untuk menghidupi masa belajar di Negeri Belanda.

- Bersambung-

Posted by admin on Sep 26th 2011 | Filed in Silsilah | Comments (0)

Sekelumit Sejarah keluarga THE BOEN (V) - Cirebon di awal abad ke 20

Pada bagian ke 5, saya masih ingin membicarakan mengenai perkembangan keluarga The di kota Cirebon. Terutama memasuki abad ke 20 setelah Letnan The Han Tong meninggal dunia di tahun 1901. Untuk memperjelas hubungan, saya ceritakan kembali bahwa The Tiang Seng mempunyai 3 orang anak laki-laki yang mana The Tjiauw Tjay dan The Tjiauw Jong tinggal di Cirebon dan The Tjiauw Hok pindah ke Pekalongan. The Tjiauw Tjay mempunyai 3 anak laki-laki : The Han Tong, The Joe Gie dan The Joe Sin. Sedangkan The Tjiauw Jong mempunyai 2 anak laki-laki The Sin Hie dan The Sin Keng. Menurut tante Jans yang pernah tinggal di rumah keluarga yang sekarang menjadi jalan Benteng, The Sin Keng tidak menikah, dan The Sin Hie mempunyai 3 anak perempuan. 3 anak perempuan itu sekarang tidak diketahui keberadaannya. Jadi dengan kata lain, saya tidak mempunyai data mengenai keturunan The Sin Hie selanjutnya.

Dari 3 anak The Tjiauw Tjay, The Joe Sin juga pindah ke kota Pekalongan dan tinggal disana sampai beliau meninggal dunia. Ketika The Han Tong meninggal dengan usia 30 tahun, tentu saja anak-anaknya masih sangat kecil dan pimpinan keluarga diambil alih oleh The Joe Gie. The Joe Gie bukan saja menjalankan usaha keluarga tetapi beliau juga yang mengirimkan anak-anak The Han Tong ke sekolah. Pada saat itu akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 selain ada sekolah berbahasa Hokkian, sudah dimulai ada sekolah-sekolah belanda. Sepertinya The Joe Gie menyadari bahwa untuk supaya generasi penerus lebih maju beliau menyekolahkan sebagian besar anak-anak The Han Tong ke sekolah Belanda. Tentu saja ada juga beberapa yang disekolahkan di sekolah hokkian. Perlu diketahui bahwa di saat itu orang tionghoa lebih banyak menggunakan bahasa hokkian dibandingkan dengan bahasa mandarin.

Ketika The Han Tong meninggal dunia di tahun 1901, The Joe Gie kemudian diangkat menjadi Letnan Tionghoa untuk menggantikan kedudukan kakaknya. Seperti juga opsir-opsir lainnya, The Joe Gie mempunyai nama gelar yaitu The Siauw Goan. Beliau menjabat sebagai Letnan sampai tahun 1908. Sebenarnya ini masih merupakan teka-teki bagi saya, sebabnya The Joe Gie tidak lagi menjadi Letnan. Apakah beliau mengundurkan diri ? atau diberhentikan ? The Joe Gie meninggal sekitar tahun 1930-an. Waktu beliau meninggal petinya disemayamkan di rumah engkong The Tie Sek (anak laki-laki ke 5 dari The Han Tong). Menurut cerita mami saya, rumah tersebut bukan rumah sendiri melainkan rumah sewa, dan keadaan ekonomi tidaklah seperti sebelumnya dimana keluarga The bukan lagi termasuk keluarga yang kaya raya. Jadi teka-teki bagi saya adalah, apakah The Joe Gie mengundurkan diri sebagai Letnan karena merasa tidak lagi mempunyai kekayaan yang layak sebagai Letnan ? Atau kekayaan keluarga The justru habis dimasa krisis ekonomi ditahun 1930 ?

Setelah The Joe Gie mengundurkan diri The Wie Tiong dari cabang The Hoan Tjiang diangkat menjadi Letnan di Cirebon. Beliau memegang jabatan sampai tahun 1918. Apakah The Wie Tiong meninggal dunia atau mengundurkan diri masih belum ada yang kejelasan mengenai hal ini. Yang pasti The Wie Tiong adalah opsir terakhir dari keluarga The di Cirebon. Hal ini bukan saja kemungkinan masa kejayaan keluarga The sudah mulai meredup, tetapi juga disebabkan karena pemerintah kolonial Hindia Belanda memang menghapuskan jabatan-jabatan opsir di awal tahun 1920-an. Memang kejadian ini membuat sedikit kekacauan sehinggal beberapa opsir kembali diangkat menduduki jabatan sampai sekitar 1935 dimana di pulau Jawa jabatan opsir benar-benar dihapus.

- Bersambung-

Posted by admin on Sep 26th 2011 | Filed in Silsilah | Comments (0)

Sekelumit Sejarah keluarga THE BOEN (IV) – Berkembang di Cirebon

Bagian ke 4 ini saya akan menceritakan sedikit perkembangan keluarga The di kota Cirebon terutama keadaan keluarga setelah meninggalnya The Tjiauw Tjay di tahun 1888.

Kemungkinan besar, setelah The Tjiauw Tjay diangkat menjadi Kapten di tahun 1884, beliau berhasil mendapatkan sewa tanah yang dijadikan kuburan keluarga. Kuburan yang tertua yang berhasil diketemukan adalah kuburan dari istri The Boen yang meninggal di tahun 1886. Dituliskan juga bahwa The Tiang Seng sudah meninggal lebih dahulu, dan karena dituliskan di bongpay dari istri The Boen, saya asumsikan bahwa kuburan The Tiang Seng sendiri tidak ada di tempat yang sama. Kuburan keluarga tersebut letaknya di jalan Jagasatru, Cirebon. Berdasarkan dari akte hak sewa yang saya pernah dapatkan dari ko The Thian Teng (anaknya oom The Tjoe Kouw), sepertinya hak sewa tanah tersebut berlaku selama 100 tahun. Jadi masa sewanya habis di tahun 1984 atau 1886. Sekitar tahun 1960-an atas permintaan pemerintah setempat dan dengan persetujuan ahli waris tanah kuburan tersebut dipindahkan ke daerah kali Tanjung karena daerah jalan Jagasatru sudah termasuk di tengah kota, dan akan dibangun sebuah pasar. Mengenai tanah kuburan ini akan saya ceritakan lebih lanjut di bagian berikutnya.

Seperti yang sudah ditulis di bagian ke 3, The Tjiauw Hok mengundurkan diri sebagai Letnan di Cirebon pada tahun 1888. Di kemudian hari The Tjiauw Hok akan menjadi Kapten di kota Pekalongan. Tetapi kapan dan tahun berapa beliau pindah ke Pekalongan, dan apa sebab nya, tidak ada bukti yang dapat menjawabnya. Saya sendiri cenderung menyimpulkan kalau The Tjiauw Hok mengundurkan diri sebagai Letnan karena kepindahannya ke Pekalongan. Setelah meninggalnya The Tjiauw Tjay dan pindahnya The Tjiauw Hok, maka The Tjiauw Jong lah yang menjadi pemimpin keluarga The di Cirebon. Anak laki-laki The Tjiauw Tjay tertua, The Han Tong lahir di tahun 1871, sehingga beliau baru berumur 17 tahun ketika The Tjiauw Tjay meninggal dunia.

The Tjiauw Jong yang menjadi Letnan di Cirebon sampai tahun 1896 mempunyai nama gelar juga yaitu The Hong Goan. Bahwa keluarga The tetap jaya waktu itu dapat dilihat di papan-papan kayu di kelenteng-kelenteng di sekitar kota Cirebon. Nama-nama dari keluarga The selalu dicantumkan sebagai donatur pada waktu renovasi yang dilakukan di kelenteng Winaon, Losari dan Brebes. Juga keturunan dari The Hoan Tjiang juga selalu memberikan contribusinya dalam renovasi kelenteng.

Usaha yang dijalankan oleh keluarga The pada waktu itu kemungkinan besar tetap di bagian perkapalan. Meskipun tidak ada bukti yang 100% mendukung hal ini, tetapi kalau di dengar cerita para orang tua yang menyatakan bahwa tahun 1930-an juga usahanya adalah bidang perkapalan, bukan tidak mungkin memang dari dulu selalu berkecimpung di bidang tersebut.

Satu hal yang perlu dibicarakan adalah rumah keluarga. Rumah keluarga mempunyai peranan penting dalam kehidupan keluarga tionghoa. Dalam rumah keluarga tersebut dipasang satu meja altar dimana anggota keluarga dapat menghormati leluhurnya yang telah meninggal. Saya pernah menanyakan dimanakah rumah keluarga The itu ? Dari beberapa informasi saya mendapatkan penjelasan bahwa rumah keluarga The sebenarnya adalah di dekat kelenteng Tiao Kak Sie. Menurut cerita di tahun 30-an rumah tersebut dijadikan jalan, yang sekarang dinamakan jalan Benteng. Menurut tante Jans, cucu tertua dari The Han Tong yang pernah juga tinggal disana, keluarga The Tjiauw Tjay tinggal di rumah tersebut dan keluarga The Tjiauw Jong tinggal di sebelahnya dan kedua rumah mempunyai pintu tembusan. Pada tahun 2008 ketika mengunjungi kelenteng, saya juga pernah mampir di rumah sebelah kelenteng yang ditinggal tante Lily dari keluarga The Wie Siong. Menurut cerita dulunya keluarga The Wie Siong tinggal disana. Jadi bukan tidak mungkin kalau anak-anak dari The Hoan Tjiang pada awalnya juga tinggal berdekatan dengan keluarga anak-anak The Tiang Seng.

Pada tahun 1894, dengan umur 23 tahun, The Han Tong anak laki-laki tertua dari The Tjiauw Tjay diangkat sebagai Letnan Tionghoa. The Tjiauw Jong, masih menjabat sebagai Letnan waktu itu dan namanya tidak lagi tertulis sejak tahun 1897, sehingga diperkirakan meninggal di tahun 1896. The Han Tong yang juga menyandang nama gelar The Liong Goan, menjabat sebagai Letnan sampai tahun 1901. Beliau meninggal seperti juga ayahnya, dengan usia yang sangat muda, yaitu 30 tahun. Tetapi berlainan dengan ayahnya yang hanya menurunkan 3 orang putra (dan 1 orang putri), The Han Tong menurunkan 8 orang putra dan 2 orang putri. Menurut cerita anaknya yang terakhir dilahirkan setelah The Han Tong meninggal dunia.

- Bersambung-

Posted by admin on Sep 26th 2011 | Filed in Silsilah | Comments (0)

Next »